Tombak Rontek Mangkunegara IV

Mahar : 9.444,444,-


1. Kode : GKO-418
2. Dhapur : Rontek
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Mangkunegaran IV (1862)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 336/MP.TMII/II/2020
6. Asal-usul Pusaka : Surakarta
7. Dimensi : panjang bilah 20,7 cm, tinggi methuk 2 cm panjang pesi  16,4 cm, panjang total 39, 1 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


TOMBAK RONTEK, tombak rontek sendiri sebenarnya adalah tombak dimana landheyan-nya (tongkat/tangkai) dihias bendera kecil dengan wujud dan berbagai warna menurut golongan kawedanan. Bendera tadi ditata menurut Sinuwun Ngarsa Dalem, tata letak barisan melajur di kiri dan kanan jalan alun-alun.

Namun dalam dunia tosan aji biasanya rontek dimaksudkan untuk menyebut tombak berbentuk lurus yang dulunya disinyalir menjadi senjata inventaris Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran (versi mangkunegaran mirip dengan dhapur sadak dan versi kasunanan seperti biring lanang dengan kruwingan). Tombak-tombak rontek juga berbeda dengan jenis tombak pada umumnya karena dibuat tidak melalui proses tempa lipat, melainkan dengan cara tuang (cast iron) dan bubut serta (konon) sengaja diimpor dari benua Eropa (ada yang mengatakan buatan Noord-Brabant, Belanda namun ada juga yang menyatakan buatan Berlin, Jerman).

LEGIUN & DINASTI MANGKUNEGARA, Menyebut nama Mangkunegara tidak dapat dipisahkan dari keberadaan angkatan perang elit-nya, “Legiun”, yang dikenal berani, tangguh dan berpengalaman tempur dalam menghadapi musuh. Legiun Mangkunegaran yang didirikan pada tahun 1808 merupakan unit militer di tanah Jawa termodern pada masanya dengan mengadopsi organisasi dan teknologi angkatan darat adikuasa di dunia saat itu, Grande Armee dari Napoleon Bonaparte. Dalam konteks regional embrio pembentukan pasukan khusus Mangkunegara ini tumbuh dan berakar dari tradisi kemiliteran Mangkunegara I yang tidak lain adalah Pangeran Sambernyawa semasa bergerilya 16 tahun. Namun sayang saat ini bukti fisik sejarah keberadaan Legiun elit ini sangat minim.

Di zaman kolonial pra Indonesia merdeka, Legiun Mangkunegara turut terlibat dalam banyak perang yang ikut menentukan sejarah perjalanan negeri ini. Pada Era Mangkunegoro II Legiun Mangkunegara menjadi bagian penting pasukan Gubernur Jendral Janssens dalam pertempuran melawan pasukan Royal Marines di Jatingaleh, Semarang (1811). Yang paling fenomenal tentu saja saat bersama pasukan Inggris dan Sepoy India berhasil merebut keraton Yogyakarta (1812), sehingga memaksa HB II turun tahta dan dibuang ke Penang. Legiun Mangkunegaran juga pernah mendapat penugasan perang untuk pertama kali ke luar Jawa, yakni menumpas bajak laut yang meneror pesisir Sumatera Selatan dan pulau Bangka-Belitung (1819-1820). Beberapa waktu berselang, operasi militer terbesar Legiun Mangkunegara terjadi setelahnya, saat perang Jawa atau perang Diponegoro (1825-1830) ia menjadi penjaga Yogyakarta dan Surakarta dari serangan laskar Diponegoro dan kemudian ikut menghancurkan benteng terakhir Diponegoro. Pada era Mangkunegara IV, tentara modern Jawa ini turut berperang menundukkan Kesultanan Aceh (1873), melawan gerakan radikalisasi agama Imam Sampurno pada masa Mangkunegara V (1888), hingga pada era Mangkunegoro VII saat perang dunia pertama melawan serbuan Jepang di Jawa pada tahun 1942.

Namun pada masa pemerintahan Jepang, militer Mangkunegaran mengalami masa purna-baktinya, karena pemerintah Jepang melarang segala bentuk organisasi politik masyarakat pribumi dan berusaha melucuti semua persenjataan milik rakyat termasuk persenjataan milik pasukan Mangkunegaran. Kebijakan ini menyebabkan pasukan militer Mangkunegaran hanya berkedudukan sebagai abdi dalem penjaga istana saja dan nama Legiun Mangkunegaran berubah menjadi Worontono. Mukti dan Mati telah dialami Legiun Mangkunegara.

ERA MANGKUNEGARA IV, masa pemerintahan Kangjêng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara kaping 4 (25 Maret 1853 – 2 September 1881) merupakan era keemasan sejarah Pura Mangkunegaran. Kadipaten Mangkunegara saat Mangkunegara IV bertahta dikenal sebagai salah satu peletak dasar ekonomi perkebunan modern di Jawa pada masanya. Mangkunegara dikenal memiliki intuisi bisnis modern yang mendorong profesionalisme di kalangan kawulanya. Selain memiliki dua pabrik gula Colomadu dan Tasikmadu, Mangkunegara IV juga memiliki pabrik pengolahan indigo, serta mengembangkan industri agrobisnis lainnya seperti budidaya kina, pala dan kopi. Kas kerajaan pun menerima pemasukan yang sangat berlimpah.

Kemajuan di bidang ekonomi diikuti pula dengan peningkatan kualitas dan kuantitas Legiun Mangkunegaran. Mangkunegara IV memerintahkan penggantian senapan dari senapan locok (diisi dari laras atau voorlad) ke senapan lebih modern dengan grendel atau mekanisme pengunci yang diisi dari belakang (achterlaad) dengan memakai patrum. Jenis senapan yang dipakai adalah senapan Bauwman.

Masa keemasan Mangkunegara IV juga mencatat dibentuknya pendidikan Legiun Mangkunegaran yang memiliki tradisi militer Eropa (Prancis) menerjemahkan pelbagai instruksi dalam Bahasa Jawa. Tata aturan tersebut dibukukan dalam kitab bernama “Layang Pranatan Soldat Sekul. Mangkunegara IV juga mengatur para perwira Legiun Mangkunegaran mendapat jatah tanah lungguh satu jung (namun tanah ini tidak dapat diwariskan) dan gaji 10 rupiah per bulan, seperti halnya abdi dalem serta priyayi lain.

Menurut catatan, pada tahun 1861 Mangkunegara IV membentuk pula prajurit mergangsa untuk melengkapi divisi prajurit panumbak (Schaphijr en Piekenier) sekaligus mem-back up Legiun jika sedang ada tugas keluar (berperang). Golongan prajurit ini dinamakan wirapraja yang nama-nama dan tugasnya di masa damai sebagai berikut :

  1. Subamanggala, menjaga gedong atau bangunan-bangunan lainya yang tidak dijaga Legiun.
  2. Margayuda, jaga di pos-pos penjagaan jalan raya.
  3. Wiratana, selain sebagai bagian dari korps Subamanggala, juga menjadi pagar betis (rontek) saat ada acara-acara penting seperti perkawinan hingga lelayu.
  4. Bramantaka, menjaga dan mencegah bencana api (semacam pemadam kebakaran).
  5. Jagaastana, menjaga dan memelihara makam keluarga kerajaan di Astana Mangadeg, Girilayu.
  6. Kadang kala jika ada acara-acara perjamuan khusus di lingkungan dalam Pura Mangkunegara, dibentuk prajurit serba guna, Ranggasewaka.

HASIL PENELUSURAN, Cerita yang berkembang di dunia tosan aji tombak rontek dikatakan sengaja diimpor dari Eropa, benarkah demikian? Melalui metode filologi dengan cara studi pustaka terhadap catatan-catatan sejarah yang ada bisa ditarik sebuah kesimpulan mengenai benar tidaknya cerita yang berkembang tersebut (yang tentu saja akan memiliki tingkat validitas yang lebih tinggi daripada hanya sekedar berdasarkan versi “konon katanya”).

Angka grafir yang terdapat pada tombak rontek dapat dijadikan penunjuk awal untuk mencari referensi yang dimaksud. Pada tombak tergrafir angka 1862 atau diperkirakan dibuat pada era Mangkunegara IV, yang menurut catatan sejarah memiliki masa jabatan selama 28 tahun (1853-1881). Maka fokus dalam mencari bahan pustaka akan lebih berorientasi pada era Mangkunegara IV bertahta.

Terdapat catatan menarik mengenai Mangkunegara IV yang ditulis oleh Suma Atmaka (1939) berdasarkan Babad ing Mangkunagaran (bisa diakses online: disini) yang mencatat secara eksplisit :

Kala samantên kangjêng gusti karsa iyasa waos 100, wêdhung. 100, kangge panganggening abdi dalêm Rănggasewaka, waos 50, piling 40, panganggening Bramantaka, waos 200, dêdamêling prajurit subamanggala. Waos 100 dêdamêling prajurit wiratana, waos 100 dêdamêling prajurit margayuda.

Ingkang anggarap êmpunipun Kyai Guna Pawaka kalihan Kyai Guna Dahana, saprikancanipun para pandhe bawah Mangkunagaran. Wiwitipun anggarap ing dintên Slasa Paing tanggal kaping 3 Rêjêb warsa Jimawal ăngka 1789 ing taun Walandi 1860.

Atau jika di terjemahkan : Pada waktu itu Mangkunegara IV pernah yasan (membuat) tombak dan wedhung masing-masing 100 untuk abdi dalem Ranggasewaka, tombak 50 dan piling 40 bagi abdi dalem Bramantaka; 200 tombak untuk abdi dalem prajurit Subamanggala; 100 tombak untuk abdi dalem Wiratana, dan 100 tombak untuk prajurit Margayuda. Yang diperintahkan untuk membuat ialah Kyai Guna Pawaka dan Kyai Guna Dahana, serta pande-pande di bawah Mangkunegaran. Adapun penggarapannya dimulai pada hari Salasa Paing tanggal kaping 3 wulan Rêjêb, ing taun Jimawal, ăngka 1789 atau 15 Januari 1861.

Sebuah kejutan, karena berdasarkan referensi salah satu serat lama (1936) tidak disebutkan jika tombak rontek dibuat di Eropa. Namun secara gamblang justru dicatat berapa jumlah tombak yang dibuat beserta peruntukkannya untuk masing-masing pasukan, termasuk jejeneng Empu yang diperintahkan untuk menggarapnya. Menjadi menarik, karena tidak sama dengan versi yang terlanjur melekat di kalangan pecinta tosan aji.

Dengan referensi di atas apakah bisa dijadikan sebuah petunjuk jika tombak rontek yang dibuat pada era Mangkunegara IV dikerjakan oleh Empu Kyai Guna Pawaka dan Empu Kyai Guna Dahana, serta pande-pande Mangkunegaran sendiri? Dan bukan dibuat di Belanda maupun Jerman atau negara Eropa lain seperti cerita-cerita yang selama ini beredar? Adapun mengenai tombak-tombak rontek era sebelum Mangkunegara IV maupun sesudah Mangkunegara IV tidak menutup kemungkinan memang dibuat di Eropa, namun tetap memerlukan pencarian sumber referensi yang lebih valid.

Seperti salah satu pencarian referensi pada awal pembentukan Legiun Mangkunegara di Era Mangkunegara II, ditemukan catatan sebagai berikut:

Seiring kedatangan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, 1 Januari 1808, dipersiapkan pertahanan Pulau Jawa menghadapai serangan East India Company (Inggris), secara resmi pada hari Jumat tanggal 29 Juli 1808 dikeluarkan Surat Keputusan (besluit) yang menetapkan keberadaan Legiun Mangkunegaran dalam pasukan gabungan Perancis-Belanda-Jawa dalam perang melawan Inggris. Surat Keputusan tersebut berbunyi :

Is besloten den Pangerang Ario Praboe Prang Wedono aan te stellen tot Colonel in dienst van Zijne Majesteit den Koning van Holland, mits onderhoudende :

800 man Infanterie
100 man Jagers
200 man Cavallerie en
50 man rijdende Artillerie
————————
1.150 Tezaman

      “Diputuskan bahwa Pangeran Ario Prabu Prang Wedono diberi pangkat Kolonel dalam dinas Sri Raja Belanda (Luis Napoleon) dengan membawahi pasukan sebanyak 800 serdadu infanteri darat, 100 prajurit pelopor, 200 orang kavaleri berkuda dan 50 prajurit artileri meriam ….total 1.150 serdadu”

Lebih lanjut Daendels menulis : Waarvoor aan he de wapenen zullen worden gefourneerd en onderhouden, alsmede op Gouvernements Kosten toegevoegd en Adjutant Majoor, om deze Troepes te dresseeren en in een behoorlijke discipline te houden, zullende hem van den 1sten Augustus aanstaande 2.000 Sp matten, welke den Pangerang van’t Gouvernement geniet, op 4.000 gebragt worden zooals deszelfs Grootvader genoten heetf, boven dezels tractment als Colonel groot jaarlijks 6.540 rijksdaalders.

Pembiayaan dan perawatan pasukan disediakan oleh pemerintah berikut seorang Mayor ajudan sejak tanggal 1 Agustus dengan biaya 2.000 dollar Spanyol, sedangkan Pangeran Prangwedono (Mangkunegara II) sebagai perwira berpangkat Kolonel mendapat gaji 6.540 gulden.

Dari referensi catatan surat menyurat resmi di atas dapat diketahui jika pada awal pembentukan Legiun Mangkunegara (1808) bantuan yang diberikan kepada Praja Mangkunegaran lebih  berupa uang dollar Spanyol dan gulden.

Selanjutnya, mengenai bahan material (besi) tombak rontek era Mangkunegara IV yang konon sengaja didatangkan dari benua Eropa sebenarnya tidak menutup kemungkinan bisa juga terjadi sedemikian rupa. Selain karena kegemaran para raja di Mangkunegara sendiri yang hobby mengimpor perabot (lampu robyong) buatan Eropa, hingga mesin-mesin terbaik yang terdapat di pabrik gula Colomadu juga didatangkan dari berbagai negara di Eropa. Terdapat pula sebuah catatan menarik mengenai pembangunan bangsal tosan pada era Mangkunegara IV (1875). Sesuai dengan namanya Bangsal Tosan ini terasnya berasal dari besi, yang seluruh materialnya dipesan dari tanah Dislan (pabrik di Berlin, Jerman). Pada saat itulah orang Jawa pertama kali melihat tiang-tiang dari besi (literatur bisa dibaca: disini). Juga saat itu revolusi industri kedua yang awalnya hanya terjadi di Inggris, bisa menyebar cepat ke Jerman, Amerika Serikat, Perancis, Italia, Jepang, dan berbagai negara lainnya. Revolusi ini identik dengan pembangunan rel, produksi massal besi dan baja, penggunaan mesin yang meluas, hingga munculnya listrik.

Dan apabila kita mau sedikit kepo untuk mengulik lebih dalam, tombak yang dibuat pada masa Mangkunegara IV jika semua dijumlahkan ternyata sebanyak 550. Akan memunculkan pertanyaan kembali; “Dengan jumlah sebanyak itu (550) apakah akan efektif dan efisien dalam soal waktu jika proses pembuatannya menggunakan metode konvensional yakni dengan cara tempa-lipat seperti tosan aji umumnya? jika memang seperti itu, akan dibutuhkan waktu berapa lama untuk menyelesaikan pesanan tombak tersebut? itupun belum termasuk wedung dan lain-lain.

Hal ini terjawab apabila kita mencermati garap yang ada pada tombak rontek ini. Metode pembuatan dengan metode tuang (cast iron) tentunya mempunyai keunggulan lebih dari sisi waktu, dimana dapat diproduksi secara massal. Namun menemukan “resep” besi yang tidak getas (mudah patah) ketika dihantamkan/ditusukkan (malleable cast iron) tentu menjadi  tugas tersendiri yang tidak mudah bagi sang Empu. Di masa Tiongkok kuno, besi tuang digunakan untuk alat perang, pertanian dan arsitektur. Selama abad ke-15, besi tuang digunakan untuk membuat artileri di Burgundy, Prancis dan di Inggris selama masa Reformasi.

CATATAN GRIYOKULO, terlepas pro-kontra asal muasal tombak rontek diproduksi di Eropa atau hanya materialnya saja yang didatangkan dari benua Biru tersebut (namun penggarapannya masih dibawah jejeneng Empu di praja Mangkunegaran sendiri), namun yang lebih nyata adalah material tombak rontek ini baik melalui visual maupun kebiasaan “niteni wesi/wojo” cukup berbeda dari besi-besi tosan aji lainnya. Berwarna hitam ngglugud dan yang paling istimewa seolah tidak mudah memerah berkarat, baik karna sentuhan tangan-tangan tidak steril saat memegang bilah maupun pengaruh kelembaban yang tinggi saat disarungkan pada tutup kayunya. Bahkan tanpa diminyaki pun tombak rontek ini seolah enggan untuk taiyengan (berkarat).

Dari bentuk silhouette-nya terlihat ramping, luwes sekaligus kokoh dan tajam, cukup seram tidak mengecewakan ataupun meragukan apabila diandalkan di medan perwira. Bagian ujung pesi rontek juga unik, tampak berulir rapi- dibubut bukan puntiran, wujud perkawinan dengan teknologi barat modern.

Tombak-tombak rontek yang dipercayai original sepuh ter-grafir-kan pula tahun pembuatan serta NR (Nomor Register) yang sebetulnya memang dulunya NR berhubungan dengan Nama serta Pangkat. Jika menilik NR yang ada bernomor A101 yang bila dikaitkan dengan catatan  yang ada -nomor di atas 100 logikanya berarti kemungkinannya menjadi milik Prajurit Subamanggala. Dan tahun pembuatan 1862 berarti masuk dalam era Mangkunegara IV.

Tombak ini dipasang pada landeyan pegon yang berukuran sekitar 2 m. Jika kebanyakan landeyan berbentuk ngusus (dari pangkal sampai ujungnya lurus dan sama besar) maka landeyan ini cenderung nggadhal meteng (agak membesar di bagian tengah/di tempat yang biasa dipegang). Pada bagian atas masih menggunakan godhi (untaian tali/benang yang dililitkan) dan karah (logam penguat yang melingkari ujung landeyan sebesar satu nyari/jari ) bukan blongsong seperti landeyan umumnya sekarang. Selain itu landeyan juga masih tampak lurus tanpa melengkung sedikitpun.

Pada akhirnya tentunya setiap pusaka akan memiliki arti dan maknanya masing-masing bagi pemiliknya. Maka sebuah pusaka tidak hanya dilihat dari cara pembuatannya saja, namun seiring cerita perjalanannya atau nilai kesejarahannya turut pula menentukan, seperti rontek dan Legiun Mangkunegara.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *