Sabuk Inten eks Panji Pilis

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2.950,000,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen, Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-351
2. Dhapur : Sabuk Inten
3. Pamor : Tetesing Warih
4. Tangguh : Majapahit (Abad XIV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 218/MP.TMII/II/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Ngargoyoso (Gunung Lawu), Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 33,2 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 40,2 cm
8. Keterangan Lain : eks kinatah emas panji pilis, kondisi apa adanya


ULASAN :

SABUK INTEN, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sebelas. Keris ini memakai kembang kacang, jalen, lambe gajah, sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan, dan ri pandan atau greneng. Menurut mitos /dongeng keris Sabuk Inten pertama kali dibabar oleh 800 Empu (Domas) pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya wekasan (akhir) tahun Jawa 1381.

FILOSOFI, Sabuk dari bentuknya yang panjang itulah nilai-nilai filosofi luhur ditanamkan, mengisyaratkan ikat pinggang kehidupan manusia adalah rasa bersabar atau jadilah manusia yang sabar, erat kaitannya dengan peribahasa jawa “dowo ususe” atau panjang ususnya yang berarti sabar dalam segala hal. Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. Ajaran yang tersirat adalah manusia harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya (ubed  nyambut gawe).

Inten itu sendiri artinya adalah sebagai bentuk hasil pencapaian dari segala jerih payah yang dicari selama ini. Sabuk inten adalah lambang atau harapan dapat membantu pemiliknya yang memiliki ambisi besar dalam mengejar kemajuan pangkat/derajat atau tingkat sosial tertentu. Sabuk Inten di masanya merupakan salah satu dapur keris yang melambangkan kemakmuran dan kemewahan.

PANJI WILIS, Kinatah ingkang namung ing gandhik tuwin lambe gajah, nami panji pilis, punika tur kadhang botên namung rêrênggan, ananging kangge sarana ngêndhokakên dhuwung ingkang watakipun brangasan, kêras – Dhuwung = Wesi Aji, Nayawirongka, 1936

Menurut Serat Dhuwung = Wesi Aji yang ditulis Mas Ngabei Nayawirongka tahun 1936, merupakan sejenis hiasan emas yang ditempelkan pada bagian gandik serta lambe gajah-nya. Dijelaskan pula pemberian kinatah tersebut bukan hanya dimaksudkan sebagai hiasan untuk menambah keindahan pada bilah semata, namun lebih difungsikan untuk suatu maksud tertentu (esoteri), yakni sebagai sarana meredam keris yang mempunyai watak brangasan atau keras (panas).

sisa-sisa kinatah emas panji wilis di bagian gandik dan lambe gajah

Kata Panji berasal dari kata Sang Apanji, makna harafiahnya adalah “yang mempunyai bendera”, tentunya seorang petinggi. Pada masa lampau, gelar “Panji” acapkali ditempelkan kepada kesatria Jawa, khususnya bangsawan masa Majapahit. Salah satu ciri khas yang menonjol dari figur Panji ini seperti yang terukir pada relief candi-candi di Jawa Timur (tidak dijumpai di Candi Jawa Tengah) yang berasal dari era Kerajaan Majapahit  adalah memakai topi setengah bundar yang disebut tekes; bagian depan dan belakang topinya lancip, dari samping topinya eksotik karena berbentuk bulan sabit. Selain itu figur ini tampil sederhana, tanpa memakai baju (dada terbuka), mengenakan kain panjang pada bagian bawah, memakai gelang, cincin dan anting di telinga. Dalam falsafah Jawa, Panji menggambarkan kesucian manusia yang baru lahir, adalah gambaran manusia marifat, manusia insan kamil, yang tindak-tanduknya tidak akan goyah sedikit pun ketika menghadapi berbagai macam cobaan. Dia tetap tenang dan tawakal. Manusia marifat selalu sadar, bahwa usik-malik serta nafasnya semua tergantung Allah. Pasrah dan ikhlas adalah ciri kehidupan orang tingkat marifat. seorang yang sudah mampu mengendalikan hawa nafsu dan tidak mudah tergoda oleh segala yang bersifat keduniawian.

Sedangkan kata Wilis berasal dari bahasa Kawi yang artinya Hijau. Asosiasi  dari hijaunya alam, tumbuh-tumbuhan, sesuatu yang hidup dan berkembang dan tekad serta harapan yang akan selalu mendampingi perjalanan kita. Lambang dari kesuburan, kemakmuran, kejujuran, keluhuran, kesetiaan, kebangkitan, keyakinan, kepercayaan, keimanan, kesanggupan dan pengharapan. Maknanya adalah berserah diri pada Sang Kuasa mengenai masa depan.

pamor nyeprit, majapahit

PAMOR TETESING WARIH, atau sering juga disebut banyu tetes. Adalah salah satu bentuk gambaran pamor yang menyerupai tetesan air yang tidak teratur. Pamor tetesing warih tergolong pamor mlumah dan tidak memilih, siapa saja dapat memilikinya. Pamor ini dipercaya mempunyai tuah yang baik untuk membantu pemiliknya mencari rejeki.

Pamor ini menjadi pameling (pengingat) dalam belajar memaknai kehidupan, dimana tetesan air bisa melubangi kerasnya batu karang. Mengajarkan kegigihan agar tidak mudah menyerah, dan selalu tekun/ulet dalam menggapai sesuatu yang kita inginkan. Karena perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah terletak pada kegigihan. Juga mengajari bahwa segala sesuatu mungkin, asal kita istiqomah.

CATATAN GRIYOKULO, keris Sabuk Inten ini Penulis dapatkan dalam kondisi masih kotor dari desa Ngargoyoso di sekitar Gunung Lawu melalui peran seorang kawan yang gemar melakukan lelaku di Candi Ceto ketika malam Purnama dan keris Sabuk Inten ini sebelumnya memang dimiliki oleh saudara Juru Kunci Candi Ceto. Harus diakui pula, keris Sabuk Inten ini sudah tidak lagi berada dalam kondisi terbaiknya. Kita bisa melihat dari luknya yang terkorosi, bagian pejetan yang tembus juga karna korosi, hingga ke motif hiasan Panji Wilis-nya pun hanya menyisakan sedikit guratan emas sisa-sisa kejayaannya di masa lalu.

Bisa dipahami memang, jika ada beberapa pecinta tosan aji sangat  fanatik dengan tangguh Majapahit. Tidak usah jauh-jauh keris Sabuk Inten ini masih belum mau meredup dalam memancarkan aura “perbawa-nya” sendiri. Besinya mampu menampilkan kewingitannya, dan pamornya yang nyeprit justru menambah aura prasaja-nya. Penampakan bilah ramping dengan luk yang manis dan tantingan super ringan khas keris Majapahit. Dua titik emas Panji Wilis yang ada seolah mengingatkan jika keris ini dulunya tentu sangat “personal” atau sangat dipundhi-pundhi (dihargai) oleh pemilik sebelumnya, alih-alih sebuah keris panas. Untuk warangka kayu timoho yang ada masih bisa diandalkan untuk mendampingi bilah beberapa dekade ke depan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *