Pamor Raja Gundala Unik

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.777,777,- (TERMAHAR) Tn. AP, Gatsu – Jakarta


1. Kode : GKO-354
2. Dhapur : Brojol
3. Pamor : Raja Gundala
4. Tangguh : Madura/Pesisiran? (Abad XIX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 337/MP.TMII/II/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Kolektor Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 37,8 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 44,8 cm
8. Keterangan Lain : unik, dewanya pamor


ULASAN :

BROJOL, adalah salah satu dhapur keris lurus yang paling banyak dijumpai dan mudah dikenali bentuknya, karena hanya memiliki 1 (satu) kelengkapan ricikan saja yang menyertainya yakni: pejetan, selain itu tidak ada ricikan lainnya lagi. Menurut mitos/dongeng keris dhapur brojol bersama dengan dhapur betok dibabar oleh mpu Windusarpa pada masa pemerintahan Nata Prabu Kudalaleyan, tahun jawa 1170.

FILOSOFI, Bahasa Jawa adalah bahasa yang kompleks dan rumit, banyak sekali kata atau sebutan istilah yang sulit sekali untuk diterjemahkan, termasuk didalamnya istilah “brojol”. (m)Brojol adalah suatu istilah atau terminologi jawa sering dipergunakan untuk mengungkapkan peristiwa lahirnya jabang bayi ke dunia (dari alam rahim ke alam dunia). Keris sebagai suatu karya spiritual, tentunya juga “membawa pesan” yang ingin disampaikan oleh sang empu. Bayi yang baru saja dilahirkan tentunya sangatlah polos dan bersih, belum memiliki apapun kecuali berpasrah diri terhadap ibunya, begitulah kita wajib berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesungguhnya dengan kelahiran itu, kita kembali diingatkan akan asal muasal kita. Pesan yang ingin dititipkan oleh sang empu melalui keris dapur brojol adalah agar manusia dapat dilahirkan kembali secara spiritual – kembali ke fitrah (lahir dan hidup baru menjauhi dosa-dosa lama) atau hijrah (berpindah menuju kehidupan lebih baik, bermakna, dan indah).

Ketika kita sudah mbrojol (lahir) berarti kita siap untuk tahap berikutnya, yakni hidup. “Hidup sekali harus berarti”. Berarti mempunyai makna bahwa orang lain akan merasakan adanya kita dan lingkungan merasakan manfaat kehadiran kita. Ketika kita diberikan kesempatan untuk hidup maka berilah apapun yang bisa dibagikan dan bantu apapun yang bisa dilakukan. Dengan memahami dari mana dulu kita berasal dan akan kemanakah kita ini nantinya (sangkan paraning dumadi), hidup akan mempunyai arti. Alhasil tahap selanjutnya tidak akan pernah berbuah penyesalan. Tahap yang dimaksud adalah kematian, karna kematian merupakan takdir yang akan kita terima diujung waktu sebagai penggenapan akan kelahiran. Maknanya, jalan menuju pulang (kematian) itu adalah jalan yang harus ditapaki oleh seseorang sejak sekarang. Sejak hidup di dunia ini, kita sudah diseru untuk merenungi dan mempersiapkan bekal kematian. Hal itu bisa dilakukan dengan cara bersemedi, atau berdzikir atau meditasi, yaitu memutuskan hubungan dengan masalah masalah duniawi untuk kembali ingat dan menyebut nama Yang Maha Kuasa.

EMPU-EMPU MADURA, Dalam buku “Pengertian Tentang keris di Pulau Madura, karya Zainalfattah, yang diterbitkan tahun 1952, oleh Pertjetakan Pers Nasional, Surabaya mencatat; menurut legenda orang Madura, empu keris tertua di pulau ini adalah Empu Nepa yang membuka besalen di Desa Ketapang, Sampang. Empu Nepa ini hidup mengabdi kepada penguasa pertama Madura yang bernama Raden Sagoro atau Tumenggung Gemet.

Konon pula berdasarkan cerita tutur yang disampaikan orang tua dahulu kala pada masa pertengahan Majapahit hidup seorang Empu terkenal bernama Buyut Majapahit. Empu Buyut Majapahit gemar berkelana dengan ditemani oleh para pandenya, antara lain ke daerah-daerah di Pulau Madura. Salah satu pandenya bernama Buyut Palengghijan membuka besalennya sendiri, di daerah Kawedanan Kedungdung, Sampang. Buyut Majapahit pun kemudian menetap di pulau kecil di sebelah timur pulau Madura, yaitu Pulau Poteran, atau disebut juga Pulau Tlango, atau Gapurana. Empu senior ini menetap di pulau tersebut hingga akhir hayatnya, dan dimakamkan di Desa Kombang di pulau kecil tersebut.

Empu lain yang terkenal di Madura adalah Empu Pekandangan, yang merupakan bapak angkat Jokotole, tokoh legendaris Madura yang menjadi Raja Sumenep ke-13, bergelar Pangeran Secodiningrat III (1415-1460). Seorang Empu keris yang juga terkenal, berdiam di Pamekasan adalah Empu Keleng Pademayu. Empu lainnya yang juga tersohor adalah Empu Supo, yang merupakan Empu terhebat di zamannya. Suatu hari dia diutus untuk mencari pusaka Majapahit yang hilang. Setelah sekian lama mendapat keyakinan bahwa pusaka yang dicarinya berada di luar Jawa, maka menyeberanglah ia ke pulau Madura, dan menetap di Kampung Bara Tamba, Bangkalan. Di sana, dia menamakan dirinya Kiai Brojoguno. Di desa ini, menyebarkan ilmunya membuat keris dan alat-alat pertanian. Merasa masih tak beroleh info yang pasti, Empu Supo ini kemudian hijrah lagi dan menetap di desa Tonjung, Bangkalan. Kembali Empu musafir ini mengajar penduduk setempat cara-cara membuat peralatan dari besi dan keris. Empu Supo kemudian pindah lagi ke Desa Gera Manjeng, Pamekasan. Di desa ini dia menamakan dirinya, Kiai Koso. Di Pamekasan ini pula, Mpu Supo menurunkan dua putera, yang nantinya juga menjadi Empu keris, bernama Mpu Masana dan Empu Citronolo. Kabarnya keris-keris Koso yang dibabar di Gera Manjeng, rata-rata terkenal sebagai keris yang ampuh dan sakti. Empu Koso juga mempunyai sahabat seorang Empu keris yang hebat, bernama Empu Ki Dukun, yang tinggal di Desa Barurambat. Kedua sahabat ini sering menempa keris dalam satu besalen. Oleh karenanya dari desa ini lahirlah keris-keris yang terkenal dengan sebutan keris Koso Madura dan keris Barurambat, yang rata-rata berupa keris-keris tak hanya indah namun juga ampuh. Empu Supo kemudian berpindah lagi, dan kali ini menentap di Desa Banyu Ayu, Sumenep. Di sini Empu Supo juga ditemani oleh sahabatnya, Kia Bromo, yang juga seorang empu keris dari Desa Pandeyan. Namun tak berapa lama, Empu Supo juga pindah lagi ke Desa Karang Duwa. Keris-keris karya Empu Supo di Banyu Ayu sering disebut keris Koso Banyu Ayu, sedangkan yang dibuat diKarang Duwa terkenal dengan keris Koso Yudagati. Sedangkan keris-keris karya Kiai Bromo disebut Keris Brama Bato. Di Sumenep, Empu Supo tinggal agak lama, yaitu ketika menetap di Desa Barungbung. Di sini, sang Empu membentuk keluarga baru, sehingga memiliki keturunan banyak, serta banyak murid-murid pandai. Maka keilmuan Empu Supo semakin menyebar luas dari Desa Barungbung hingga seluruh wilayah Sumenep.

Setelah pengembaraan Empu Supo di pulau Madura itu, banyak sekali empu-empu keris yang menyebar di wilayah Madura. Sebut saja Empu Bira yang berdomosili di Desa Bira, Ketapang, Sampang. Empu Chatib Omben dari Desa Omben, Sampang. Empu Combi dari Desa Combi Kedungdung, Sampang. Empu Blega di Desa Blega, Bangkalan. Dan masih ada nama empu keris lain, seperti Empu Pakong, Empu Blumbungan, Empu Pangolo Begandan, Empu Tambak Agung, dan Empu Ario Pacinan.

Selain itu ada juga empu-empu keris yang berasal dari kaum bangsawan. Seperti Empu Ki Ario Minak Sunoyo anak dari Ario Damar dari Palembang, yang tinggal di keratonnya Proppo, Pamekasan.  Karya-karyanya dienal sebagai keris tanguh Sumenep Adiningrat. Juga diketahui bahwa Sultan Pakunotoningrat di Sumenep juga cukup piawai membuat keris. Namun dari kaum bangsawan kesemuanya yang paling terkenal membuat keris adalah Panembahan Sumolo. Dia adalah ayah dari Sultan Pakunotoningrat, dan ketika menjadi Adipati Sumenep bergelar Pangeran Notokusomo I (1762-1811).

TENTANG TANGGUH, Pengaruh pesisiran tidak bisa hilang dari keris Raja Gundala ini. Panjang bilahnya yang hampir 38 cm mengesankan bentuk birawa (besar) diantara keris-keris lurus umumnya. Karakter besi dan pamor nggajihnya yang kering (kemungkinan penyepuhannya menggunakan air yang banyak mengandung garam) seolah tak ingin kehilangan peran serta untuk menunjukkan karakter pesisiran yang tegas, dan pemberani. Sandangan yang menyertainya pun terbilang “cakep”. Warangka gayaman kagok gabel yang terbuat dari kayu timoho lawasan telah digebeg ulang menampilkan pelet yang kontras. Sedikit kekurangannya barangkali hanya korosi di bagian ujung keris. Dan dengan melihat bentuk pesi yang ada sangat dimungkinkan keris Raja Gundala ini berasal dari era yang lebih sepuh dibandingkan abad yang tertulis pada Surat Keterangan.

Mengenai bentuk Pamor Raja Gundala bolak-balik, rasanya jika sepuluh orang ditanya maka kesepuluh orang tersebut akan memberikan jawaban yang sama, yakni dalam bentuk seorang pria memakai sorban di kepala (seperti Pangeran Diponegoro) dalam posisi duduk bersila dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, seperti hendak berdzikir. Sebuah berkah tersendiri.

PAMOR RAJA GUNDALA,  tergolong pamor yang langka, karena termasuk jenis pamor tiban (tidak dirancang). Biasanya, pamor raja gundala terselip diantara pamor lain yang lebih dominan, seperti pamor wos wutah, pulo tirto atau ngulit semongko. Bentuknya ada yang menyerupai ganbaran abstrak hantu, makhluk halus, manusia hingga binatang. Pada umumnya, pamor raja gundala muncul di bagian sor-soran keris atau tombak, jarang yang dijumpai pada tengah badan bilahnya atau pucuknya.

bentuk pamor raja gundala

Menurut kepercayaan sebagian besar masyarakat, keris berpamor raja gundala adalah untuk pengusir atau penangkal gangguan makhuk halus, penangkal guna-guna (santet), dan menghindarkan dari fitnahan orang. Pamor ini tergolong pemilih, tidak setiap orang akan cocok memilikinya. Lagipula jika mereka yang cocok pun harus memiliki pantangan berbagai hal, utamanya tidak boleh melakukan hal-hal yang bersifat maksiat, terutama yang menyangkut soal sex.

(sumber : pamor doewoeng, stoomdrukkerij de bliksem 1937)

Menurut sumber “pamor doewoeng” (1937) dituliskan; yen ono pamor mangkene rupane iki, diarani pamor: Raja Gundala, ya iku kang dadi dewaning pamor, yen ana gegaman landep, ana pamor kaya wong lanang utawa wong wadon, ya iku gambare kang tunggu, utawa yen anggawa rembulan karo ulo, iya iku eyang eyangange Batara Surya, mulane para empu jaman kuno iku, yen gawe gaman kang landep nganggo gambar manuso, utawa ngganggo gambare Empu Ramadi, supaya abisa oleh sawab, iya iku kang pasti dadi ratuning prajurit, kang angluwihi kowasane, samasane ana paprangan, ya iku kang ngamuk utawa kang numpes marang mungsuhe, jen duwe karep ala utawa becik pasti ketutugan. Atau jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia artinya kurang lebih: jika ada pamor begini wujudnya, dinamakan pamor: Raja Gundala, yaitu yang menjadi dewanya pamor, jika ada senjata tajam, ada pamor (berwujud) seperti orang laki-laki atau orang wanita, ya itulah wujud yang menunggu (keris), atau jika membawa rembulan serta ular, ya itu Eyang Batara Surya, maka dari sebab itu para empu di jaman kuno itu jika membuat senjata yang tajam memakai gambar manusia, atau memakai wujud Empu Ramadi, supaya bisa mendapat tuah, ya itulah yang menjadi ratunya prajurit, yang kuasanya melebihi (dari yang lain), semasa dalam peperangan, ya itu yang ngamuk atau menumpas (habis) musuhnya, jika memiliki keinginan yang jelek atau baik pasti tercapai.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *