Dholog

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555,555,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-349
2. Dhapur : Dholog
3. Pamor : Pulo Tirto
4. Tangguh : Mataram Senopaten (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 154/MP.TMII/II/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Kebumen, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 36 cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 42 cm
8. Keterangan Lain : kondisi bilah prima, warangka dusun


ULASAN :

DHOLOG, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik lugas, sogokan rangkap, tikel alis dan sraweyan. Ricikan lainnya tidak ada.

FILOSOFI, Jati nom arane dholog. Dholog berasal dari bahasa sansekerta yang artinya pohon jati muda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada masanya. Ada masa dimana perjalanan hidup terasa begitu mudah, tapi ada juga saat Tuhan sengaja memberikan kita berbagai ujian seperti saat musim kemarau datang. Masa dimana segala sesuatu tampak berjalan begitu mudah, tetapi bisa berubah dimana banyak hal tiba-tiba menjadi begitu kering.

Salah satu proses yang selalu dialami oleh pohon jati setiap tahunnya adalah proses menggugurkan daun pada musim kemarau, sebagai salah satu bentuk penyesuaian diri (adaptasi) dengan lingkungan dan kondisi sekitarnya. Ketika musim kemarau datang pohon jati menggugurkan hampir seluruh daunnya. Dan dihadapkan dalam kondisi untuk mengikhlaskan dan membiarkan daun-daun itu jatuh ke bumi. Itulah hikmah yang Tuhan berikan melalui pohon jati. Meski tanpa daun, pohon jati justru sedang menempa dirinya untuk sanggup bertahan dalam keterbatasan air dan teriknya cuaca serta menjadi salah satu pohon terbaik yang pernah ada. Dia tak akan mati. Ia bahkan sedang ”berpuasa” untuk tidak berkembang secara kasat mata. Ia melewati ujian itu dengan mengugurkan masalah yang ada di daun dan memperbaiki kulitas kayu di batangnya. Proses yang tidak mudah itulah yang menjadikan ia sebagai salah satu pohon terkuat di dunia. Tak lama setelah itu pohon jati kembali bersemi menumbuhkan daun-daun mudanya, dengan batang pohon yang menjadi semakin keras dan besar.

Perubahan bisa saja terjadi, musim kehidupan bisa berganti. Ada waktunya kita harus melewati masa-masa seperti itu. Bukannya Tuhan tidak akan pernah membiarkan kesusahan yang berkepanjangan pada umatnya? Itulah fase yang memang Tuhan izinkan untuk kita lewati. Saat masa penuh dengan cobaan tiba, percayalah bahwa bersama Dia, kita akan tetap sanggup melewatinya. Tuhan ingin menjadikan kita pribadi yang kuat dan tak tergoncangkan. Semakin tua usia sebuah pohon jati maka kualitas kayu yang dihasilkan pun akan semakin baik. Demikian pula dalam hidup kita, semakin usia kita bertambah maka semakin kaya diri kita akan pengetahuan, bertambah kebijaksanaan dan semakin dewasa dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Dengan kata lain dengan bertambahnya usia diharapkan semua kualitas yang ada dalam diri kita juga semakin naik kelas.

Dalam esensinya, Dholog merupakan dhapur Keris dengan personifikasi dari sebuah kesejatian hidup, kesejatian tujuan, kesungguhan tekad, juga simbolisasi akan pengingat bahwa pemegang pusaka akan senantiasa mencari dan menemukan makna hidup di dunia, dan tidak mudah dipengaruhi dan diombang-ambingkan oleh hal-hal yang tidak baik. Sehingga tidak terlupa akan maksud dan tujuan hidup yang telah digariskan Tuhan Yang Maha Kuasa (Jati-Jatining Wong Urip).  Karena makna dari nama “Jati” sendiri artinya adalah Sejati / Kesejatian”.

TANGGUH MAJAPAHIT PERALIHAN SENOPATEN, | ing Mataram Senapati winarni | sikutan prigêl srêng bagus | wêsi biru sêmunya | garing alus pamor pandhês tancêpipun | angawat kêncêng tur kêras | tan ana kang nguciwani  || Serat Centhini

Dalam Serat Centhini ditulis Tangguh Mataram Senopaten mempunyai bentuk pasikutan yang prigel bagus, besi semu biru, kering halus, pamornya menancap pandes, ngawat kencang, keras, tidak ada yang mengecewakan. Pada umumnya keris-keris Senopaten masih membawa karakter bentuk dan bahan dari keris-keris Majapahit, hal ini dikarenakan empu-empu pada masa Panembahan Senopati merupakan empu Majapahit dan atau keturunannya. Salah satu empu Majapahit yang mengabdi hingga masa Panembahan Senopati adalah Empu Supo Anom atau lebih dikenal dengan mana Empu Kinom.

Dalam Buku Pakem Pusaka Duwung, Sabet Tombak peninggalan R.Ng Ronggowarsito yang ditulis ulang R.Ng Hartokretarto (1964) mencatat dua hal :

Kyahinom Mataram, gandjane sebit luntar radi gilig, gandik sedengan radi landung, kembang kacang ageng gabog, tikel alise pedjetan sogokan djero landung wijare sedengan, siwilah radi kandel, dedeg sedengan, wesine alus nglumer bludru garinge sedengan, pamore alus semi nyalaka, pantek gandja djene.
Yasanipun Kandjeng Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mantaram gandjane sebit lontar, gandik ageng sebog memel, kembang katjang ageng gabog, tikel alise pedjetan sogokan sami wiyar djero landung. Siwilah kandel dedeg sedengan, luk-lukane radi keker, wesine alus nglugut garing sanget, pamorane radi alus sami njalaka

Atau secara umum digambarkan tangguh Senopati mempunyai perawakan sedang, wilah agak tebal dengan luk agak kekar. Bagian gandiknya sedang agak panjang dengan sekar kacang besar. Bagian tikel alis, pejetan dan sogokan dibuat dalam, lebar dan berjurai panjang. Besinya halus agak kering, dan pamornya juga putih terang dan halus,

Gonjo Sebit Ron Tal, disebut begitu karena jika dilihat dari sisi bawah (wuwungan) bentuknya memang mirip sobekan daun pohon tal (pohon siwalan). Keris-keris tangguh Mataram dan sesudahnya banyak yang memakai bentuk gonjo sebit ron tal. Keris-keris dengan bentuk gonjo sebit ron tal juga banyak dicari karena banyaknya kenyataan bahwa keris dengan gelar (Kiai, Kanjeng Kiai dan Kanjeng Kiai Ageng) pada tangguh tua sekalipun, ekor cicaknya tidak runcing sekali. Berbeda dengan gonjo nguceng mati yang bentuknya seperti ikan uceng (wader) yang sudah mati kaku. Dengan bentuk sirah cecak kecil lancip dan buntut urang yang panjang serta lancip pula.

perbedaan gonjo nguceng mati dengan gonjo sebit ron tal, serta contohnya

Sogokan Kandas Wojo, beberapa tangguh keris memiliki karakter dimana bagian besi dan garap menjadi lebih utama dari sekedar pamor. Salah satu kelebihan Kerid Dholog ini adalah memiliki ciri khas pada sogokan dibuat “kandas wojo” (kandas  atau dalam hingga besi/bajanya kelihatan jelas) dan membentuk pamor bawang sebungkul (sebungkul bawang).

Secara keseluruhan bilah pusaka ini masih terbilang prima; luk-nya masih meliuk cantik, janur tipis yang melintas antara bagian sogokan depan dan belakang masih tajam, bagian greneng masih sangat terbaca huruf dha-nya, hingga ke bagian pesi masih wutuh gilig sempurna. Kondisi ini juga sangat masuk akal, karna jika kita menilik material terutama besi yang terdapat pada keris ini bukan termasuk material sembarangan. Aura wilwatikta masih terasa pada bilah ini, karna kemungkinan bisa saja besi yang ada pada pusaka ini merupakan besi “tinggalan” majapahit atau memang dibuat oleh Empu-Empu yang mempunyai trah Majapahit. Sogokan yang dibuat kandas waja tentu saja menuntut skill di atas rata-rata dari sang Empu juga material yang baik karena rawan tembus. Pamor yang nyalaka (putih terang) sangat indah berpadu mengimbangi karakter besi sulak biru yang halus lumer. Sebuah karya cipta yang sanggup melambungkan angan (ngayang batin).

Dan mungkin pergantian sandangan bisa menjadi pilihan selanjutnya, karna meskipun masih layak tapi pada beberapa bagian sudah tidak dalam kondisi yang baik, seperti pada bagian gandar ada yang berlobang alami karna tergerus sang waktu, juga pada bagian seretan/ada-ada yang terdapat pada godongan bagian belakang gumpil walau sebetulnya pendoknya masih sangat utuh, tebal dan kuat.

PAMOR BAWANG SEBUNGKUL, bungkul merupakan kata bilangan yang digunakan untuk menyatakan jumlah atau ukuran bawang putih. Bawang sabungkul adalah bawang yang terdapat pada satu pangkal tangkai daun bawang. Biasanya bawang sabungkul terdiri atas 8-14 siung bawang putih. Istilah bungkul tidak banyak diketahui oleh masyarakat sehingga istilah tersebut jarang sekali digunakan untuk menyatakan jumlah atau ukuran bawang putih. Masyarakat lebih mengenal kata siyung daripada bungkul sebagai penunjuk satuan atau ukuran bawang putih.

perbedaan pamor nunggak semi dengan pamor bawang sebungkul, serta contohnya

Dinamakan bawang sebungkul juga dikarenakan letak pamornya berada pada bagian bungkul keris, yakni tonjolan di bagian paling bawah dari pangkal keris, tepat di tengah bilah atau di atas pesi. Bentuknya sekilas hampir mirip dengan pamor nunggak semi. Oleh sebagian penggemar keris, pamor ini dianggap sangat baik untuk memelihara keharmonisan dalam berumah tangga yang samawa, Pamor ini sifatnya tidak pemilih, artinya akan cocok bagi siapa saja.

 

perbedaan pamor beras wutah dan pulo tirto, serta contohnya

PAMOR PULO TIRTO, bentuknya hampir mirip dengan pamor wos wutah. Perbedaaannya, pada pamor Pulo Tirto bulatan-bulatan yang ada lebih besar dan agak berjauhan atau lebih renggang tidak menggumpal satu sama lain seperti bentuk gugusan kepulauan dalam sebuah peta. Tuahnya untuk ketentraman hati pemilik, keharmonisan rumah tangga, dan kemudahan dalam mencari rejeki.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *