Lawe Satukel

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.000,000,- (TERMAHAR) Tn. SI – Jagakarsa, Jakarta Selatan


1. Kode : GKO-316
2. Dhapur : Carubuk
3. Pamor : Lawe Saukel
4. Tangguh : Majapahit (Blambangan?)(Abad XIV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1001/MP.TMII/IX/2018
6. Asal-usul Pusaka : Klaten, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 33,5 cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 39,5 cm
8. Keterangan Lain : sudah diwarang ulang, pendok perak, pamor langka


ULASAN :

ya gawèkna ingsun | cothèn pranti pambêlehan | ingkang patut dèn anggo wong laku santri | mêngko sun grèsèk tosan || kangjêng sunan nuli nyipta wêsi | mêdal saking mêrtabating wahdat | amung saklungsu gêdhene | pinaringakên sampun | mring Ki Supa sigra kinardi | pinijêt kaping tiga | nuli dadi  dhuwung | anulya katur jêng sunan | kalêrêsan ingaran crubuk kang kêris | kasmaran kangjêng sunan || …. – Babad Demak

CARUBUK, adalah salah satu dhapur keris luk tujuh. Ukuran panjang bilahnya sedang, biasanya nglimpa, tanpa ada-ada. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah satu, selain itu memakai sraweyan dan greneng. Menurut Babad Demak, dhapur Carubuk merupakan keris pesanan kedua dari Kanjeng Sunan Kalijaga dibabar oleh Empu Supo Anom alias Jaka Supa. Karena beliau selaku santri merasa kurang cocok dengan keris dhapur sengkelat yang lebih pantas untuk petinggi negara. Lalu Kanjeng Sunan Kalijogo memberikan besi martabat wahdat sebesar biji klungsu (asem), dengan dipijit tiga kali oleh Mpu Supa maka jadilah dhapur Carubuk. Menjadi sebuah pasemon (perlambang) bahwa masuknya Islam di Jawa tidak bisa meninggalkan budaya dan kearifan lokal.

Keris dhapur Carubuk semakin menjadi sangat terkenal ketika menjadi piyandel “ampuh kagila-gila” yang dipegang  dan dimiliki oleh Raja Kasultanan Pajang, Panembahan Hadiwijaya atau yang lebih familiar disebut Joko Tingkir. Dengan keris Carubuk yang dimilikinya, Jaka Tingkir dikenal menjadi sosok yang sangat pandai, cerdik, pemberani, berwibawa dan sangat sakti, sehingga terangkat derajad kemuliannya menjadi menantu Sultan Demak (Trenggono) kala itu. Seiring runtuhnya Kasultanan Demak, Jaka Tingkir kemudian mendirikan dinasti Kasultanan Pajang di Pedalaman Jawa Tengah, dan bergelar Panembahan Hadiwijaya. Tak heran bagi sebagian pecinta keris yang merasa berdarah jawa tulen (santri kejawen) merasa wajib memiliki dhapur satu ini.

FILOSOFI, secara khusus dhapur carubuk berasal dari besi “mertabating wahdat“, adalah jembatan penghubung pemikiran sufistik di tanah Jawa (sangkan paraning dumadi) dengan ajaran tasawuf (martabat tujuh). Dalam konsep martabat tujuh, martabat wahdat merupakan urutan kedua. Pada tahap wahdat ini mulailah individuasi. Inilah kenyataan Muhammad yang tersembunyi di dalam rahasia Tuhan, di dalam cara-cara berada dzatNya. Semua kenyataan belum terpisah antara yang satu dengan yang lainnya, karena masih terikat satu sama lain dalam cara-cara berada itu. Antara ide yang satu belum ada perbedaan dengan ide yang lain, karena masih tersembunyi di dalam wahdat.

Martabat wahdat ini dapat di ibaratkan tinta dalam wadahnya. Semua huruf terkumpul di dalam tinta, huruf yang satu belum dibedakan dari huruf lain. Demikian juga dalam wahdah semua huruf, Tuhan dan kita, belum terpisahkan. Dari tinta inilah segala sesuatu itu terjadi; gambar rumah, gambar gunung, gambar manusia , batu, angin dan bentuk-bentuk lainnya. Dan tinta itu bukanlah yang menulis, akan tetapi Dialah Yang menggerakkan, Yang hidup, Yang Kuasa, dengan demikian muncullah sifat-sifat siapa yang menggoreskan tinta itu. Bisa ditarik kesimpulan bahwa sifat bukan hakikat ketuhanan akan tetapi sifat adalah yang bersandar kepada Dzat Tuhan. Sesuatu yang bersandar kepada Dzat bukanlah Tuhan, kedudukannya sama halnya dengan tanaman, pohonan, gunung, surga dan neraka, karena semua muncul karena adanya Dzat yang Hidup, Dzat yang menggerakkan semua ini. Mengetahui Martabat ini disebut wahdat dan hakikat kemuhammadan atau Nur Muhammad artinya cahaya yang penuh pujian Tuhan. Inilah permulaan segala sesuatu, sehingga Allah bisa disifati karena Ia Yang Menciptakan (Al Khaliq), Yang Memelihara (Al hafidz), Yang Perkasa (Al Jabbar), Yang Maha Kuat (Al qawwiyu), Yang Hidup (Al Hayyu) dst. Sedangkan sifat itu sendiri bergantung kepada sang Dzat (tidak berdiri sendiri ), oleh karena itu Islam melarang berhenti kepada sifat.

Hal ini juga digambarkan oleh kaum Hindu sebagai Trimurti (tiga sifat Tuhan yang tidak terpisahkan), yaitu sifat Tuhan Hyang Widi Wasa, dimana ketiga sifat itu tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya yaitu Dewa Brahma (Pencipta/ Al Khaliq), Wisnu ( Pemelihara/ Al Hafidz), Siwa ( Perusak atau pelebur/ Al Jabbar). Kaum Hindu menyadari bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak bisa digambarkan dengan pikiran, tidak bisa diserupakan dengan yang lainnya, Aku berada dimana-mana diseluruh alam semesta dalam bentuk-Ku yang tidak terwujud (tidak bisa dibayangkan). Semua makhluk hidup berada didalam diri-Ku(liputan-Ku) tetapi Aku tidak berada di dalam mereka (Bhagavat Gita Sloka 9.0 ) dan tidak untuk menyembah sifatnya seperti tercantum dalam kitab Bhagavat Gita sloka 9.25 : Yanti deva-vranta devan pitrn yanti pitr-vantrah, bhutani yanti bhutejya , yanti mad- yajino pimam, artinya : orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan diatara para dewa , orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan ditengah-tengah makhluk-makhluk seperti itu. Dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku.
TANGGUH MAJAPAHIT, bicara soal keris Majapahit laksana bicara tentang daya magi sebuah keindahan masa silam. Tak heran muncul guyonan di kalangan masyarakat perkerisan jika Orang dianggap belum “genap” koleksinya jika belum memiliki keris Majapahit. Lalu apa yang perlu dikenang dari sebuah masa segemilang Majapahit? Mulai dari kisah awal pendiriannya (babad alas tarik), lalu melintasi prahara demi prahara, taklala kebesaran kerajaan harus dibasuh oleh darah satria-satria terbaiknya, hingga Sumpah Palapa mengantarkan Majapahit mencapai masa keemasan Nusantara, gemah ripah loh jnawi, tata tentrem karta raharja.
Sebuah zaman juga selalu melahirkan seniman-seniman besar. Mereka mewakili masanya, dan menjadi pertanda pada zamannya. Mereka lahir ditempa oleh berbagai keadaan. Termasuk soal keris. Rentang usia, perpaduan antara Eksoteri (bahan material dan garap kasat mata) dan Isoteri (berhubungan dengan angsar, tuah dll) dianggap sebagian kalangan menyatu dalam komposisi dan harmonisasi yang pas, hal inilah yang mengundang daya pikat luar biasa dari keris Majapahit.
Menurut Serat Centhini, keris dan tosan aji tangguh Majapahit memiliki ciri-ciri, antara lain; sikutan (gaya garapan) terkesan wingit dan angker, dasar besinya lumer dan kering, berwarna kebiruan dengan serat besi yang dapat halus. Pamornya terkesan kuat dan ngawat (seperti kawat yang ulet). Pada bilah pusaka ini tantingannya ringan dengan luk luwes membawa DNA Majapahit. Bentuk gandik-nya pun tidak kalah unik, terlebih bentuk sekar kacangnya yang mirip telale gajah khas era pra Islam. Sirah cicak yang lancip dengan bentuk gonjo nguceng mati serta diikuti  bentuk dha  (jawa) pada greneng atau ri pandan yang kurang jelas menurut Serat Panangguhing Duwung merupakan ciri-ciri beberapa Empu di Majapahit antara lain; Empu Ki Jigja, Empu Angga Cuwiri, dan Empu Pakelun (Kumpulan Empu, seperti dari dusun Taruwangsa, Majasta, Banyubiru, Tembayat, Serang dll).
Ketika pusaka dilolos dari warangka terasa nyesss…., menanting sendiri pusaka ini kita akan dapat merasakan aura perbawa tersendiri dari keris ini. Besinya Karangkijang, ototnya seperti air lautan, berwarna biru hitam, jika dipukul (tintingan) berbunyi brengengeng seperti lebah; angsarnya dingin, perbawanya sabar,  oleh karenanya di dalam jagad tosan aji  disebut pendetanya besi, jika digunakan untuk “hajat” ampuh. Masih menurut serat wesi aji, makanannya adalah sering dikutugi (menyan), diberikan minyak wangi, serta ditaburi remukan kepala ayam. Dan sepertinya memang menjadi piyandel orang tua jaman dahulu yang dirawat sebagai mana mestinya, karna ketika didapat bilah berwarna coklat gelap tertutup oleh endapan minyak dan kemenyan (bukan karat).
PAMOR LAWE SAUKEL, ada yang menyebutnya dengan pamor lawe/benang setukel, adalah bentuk gambaran pamor yang bentuknya menyerupai gulungan benang yang terurai (terlepas). Pamor ini termasuk jarang dijumpai dan banyak dicari oleh para kolektor maupun pemburu esoteri karena diyakini tuahnya dapat membantu pemiliknya menguraikan masalah ruwet yang sedang dihadapi. Oleh karenanya dianggap cocok dimiliki oleh mereka-mereka yang bergelut dalam dunia hukum, seperti pengacara, jaksa, hakim, polisi bahkan oleh mereka yang sedang tersandung masalah hukum. Sebagian lagi meyakini keris pamor lawe saukel dapat menangkal serangan guna-guna karena dibabar menggunakan mantra-mantra khusus (kolocokro dll). Namun begitu tidak setiap orang merasa cocok bila memiliki keris dengan pamor ini, karena pamor lawe saukel tergolong pemilih.
Ada sebuah tradisi yang pernah ada pada jaman Majapahit, yang sangat sedikit masih dilakukan hingga saat ini, yaitu yang disebut dengan “Selametan Kalung Lawe”. Maksudnya adalah upacara selametan (keselamatan) yang menggunakan saranan benang (lawe = benang; Bhs Jw). Setelah bayi puput puser (7-15) hari, si jabang bayi akan dibuatkan kalung dari benang kenur. Empat helai benar kenur yang tebal diwarnai merah, kuning, putih dan hitam dengan teres (pewarna kue) dan tinta mbak (tinta hitam cina). Keempat benang itu kemudian disatukan dengan cara dipilin secara manual dengan menggunakan landasan punggung si bayi yang ditidurkan secara tengkurap di pangkuan. Empat benang yang dijadikan satu pintalan tali tebal yang berwarna-warni ini kemudian dipakaikan sebagai kalung si bayi. Sambil menembangkan mantera-mantera seperti Sesanti Purwo, Kolocokro serta Sastra Pinodati, biasanya si bayi yang sebelumnya menangis meronta-ronta seolah menjadi nyaman dan tertidur pulas. Kalung lawe ini akan putus secara alamiah sekitar satu hingga dua tahun kemudian.

Secara filosofis “Selametan Kalung lawe” bisadijabarkan dengan penalaran, yaitu empat watak manusia yang dianalogikan dengan kekuatan empat unsur dalam tubuh manusia, yang memiliki empat sinar aura pokok. Dapat dibangkitkan dalam bentuk energi atau kekuatan supranatural, antara lain dijabarkan :

  1. Benang merah adalah lambang : Darah – api ; nafsu marah; kewibawaan, Amarah – aura merah- letaknya di Barat – tokoh pewayangannya Rahwana.
  2. Benang putih adalah lambang : Puser – angin, nafsu kesucian; kesolehan, Sophi’ah – aura putih – letaknya di Timur – tokoh wayangnya Wibisono.
  3. Benang kuning adalah lambang : Air Ketuban- air, nafsu duniawi; birahi, Mutmainah – aura kuning – letaknya di Utara – tokoh pewayangannya Sarpokenoko.
  4. Benang hitam adalah lambang : Ari-ari – tanah; nafsu kesetiaan; pengabdian, Alu’amah – aura hitam- letaknya di Selatan – tokoh pewayangannya Kumbokarno.

Empat aura tersebut aura atau energi imajiner itu dicipta sebagai bola maya yang mengelilingi tubuh seolah berupa lonceng pertahanan dimana si bayi berada di dalamnya (dinaungi) dan terlindungi oleh kekuatan imajiner tersebut. Kekuatan imajiner dari “sadulur papat” dipercaya menjadi pengasuh (momong/ngemong) untuk keselamatan, kesehatan, kecerdasan dan keberuntungan si bayi.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.