Pendok Slorok Yogya

Harga : 999,000,- (TERJUAL) Tn. MAY Sidoarjo


 
  1. Perabot : Pendok
  2. Model : Yogyakarta
  3. Motif :  Kala Makara
  4. Bahan : kuningan
  5. Keterangan Lain : bekas, terawat, tebal detail garap ok, utuh tanpa potongan, langka kolektor item

Ulasan :
PENDOK SLOROK, adalah salah satu jenis pendok yang hanya menutup sebagian gandar sebuah warangka (sarung) keris. Pada bagian depan atau muka pendok itu dibuat semacam sobekan atau celah memanjang ke ujung selebar sekitar 1,6 cm hingga 2,4 cm. Lalu pada bagian celah itu dimasukkan slorok yang terbuat dari logam pula, yang telah dipahat atau diukir indah. Dengan demikian, pendok slorok akhirnya juga menutup seluruh permukaan gandar warangka keris. Warangka Gaya Yogyakarta lebih banyak menggunakan pendok slorok jika dibandingkan dengan jenis warangka Gaya Surakarta atau daerah lainnya. Pendok dan slorok-nya terkadang terbuat dari bahan yang berbeda, misalnya emas dan perak, atau perak dan kuningan. Sementara itu di Surakarta, sebagian sloroknya bahkan terbuat dari kulit penyu.
 
KALA MAKARA, di india disebutnya kirtimukha. Ragam hias kala–makara sangat unik yang banyak dijumpai di candi-candi di Jawa, dimana biasanya ditempatkan di bagian pintu masuk candi. Terdapat perbedaan hiasan relung dan gawang pintu pada Candi Hindu dan Budha, dimana gawang pintu pada bangunan candi Budha umumnya berupa gaya Kala Makara, yaitu kepala Kala dengan mata melotot, peringai mulut yang menganga lebar namun tanpa rahang bagian bawah. Hiasan ini biasanya berada di atas pintu utama dan terhubung dengan Makara ganda. Sedangkan pada candi Hindu terdapat hiasan kepala Kala tengah yang terlihat menyeringai, mata melotot, lengkap dengan bagian rahang bawah. Hiasan ini diletakan di bagian atas pintu. Pada pintu juga tidak terdapat Makara.

Makara dan Kala adalah dua hal yg berbeda. Kala adalah buto/raksasa yg berwajah garang melambangkan sang waktu yg terus memakan kita. Biasanya diletakkan di atas pintu candi lalu bagian bawahnya ada dekorasi makara. Makara adalah hewan kendaraan dewa/dewi. Bentuknya berupa hewan kombinasi. Misalkan: gajah/buaya/rusa tapi bagian belakang dikombinasikan dengan hewan air seperti ikan ataupun naga. Secara salah kaprah, Kala-Makara sering dianggap nama lain dari Kala saja. Hal ini bisa dipahami dikarenakan makara sekedar aksesoris menambah estetika saja. Penekanan arti filosofinya lebih pada Kala. Dalam dunia keris, ada dhapur yang namanya makoro. Di bagian bilah ada ukiran Kala yang indah, tapi tidak ada makara (makoro)-nya sama sekali. Jadi memang makara dianggap identik dengan Kala itu sendiri.

Untuk memahami arti Kala, kita mesti bedakan arti populer dan filosofinya. Secara populer, Kala dimitoskan mengusir roh jahat. Kesangaran ekspresi wajah Kala dianggap pelindung di tempat suci (dharma protector), dalam hal ini adalah candi. Namun arti filosofinya lebih dari itu. Memasuki candi dan menaiki ruang candi mesti melalui pintu yang atasnya ada ukiran Kala. Upaya mensucikan diri mesti menyadari bahwa diri kita ini dimakan waktu/kala. Lahir, sakit, usia tua dan mati. Kita mengalami semua hal itu. Mensucikan diri adalah menundukkan ego kita karena ego adalah penyebab penderitaan dan ketidakdamaian. Dalam kehidupan duniawi kita mungkin banyak melakukan aktivitas jasmani; bekerja mencapai ini dan itu. Sangat mungkin ego justru menguasai. Merasa hebat, merasa lebih dan lain sebagainya. Tapi jika kita bisa menghayati makna Kala, maka sehebat apapun kita pasti akan mati, dimakan sang waktu.

Makna Kala adalah memaknai perubahan, lebih spesifik adalah memahami kematian. Ketika mengetahui bahwa kita akan mengalami kematian, maka ego tidak lagi menguasai. Ego akan tunduk. Lalu secara perlahan dan pasti ego memudar. Makna kematian membuat seseorang sadar dan kembali mensucikan diri. Seperti itulah orang zaman dulu dalam beribadah, mensucikan diri di candi. Makna simbolis candi adalah untuk mendukung laku spiritual. Memasuki pintu candi adalah upaya mensucikan diri, diawali dengan menundukkan ego (diingatkan dengan Kala) untuk mengarahkan diri pada visi spiritual, mencapai kebebasan (moksa), yang disimbolkan bagian atap candi yang memuncak menuju suwung.

Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *