Pandhawa Lare

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5,000,000,- (TERMAHAR) Tn. YG Tambun, Bekasi


 keris-pengging keris-tangguh-pengging
  1. Kode : GKO-200
  2. Dhapur : Pandhawa Lare
  3. Pamor : Kulit Semangka, Wirasat
  4. Tangguh : Majapahit (Pengging?) Abad XIII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 661/MP.TMII/XII/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : luk rengkol, bilah ramping

foto-tangguh-pengging sertifikasi-keris-pengging

Ulasan :

PANDHAWA LARE, kadang disebut pendawa lare, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima, ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah, pejetan dan tikel alis. Bagian ada-adanya cukup terlihat jelas, sehingga permukaan bilah keris itu nggigir lembu.

FILOSOFI, Lare = kanak-kanak atau semasa muda. Lakon ”Pandawa Lare” bercerita tentang liku-liku kehidupan keluarga Pandawa yang harus menjalani pengasingan. Berbagai rintangan kehidupan mereka hadapi. Peristiwa ini terjadi ketika keluarga Pandawa dan Kunti berkelana di hutan setelah lolos dari usaha pembunuhan oleh pihak Kurawa di Bale Sigala-gala. Ketika Nakula dan Sadewa, yang ketika itu masih kanak-kanak, menangis kelaparan, Dewi Kunti menyuruh Bima dan Arjuna untuk mencari makanan bagi adik kembarnya. Arjuna kemudian datang lebih dahulu. Waktu hendak memberikan dua bungkus nasi pada adiknya, Kunti lebih dahulu bertanya tentang asal usul nasi itu. Arjuna menceritakan bahwa nasi itu dimintanya dari seorang lurah di Desa Sendang Kendayakan. “Jika nasi itu berasal dari belas kasihan seseorang, makanlah sendiri. Jangan kau berikan pada adikmu.” Nasi yang dibawa Arjuna itu sebenarnya adalah pemberian Ki Lurah Sagotra, yang menganggap Arjuna berjasa baginya karena telah membuat istrinya yang semula tak acuh menjadi sayang kepadanya. Bahkan, sebagai pernyataan suka citanya, waktu itu Ki Lurah Sagotra bersumpah akan bersedia menjadi tawur atau tumbal perang bagi kemenangan para Pandawa dalam Baratayuda kelak.

Tidak lama kemudian Bima datang pula membawa nasi bungkus. Ia menceritakan bahwa nasi itu ia peroleh sebagai imbalan, karena Bima berhasil membunuh Prabu Baka (Prabu Dawaka) yang mempunyai kebiasaan memangsa manusia. Rakyatnya yang berterima kasih padanya minta agar Bima mau menjadi rajanya, namun Bima menolak. Waktu mereka menanyakan imbalan apa yang dapat diberikan, Bima meminta dua bungkus nasi. “Berikan nasi itu pada adik-adikmu, karena nasi itu kau peroleh dari hasil cucuran keringatmu.”

Spirit hidup Pandhawa dengan tetap menunjung tinggi harga diri, prinsip hidup mendasar yang harus tetap dipegang meskipun dalam keadaan kelaparan atau kesusahan. Harga diri tetap menjadi satu pegangan yang tidak boleh dipertaruhkan dalam kondisi apapun. Dari sisi religiusnya, lakon ini pun menyampaikan pesan akan nilai keimanan dan penyerahan diri secara total yang harus diterapkan dalam hidup di dunia. Dalam berbagai kesusahan yang sudah dirasa tidak ada jalan keluarnya sekalipun, Para Pandhawa tidak digambarkan sedikitpun menghujat Tuhan atas kehendak yang mereka alami. Juga nasehat untuk selalu berbakti kepada orang Tua terutama Ibu yang telah mengandung dan melahirkan.

       sor-soran-pengingluk-rengkol-penging

gandik-pengging luk-pengging

TENTANG TANGGUH, tatapan pertama pada keris Pandhawa Lare ini kita akan langsung terbius pada bentuk langgam luk nya yang tampil agak berbeda (rengkol) dengan keris lainnya. Rengkol adalah penamaan bagi salah satu ragam luk keris atau tombak yang lazim digunakan oleh para pecinta keris di Pulau Jawa. Luk yang rengkol artinya luk dengan lekukan amat dalam dibandingkan dengan luk pada keris umumnya. Sedangkan lawan kata rengkol adalah luk yang kemba, yaitu luknya tidak begitu kentara, karena kedalaman luknya dangkal sekali. Luk yang rengkol umumnya dibagi atas dua macam jenis, yaitu sarpa nglangi (ular berenang) untuk keris yang jumlah luknya dibawah tujuh; dan luk sarpa lumaku (ular berjalan) untuk keris yang jumlah luknya sembillan atau lebih. Jadi, pengibaratan luk keris dengan morfologi liukan gerak tubuh ular, apakah tegolong luk sarpa nglangi atau sarpa lumaku, bukan soal kedalaman lekukan luk nya saja, tetapi juga berkaitan dengan jumlah luknya. Pemahaman terhadap istilah luk yang rengkol maupun luk yang kemba juga penting bagi mereka yang ingin mempelajari tangguh keris. Jika dalam surat keterangan (sertifikasi) pada bilah ini tertulis perkiraan Tangguh berasal dari Majapahit Awal hingga Pertengahan (Abad XIII), dari langgam-nya sebagian para sutresna keris berpendapat bisa juga diasosiasikan dengan keris tangguh Pengging.

Dalam Ensiklopedi Keris Karangan Alm. Bambang Harsrinuksmo juga dijelaskan bahwa Tangguh Pengging merupakan periode sebelum kerajaan Mataram (Demak-Pajang). Adapun Pengging bukanlah kerajaan besar yang menguasai wilayah pulau Jawa tetapi lebih cenderung seperti raja bawahan penguasa otonomi daerah, mempunyai ciri diantaranya : Pasikutannya sedang, perawakan ramping, garapannya rapi. Jika keris luk, luknya rengkol sekali. Besinya hitam, berkesan basah. Pamornya tampak prasojo atau bersahaja, lumer pandes. Gulu meled-nya samar sehingga terlihat panjang.

Pengamatan secara fisik dan rasa pada keris Pandhawa Lare ini tantingan yang dirasakan ringan, serat besi tampat padat dan rapat, sepuhan baja tua, rabaan pamor ngasap (ngintip), blumbangan dalam, gandik mboto rubuh dengan sekar kacang kecil ada rasa Tangguh Segaluh, wadidang mblancir karena beloknya wedidang ngeget (mendadak/tiba-tiba, dari kata kaget) dan terakhir luknya rengkol sekali, hingga tampak beda sekali dengan keris-keris dari manapun.  Dari segi isoteri keris Tangguh Pengging masuk jajaran keris piandel top yang dihormati. Kanjeng Kiai Toya Tinambak adalah keris piandel Panembahan Senopati, menjadi salah satu saksi kebesaran Pendiri Kerajaan Mataram saat itu. Meski sangat sederhana namun keris luk 11 pamor wos wutah tangguh Pengging, banyak yang mempercayai, keris itulah yang menghantarkannya menjadi Raja di Tanah Jawa. Sebab generasi Senopati menganggap keris itu memiliki tuah tentang keluhuran seorang Raja.

PAMOR KULIT SEMANGKA, termasuk pamor populer yang merakyat, jenis pamor ini sebagaimana namanya seperti motif kulit buah semangka. Dari segi teknik pembuatannya termasuk pamor mlumah. Sedangkan dari segi niat termasuk dalam jenis dalam pamor tiban (tidak direkayasa, bukan pamor rekan). Pamor ini dipercaya memudahkan mencari rejeki dan mudah bergaul dengan siapa saja dan dari golongan manapun. Pamor ini tidak pemilih sehingga cocok dimiliki oleh siapa saja.

Seringkali dalam sebuah tosan aji, seperti tombak, keris, pedang diketemukan pamor wirasat yang bentuknya spesifik diantara pamor dominan. Pamor Wirasat ialah pamor yang mempunyai bentuk dan nama beraneka macam dan juga berkhasiat. Pamor wirasat ini, dianggap berkah dari yang Maha Kuasa, karena dalam prosesnya muncul tanpa rekayasa sang Empu (kodrat), tak heran digemari oleh para pemburu isoteri. Seperti keris Pandhawa Lare ini mempunyai dua pamor pamor tiban yang sama baik sisi depan maupun belakang, yakni :

PAMOR BATU LAPAK, pamor di belakang gandik atau di gandiknya yang berbentuk pusar-pusar, berkhasiat kewibawaan dan mendatangkan kekayaan.

keterangan-batu-lapak pamor-batu-lapak

pamor-wirasat pamor-kodrat

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Pandhawa Lare

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *