Pandhawa Cinarita

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. Bp Jakarta Timur


 keris pandawa cinaritapandawa cinarita
  1. Kode : GKO-148
  2. Dhapur : Pandhawa Cinarita
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram Abad XVI (HB Sepuh?)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 250/MP.TMII/V/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Kolektor
  7. Keterangan lain : Mendak Seling merah, Pendok Bunton Lapis Emas, Kolektor Item

 sertifikat keris pandawa cinarita

Ulasan :

PANDHAWA CINARITA, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Bilahnya ada yang nglimpa, ada yang nggigir sapi; memakai ada-ada. Keris ini memakai kembang kacang; lambe gajah, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Keris dhapur Pandawa Cinarita tergolong populer walaupun sekarang jarang dijumpai. Karena dianggap bertuah baik bagi orang yang mencari nafkah dengan cara bicara, keris berdhapur Pandhawa Cinarita ini dahulu banyak dimiliki oleh para Dalang. Hingga kini dhapur keris ini banyak diburu oleh mereka yang berprofesi sebagai Sales, MC, Motivator, Pembicara, Artis, Jaksa, Pengacara dan lain sebagainya. Salah satu pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta yang berdhapur Pandhawa Cinarita adalah Kanjeng Kyai Mulyokusumo.

Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri menggunakan daun lontar. Seturut masuknya agama Islam di Jawa dan Bali, untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu Jawa (animisme dan dinamisme) serta kesan pemujaan terhadap arca/dewa, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia.

Sunan Kalijaga atau Raden Syahid adalah salah seorang tokoh penyebar agama Islam (Wali) di Indonesia yang menggunakan seni pewayangan sebagai salah satu media dakwahnya. Untuk menghindari larangan agama waktu itu dan supaya lebih luwes untuk bisa diterima masyarakat luas, tokoh-tokoh tersebut dibuat serba pipih, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki tidak persis seperti manusia biasa, dilukis hanya pada selembar kulit. Oleh Sunan Kalijaga tiap tokoh diubah ditatah sendiri-sendiri seperti yang kita jumpai sekarang. Uniknya, penokohan tersebut justru malah membuat makin tinggi estetika dan nilai seninya. Dalam pentasnya sudah mulai dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk lambang-lambang. Dipadukannya ajaran Islam dengan falsafah pewayangan membuat banyak rakyat biasa hingga  bangsawan dan cendekiawan yang tertarik untuk menjadi pengikutnya.

FILOSOFI, dalam dunia pewayangan, rukun Islam oleh Sunan Kalijaga digambarkan melalui lima kesatria Pandawa. Para tokoh protagonis sekalipun dapat sekali-kali melakukan kesalahan. Sehingga bagaimanapun karakter diciptakan, akan tetap ‘manusiawi’. Berikut penjabarannya;

Rukun Pertama, dijelmakan dalam tokoh tertua Raden Yudhistira alias Samiaji atau Puntadewa. Dengan senjata pamungkasnya Jimat Kalimosodo (Kalimat Syahadat), raja bijaksana itu tidak pernah kalah dan tidak pernah putus asa. Ia selalu sabar menghadapi musibah, senantiasa berbaik sangka kepada setiap orang, dan kalau perlu mengalah demi menjaga persatuan menuju kejayaan.

Rukun kedua, salat (fardhu), diisyaratkan melalui Raden Werkudara atau Bima (Brathasena), yang tidak pernah duduk dan selalu siap dengan Kuku Pancanaka-nya. Artinya, salat lima waktu tidak boleh tidak mesti ditegakkan dalam keadaan apapun. Sedang sakit pun salat harus tetap dikerjakan seperti halnya Bima yang selalu berdiri kokoh setiap saat. Lewat pelaksanaan salat, derajat manusia adalah sama tidak dibeda- bedakan, termasuk antara orang kecil dan pembesar negara sekalipun. Hal itu diibaratkan sama dengan sikap Werkudara yang tidak pernah memakai bahasa halus kromo inggil dan tetap berbicara ngoko kepada semua orang, tanpa bermaksud kurang ajar.

Rukun ketiga, puasa (dalam bulan Ramadan), menggunakan lambang Raden Arjuna (Raden Permadi), ksatria Pandawa yang paling tampan dan banyak digandrungi kaum hawa. Persis seperti orang berpuasa, godaan hawa nafsu akan tiba-tiba menjadi banyak sekali. Andaikata tidak kuat melawannya, pasti akan jebol pertahanannya.

Rukun keempat dan kelima, zakat dan haji, digambarkan sebagai dua ksatria kembar, Raden Nakula dan Raden Sadewa. Mereka adalah tokoh yang tidak sering muncul, sebagaimana zakat dan haji yang hanya diwajibkan bagi orang-orang yang mampu. Akan tetapi, tanpa Nakula dan Sadewa, Pandawa akan rapuh dan tidak bisa berdiri tegak. Begitu pula umat Islam, jika tidak ada para hartawan yang sanggup membayar zakat dan menunaikan haji, fakir miskin akan terancam oleh kekafiran dan pemurtadan. Kesenjangan sosial antara orang kaya dan orang melarat tidak akan terjembatani.

pamor beras wutah beras wutah

PAMOR BERAS WUTAH, Berarti “beras tumpah”, oleh kebanyakan penggemar keris dianggap memiliki tuah yang dapat membuat pemiliknya mudah mencari rejeki, berkelimpahan. Oleh sebagian ahli tanjeg dikatakan bahwa di dalam pamor ini tersembunyi tuah lain yang baik. Bagi lelaki Jawa yang telah menikah, pamor ini juga mengingatkan akan tanggung jawab lelaki sebagai kepala keluarga untuk bertanggungjawab menghidupi / menafkahi keluarganya, sebagaimana tercermin dari ritual kacar-kucur pengantin Jawa, dimana pihak lelaki menumpahkan beras ke tempat yang telah disediakan pihak perempuan. Arti simbolis ritual ini juga berarti bahwa rejeki yang didapat sang suami tidak lari kemana-mana selain ke istri sendiri – yang sekaligus menjadi pengelolanya.

gandik pandawa cinarita gandik pandawa

TENTANG TANGGUH, dengan pemahaman “roso” bagi mereka yang sudah terbiasa hanya perlu satu kali tatapan sudah bisa melihat sebuah keris Pusaka yang terlahir sebagai masterpiece (mahakarya) rasa, karsa dan cipta dari seorang Empu, dan Pusaka berdhapur Pandhawa Cinarita ini adalah salah satunya. Tidak perlu tampil wah untuk bisa ngayang batin. Kata ngayang batin berasal dari bentukan kata ngayang dan batin. Ngayang bisa diartikan melambung dengan sengaja, sedangkan batin berarti rasa hati. Maka jika ditafsirkan bebas, keris ngayang batin adalah keris yang mebuat hati pemiliknya melambung tinggi, penuh rasa syukur dan puja-puji kepada keagungan Tuhan.

pamor bungkul sogokan kandas waja sogokan kandas wojo

SOGOKAN KANDAS WOJO,  beberapa tangguh keris memiliki karakter dimana bagian besi dan garap menjadi lebih utama dari sekedar pamor. Salah satu kelebihan Pandhawa Cinarita ini adalah memiliki ciri khas pada sogokan dibuat “kandas wojo” (kandas  atau dalam hingga besi/bajanya kelihatan jelas) dan membentuk pamor bawang sebungkul (sebungkul bawang). Dan ciri khusus terakhir, apabila kita melihat pada bagian pangkal tikel alis, menyertakan tetenger (tanda) sumberan (gedigan) bolak-balik depan belakang, yang secara visual lingkaran tersebut menjadi mirip seperti mata gajah lengkap dengan belalainya.  Ketiga ciri tersebut menjadi salah satu “pembeda kelas” keris dan bisa menjadi penanda olah kedalaman rasa, karsa dan cipta (skill) oleh seorang yang layak disebut sebagai Empu.  Penulis meyakini keris ini dulunya adalah pesanan keluarga dalem (istana). Banyak ditemui pada keris Tangguh Surakarta Mangkubumen, Paku Buwana dan Hamengku Buwana (nom-noman) dan jarang dijumpai di keris Tangguh Mataram Senopaten ataupun Mataram Sultan Agung.

the gramen keris from Karsten Krisdisk(tidak semua keris adalah buatan seorang Empu)

Panjang bilah Pandhawa Cinarita ini adalah 39 cm, agak sedikit lebih panjang daripada keris rata-rata Tangguh Mataram umumnya. Pamor meteorit tampak merata di sepanjang sisi bilah hingga ke seluruh bagian  ganja. Kembang kacang yang ada masih tampak nggelung wayang, lambe gajah dua pun masih dapat terdefinisi  moncer lancip, serta trep pamor tampak rapi seolah simetris  di bagian gandik.

ganja bawah wuwungan ganja

trep pamor

Perabot berkelas sengaja dipilih untuk mengimbangi kelas Pusaka Pandawa Cinarita ini, dimulai deder kayu tayuman wanda Gathotkaca maraseba (artinya datang menghadap Raja. Hulu keris ini digambarkan menunduk, dipakai untuk menghadap Raja) . Cecekan (ukir) dalam dan halus. tampak anggun dipadukan dengan mendak perak seling mirah. Warangka gayaman Solo yang ada terbuat dari kayu timoho terbungkus pendok bunton lapis emas dengan motif lung-lungan menegaskan statusnya tersendiri.

warangka timoho pendok lapis emas timoho

Dialih-rawatkan (dimaharkan)  sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *