Kiyai Sengkelat

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5,555,000,- (TERMAHAR) Mr. J Bandung


keris sangkelat sangkelat luk 13
luk 13 luk tiga belas
  1. Kode : GKO-101
  2. Dhapur :Sengkelat
  3. Pamor : Kulit Semangka
  4. Tangguh : Mataram Abad XVII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 57/MP.TMII/I/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Klaten, Jawa Tengah

sertifikasi sengkelat

Ulasan :

Kisah keris Sengkelat dalam budaya Jawa mengandung falsafah yang sangat tinggi, apalagi dikaitkan dengan pemahaman keris sebagai ageman dan piandel kehidupan bagi masyarakat jawa. Kisah unik tentang Sengkelat di dunia kerisologi akan selalu menarik untuk diulas. Di dalam kisah Sengkelat ini banyak dimensi yang bisa dikupas baik dari sisi fisik, filosofi, keagamaaan, moral dan  sisi lain sebagainya. Oleh karena itu, bukan tanpa sebab keraton kasultanan Yogyakarta menempatkan keris Sengkelat ini di tempat yang khas dan khusus.

Seturut semangat Sultan Agung pada waktu muda ia mempunyai keris andalan Manglar Monga. Tetapi di usia senjanya , Sultan Agung justru gandrung dengan keris berlekuk 13, Sengkelat. Sampai-sampai Empu Guling diminta untuk membuat keris sengkelat ini. Kemudian untuk membedakan dengan keris luk 13 yang sebelumnya (pancer), tempaan Empu Guling disebut dengan keris Guling Mataram. Keris ini merupakan simbolisasi dari pendekatan diri kepada Yang Di Atas. Kenyataan ini didukung oleh sastra yang berkembang dengan munculnya Serat Pangracutan. Intisari dari Serat Kekiyasing Pangracutan adalah untuk selalu mengingat kematian.

Upaya manusia untuk memahami keberadaanNYA diantara semua makhluk yang tergelar di jagad raya telah membawa manusia dalam perjalanan pengembaraan yang tak pernah berhenti. Pertanyaan tentang dari mana dan mau kemana (Sangkan Paraning Dumadi) pada setiap perjalanan dari individu makhluk terus menggelinding dari zaman ke zaman. IA adalah sang Sangkan sekaligus sang Paran. IA hanya satu, tanpa kembaran, Gusti Pangeran iku mung sajuga, tan kinembari. Orang jawa menyebutnya Gusti Pangeran. Kata pangeran berasal dari kata pangengeran, yang artinya tempat bernaung dan berlindung. Terhadap Allah manusia hanya mampu memberikan sebutan sehubungan dengan perannya, Gusti kang murbeng dumadi (Penentu nasib semua makhluk).

gandik sengkelat gandik sangkelat

Keris Sengkelat ini menampilkan kebersahajaannya, mulai dari pamor kulit semangka yang kalem meliuk-liuk menghias permukaan bilah, gaya luk dengan spasi/kerapatan yang sama dari sor-soran hingga pucuk, kembang kacang nggelung wayang hingga raket (menempel)  mangan gandik khas keris-keris madiunan yang memang lebih menonjolkan sisi isoteri, bahkan detil hingga bagian atas panatas (bagian pinggir pucuk bilah kira-kira sejempol) dan panitis (bagian lancip pucuk bilah) pun masih tampak nggabah kopong (bentuk menyerupai sekam padi yang kosong) sempurna. Sesuai dengan simbolisasi Sengkelat yang merupakan perlambang dari wong cilik tapi sugih ngelmu. “Bathok bolu isi madu” paribasane.

pucukan pamor kulit semangka

Dari segi perabot yang mengiringi, pemilihan bentuk warangka wanda kadipaten sepuh terasa sangat pas menyandangi bilah ini. Seorang pria yang telah mapan atau telah pensiun dengan karakter temuwa, kalem, sabar dan bersifat kebapakan ada baiknya menggunakan warangka ladrang model ini. Walaupun terbuat dari kayu Jati Iras tapi bila kita cermati dari segi garap bisa dikatakan cukup bagus. Hal ini dapat terlihat pada detail ricikan bagian pada warangka yang memang digarap sepenuh hati. Sebagai contoh sederhana pada bagian lemahan (pidakan) hingga bagian gandek atau ri pandan detil ukiran baik melalui visual maupun rabaan terdefinisi dengan jelas. Hanya saja pada bagian gandar sudah diamplas, kemungkinan pemilik sebelumnya menginginkan menyegarkan tampilan tapi urung dilaksanakan. Dipadukan dengan mendak seling mirah dan ukiran gaya salembaran, bentuknya mirip Tunggak Semi Yudhawinatan tetapi badannya lebih kurus, dahulu kala memang diperuntukkan bagi masyarakat umum.

waragka lemahan atau pidakan warangka dusun

Pada bagian wuwungan ganja, terpahat hiasan model lung-lungan yang sederhana, dari pengamatan visual kemungkinan terbuat dari kuningan sari dan tampak disusulkan (bukan sejaman). “Kalau kail panjang sejengkal, jangan lautan hendak diduga” , oleh Penulis dibiarkan apa adanya semakin melengkapi tampilan sebuah keris Sengkelat yang penuh kesederhanan (baca = dusun).

wuwunganlung lungan

Ditawarkan sesuai dengan foto, video dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *