Sengkelat

termahar griyokulo

MAHAR : Rp. 3.250.000,-(TERMAHAR)


IMG-20150828-WA0008 IMG-20150828-WA0009

IMG_20150831_072612 IMG_20150831_072625

 

  1. Kode : GKO-64
  2. Dhapur : Sengkelat
  3. Pamor : Kulit Semangka
  4. Tangguh : Madura (Bangkalan?) Abad XVII (Madiun/Wengker?)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 216/MP.TMII/VIII/2015
  6. Asal-usul Pusaka : Nganjuk, Jawa Timur
  7. Keterangan Lain : Kili-kili (mendak) Pedongkokan, Perak ukir motif kelopak bunga (Bugis)

Ulasan :

IMG-20150828-WA0005IMG-20150828-WA0002

Sengkelat, ada yang menyebutnya Sangkelat. Sengkelat adalah simbol perjuangan rakyat ketika keraton Majapahit mulai meredup dibuat atas pesanan Sunan Kalijaga, namun dianggap kurang bernuansa Islam, Sengkelat akhirnya diserahkan kembali kepada sang empu, Jaka Supa. Sunan Kalijaga kemudian memesan kembali sebuah keris yang natinya bernama Kiai Carubuk – yang melambangkan bangkitnya gerakan Islam yang dimulai di daerah Bintara. Apapun cerita atau legenda yang menyertainya Keris berluk 13 (tiga belas) ini selalu mempunyai tempat sendiri di hati para pecinta tosan aji.

Biacara tentang keris dan perkerisan, tidaklah mungkin tanpa menyebut Madura. Sejak zaman raja-raja di masa lampau, Madura sudah menjadi bagian dari perkembangan keris di Nusantara, khususnya di pulau Jawa. Boleh jadi karena sejumlah empu yang cukup mumpuni berasal dari Madura. Sebutlah beberapa nama seperti; Empu Koso, Empu Ki Macan, Empu Sumolo sampai Empu Brojoguno yang legendaris itu.

IMG-20150828-WA0007 IMG-20150828-WA0006

Sebagai salah satu bagian penting dari sejarah perkerisan, Madura tentu punya gaya khas, yang membedakannya dengan keris-keris daerah lain. Tengok saja pasikutan keris ini, karakter besi, baja yang khas serta Pamor kulit semangka unik yang terlukis pada wilah dapat langsung menunjukkan jati dirinya sebagai keris Madura Sepuh. Gradasi warna dari putih, abu-abu hingga hitam berpadu indah seolah membentuk sebuah lukisan abstrak dari sang Empu. Demikian juga bentuk dari kembang kacangnya, tidak salah jika zaman pra Islam disebut pula tlale gajah karena bentuknya mirip sekali dengan kepala gajah dan belalainya. Jarang sekali kita ketemukan keris dengan bentuk sekar kacang seperti yang ada pada keris ini. Tidak lupa dengan bentuk tarikan luknya, walaupun tidak se-rengkol (luk yang lekukannya dalam) keris tangguh pengging, tapi tampil meliuk dengan indahnya, seperti  sarpa ngalangi (ular yang sedang berenang).

Bagi para penganut “paham” Wirasukadga, bagian gonjo yang rata, gulu meled yang tipis, kemungkinan dulunya sirah cecak-nya memakai hiasan melingkar-lingkar di ujungnya (ada sisa). Dalam rasa pandangannya buram atau hitam tapi agak melempem, sekar kacang melengkung, bangkekan terentang (agak lebar), sogokan dangkal kurang rapi, juga greneng atau huruf dha nya kurang kentara, oleh mereka masuk kepada Tangguh Para Sahabat (Madiun) atau lebih spesifiknya dengan melihat bentuk sor-soran yang lebih kekar dibandingkan bagian pucuk adalah khas tangguh Madiun Ponorogo (Wengker).

luk rengkolluk rengkol sarpa nglangi

gradasi pamor madura sepuh kulit semangka madura sepuh

Keris ini menggambarkan kerendahan hati sekaligus kebesaran pemiliknya pada zamannya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *