Condong Campur

termahar griyokulo

MAHAR : Rp. 6.660.666,-(TERMAHAR)


condong campur keris condong campur

 

  1. Kode : GKO-61
  2. Dhapur : Condong Campur
  3. Pamor : Keleng
  4. Tangguh : Pajajaran Abad XII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 189/MP.TMII/VIII/2015
  6. Asal-usul Pusaka : Bantul, Yogyakarta

warangka deder putri kinurung sertifikasi condong campur
 Ulasan :
Dalam dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Keris Sabuk Inten yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus, dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat huru hara.
 –
Itu menurut cerita rakyat. Bagi mereka yang arif, legenda itu sebenarnya merupakan kiasan atau perlambang saja. Ketika Kerajaan Majapahit sudah menjapai masa kejayaannya, terjadi banyak sekali perbedaan baik dari aspek agama (pertentangan Agama baru Islam dengan Agama Hindhu) benturan budaya, perbedaan kasta, jurang ekonomi, intrik kepentingan dll). Ke-bhinneka-an ini menyebabkan terjadinya perpecahan di masyarakat. Paling tidak ada 3 golongan yang memiliki perbedaan pandangan sangat tajam pada masa itu, yaitu :

1. Golongan pertama, yaitu golongan pemilik modal, pedagang dan pejabat.

Dalam dunia keris, golongan pertama di atas dapat diibaratkan dengan keris dengan dapur Sabuk Inten. Sabuk berarti ikat pinggang. Sedangkan Inten berarti intan atau permata. Dengan demikian, Sabuk Inten memvisualisasikan golongan pemilik modal yang bergelimang harta benda.

2. Golongan kedua, yaitu golongan masyarakat bawah (wong cilik) yang kecewa dengan kondisi yang mereka alami, seperti keterpurukan nasib, tekanan hidup dan penindasan.

Golongan kedua yang disebutkan di atas adalah masyarakat kelas bawah yang kecewa, marah, terhadap keadaan. Dalam bahasa Jawa, perasaan mereka disebut sengkel atine atau jengkel hatinya. Dalam dunia keris, kondisi ini identik dengan keris dengan dapur Sengkelat, yang namanya diambil dari kata sengkel atine.

3. Golongan ketiga, walaupun terdapat banyak perbedaan serta kepentingan, diupayakan adanya persatuan dan pembauran (condong campur) antar golongan dan semua elemen bangsa, tujuan politiknya adalah mempertahankan Majapahit status quo.

Tetapi yang kemudian terjadi hanyalah pembauran semu di permukaan saja, tidak terjadi pembauran nyata dalam seluruh kehidupan masyarakat.

Dan pada kenyataannya hancurnya Kerajaan Majapahit disebabkan beberapa hal, antara lain meninggalnya Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1363 Masehi. Meninggalnya Gajah Mada ini membuat generasi penerus kurang mendapat perhatian dan pendidikan karena hampir semua jabatan penting dipegang oleh Gajah Mada. Oleh karenanya ketika ia meninggal generasi muda merasa canggung dan kurang percaya diri. Situasi masayarakat yang tidak percaya diri itu masih ditambah dengan timbulnya Perang Paregreg antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi antara tahun 1404-1406 Masehi. Perang Paregreg amat sangat melemahkan persatuan dan terjadi dengan hebatnya. Terjadinya perebutan kekuasaan atas tahta Majapahit antara Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dengan Bhre Kertabhumi memperburuk situasi di Majapahit. Dalam Perang ini Bhre Kertabhumi gugur dan Ranawijaya menjadi pewaris yang sah dan berkuasa kembali. Menurut literatur yang ada, tercerai berainya Majapahit pada pokoknya berlangsung antara tahun 1389-1525 Masehi. Akibat kehancuran yang sangat hebat akhirnya Majapahit jatuh untuk selama-lamanya. Kapan Majapahit jatuh, menurut pakar prasasti ini tidak dapat dikatakan secara pasti karena proses berlangsung secara perlahan. Menurut Babad Tanah Jawa, Majapahit runtuh pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi yang dilambangkan dengan sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bumi”.

condong campur tangguh majapahit keris condong campur majapahit
keris langka dhapur langka
Tentang Tangguh Keris :
 
Menatap bleger (penampilan menyeluruh) keris ini, orang akan terkesima dengan pamornya yang keleng. Kesan wingit langsung bisa dirasakan begitu melolos (menarik dari warangka) pusaka ini. Hitam dalam kebiruannya begitu angker, merata di sepanjang bilah tanpa diselingi pamor sanak ataupun pamor yang ngapas, murni keris keleng dari tujuan awal pembabarannya, bukannya keris keleng karena kondisi pamor yang meredup terkikis jaman. Sebagian menangguh ini adalah besi Majapahit, tetapi apabila kita perhatikan gandik yang agak tinggi memanjang, bentuk pejetan lebar, bentuk sekar kacang yang ramping dan bentuk sirah cecak lonjong  nguceng mati tentulah tidak masuk dalam style Majapahitan. Dan apabila kita  raba besinya dalam rasa, kita akan merasakan besi yang hitam tapi agak sedikit lebih kasar dan kering dibandingkan besi Majapahit. Dari pemahaman di atas, baik dari sisi gaya maupun metalurgi, lebih bisa masuk kepada tangguh Pajajaran. Sebuah penangguhan yang bertolak belakang dari cerita Condong Campur, Sabuk Inten dan Sengkelat yang berawal dari Majapahit. Tapi tetap saja hal itu dimungkinkan, karena seperti kita ketahui menurut catatan kuno dari kerajaan Pajajaranlah, kerajaan yang terbanyak memiliki Empu-empu mumpuni yang hijrah ke kerajaan lain, sebut saja Empu Keleng atau Empu Kasa hijrah ke Madura, ketika di Pejajaran namanya Empu Wanabaya; Empu wanita Nyai Sombro hijrah ke Tuban era Majapahit dan lain-lain. Hijrahnya Empu-Empu tersebut tidak menutup kemungkinan dengan dibawa sertanya bahan baku dan keris yang dibabarpun masih terpengaruh cengkok di tempat asalnya. Selain itu sebagai perkecualian, tangguh Pajajaran hingga kini belum dapat dianggap terkait dengan suatu daerah di Jawa Barat karena konsep tentang Pajajaran dalam perkerisan masih berbeda dari pengertian Pajajaran dalam sejarah ilmiah. Itulah indah seni menangguh sebuah pusaka, tidak ada kebenaran absolut.
 keris condong campur griyokulo condong campur griyo kulo
Bagi pemburu isoteri, keris keleng mempunyai derajad tersendiri. Keris keleng lebih mengutamakan kematangan tempa juga kesempurnaan garap. Bahkan ada juga yang beranggapan bahwa keris keleng tersebut memiliki kekuatan secara isoteri lebih multifungsi, dibanding dengan keris yang berpamor. Menurut pandangan Kejawen, Kesentosaan juga disimbolkan dengan adanya keris polos tanpa pamor (disebut : keleng) mengibaratkan dalam diri manusia memiliki jiwa pengabdian yang tulus. Keris keleng biasanya dibuat oleh sang empu untuk kebutuhan ketentraman, orang-orang spiritual, pembela kejujuran dan sifat-sifat kesentosaan lainnya. Karakter unsur ‘bantolo’ atau ‘bumi’ disimbolisasikan dengan keris keleng tanpa pamor itu.
Yang menjadi lebih unik pada bilah keris ini terdapat “ricikan” lain, yakni terdapat alur pada daerah diantara dua sogokan. Apabila Janur bentuknya lingir (tajam) justru ini berbanding terbalik dengan berbentuk cekung. Entah maksud apa yang terkandung dengan penambahan ricikan di atas? Atau ini adalah sebuah signature dari salah satu Empu di Pajajaran? Sebuah keris anti mainstream, andakah yang layak sebagai Tuannya?
 

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *