Tilam Upih Udan Mas Tiban Kiai Sinemen

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5,000,000,- (TERMAHAR) Tn. D Jakarta Timur


 keris tilam demakkeris tilam upih meteorit
  1. Kode : GKO-130
  2. Dhapur : Tilam Upih (Kiai Sinemen)
  3. Pamor : Dwi Warno (Kulit Semangka dan Banyu Tetes)
  4. Tangguh : (Demak?) Mataram Abad XV
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 197/MP.TMII/III/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  7. Keterangan Lain : Pendok dan mendak lapis emas, Kolektor Item

 warangka gayaman jogja timoho sertifikasi keris tilam

Ulasan :

Pusaka itu berdhapur “TILAM UPIH”, dhapur keris lurus Tilam Upih memang bisa dibilang paling populer dan banyak dijumpai. Keris ini banyak digunakan sebagai piandel (sipat kandel), tak heran banyak digunakan sebagai pusaka keluarga yang diberikan turun temurun. Mengapa sebuah keris pusaka turun temurun hanya dhapur dengan ricikan sederhana?

Keris pada masyarakat Jawa, sudah menjadi suatu benda sebagai pusaka turun temurun. Pusaka dalam kamus Bahasa Indonesia berarti sesuatu yang berharga dan memberikan manfaat. Di pulau Jawa pada masa feodal, pusaka adalah bagian legitimasi kekuasaan dan hanya pemilikan atas pusaka tersebut memberi seseorang legitimasi sebagai penguasa. Keris dapat bersifat tontonan (seni estetika) dan tuntunan (pandangan hidup, doa dan harapan). Keris sebagai suatu hasil karya kebudayaan dari masa lampau memiliki wujud dan pesan simbolik, perlambang dari doa atau pesan budi luhur yang disampaikan secara turun temurun antar generasi. Budaya Nusantara, umumnya lebih banyak ditemui dalam berbagai bentuk perlambang, simbol-simbol atau dengan visualisasi bentuk dibanding karya tulisan. Merawat keris dapat dikatakan sebagai merawat “doa dan harapan”. Namun demikian, manfaat atau limpahan kekuatan doa itu hanya diperoleh bagi mereka yang mengetahui makna atau pesan yang tersirat dalam wujud keris itu.

Keris dhapur Tilam Upih yang berbentuk lurus memiliki ricikan : Gandik Polos (pejetan dan tikel alis). meskipun sangat sederhana, sebagai sebuah pusaka, dhapur Tilam Upih memuat makna philosopis. Tilam Upih, sebagai lambang dari wanita. Maksudnya memperlakukan keris itu sama halnya dengan memperlakukan wanita (Wahyudi Agus, Serat Centhini 3 – Perjalanan Cebolang Meraih Ilmu Makrifat, Yogyakarta : Cakrawala, 2015, hal 356). Keris ini simbol kasih seorang Ibu yang tak pernah lekang jaman meskipun tak lagi mengalirkan air susu; kasih ibu sepanjang masa. Demikian pula belas kasih seorang Ayah kepada anak-anaknya dan seorang Suami bagi istrinya haruslah tidak pernah surut. Sesungguhnya keris Tilam Upih adalah sebuah simbol wanita yang senantiasa mengiringi simbol kejantanan. Itulah kenapa jika melihat secara maknawi, keris dhapur Tilam Upih memang pantas dianggap sebagai Pusaka Keluarga karena bersifat perempuan, penih simbol putri dan belas kasih. Jika diperluas lagi menjadi semangat belas kasih. Manusia harus mampu mengejawantahkan semangat belas kasih kepada sesamanya.

tilam upihpamor banyu tetes

TETESING WARIH, berarti tetesan air hujan yang mengalir. Adalah salah satu bentuk gambaran pamor yang menyerupai tetesan-tetesan air secara tidak teratur diantara pamor lain, biasanya pamor wos wutah atau kulit semangka. Tetesing warih tergolong pamor mlumah dan tidak memilih, siapa saja dapat memilikinya. Pamor Tetesing Warih dipercaya mempunyai tuah yang baik untuk membantu pemiliknya mencari rejeki. Sampai kira-kira tahun 1920-an, yang disebut Pamor Udan mas adalah Pamor Tetesin Warih ini. Sebab pada zaman dulu, yang disebut pamor Udan Mas haruslah pamor tiban.

tilam demakudan mas tiban

KULIT SEMANGKA, sepintas lalu memang tampak seperti kulit dari buah semangka, tuahnya memudahkan mencari jalan rejeki dan si pemilik akan mudah bergaul dengan siapa saja dari golongan manapun.

Untuk sebuah keris Pusaka yang diperkirakan dari sekitar Abad XV secara visual Tilam Upih ini masih sangat istimewa (TUS). Keutuhan yang ada hanya bisa diperoleh karena kualitas bahan yang prima serta perawatan dari hati dari generasi diturunkan ke generasai selanjutnya. Pasikutan yang cantik namun wingit, besi yang ada berwarna hitam kebiru-biruan dan tampak basah mirip besi Tangguh Majapahit, trep pamor yang ada tampak mengambang di permukaan bilah, bentuk tikel alis pendek jugag, ganja rata, buntut urang cenderung papak, gulu meled pendek, apabila disentil mengeluarkan bunyi nyaring panjang pertanda matang tempa, masuk akal juga jika beberapa orang menangguh Jaman Demak. Boleh dibilang agak susah menemukan keris dengan masa pembuatan pada Jaman Kesultanan Demak Bintoro, dimana selain umur Kerajaannya tidak terlalu panjang, juga karena kiblat persenjataan pada Jaman Raden Patah lebih ke arah mesiu daripada senjata tradisional. Kesultanan Demak Bintoro berusaha menghapus hegemoni sebelumnya,tampil sebagai pembaharu Majapahit lama, dengan meninggalkan simbol-simbol dan identitas lain yang dapat diidentikkan dengan Majapahit yang Hindhu sehingga keris tidak diangkat sebagai isu penting. Itulah kenapa ciri-ciri khas bentuk keris pada jaman Demak sebenarnya masih merupakan misteri. Sangat cocok bagi Anda yang selama ini masih mencari-cari sebuah keris pusaka untuk dijadikan piandel maupun sebuah pusaka yang nantinya diwariskan kepada anak cucu.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *