Mahar : ?,-(TERMAHAR) Tn TL. Cibubur
- Kode : GKO-129
- Dhapur : Sengkelat (Kyai Subondo)
- Pamor : Bonang Serenteng
- Tangguh : Mataram Abad XV (Wengker?)
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 196/MP.TMII/III/2016
- Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
- Keterangan Lain : Pendok dan mendak lapis emas, deder longok, Kolektor Item
Ulasan :
TANGGUH MADIUN ERA MATARAM AWAL, Selalu saja ada yang menarik dari sebuah penelusuran jejak pusaka keris di suatu daerah. Tak lain karena keberadaan suatu pusaka, terutama di daerah yang memiliki akar budaya perkerisan yang kuat, selalu dibarengi dengan beragam kisah yang menjadi ciri khas atau penanda daerah bersangkutan. Ketika orang berbicara keris Madiun, misalnya, maka tersebutlah kisah tentang keris Pusaka Kanjeng Kiai Kala Gumarang. Kegagalan Mataram menundukkan Purubaya (Madiun), pada tahun 1587 dan 1589, diyakini berkat keampuhan sebilah keris pusaka tersebut.
Banyak orang yang mencibir seputar keris Madiun, selain bentuknya dianggap agak aneh (wagu), meskipun begitu tetaplah enak dipandang dalam rasa batin. Namun juga tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam kesederhanaannya, sebagian besar keris-keris Madiun memiliki perbawa tersendiri. Dan memang sisi isoteri inilah yang dipercaya banyak orang lebih menonjol dari keris-keris Madiun. Kebanyakan diketemukan dalam bentuk luk tiga belas, dengan bentuk gandik yang khas atau dikenal dengan istilah mangan gandik. Selain itu lebar pejatan dan tinggi sogokan seringkali tidak berimbang antara sisi depan dengan belakang, bentuk ganja cenderung memiliki sirah cecak lancip dan bagian gendok (perut ganja) tipis. Sedangkan besi-besi keris Madiun cenderung dipengaruhi era kerajaan besar yang sedang berkuasa.
PAMOR BONANG SERENTENG, atau Bonang Rinenteng adalah salah satu motif pamor yang mempunyai bentuk gambaran seperti Bonang, salah satu alat gamelan Jawa, berupa garis lurus di tengah bilah, dengan bulatan-bulatan simeteris menempel di kiri kanan garis itu. Diameter bulatan itu biasanya lebih besar daripada bulatan pamor udan mas. Sedangkan jarak antara pasangan bulatan satu ke pasangan bulatan berikutnya sekitar 1 sampai 1,5 cm. Pamor ini tergolong pamor rekan, karena motif gambarannya dirancang dulu oleh sang Empu. Ditinjau dari cara pembuatannya pamor ini memiliki kombinasi dua jenis pamor yakni pamor miring adalah garis yang ada di tengah bilahnya, sedangkan bulatan-bulatannya adalah pamor mlumah. Pamor bonang serenteng, cara pembuatannya sama persis dengan pamor udan mas. Bedanya, jika dalam pamor udan mas posisi aksen ketokan tidak sejajar, sedangkan pada pamor bonang serenteng posisi ketokan sejajar di kiri dan kanan dari pangkal hingga ujung keris. Pamor Bonang Rinenteng oleh sebagian pecinta tosan aji sangat dipercaya memiliki tuah yang dapat membuat pemiliknya memiliki wibawa tinggi dan mudah mencari jalan/lubang rejekinya (bakat sugih). Itulah sebabnya bersama pamor udan mas pamor ini banyak diburu dan sering dimiliki oleh para pengusaha.
Tak mudah memang menemukan keris Sengkelat yang menjadi salah satu dhapur klangenan masyarakat Jawa pada umumnya dengan tata letak pamor mlumah dan miring, dimana pada umumnya sebagian besar keris berluk tiga belas ini banyak diketemukan dengan pamor tiban; kulit semangka atau yang lain beras wutah. Begitu juga sebaliknya pamor Bonang Sarenteng mayoritas lebih banyak dijumpai pada bilah keris lurus. Perlu skill mumpuni dari sang Empu dalam meletakkan pamor mlumah miring (Bonang Sarenteng) pada bilah yang berlekuk-lekuk banyak. Tarikan luk dan penataan pamor harus tepat supaya tidak nerjang landhep. Secara visual motif pamor Bonang Sarenteng yang menghias permukaan bilah masih bisa terbaca detailnya, garis-garis dari sor-soran hingga ujung bilah, juga bulatan-bulatan di sisi kanan dan kiri masih tampak rapi. Bentuk pejetan serta sogokan yang lebar dan dalam dipadukan tarikan luk yang seolah-olah sedikit demi sedikit menjadi semakin rapat di ujung menunjukkan signature keris keningratannya. Kembang kacang yang cantik pun tampak masih berusaha bertahan di usianya yang beratus-ratus tahun. Jalen susun dua oleh sebagian kalangan adalah khas Madiun Ponorogo (Wengker) era Majapahit. Bagian ganja pun seolah tak ingin kalah bersolek, tampak anggun memanjang dengan bagian belakang sedikit melambai ke bawah, hingga pada bagian pesi pun masih bisa dikatakan utuh. Sebuah kecantikan di masa lalu yang masih bisa dinikmati eksistensinya. Meski begitu seperti pepatah “Tak ada gading yang tak retak”, dan sebuah kesempurnaan hanyalah milih Yang Di Atas, apabila kita telusuri tampak pada bagian ucu-ucu (bagian yang melengkung cembung di atas gandik) ketiga dari bawah terlihat sudah tak kuasa melawan jaman sedikit termakan korosi.
KAYU TIMOHO, barangkali salah satu kayu yang cukup terkenal dan menjadi bahan populer di kalangan masyarakat perkerisan Yogyakarta adalah kayu Timoho. Konon salah satu Pusaka andalan Keraton Yogyakarta, yakni KKA Joko Piturun juga menggunakan kayu timoho motif nyamel sebagai perabot pengiring. Mengapa Timoho? Di dalam pemahaman Jawa, Timoho merupakan kata prusan yang sesungguhnya merupakan kepanjangan dari “Titi Mangsa Hananira Wahananing Hyang“. Karena sesungguhnya manusia merupakan wahana kehadiran Tuhan itu sendiri. Pada kayu timoho, yang dijadikan pertimbangan adalah keindahan pola dan warna peletnya, yaitu bercak coklat tua dalam kayu. Sebagian bahkan menganggap bahwa motif pelet pada kayu Timoho melambangkan potensi spiritual tertentu. Salah satunya adalah motif pelet sampir seperti pada warangka gayaman ini, yakni pola motif diagonal atau hampir mendekati vertikal. Dipercaya pemiliknya akan cepat naik derajatnya.
garis pada hulu keris yang mirip dengan tangisan atau air mata menetes (yuda asmara)
Pemberian garis lurus penghubung antara patra nginggil dan patra nggadap pada deder longok ini bukanlah sesuatu yang tidak disengaja atau tidak ada artinya. Menurut pitutur lisan, tanda semacam ini hampir mirip dengan tanda wideng pada warangka. Jika Wideng pada warangka adalah diperuntukkan bagi putra dan cucu raja yang sudah menjadi Pangeran, maka untuk dua garis lurus pada ukiran atau hulu ada beberapa versi, diantaranya; merupakan pemberian keraton kepada pihak luar, tetapi ada juga yang mengatakan dua garis di sisi kanan kiri melambangkan permohonan yang sangat kuat atau kesungguhan hati (khusyu) dari pemilik pusaka hingga menangis mengeluarkan air mata (yuda asmara).
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————












