Mahar : 2,750,000,- (TERMAHAR) Mr. WW Jakarta Barat
- Kode : GKO-109
- Dhapur : Jalak Ruwuh
- Pamor : Beras Wutah
- Tangguh : Kartasura Abad XVIII
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 80/MP.TMII/II/2016
- Asal-usul Pusaka : Nganjuk, Jawa Timur
Ulasan :
Janganlah menjadi pengecut & tak berani..
Untuk menghadapi badai kehidupan..
Jangan meratapi bekas luka yang tertoreh..
Ketika pertanyaan itu muncul..
Biarkan desiran angin dan untaian awan..
Kan menjawab semua tanya..
Sepintas lalu keris dapur Jalak Ruwuh mirip dengan Tilam Upih atau Brojol, bedanya yang jelas adalah bilahnya lebih tebal karena terdapat ada-ada dan kebanyakan ngadal meteng. Seperti Dhapur Sinom keris ini dianggap kerisnya anak muda, Jalah Ruwoh = Jalak Luru Woh (Burung Jalak yang sedang mencari buah) adalah sebuah simbol seorang anak manusia yang sedang mencari jati diri dalam hidupnya. Kisah perjuangan dalam merajut impian, menepis rintangan dan menggapai cita-citanya. Banyak jalan menuju Roma…
Tangguh Kartasura, berbicara tentang keris tangguh Kartasura, mengutip uraian M Ng. Wirasukadga dari Keraton Surakarta sebagai berikut. : ganja sebit lontar, sirah cecak lancip, badan bilah tebal, dan kaku (janggal), besi keropos dan keputihan, pamor mengambang dan mubyar (menyala putih seperti perak). Gaya keris Kartasura mirip keris Mataram. Pasikutannya nyatriya, terkesan seperti seorang satriya, tetapi kasar. Dari segi Isoteri, dipercaya oleh sebagian kalangan Keris Tangguh Amangkurat/Kartasura mempunyai angsar atau sugesti menambah keberanian.
Ganja Sekar, adalah ganja yang terlihat jelas pamornya pada bagian wuwungan (bawah) dan samping kanan kirinya (tiga sisi).
Pamor Beras Wutah, Ana Dina Ana Upa (Bahasa Indonesia : Ada hari ada nasi). Arti tersirat – Setiap hari akan selalu ada rejeki. Unen-unen ini mengajak bahwa seseorang tidak perlu khawatir dengan rejeki untuk diri sendiri atau keluarganya (optimis). Setiap orang ditakdirkan dengan rejeki masing-masing. Suatu keyakinan yang harus dipupuk adalah Tuhan bersifat Maha Pemurah, maka dari itu sebagai umat yang percaya akan Tuhan hendaknya berusaha dan selalu percaya bahwa rejeki akan ada selagi umat mau berusaha. Pamor Beras Wutah ini mempunyai pengaruh yang besar untuk membesarkan hati dan membuat semangat seseorang dalam berusaha.
Pamor Puser, pamor pusar-pusar di permukaan bawah ganja (wuwungan) yaitu di belakang sirah cecak dan disebelah buntut urang, dipercaya mempunyai angsar yang lebih, yakni pangkat tinggi, selamat, disegani orang banyak. Selain itu banyak rejeki dan cepat menumpuk kekayaan
Pamengkang Jagad/combong, adalah keadaan bilah yang retak terbelah di tengah atau di bagian sor-soran bilah. Keretakan itu menyebabkan pada bilah keris terdapat celah membujur. Sebagian pecinta keris mengatakan keris yang pamengkang jagad mempunyai tuah yang baik. Demikian pula pecinta keris di Sabah, Serawak, Brunei dan Semenanjung Malaya pada umumnya menyukai keris yang bilahnya retak ini. Mereka menyebutnya Pemangkang. Di Indonesia sendiri, terutama di Sumatera bagian Timur, Bintan dan Kepulauan Riau keris ini juga disukai. Mereka menamakan keris Tetarapan. Terlebih lagi entah bagaimana asal mulanya tersebar luas tentang keampuhan keris pamengkang jagad atau combong ini sebagai jimat pengasihan atau pelet yang membuat si pemilik mudah dicintai wanita atau disayangi orang sekelilingnya. Sementara itu beberapa ahli tanjeng menyebutkan bahwa keris yang pamengkang jagad ada juga segi baiknya dari sisi tuah, yaitu; sebagian diantaranya (tidak semua) kondisi pamengkang jagad akan menggandakan tuah yang dimilikinya. Misalnya jika keris memiliki tuah singkir (menangkal sesuatu yang tidak diinginkan) dan keris tersebut tergolong pamengkang jagad, maka tuahnya bukan hanya berpengaruh kepada pemiliknya, tetapi juga terhadap orang-orang di sekitarnya.
Tapi sebagian pemerhati keris malah mempertanyakan kualitas tempa dari keris pamengkang jagad. Secara teknis, keretakan pamengkang terjadi karena pada waktu penempaan membuat saton, suhunya kurang tinggi. Dengan begitu ada bagian-bagian antara besi dan lapisan pamor yang tidak menyatu erat satu sama lain, sehingga pada waktu disepuh, ikatan penempelan besi dan pamor terlepas, sehingga terdapat celah (retak). Jika keretakan itu sampai mengakibatkan terjadinya celah yang tembus pada bilah itu, berarti keris itu dibuat tanpa menggunakan inti baja.
Semua keyakinan dan pemikiran di atas tentulah mempunyai pendukung fanatik masing-masing, tidaklah perlu memperdebatkan mana yang paling benar, karena pada akhirnya semua akan kembali ke rasa pribadi (dolanan roso).
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————










