MAHAR : Rp. 3.249.000,- (TERMAHAR) Mr. J Gresik
- Kode : GKO-91
- Dhapur : Sangkelat
- Pamor : Beras Wutah
- Tangguh : Mataram Abad XV
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 342/MP.TMII/XII/2015
- Asal-usul Pusaka : Kebumen, Jawa Tengah
- Keterangan lainnya : Pendok terbuat dari perak (lamen)
Ulasan :
Sengkelat adalah simbol perjuangan rakyat ketika Keraton Majapahit mulai meredup. Dibuat atas pesanan Sunan Kalijaga, namun danggap kurang bernuansa Islam, Sengkelat akhirnya dititip kepada sang Empu, Jaka Supa. Sunan Kalijaga kemudian memesan lagi sebuah keris, yang nantinya bernama Kiai Carubuk – yang melambangkan bangkitnya gerakan Islam dimulai dari daerah Bintara, Demak.
Menurut tafsir sosio-politk karya R. Atmodarminto dalam bukunya : Babad Demak, dalam Tafsir Sosial, Politik Keislaman dan Kebangsaan, semua nama dan peristiwa itu hanyalah sanepa/lambang-lambang. Bukan kejadian yang sebenarnya. Cerita Sunan Kalijaga yang memesan kepada Empu Supa sebuah pisau penyembelih kambng adalah perlambang, bahwa gerakan Islam yang dipimpin para Wali, meminta dukungan dari gerakan rakyat yang salah satunya dipimpin oleh Empu Supa. Gerakan rakyat ini merupakan gelombang reformasi yang ingin merubah tatanan baru tanpa membedakan kasta, namun masih mempertahankan nilai/budaya lama.
Empu Supa meremehkan bahan besi yang sangat kecil yang dibawa Sunan Kalijaga. Ini bisa ditafsirkan Empu Supa sebagai salah satu pemimpin gerakan, sedikit meremehkan munculnya kekuatan di Bintara yang masih sangat kecil, sebagai pusat gerakan Islam di Pulau Jawa. Namun berkat kepandaian berdiplomasi Sunan Kalijaga yang bisa meyakinkan Empu Supa, maka gerakan kecil di Bintara itu akhirnya didukung oleh gerakan rakyat yang mayoritas. Empu Supa semula enggan menggarap keris dengan bahan yang meskipun kecil ternyata sangat berat – yang bisa diartikan : Empu Supa tidak bersedia membantu perkembangan gerakan di Bintara yang bernafaskan Islam. Sementara gerakan yang dipimpinnya bertujuan mengubah tatanan yang berazazkan nasionalis, yang bisa menerima perbedaan agama.
Wujud keris Sengkelat, dipuji sangat bagus dan sangat asli Majapahit oleh Sunan Kalijaga, namun tetap dititipkan kepada Empu Supa. Tafsir bebasnya adalah, bahwa gerakan rakyat yang diprakarsai Empu Supa, tetap menghindari memberi dukungan kepada Demak yang didasarkan pada Islam. Mereka tetap menginginkan tatanan baru yang lebih berbau Nusantara, dan tak ada perbedaan kasta. Keris Sengkelat yang bersemu kemerahan melambangkan kuatnya potensi dari gerakan kelompok Empu Supa, ketika Majapahit sedang dalam keadaan berperang dengan Kerajaan Keling di bawah Prabu Girindrawardana.
Sunan Kalijaga kemudian memesan sebuah pedang suduk (tusuk) – bernama Kiai Carubuk. Maksudnya gerakan Islam yang dipimpin para Wali tetap ingin membangun pusat aktivitas di Bintara, tetapi tetap mengingnkan adanya dukungan dari gerakan kelompok Empu Supa.
Sedangkan Keris Condhong Campur menjadi simbol perumpamaan persekutuan antara kaum bangsawan Majapahit dengan para penganut Islam puritan. Sesuai dengan namanya, ketika itu, terjadi persekutuan antara gerakan yang berbeda-beda kepercayaannya, namun memiliki tujuan politik yang sama : mempertahankan status quo. Keris dhapur Condong Campur dikabarkan sering keluar dari Gedong Pusaka, menebar wabah penyakit. Ini adalah lambang gerakan persekutuan yang lain mencoba melenyapkan gerakan rakyat, dengan cara menyebarkan bibit perselisihan. Dewi Dwarawati , permaisuri raja yang beragama Islam, sangat mendukung gerakan rakyat yang ingin menghilangkan tatanan kasta, diserang dan dipojokkan oleh gerakan kaum feodal yang pro status quo. Dengan kehadiran Sengkelat, gerakan rakyat yang kuat ini bisa menghimpit gerakan kaum feodal dan Islam konservatif (Condhong Campur). perimbangan kekuatan ini akhirnya bergerak ke arah gerakan rakyat. Dan perkembangan berikutnya memang positif. Golongan Islam konservatif yang berpusat di Giri dan Ampel, akhirnya berubah paham – dan memisahkan diri dari para kaum feodal. Gerakan ini akhirnya bersatu dengan gerakan Islam di Bintara.
Lain halnya Sabuk Inten, yang dianggap menjadi lambang kaum pengusaha/pebisnis/konglomerat zaman itu, berupaya untuk iku ambil bagian dalam perebutan pengaruh politik. Tapi agaknya, karena kalah kuat oleh gerakan kaum feodal yang didukung Islam konservatif, akhirnya kalah – patah luk-nya.
Kesan tangguh Mataram awal (Senopaten) langsung bisa ditangkap bila mencermati keris ini, karakter bilah yang ramping masih terbawa langgam (gaya) Majapahit, karakter pamor putih merata seluruh permukaan, tarikan luk yang hampir sama jaraknya, bentuk gandik hingga ke bentuk ganja menjadi penanda. Sedangkan Pamor beras wutah, merupakan motif dasar dari segala jenis pamor. Dipercaya bermanfaat guna ketentraman, dan keselamatan Pemiliknya, untuk mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang di sekelilingnya.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————








