Pandawa Prasaja

termahar logo griyokulo

MAHAR : Rp.1.499.000 ,-(TERMAHAR)


keris pandhawa pendawa prasaja

  1. Kode : GKO-69
  2. Dhapur : Pandhawa Prasaja
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Madiun (Era Mataram Abad XVI)
  5. Panjang Bilah :
  6. Panjang Pesi :
  7. Asal-usul Pusaka : Klaten, Jawa Tengah

warangka sono keling katalog pandawa

Ulasan :

Sejarah Madiun adalah sejarah keris dan tosan aji. Hampir semua peristiwa bersejarah di kabupaten ini, selalu berhubungan dengan keris. Bahkan kabupaten Madiun menggunakan icon keris persis di tangahnya dalam lambang kotanya. Tapi, sebagaimana lazimnya sejarah keris, perkembangan senjata yang satu ini pada suatu daerah akan sangat ditentukan berbagai hal, termasuk diantaranya karakter masyarakat, situasi politik, peta kekuasaan dan lain sebagainya. Karena setelah Pajang sebagai kelanjutan Demak runtuh, Mataram sebagai kerajaan yang masih muda, menjadi ancaman bagi kerajaan kecil atau kadipaten-kadipaten di Jawa Timur yang berdiri sendiri, termasuk Madiun yang enggan diperintah Mataram, sehingga mereka perlu memperkuat diri – antara lain dengan cara membuat sebanyak mungkin senjata seperti keris dan tombak. Keris  Madiun memang diciptakan sesuai zaman dan keadaan masa itu yang penuh dengan pergolakan, dimana tidak terlalu mementingkan keindahan garap.

Banyak orang yang mencibir seputar keris Madiun, selain bentuknya dianggap agak aneh (wagu) dari pakem pada umumnya, juga tak banyak ditemukan keris tangguh madiun yang mewah. Kalau toh ada yang berkinatah emas, biasanya detil ukirannya kurang rapih dan batas tepi emas tak beraturan. Namun juga tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam kesederhanaannya, sebagian besar keris-keris Madiun memiliki perbawa tersendiri. Atau dalam bahasa isoteri perkerisan, keris-keris tangguh Madiun itu terkesan nggegirisi dan angker. Meskipun bentuknya terasa nyeleneh (berbeda dengan kebiasaan atau pakem keris pada umumnya), tapi enak dipandang. Dan memang sisi isoteri inilah yang lebih menonjol dari keris-keris Madiun. Tak heran sejarah Madiun sangat berkaitan erat dengan senjata-senjata pusakanya yang sangat bertuah. Bahkan sekaliber Mataramnya Panembahan Senopati pernah dipermalukan dengan mengalami dua kali kegagalan menundukkan Purubaya (Madiun), yakni pada tahun 1587 dan 1589, diyakini hal ini berkat keampuhan sebilah keris pusaka, yakni Kanjeng Kiai Kala Gumarang. Hingga dengan taktik “pura-pura takluk” ekspansi Mataram berbuah kesuksesan. Kabarnya, sebagai peringatan atas peristiwa penguasaan Mataram atas Purbaya tersebut, maka sejak tanggal 16 Nopember 1950 nama Purubaya diganti menjadi Mbediyun atau Mediun.

Tangguh Madiun Era Mataram

Jika kebanyakan keris tangguh madiun berluk tiga belas, tengoklah pasikutan keris Pandhawa Prasaja ini, dari bentuk luk, gandik hingga bagian ganja yang khas, terkesan agak ganjil tapi terasa luwes. Sogokan dan pejetan yang tidak imbang antara kiri dan kanan menjadi salah satu pembeda, juga perut gonjo tampak tipis, sedangkan sirah cecaknya berbentuk lancip, ditambah dengan bentuk kepet yang papak buntut urang (setelah bagian gendok/perut ganja makin menyempit terus sampai hampir keujung namun dekat ujung ukurannya melebar kembali/papak/ tidak meruncing). Menurut kepercayaan keris dengan bentut ekor ganja papak buntut urang seperti ini biasanya adalah pesanan seorang priyayi (orang terhormat). Pada bagian sekar kacang juga sengaja diracik unik (nggelung bungkem) menempel pada gandik dan diyakini sebagai simbolisasi akan kewibawaan serta kharisma untuk menciutkan nyali atau membungkam lawan sehingga menurut dan tunduk sesuai maksud dan tujuan dari pemegang Pusaka.

kembang kacang bungkem sekar kacang bungkem

gonjo mbuntut urang

Untuk menangguh suatu keris Madiun, kecocokan dengan besi sezaman bisa dijadikan parameter penilaian. Jenis besi dan pamor keris Pandawa ini memiliki kemiripan dengan besi Mataram awal. Keserupaan ini kemungkinan disebabkan oleh ketersediaan bahan besi yang ada pada masa tersebut, dan unsur distribusi dalam wilayah-wilayah kerajaan yang berkuasa.

pamor ceprit pamor nyeprit

Banyak memang misteri yang tersimpan di Madiun. Bahkan sampai kini. Satu diantaranya sebutan Tundhung Madiun yang terkenal itu. Nama apakah itu? Nama keriskah, peristiwakah, empu atau si pembuat keriskah, ataukah…? Sesuatu yang belum dapat dijelaskan, namun terus tetap hidup, mengiringi berbagai mitos yang ada di dalam keris Madiun. Teka-teki itu terus hidup, sekaligus meyakinkan orang bahwa Madiun sama sekali tidak dapat dipandang sebelah mata, ketika orang berbicara tentang perkerisan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *