Mahar : 6.660,000,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen – Jakarta Pusat
1. Kode : GKO-336
2. Dhapur : ?
3. Pamor : Tetesing Warih + Bungkus
4. Tangguh : Pengging (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1631/MP.TMII/XII/2018
6. Asal-usul Pusaka : Bojonegoro, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 31 cm, panjang pesi 6,7 cm, panjang total 37,7 cm
8. Keterangan Lain : tangguh langka, keris pijetan?
ULASAN :
TENTANG DHAPUR, untuk tulisan kali ini sengaja tidak membahas masalah dhapur dan filosofinya, karena sampai saat ini setidaknya Penulis belum menemukan referensi yang tepat mengenai pakem ricikan yang ada pada keris luk 9 ini. Berbagai rujukan buku yang membahas mengenai nama dhapur keris, seperti buku Dhapur damartaji, Ensiklopedi Keris karangan Bambang Harsrinuksmo, Tabel ricikan dhapur keris yang ada di Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar, serta Serat Lama yakni Kawruh Empu (1845) tulisan Ngabèi Wirapustaka tidak ditemukan nama dhapur keris Luk 9 yang dimaksud dengan ricikan; sekar kacang, jalen, lambe gajah, pejetan, sraweyan dan tikel alis. Selain itu keris ini mempunyai kruwingan seperti halnya dhapur megantara yang bermutu tinggi di kiri (memanjang dari tikel alis) dan kanan (memanjang dari sraweyan) ada-ada pada setengah bilah bagian bawah, dan kruwingan tengah pada separoh bilah yang di atas. Namun pada Surat Keterangan yang ada tetap ditulis dengan nama dhapur Sempono.
KANJENG KIAI TOYA TINAMBAK, Posisi Danang Sutawijaya benar-benar sudah di ujung tanduk. Tombak Kanjeng Kiai Plered terlepas dari genggamannya, dan ia terpeleset jatuh di depan kaki musuhnya, Arya Penangsang. Adipati Jipang itupun sudah siap mencabut kerisnya. Kiai Sih Tan Kater, untuk dihujamkan ke tubuh pemuda itu. Orang-orang dari Selo dan Pajang yang menyaksikan itupun miris. Ajal anak angkat Sultan Hadiwijoyo itu sudah berada di depan mata.
Sutawijaya memang terkesima melihat kesaktian lawannya. Luka parah yang merobek perut sang Adipati yang diakibatkan oleh tusukan tombak Kiai Plered, ternyata tak segera mengantarkan nyawa penguasa Jipang itu ke alam baka. Bahkan keris Sih Tan Kater atau lebih sering disebut Setan Kober, digunakan untuk tempat melilitkan ususnya yang terburai, membuat putra angkat Sultan Pajang itu benar-benar terpesona. Sebagai seorang prajurit pilih tanding yang mumpuni dalam olah gegaman sebenarnya Danang Sutawijaya masih ada waktu untuk mencabut kerisnya, Kanjeng Kiai Toya Tinambak yang terselip di pinggangnya untuk ditusukkan ke tubuh Arya Penangsang. Namun rasa keheranan yang besar telah membuat pemuda yang belum banyak makan asam garam kehidupan perang itu terlena. Persis ketika kesadarannya pulih, semuanya sudah terlambat. Penangsang telah mencabut kerisnya dan…sreeettttt…. bersamaan dengan lengking teriakan panjang, tubuh Arya Penangsang roboh ke tanah. Semua prajurit dari Selo dan Pajang yang menyaksikan dari kejauhan, terbelalak. Adipati yang gagah perkasa itu tewas seketika. Kerisnya sendiri yang telah memutus usus yang sempat dililitkannya tadi.
Itulah sepenggal kisah masyur yang menurut HJ De Graff terjadi pada tahun 1558. Detil dan keakuratan cerita dramatis itu bisa saja telah mengalami bias yang lebar. Namun terlepas dari itu semua, menjadi salah satu jejak penting yang dijalani oleh Sutawijaya, menuju tangga puncaknya kelak : mendirikan keraton sendiri, dan mengalahkan kekuasaan ayah angkatnya, Sultan Hadiwijaya dari Pajang.
Disebut-sebut pula dalam banyak cerita kuno, kemasyuran Panembahan Senopati tidak bisa dilepaskan dari pusaka ageman-nya, Kanjeng Kiai Toya Tinambak. Keris yang didapatkan dari trah Pengging (awalnya ageman Ki Ageng Pengging) ini memang menjadi sifat kandel-nya. Bahkan sejak Panembahan Senopati masih memakai Raden Ngabehi Loring Pasar, pusaka tersebut sudah menjadi miliknya. Meski bentuknya sangat sederhana, namun keris dengan tangguh Pengging dhapur luk 11 dan pamor beras wutah ini sangat diyakini kedigdayaannya oleh Panembahan Senopati. Bahkan, banyak yang percaya, keris itulah yang menghantarkannya menjadi Raja di tanah Jawa. Dan terbukti ketika Ia sebagai pendiri dinasti Mataram, mampu menyatukan seluruh wilayah di Pulau Jawa. Maka tidaklah mengherankan, ketika di Kartasura terjadi gegeran yang menyebabkan banyak raibnya pusaka keraton, keris Kanjeng Kiai Toya Tinambak termasuk yang paling dicari. Sebab generasi Senopaten menganggap keris itu memang memiliki tuah tentang keluhuran seorang Raja. Dan itu sudah dibuktikan ketika menjadi pusaka ageman Sang Senopati. Bukan hanya saat pertempuran dengan Arya Penangsang, tetapi juga di banyak kisah lain, hingga Mataram menjadi kerajaan besar.
Sementara dalam cerita yang lain disebutkan, luk-11 yang ada dalam keris itu juga mencerminkan karakteristik Panembahan Senopati sekaligus perjalanan hidupnya yang penuh liku. Anak Ki Ageng Pemanahan ini memang dikenal cerdik sebagai politikus, karena pandai menangkap moment dan ahli strategi. Perjalanan panjang Senopati dari yang bukan apa-apa hingga menjadi wong agung ing ngeksiganda itu bagai selaras dengan luk-11 dari pusaka ageman-nya keris Kanjeng Kiai Toya Tinambak. Sebuah piyandel yang selalu menjaganya dari marabahaya, sekaligus memberikan kewibawaan sebagai Raja Mataram.
tabel tangguh atau periodesasi keris
TANGGUH PENGGING, Pengging masih tetap Pengging yang sekarang menjadi Kelurahan Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Adalah nama sebuah kerajaan kuno yang pernah berdiri di Jawa Tengah. Raffles dalam bukunya yang terkenal, “The History of Java” mencatat keberadaan dua kerajaan pada sekitar tahun 800 M yakni Brambanan yang dipimpin oleh Baka dan Pengging, yang dipimpin oleh Rajanya bernama Angling Dria. Pada tahun 900 M kedua Raja ini kemudian berperang satu sama lain, dan Raja Baka mati terbunuh dalam peperangan. Nama Pengging juga disebutkan dalam kitab Negara Kretagama pada Pupuh XVII bait 10 yang dilokalisir dikawasan sebelah barat delta Brantas, di daerah hulu bengawan Solo. Sementara deskripsi lokasi keraton Pengging berdasar peneltian fragmen dan artefak seperti yang tersebutkan pada Babad Jaka Tingkir : “bahwa makam adik ratu Pembayun yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging”, yang ditemukan yaitu diantara makam Bodean dan umbul Kendat (Boyolali).
Membahas mengenai tangguh Pengging dalam dunia perkerisan setidaknya ada 2 (dua) era yang dimaksud yakni; pertama Era Pengging Hindu (Witaradya) sebelum Majapahit dan Era Pengging sejaman Islam Demak (Handayaningrat). Seperti halnya Madiun semasa kerajaan Pajang maupun setelah memasuki Era Mataram, Pengging di zaman Demak juga hanya merupakan Kadipaten namun eksis dalam tangguh perkerisan. Bambang Harsrinuksmo dalam Buku Ensiklopedi Keris menulis Tangguh Pengging; pasikutannya sedang, ramping garapannya rapi. Jika keris luk, luk-nya rengkol sekali. Besinya hitam dan berkesan basah. Pamornya tergolong kalem dan berkesan mengambang. Gonjo-nya tipis, serah cecaknya pendek.
Wagu namun wangun, itulah kesan medalam pertama yang bisa dirasakan. Memang, mulai dari tarikan awal luknya hingga jatuhnya ujung keris (panitis) yang mendongak mempunyai kekhasan yang berbeda dengan langgam daerah manapun. Bentuk sekar kacang cupet dan posisi pesi yang centre di tengah bilah menambah penampilan uniknya. Jika dicermati lebih lanjut bentuk pejetan yang ada tampak dalam, serta tidak berimbang sisi kanan dan kirinya. Bagian sraweyan dan tikel alis tampak memanjang membentuk kruwingan di kanan kiri sepanjang luk pertama dan selanjutnya berganti dengan kruwingan di tengah menuju ke atas. Serat besinya halus, padat, dan tampak basah seolah membawa darah Majapahit. Begitu juga dengan tantingannya sangat ringan, jika disentil bergema nyaring pertanda ditempa melalui sebuah kematangan. Jika dilihat dari sisi pinggir (sisi tajam) meski bilah ini tergolong masih cukup tebal menampakkan lekukan-lekukan yang mengesankan tanda bekas pijitan jari tangan. Sandangan yang ada juga masih tampak wingit, bawaan sebelumnya. Patina yang ada pada pendok dan mendak-nya sengaja dibiarkan apa adanya, menambah ke-otentikan-nya. Sebuah harta karun yang beruntung masih bisa didapatkan dari pelosok dusun.
LUK 9 PENGGING, Dalam pemahaman budaya perkerisan khususnya di tanah Jawa dikenal bahwa keris tangguh Pengging yang memiliki makna spiritual yang paling tinggi adalah luk 9. Mengapa demikian? Tentu hal ini tidak lepas dari hubungan sejarah bahwa penguasa Pengging (Kebo Kenanga/Ki Ageng Pengging II) adalah murid terbaik dari Syekh Siti Jenar atau yang dikenal sebagai Syekh Lemah Abang. Terlebih Ki Ageng Pengging gencar mendakwahkan sembilan (9) ajaran pokok Syekh Siti Jenar yang dianggap “menyimpang” oleh Kasultanan Demak dan dicurigai hendak memberontak karena tidak bersedia sowan menghadap ke Demak. Maka Sunan Kudus pun dikirim untuk “mengadili” penguasa Pengging itu.
Walau oleh beberapa ahli tafsir sejarah keputusan Raden Patah bisa dianggap bermuatan unsur politis, karena dalam garis keturunan Ki Ageng Pengging, sebenarnya mengalir darah Singhawardhana, pewaris sah tahta Majapahit. Karena nenek beliau, yaitu Dewi Amarawati atau Permaisuri Dewi Murdaningrum telah diangkat sebagai permaisuri dari Prabu Brawijaya V. Sehingga jelas manakala Prabu Brawijaya V kelak lengser keprabon atau wafat, yang berhak menggantikan seharusnya adalah putri sulung beliau Dyah Hayu Ratna Pembayun atau Ratu Sulung yang dinikahkan dengan Adipati Pengging, Handayaningrat IV (Joko Sengoro), bukan Raden Patah. Seluruh masyarakat Majapahit tahu akan hal ini. Tahu siapa yang seharusnya berhak memegang tahta. Sehingga diam-diam, pengaruh keturunan Pengging masih terasa sangat besar di wilayah Demak Bintara. Bagi pemerintahan Demak, keturunan Pengging adalah bahaya laten.
KERIS PIJETAN, adalah istilah yang dipakai untuk menyebut keris yang permukaan bilahnya terdapat “kesan” lekukan-lekukan menyerupai bekas ‘pijetan’ jari tangan. Di Pulau Jawa dan di Indonesia pada umumnya keris yang demikian dinamakan keris pijetan. Sedangkan istilah pichit merupakan istilah yang dipakai di daerah Riau, Kepulauan dan Daratan, Semenanjung Malaya, Serawak, Sabah serta Brunai Darussalam.
lekukan yang ada di bilah seperti bekas pijitan jari tangan
Tentang lekukan pada permukaan bilah yang menyerupai bekas pijitan ibu jari tangan memang sulit diterima nalar atau dibuktikan secara ilmiah bahwa itu benar-benar dibuat dengan pijitan jari tangan dari sang Empu. Ada sebagian pecinta keris yang menduga bahwa bentuk seperti bekas pijitan tersebut terjadi karena bentuk permukaan paron (landasan) dan palu yang digunakan tidak rata, atau mungkin dapat diakibatkan oleh perubahan tegangan besi karena faktor usia bilah dan suhu di dalam warangka yang terlalu lama lebih tinggi dari suhu ruangan, hal ini yang disinyalir menjadi faktor eksternal yang dapat mempengaruhi atau mengakibatkan besi mulet dengan sendirinya. Namun dari sisi mereka yang menganut mazhab esoteri, karena seorang Empu jaman dahulu adalah seorang yang dianggap pinunjul atau mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu (linuwih), maka lebih banyak yang meyakini jika bekas pijetan merupakan hasil finishing touch dari laku spiritual sang Empu dalam memberikan kemantapan atas doa-doa yang dipanjatkan dengan menyertakan tanda fisik melalui pijetan jari-jemari pribadi sang Empu sesudah tangannya dicelupkan dalam minyak. Tanda fisik ini bisa dilihat dari sisi tajam bilah, berbekas seperti lekukan yang luwes. Dipercaya akan lebih ampuh.
BANYU TETES, gambaran pamor tetesing warih atau tirta tumeter atau juga disebut banyu setetes serupa dengan pamor wos wutah. Namun diantara sela-sela garis pamor terdapat banyak bulatan-bulatan kecil. Bulatan atau lingkaran itu tidak rata ukurannya, ada yang besar adapula yang kecil, ada yang tersusun sampai tiga lapis, namun ada juga yang tidak merupakan susunan lingkaran. Bulatan-bulatan pada pamor tetesing warih, terkadang tidak bulat benar, ada yang agak gepeng, ada yang mencong. Namun karena adanya bulatan-bulatan itu, banyak orang yang menyangka bahwa itu pamor Udan Mas. Pamor Tirta Tumeter yang artinya tetesan air. Rejeki yang lumintu, walaupun sedikit demi sedikit tetapi selalu ada saja. Itulah yang utama tuah dari Banyu Tetes.
pamor bungkus angka 8
PAMOR BUNGKUS, adalah salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya agak mirip kepompong ulat. Letaknya di tengah sor-soran di pangkal bilah. Biasanya pamor ini terselip diantara gambaran pamor lain. Sebagian penggemar keris menganggap pola pamor bungkus dapat mempermudah orang mencari jalan rejeki dan mencegah sifat boros. Tergolong pamor yang tidak pemilih, siapa saja akan cocok memiliki. Semakin spesial dengan adanya pamor tiban angka 8 (membungkus angka 8) jika dimiringkan ke bawah. Sudah menjadi kepercayaan umum jika angka 8 merupakan simbol garis yang tidak pernah berhenti atau dimaknai rejeki yang tidak ada putusnya, terus menyambung dan terus mengalir tanpa terputus.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com
————————————














