Mahar : 5.555,555,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen – Jakarta Pusat
1. Kode : GKO-335
2. Dhapur : Kebo Dhengen
3. Pamor : Blarak Sinered
4. Tangguh : Majapahit (Abad XIV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1630/MP.TMII/XII/2018
6. Asal-usul Pusaka : Bojonegoro, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 34,5 cm, panjang pesi 6,5 cm, panjang total 41 cm
8. Keterangan Lain : eks pamor langka
ULASAN :
KEBO DHENGEN, menurut buku dhapur Damartaji, Kebo Dhengen mempunyai ricikan : luk lima, sekar kacang, lambe gajah, jalen, pejetan, dan ri pandan. Menurut Buku Ensiklopedi Keris, dhapur Kebo Dhengen tergolong langka. Jika ada, biasanya adalah keris tangguh Tuban.
dhapur Kebo Dhengen versi Damartaji
FILOSOFI, Kebo atau kerbau. Jika kita merunut berbagai kitab yang ada pada jaman-jaman kerajaan masa lampau disebutkan bahwa nama-nama “Kebo” disematkan untuk para perwira tinggi atau bangsawan. Kitab Korawasrama dan Kidung Ranggalawe misalnya menyebut para “mantri” (menteri?) Majapahit diantaranya yang terkenal adalah Kebo Anabrang yang berhasil membunuh Ronggolawe. Ada juga kitab Babad Dalem maupun Kidung Pamancangah yang menceritakan sosok Kebo Iwa, salah satu panglima perang terbaik yang pernah dimiliki kerajaan di Nusantara yang konon pernah menciutkan nyali nama sebesar Gajah Mada. Dalam Hikayat Damarwulan dan Minakjingga juga dikisahkan seorang bangsawan dari Klungkung, Bali, bernama Adipati Kebo Marcuet yang mampu menghadirkan ancaman bagi Ratu Ayu Kencana Wungu, Majapahit. Sejenak mundur dari zaman Majapahit, dalam Kidung Harsawijaya disebutkan nama Patih Kebo Mundarang dari kerajan Daha, Kediri. Bahkan di masa setelah Majapahit (Demak), penguasa Pengging yang masih mempunyai darah Brawijaya V juga masi menggunakan nama Kebo, yakni Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga (Ayah Joko Tingkir/Sultan Hadiwijaya, Pajang). Dan hari ini, hampir bisa dipastikan tidak ada orang tua yang tega menamai anaknya dengan nama “kebo”. Tetapi beberapa abad silam ke belakang. Nama Kebo adalah sebuah keistimewaan, sudah pasti Anda berpangkat atau berdarah ningrat.
Dhèngèn artinya ènthèng, gampang (ing gawe). Maka Kebo Dhèngèn artinya kerbau (yang) suka menolong. Penamaan Kebo Dhengen adalah doa dan harapan, bahwa kelak keturunan mereka, idealnya, bisa menjadi “tunggangan” orang banyak dalam saling berbagi kebajikan dalam kehidupan yang saling membutuhkan.
TANGGUH ERA MAJAPAHIT, adalah salah satu tangguh yang mempunyai penggemar fanatiknya tersendiri. Perpaduan antara Eksoteri (bahan material dan garap kasat mata) dan Isoteri (berhubungan dengan angsar, tuah dll) dianggap sebagian kalangan menyatu dalam komposisi dan harmonisasi yang pas. Material logam dan garap tempa lipat keris Majapahit dianggap lebih baik, begitu pula dengan angsar keris Majapahit dipercaya penggemar esoteri di atas rata-rata tangguh lainnya. Karna siapa tak kenal kerajaan Majapahit? salah satu Imperium terbesar sepanjang sejarah Nusantara Indonesia. Menurut Negarakertagama, kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, dan beberapa bagian kecil benua Asia. Sasanti yang tersemat pada Lambang Negara Indonesia pun pada dasarnya berasal dari jaman kerajaan Majapahit yang lengkapnya berbunyi “BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRWA” yang merupakan kutipan berasal dari pupuh 139 bait ke 5 dari kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular. Masyarakat Majapahit umumnya memiliki jiwa pejuang dan penakluk. Tak cukup hanya bermodal berani atau nekat saja (jawa = kosongan) untuk bisa menaklukan dan menjadikan daerah lain sebagai negara vasal, ada faktor X lain yang lebih diyakini.
Dalam Serat Paniti Kadga tercatat nama-nama Empu pilih tanding di Jaman Majapahit, yakni Empu Singkir atau Empu Hangga dari Tapan, Empu Wanabaya atau Empu Keleng dari Pituruh, Empu Jigja (putra empu Singkir) yang diceritakan jempolnya seperti kepala ular, Empu Dhomas, Empu Sedah (putra Empu Kalunglungan dari Blambangan), Empu Supa Madrangi atau Pangeran Sedayu (Putra Empu Sedah), Empu Supagati (putra Empu Sedah) dan Jaka Sura dari Blambangan yang dikisahkan menyusul Bapaknya (Supa Madrangi) ke Majapahit, di jalan membuat keris betok, pesinya bolong, dikarenakan ketika dibawa dengan cara direntengi.
Sedangkan tangguh Majapahit menurut Koesni dalam Buku Pakem Pengetahuan Tentang Keris (1979) digambarkan : jika dalam rasa semu keris buatan negeri Majapahit bisa dikatakan regu dan wingit. Bentuk gonjo sebit lontar, sirah cecak-nya pendek tetapi halus luwes. Gandik-nya pendek sedikit miring, sogokan-nya pendek luas. Yang dibuat lengkok (luk) keliatan luknya sedikit renggang antara tiga jari. Panjang kira-kira dua kilan, di ujung keliatan runcing manis. Besinya terasa padat, jika diraba terasa halus dan jika dipandang berlama-lama terlihat berwarna hitam tetapi semu kebiru-biruan, kering dan lumer halus. Semua itu karena air yang diambil untuk mencampur dalam pembuatannya (menyepuh) selalu dari pegunungan dan dipilihkan yang betul-betul bersih. Kebanyakan pengetrapan pamor selalu terang mabyor dan dibuat ngrambut atau bisa dikatakan berserat-serat panjang.
sisa-sisa kejayaan pamor blarak ngirit
Pusaka ini menyimpan kehormatan dan kejayaan “manusia yang terpilih” di masa lalu. Guratan pamor blarak sinered/blarak ngirit yang tersisa sangat minimal seolah menjadi saksi sejarah yang masi belum mau meredup. Bagian gandik sebagai wajahpun tidak ingin kehilangan pamor, masih mampu menampilkan keningratannya dengan bentuk sekar kacang manis disertai jalen dan lambe gajah yang tipis seperti duri. Tampilan luknya terkesan merata dari awal hingga akhir. Dengan bentuk gonjo nguceng mati khas Empu-Empu yang berkarya di Jaman Majapahit. Tantingan-nya pun sangat ringan sekali, dengan tintingan yang nyaring pula. Untuk bagian warangka sudah diganti dengan warangka baru, karena warangka lama sudah sangat tidak layak mengimbangi “kebesaran” dari sang blarak. Kayu kembang kanthil sengaja dipilih –kanthi laku, tansah kumanthil. Tansah Kumanthil merupakan pralambang dari arti selalu ingat/eling, apa yang harus diingat? tentunya agar selalu ingat untuk berbuat kebajikan sesuai dengan norma Agama. Kanthi Laku merupakan pralambang jika dalam segala hal itu tidaklah cukup hanya dengan berdoa saja tapi juga harus dengan lelaku atau usaha. Bagian pendok bunton bawaan sebelumnya bisa mendapat perhatian ekstra selanjutnya untuk diganti, ada bagian pinggirnya retak. Sedangkan untuk jejeran dan mendak perak masih menggunakan perabot bawaannya.
gonjo nguceng mati, khas empu-empu Majapahit
KANJENG KIAI BALABAR,…. Jleebb! Suara benda tajam yang menghujam suatu tubuh, mengoyak kesunyian senja di hutan Payak, Kediri. Darah menyembur deras dari dada lelaki gagah yang terkapar di bebatuan. Darah itu seperti tak ada hentinya mengucur dari tubuh yang sudah mulai terbujur kaku. Mbelabar (melebar dan menggenangi) di sekeliling tubuh tak bernyawa tersebut. Lelaki tampan berwajah bengis yang menusukkan kerisnya itu, tampak tersenyum puas. Matanya berkilat-kilat menyiratkan dendam yang sudah terbalaskan.
Diceritakan pula dalam Babad Tanah Jawi, bahwa setelah tubuh Trunojoyo terkapar, seolah tiada ampun para Bupati dan Punggawa Amangkurat II langsung merengsek ke depan, dan ikut merajah tubuh Pangeran Madura yang dianggap memberontak Mataram itu. Saking dendamnya Amangkurat II terhadap Trunojoyo para Bupati diperintahkan untuk membelah isi dada Trunojoyo, mengambil hati dan jantung Trunojoyo untuk dicincang. Semua Senopati perang Mataram secara merata diminta memakan mentah-mentah. Kepalanya kemudian dipenggal dan diletakkan di dekat dampar Raja di pesanggrahan Payak itu. Semua abdi perempuan yang hendak pergi istirahat, kakinya diperintahkan untuk keset (digosokkan) di rambut kepala itu. Esok harinya, penggalan kepala itu ditumbuk dengan lumpang (alat penumbuh yang terbuat dari batu) sampai hancur. Amangkurat II begitu dendamnya kepada mantan rekan sekutunya, sehingga jasadnyapun harus disiksa dengan cara di luar batas kewajaran.
Itulah sepenggal cerita pada bulan Januari 1680, di pesanggrahan perang Sunan Amangkurat II di Payak, lereng gunung Antang, sebalah timur Kediri. Trunojoyo bekas rekan sekutunya, yang juga adik ipar raja Mataram itu, meregang nyawa di ujung keris Kanjeng Kiai Balabar. Keris Pasopati dengan pamor Blarak Sinered dengan nama Kanjeng Kiai Balabar kemudian menjadi sangat terkenal, setelah Sunan Amangkurat II menghukum mati Trunojoyo dengan pusaka tersebut. Asal muasal nama Balabar, tidak ada yang tahu. Hanya saja diperkirakan bahawa Balabar berkaitan dengan “keampuhan” keris itu yang mampu membuat musuh yang tertusuk, sekecil apapun, darahnya akan terus mengucur keluar, mbelabar atau blabar – rembesannya melebar dan menyebar. Tak akan tersembuhkan dan pasti akan tewas. Oleh karenanya, Trunojoyo yang dikabarkan kebal terhadap segala jenis senjata itupun rubuh dengan darah terkuras habis dari tubuhnya, karena tikaman keris KK Balabar itu.
PAMOR BLARAK SINERED/NGIRID, Ada yang menyebutnya dengan istilah blarak ngirit. Bentuk gambaran pamor blarak sinered serupa dengan daun kelapa (blarak, Jw), lengkap dengan pelepahnya. “Blarak” adalah bahasa Jawa dari “daun kelapa tua” karena daun kelapa muda disebut “janur”. “Sineret” adalah sebuah phrase dalam bahasa Jawa yang berakar kata “seret”. Kata “Sineret” merupakan bentuk jamak dari kata “seret” yang bisa disederhanakan-arti sebagai “diseret-seret”. Begitu juga Ngirid artinya nggered (menarik). Konsep pamor ini adalah pengejawantahan dari “daun kelapa yang diseret-seret”. Konsep ini diserap dari kehidupan di daerah pesisir yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Konon, anak-anak jaman dahulu, karena tidak adanya alat permainan buatan pabrikan seperti sekarang, mereka sering menarik daun kelapa sambil bermain dan berlari-lari di pantai, sehingga terbentuk coretan-coretan yang unik di pasir. Mengandung filosofi yang menggambarkan bahwa pencapaian cita-cita perjuangan yakni “Kejayaan” adalah perjuangan atas nama kebersamaan, bukan individu pemimpin semata.
Ditinjau dari cara pembuatannya, pamor ini tergolong pamor miring. Sedangkan jika ditinjau dari bagaimana terjadinya pamor, blarak sinered termasuk pamor rekan, yang artinya bentuk gambarannya dirancang lebih dulu oleh sang Empu. Pamor ini sulit dibuat dan biasanya merupakan pesanan khusus “priyayi” atau bangsawan (menurut buku Pakem Pusaka Duwung, Sabet, Tombak karangan R, Ng Ronggowarsito pamor blarak ngirid merupakan ageman para Bupati ke atas) bukan untuk kalangan rakyat biasa, sehingga nilai mas kawinnya lebih tinggi dibandingkan pamor yang lain. Tuahnya yang utama adalah untuk jiwa kepemimpinan, menambah kewibawaan dan dicintai orang-orang sekelilingnya. Pamor ini tergolong pemilih, tidak semua orang cocok.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com
————————————













