Mahar : Rp. 8.888.888,-(TERMAHAR) Tn. N Gambir, Jakarta Pusat
- Kode : GKO-174
- Dhapur : Tilam Upih (Kiai Retna Mulyo)
- Pamor : Udan Mas
- Tangguh : Tuban Mataram Abad XV
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 484/MP.TMII/IX/2016
- Asal-usul Pusaka : Trenggalek, Jawa Timur
- Keterangan Lain : Warangka Wulan Tumanggal Lamen, Pendok Perak (sedikit kurang sempurna di bagian ujungnya), Kolektor Item
Ulasan :
UDAN MAS, salah satu motif pamor yang amat terkenal dalam dunia perkerisan, terutama di pulau Jawa. Pamor ini oleh sebagian pecinta keris dianggap sebagai pamor yang tuahnya dapat membuat pemiliknya banyak kejatuhan berkah/rezeki. Sebagian lagi beranggapan bahwa tuah pamor ini dapat membuat pemiliknya jadi “bakat kaya”. Orang jawa menyebutnya kuwat kebandan. Anggapan seperti ini tidak hanya ada di Jawa, tetapi juga di daerah-daerah lain, termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam.
Telah banyak kesaksian orang yang sukses menyimpan “piyandel” keris pamor udan mas. Karena kepercayaan semacam itu juga, berbondong-bondong orang… tidak hanya monopoli kaum pedagang dan pengusaha saja ingin memiliki keris, tombak, atau pedang dengan pamor udan mas, tetapi juga dari kalangan sipil/pegawai negeri hingga militer, sehingga nilai mas kawin (mahar) udan mas menjadi tinggi dan banyak bermunculan udan mas susulan (kw/palsu). Sesuai hukum permintaan dan penawaran di pasar, maka keris berpamor udan mas dipelajari oleh beberapa pande/pengrajin untuk diproduksi kembali, tentu saja dengan bobot isoteri yang berbeda. Keris berpamor udan mas pada dekade tahun 80-an sudah mulai langka apalagi sekarang.
Pamor udan mas susulan/tidak asli dibuat dengan cara sebagai berikut: pada mulanya dicari keris atau tombak yang berpamor wos wutah, pedaringan kebak, pulo tirto atau pamor lain yang serupa dengan itu. Berikutnya, permukaan bilah “di-drip” di tempat-tempat tertentu untuk diubah menjadi pamor udan mas. Bagi pecinta keris yang masih tahap pemula, akan sukar membedakan mana udan mas asli dan mana yang bukan.
Pamor udan mas tergolong pamor mlumah dan pamor rekan, serta tergolong pamor yang tidak pemilih. Artinya, siapa saja dapat memilikinya, tanpa khawatir cocok atau tidak. Bentuk pamor udan mas berupa bulatan-bulatan kecil yang tersebar di permukaan bilah keris atau tombak. Bulatan-bulatan ini terdiri dari lingkaran bersusun. Paling tidak, satu bulatan terdiri atas tiga lingkaran, sering kali lebih dan biasanya dengan pola beraturan dua.. satu.. dua.
Pamor udan mas sepintas lalu agak serupa bentuknya dengan pamor mrutu sewu atau sisik sewu. Beda yang utama, pada pamor udan mas ukuran bundaran-bundaran itu lebih besar dan lingkaran-lingkarannya merupakan lingkaran penuh. Dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa, keris udan mas yang dianggap paling baik adalah tangguh Pajajaran disusul tangguh Tuban. Pada keris tangguh tua, pamor udan mas pada umumnya hanya menempati bilah keris lurus. Hampir tidak ada keris luk yang memakai pamor udan mas. Ada cerita, pada sekitar tahun 1930-an, yang disebut pamor udan mas harus merupakan pamor tiban. Bila letak bulatan-bulatannya teratur rapi dan garis-garis lingkarannya tersusun rapi, tidak akan dianggap sebagai pamor udan mas. Pamor yang saat ini dinamakan tetesing warih, sebelum tahun 1930-an justru dinamakan pamor udan mas. Pada masa-masa itu, pamor yang kini disebut dengan nama pamor sisik sewu atau mrutu sewu juga dianggap sebagai pamor udan mas. Malahan pamor yang sekarang dikenal sebagai pamor udan mas dengan pola bulatan 212 dianggap sebagai pamor tiruan, karena pada waktu itu dianggap pamor rekan.
Mengenai keris merupakan piyandel, sebuah keyakinan dan kepercayaan dan kemudian keris tersebut menjadi sipat kandel lalu bagaimana maksud dan terjemahannya. Mengenai sebuah keyakinan tentu saja kembali ke masing-masing pribadi dan tidak bisa orang lain turut melarangnya. Bahwa keris merupakan sebuah keyakinan akan sebuah harapan, doa restu sekaligus cita-cita yang ditorehkan dan disimpan untuk diteruskan kepada anak cucu. Keris sebagai sebuah pusaka sarat akan simbol dan pralambang yang harus dibaca secara arif nan bijaksana.
Lalu bagaimana membaca pusaka itu dalam kehidupan manusia yang penuh ketidakjelasan? Bahwa dalam tradisi budaya Jawa terdapat sebuah konvensi atau apa yang disebut dengan pemahaman: “Bapa tapa, anak nampa, putu nemu, buyut katut, canggah kesrambah, mareng kegendeng, uthek-uthek gantung siwur misuwur” yang artinya tidak kurang dari kalau orang tua, terutama ayahnya menjalankan laku prihatin dalam kehidupannya, maka anugerah yang bakal diterima tidak hanya diterima sang ayah tersebut, tetapi juga anak, cucu, cicit dan semua keturunannya. Hal ini menyimpulkan bahwa hidup manusia itu senantiasa menyiratkan keprihatinan. Keprihatinan untuk terus mengupayakan agar berkiblat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan ini disiratkan secara gamblang dan terus menerus di dalam wujud tosan aji. Ketajaman untuk memahami isi pusaka itu harus diasah dan terus dicari dalam pengalaman batin hidup.
Oleh karenanya kemudian orang Jawa menamakan keris sebagai sipat kandel, karena mewujudkan harapan, doa, restu, tuntunan sekaligus cita-cita. Namun kesemuanya yang dimanifestasikan melalui bentuk dhapur maupun pamor serta dibuat dalam laku tapa, keprihatinan, dan selalu memuji kebesaran Yang Maha Kuasa, tidak bakal mewujud dengan sendirinya jika tidak dijemput dengan laku yang kurang lebih serupa.
FILOSOFI, Udan Mas berati hujan emas, bisa dibayangkan hujan uang saja sudah melambangkan sebuah rejeki atau kondisi berkelimpahan apalagi sebuah metafora hujan emas. Apa pun bentuknya, hujan adalah berkah yang diturunkan oleh Allah untuk berbagai hal. Bahkan turunnya hujan dianggap sebagai pertanda baik, seperti kepercayaan masyarakat Tionghoa yang menyebut hujan semarak menjelang Imlek bisa mendatangkan berkah dan rezeki berlimpah.
Hujan yang berfilosofi untuk menyatukan sang Pencipta dan ciptaan-Nya, yang saling terpaut jarak (jauh) karena dosa dan ketidak-sempurnaan. Seperti langit dan bumi yang tak pernah menyatu. Tapi kala hujan turun, mereka mendendangkan nyanyian alam yang amatlah syahdu. Hujan tak pernah takut jatuh ke bumi; ke tempat mana pun ia diutus untuk jatuh, mengalir, dan memberikan kehidupan. Ia rela menjatuhkan dirinya untuk menyejukkan bumi dan semesta raya.
Mekipun ia jatuh dari langit, namun ia tiada melupakan dari mana ia berasal. Hujan senantiasa menginginkan keadilan, sebab ia memohonkan kepada awan untuk bergerak menuju ke tempat-tempat yang akan dilaluinya. Dalam pamor udan mas terselip doa dan harapan akan berkah atau rejeki dari Atas yang turun dilimpahkan tiada henti-hentinya terus mengalir dalam berbagai bentuk.
Dalam sisi kontradiksi, pamor ini juga bisa menjadi sebuah pameling (pengingat) bahwa seseorang tidak boleh berpangku tangan untuk menopang hidupnya, lalu merasa cukup berdoa kepada Tuhan untuk memenuhi segala keperluan hidupnya, padahal dia sendiri tahu bahwa langit tidak pernah menurunkan hujan emas. Hidup adalah sebuah perjuangan.
KIAI RETNO MULYA, retno = inten. Orang Jawa dulu mungkin belum mengenal mutiara tetapi lebih akrab dengan intan. Berlianpun disebutnya intan. Memiliki makna sebagai orang yang berbahagia, hidupnya dipenuhi oleh kesuksesan duniawi serba kecukupan dan berkelimpahan. Jika sudah sukses hendaknya selalu mengingat asal: Orang tua, terutama Ibu adalah salah satu jalan yang membuat seorang manusia bisa sukses, menjadi langkah awal menuju sukses. Ada kalanya kesombongan menyarang di dalam diri seseorang, sehingga selalu menganggap bahwa dirinya tidak membutuhkan orang tuanya untuk sukses. Semata-mata beranggapan bahwa kesuksesan seorang manusia hanya akan diraih dengan kerja kerasnya saja. Untuk itu kita perlu mempersembahkan yang terbaik dalam me-mulia-kan kedua orang tua. Karena berbakti kepada orang tuapun sifatnya melipatgandakan rezeki.
Semoga kita semua juga bisa sukses sesuai dengan kadar kita, dan selalu bersyukur serta bahagia lahir dan batin di atas kesuksesan itu. Tentu saja dengan selalu memuliakan Ibu dan bapak kita. Baik orangtuanya yang masih hidup, maupun orangtuanya yang sudah meninggal, dengan selalu mengirimkan doa dari anak yang Saleh dan Saleha.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————











