Jalak Sangu Tumpeng Pamor Meteorit Kanjeng Kiyahi Gayuh Empu Sungkowo

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 20.000.000,-(TERMAHAR) Tn NA Yogyakarta


1. Kode : –
2. Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng
3. Pamor : Beras Wutah Winengku
4. Tangguh : Ngentho-entho
5. Sertifikasi : No. 222, 11 Maret 2012
6. Asal-usul Pusaka :  Mpu Sungkowo
7. Dimensi : panjang bilah  36,3 cm
8. Keterangan Lain : pamor meteorit campo del cielo, canyon diablo, dan gibeon, kolektor item


ULASAN :

Boleh dibilang, empu yang benar-benar setia menjaga tradisi sudah cukup langka. Jumlah yang minim itu kian berkurang lantaran beberapa Empu tradisional seperti Djeno (Ngentho-Entho) dan Empu Paku Rodji (Mageti) sudah meninggal. Berpulangnya Empu Djeno Harumbrodjo pada tahun 2006 mentahbiskan Sungkowo Harumbrodjo sebagai pewaris tunggal seni tempa pamor dalam silsilah keluarga Ngentho-Entho.

Lahir di Dusun Gatak pada 1 Agustus 1953, Mpu Sungkowo mulai ikut membantu menempa sebagai panjak Empu Djeno sejak tahun 1995. Keterampilannya membuat keris diwarisi dari ayah angkatnya sekaligus Pak-lik (paman), Empu Djeno Harum Brojo. Sungkowo adalah anak kandung Wignyo Sukoyo, kakak kandung Djeno. Kedua bersaudara itu adalah dua di antara empat anak Empu Supowinangun, cucu dari Empu Entho Wayang pembuat keris yang cukup terkenal pada zamannya. Dari empat anak Supowinangun, hanya Yoso Pangarso dan Djeno yang meneruskan tradisi keluarga sebagai empu. Sejak dulu, keluarga itu adalah keluarga pembuat keris. Jika dirunut lebih jauh, leluhur Empu Sungkowo adalah Ki Empu Tumenggung Supodriyo, empu kondang Majapahit, dan Sungkowo adalah keturunan ke-17.

Empu Sungkowo memang hanya membuat keris berdasarkan pesanan orang. Berbeda dengan keris koden atau keris yang diproduksi massal sebagai barang kerajinan (souvenir). Keris Mpu Sungkowo dibabar satu per satu hingga selesai. Ia tidak akan membuat keris lain, sebelum keris pertama selesai. Ia tidak pernah mengingkari salah satu tahapan atau proses pembuatan keris, sehingga untuk membuat sebilah keris dibutuhkan waktu sekitar 40 hari. Karena itu, seorang pemesan tak bisa langsung cepat mendapatkan kerisnya dalam waktu dekat. Saking banyaknya pesanan, setidaknya mereka harus menunggu 1-2 tahun untuk mendapat keris yang dipesannya.

Mpu Sungkowo juga menjalani tiga laku tirakat yakni berdoa, puasa, dan slametan. Selain itu, melalui petung ia memilih hari-hari khusus untuk memulai pekerjaannya membuat keris. Hari selasa pahing, rabu wage, kamis pahing, kamis wage, dan kamis legi menjadi hari pantangan bekerja. Demikian pula saat emosi atau pikiran tidak tenang Mpu Sungkowo memilih untuk tidak menempa. Mpu Sungkowo percaya saat emosi atau marah bisa mempengaruhi watak keris yang sedang dibuatnya.

PAMOR METEORIT, Jangan salah paham, meteorit tidak menjadi bahan keseluruhan pembuatan bilah keris. Ada bahan lain yakni besi dan baja. Meteorit hanya menjadi bahan pamor atau hiasan yang ada permukaan bilah dan dipercaya mempunyai tuah tertentu dari bilah keris. Sebenarnya, tidak semua pamor keris terbuat dari meteorit. Ada pamor sanak yang terjadi dari besi campuran, ada pamor luwu yang dulu besinya memang didatangkan dari Luwu ke tanah Jawa. Namun dari keduanya, pamor meteorit dianggap sebagai pamor terbaik.

Sisa benda angkasa yang jatuh dari langit menghujam ke bumi itu dianggap sebagai benda ampuh, pemberian langsung dari sang Pencipta, dimana oleh manusia Tuhan selalu dibayangkan berada di atas (asal batu meteorit). Tak heran, jika benda asing yang pernah melintasi galaksi menempuh jarak jutaan kilometer, dan di titik akhir masih harus berjuang bergesekan terbakar terkikis habis ketika memasuki atmosfer bumi, kemudian digunakan oleh orang-orang di masa lalu sebagai bahan pembuat pamor keris.

Keris pusaka berasal dari campuran besi baja dari perut bumi (Ibu Pertiwi) dan meteorit (Bapa Angkasa). Campuran material ini apabila digabungkan  oleh sang Empu melambangkan perkawinan kosmis,  bersatunya Ibu Bumi dan Bapa Akasa yang diharapkan melahirkan sebuah pusaka yang hebat. Dalam tataran spiritual yang lebih tinggi artinya, bersatunya yang disembah dengan yang menyembah (manunggaling kawula Gusti) atau dalam tasawuf dinamakan wahdatul wujud.

Seorang empu keris yang membuat pusaka, dianggap melaksanakan perkawinan antara bapa angkasa (ayah angkasa) dan ibu pratala (ibu bumi). Pamor yang asalnya dari angkasa (batu meteor) dicampur, dijadikan satu, dikawinkan dengan besi baja yang asalnya dari bumi. Oleh sebab itu, pembuatan keris merupakan suatu pekerjaan mistik sakral, yang harus dikerjakan dengan segala passion atau ketekunan dan pengabdian. Maka keris Jawa merupakan simbol bersatunya yang gaib dengan yang fisik, manunggalnya yang fisik dengan yang meta-fisik, dan mengandung tanda-tanda kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa.

Secara metalurgi genaplah, sifat besi liat tetapi tidak tajam, sifat baja yang tajam tetapi getas atau mudah patah, dan sifat nikel/meteorit yang liat dan indah, sehingga apabila ketiganya disatukan dalam tempa lipat dapat menghasilkan karakter logam yang liat, tajam, kuat dan guratan-guratan ornamentik yang indah.

Untuk Kanjeng Kyai Gayuh sendiri bahan pamornya sengaja menggunakan tiga (3) macam batu meteor yang didatangkan dari benua seberang. Sesuai invoice pembelian di bulan Mei 2011 melalui situs meteoryte plus di Amerika Serikat, ketiga batu meteor tersebut adalah; Batu meteor Campo Del Cielo 26,8 grams yang jatuh di Argentina sekitar 4000-5000 tahun yang lalu, meteor Canyon Diablo 33 grams yang jatuh di Arizona, Amerika Serikat 50.000 tahun yang lalu, dan terakhir meteor Gibeon 15 grams yang jatuh di Namibia, Afrika Selatan sekitar 3,3 juta tahun yang lalu.

Ada beberapa catatan menarik yang mungkin bisa dijadikan tambahan referensi tosan aji adalah bahwa jika kita sama-sama mengamati keris Mpu Sungkowo yang dipastikan menggunakan bahan pamor dari batu meteor ini akan terlihat pamornya berwarna putif dof dan terkesan bernuansa. Ada gradasi keabu-abuan dan ada yang warnanya lebih jernih dan terang (deling). Sedangkan umumnya keris/tombak yang dibuat dengan pamor nikel murni biasanya mati (tidak bernuansa) atau orang Jawa menyebutnya dengan menteleng (melotot) alias jreng mengkilap seragam.

KANJENG KIYAHI GAYUH, Orang Jawa itu tidak hanya menghormati orang saja (terutama yang lebih tua), tetapi juga menghormati benda yang kemudian disebut Kiai. Kiai Kopek adalah sebuah Keris, Kiai Plered merupakan Tombak, dan Kiai Slamet itu kerbau. Intinya apa-apa yang dimuliakan masyarakat disebut Kiai.

Sedangkan untuk golongan pusaka sendiri, di Keraton Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta mempunyai grade/kelas masing-masing tidak hanya pertimbangan material dan garap semata, namun juga berdasarkan nilai kesejarahannya. Secara bobot spiritual bertingkat dimulai dari gelar Kyahi, Kanjeng Kyahi, dan Kanjeng Kyahi Ageng. Dan umumnya keris-keris yang mempunyai gelar dapat dijadikan panduan memilih pusaka yang bagus luar dalam, secara eksoteri maupun esoteri.

Dalam Kata Jawa, “Gayuh” (ng-) berarti mencapai, menggapai (cita-cita yang mulia). Seperti bayi yang lahir akan diberikan nama, maka “Gayuh” adalah pusaka asma, sarat akan doa dan harapan yang harus dijunjung kewibawaannya dan dihayati sebagai sebuah laku kehidupan.

Kita hidup bukan hanya sekedar untuk hidup, melainkan untuk terus bergerak, mengerjakan sesuatu, dan mencapai sesuatu. Kita hidup untuk terus melaju pada kecepatan kita masing-masing untuk menggapai hal-hal terhebat yang ingin kita capai. Kita hidup untuk menggapai puncak tertinggi yang mampu kita capai.

Maka Kanjeng Kiyai Gayuh akan selalu mengingatkan pemiliknya bahwa hidup yang telah dianugerahkan kepada kita bukanlah sekedar hidup biasa. Hidup dianugerahkan kepada kita harus diisi dengan pencapaian demi pencapaian, prestasi demi prestasi. Hidup bukan untuk sekedar hidup, melainkan untuk mencapai sesuatu atau memenuhi tugas tertentu yang diberikan kepada kita!

CATATAN GRIYOKULO, secepat otak merespon dan mulut menjawab jika dilakukan survey lisan maka kebanyakan para sutresna tosan aji di Yogyakarta akan menjatuhkan pilihan kepada dhapur keris Jalak Sangu Tumpeng sebagai klangenan favourit mereka. Entah kebetulan atau tidaknya, pusaka Raja Yogyakarta, yang bergelar KKA Kopek juga berdhapur Jalak Sangu Tumpeng.

Di antara ratusan keris yang sudah dihasilkan oleh Mpu Sungkowo, mungkin Kanjeng Kyahi Gayuh ini adalah salah satu masterpiecenya. Selain hanya sebagian kecil saja keris-keris Mpu Sungkowo yang menggunakan bongkahan batu meteor sebagai bahan pamor (yang tentu saja membutuhkan effort atau usaha, waktu, tenaga, biaya lebih, dan tidak semua orang bisa menempanya), bisa dihitung pula dengan jari keris-keris buatan Empu Sungkowo yang disematkan Nama/gelar pada sertifikat yang ditanda-tanganinya.

Secara gaya, keris-keris buatan Mpu Sungkowo agak berbeda dengan pendahulunya Empu Djeno. Jika Mpu Djeno lebih berkiblat ke gaya Majapahit yang cenderung kecil/ramping, keris-keris buatan Mpu Sungkowo cenderung mengambil gaya Hamengkubuwono terutama HB VII yang weweg, gagah dan agak besar. Dan meski saat ini pemberian gelar sudah menjadi hak prerogatif pembuatnya, akan tetapi masih bisa dipahami mengapa Mpu Sungkowo menyematkan gelar Kanjeng Kiyahi pada pusaka ini di antara keris-keris lain yang pernah dibabarnya, karna pasti ada sesuatu yang lain.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *