Keris Pandawa Mpu Ngadeni

Mahar : ?,-


1. Kode : GKO-518
2. Dhapur : Ponco/Pandowo/Mawahyu Buwono
3. Pamor : Mbayu Mili
4. Nama/Sebutan : Ponco Buwono
5. Tangguh : Mpu Ngadeni
6. Sertifikat : Tulisan tangan Mpu Ngadeni
7. Dimensi : panjang bilah 36,5 cm, panjang pesi 7  cm, panjang total  43,5 cm
8. Keterangan Lain : warangka sandang walikat


ULASAN :

Pusaka keris luk 5/gangsal/limo.
Tosan luhur, tosan sepuh, tosan aji
Manunggale tosan, kadamel keris luk 5 wibawane sae, ageng lan luhur, wibawane mahanani guyup rukun, rahayu sedayanipun

Dapur = Ponco/Pandowo/Mawahyu Buwono
Pamor = Mbanyu Mili
Nama = Ponco Buwono

1. Maksud Dapur

Ponco = 5/gangsal
Mawahyu = Wahyu/ilham

Ngaturaken tiyang wonten projo, menawi purun nindakaken gesang sakleresipun, Gusti ingkang Moho Kuoso paring asih dumateng sedayanipun. Sedoyo pinaringan kuwat, waras, selamet, arah leres wilujeng, disih sesamine gesang, pinaringan rejeki katah, sakngarsane Gusti ingkang Moho Kuoso.

2. Maksud Pamor

Mbayu Mili = Intri, lan intir rejeki

Ngaturaken sedoyo pinaringan rejeki lancar, lestari, pinaringan manunggal, guyup, rukun, pinaringan ayom, ayem, toto kerto raharjo, saking ngarsane Gusti ingkang Moho Kuoso.

3. Maksud Nama

Ngaturaken Ponco = Lima, Buwono = Bumi

Ngaturaken gesangipun wonten ing projo lestari, sedoyo panyuwunan kabul saking ngarsane Gusti ingkang Moho Kuoso.

(Mpu Ngadeni)


     Ada pusaka yang lahir dari tempaan besi dan pamor. Namun ada pula pusaka yang sesungguhnya ditempa oleh doa, laku, dan pengharapan. Sebab, sebilah keris tidak hanya berhenti pada wujudnya. Ia dapat menjadi pangeling-eling, pengingat bagi manusia yang menggenggamnya: bukan karena ia berkuasa menentukan hidup manusia, melainkan ia dapat mengingatkan bahwa setiap manusia sedang menjalani laku tempa hidupnya sendiri. Bahwa hidup tidak sekadar tentang bagaimana seseorang berjalan, tetapi juga ke mana ia akan mengarahkan langkahnya.


     

MAKSUD DAPUR

Ponco — Lima Pintu Manusia

     Lima bukan sekadar bilangan. Dalam kebijaksanaan Jawa, angka dapat menjadi sasmito—isyarat yang mengajak manusia membaca sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar yang tampak. Lima dapat direnungkan sebagai pancaindra—lima pintu yang menghubungkan manusia dengan Buwono, dengan jagad yang berada di luar dirinya.

      Melalui mata, manusia mengenali rupa. Melalui telinga, manusia mengenali suara. Melalui hidung, manusia mengenali aroma. Melalui lidah, manusia mengecap rasa sekaligus melahirkan kata. Dan, melalui kulit manusia mengenali sentuhan. Lewat lima pintu itulah Buwono hadir ke dalam diri manusia. Dunia tidak pertama-tama masuk melalui pikiran. Ia datang melalui penglihatan, suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Barulah kemudian semua itu tinggal di dalam diri sebagai ingatan, pengalaman, rasa, kehendak, dan keputusan.

     Maka pancaindra sesungguhnya bukan sekadar alat untuk mengenali dunia. Ia adalah pintu yang menghubungkan jagad luar dengan jagad alit batin manusia. Lima pintu itu dianugerahkan kepada manusia bukan agar manusia membuka aksesnya tanpa batas, tetapi agar manusia belajar membuka, menerima, menyaring, dan menutupnya pada saat yang semestinya. Maka setiap pintu membutuhkan penjaga. Di sinilah Ponco mulai berubah dari bilangan menjadi pitutur.

Mata — Melihat Tanpa Menghakimi
     Mata adalah pintu pertama. Melalui mata manusia mengenali rupa dunia: Indah dan buruk. Terang dan gelap. Berlimpah dan kekurangan. Namun apa yang tampak belum tentu merupakan seluruh kebenaran. Mata dapat melihat rupa, tapi tak bisa menilai isi hati. Mata dapat menunjuk kesalahan seseorang, tetapi tidak selalu mengetahui kebenaran yang tersembunyi di balik kesalahan itu. Maka mata membutuhkan eling. Melihat bukan berarti berhak menghakimi. Apa yang tampak hanyalah permukaan, belum tentu sebuah kebenaran mutlak. Mata mengajarkan manusia bukan hanya bagaimana melihat, tetapi bagaimana memandang sesuatu.

Telinga — Mendengar Sebelum Menyimpulkan

      Telinga adalah pintu bagi suara. Pujian dapat masuk melaluinya, demikian pula celaan. Nasihat dapat mengetuk, tetapi fitnah pun dapat menyusup. Berita yang benar dan berita yang keliru dapat mengetuk pintu yang sama. Maka bukan semua yang terdengar harus dipercaya. Telinga membutuhkan waspodo—bukan untuk mencurigai segala sesuatu, tetapi untuk memberi jeda antara apa yang didengar dengan mana yang kemudian patut disimpan, mana yang perlu dipertanyakan, dan mana yang sebaiknya dibiarkan berlalu seperti angin. Sebab, mendengar dengan baik bukan sekedar menangkap suara. Karena itu, telinga manusia perlu belajar bukan hanya mendengar, tetapi juga menyaring.

Hidung — Mengenali Keadaan

     Hidung bekerja dengan cara yang lebih sunyi. Ia tidak banyak bertanya kepada pikiran; ia mengenali. Harum dan busuk, segar dan pengap, dekat dan asing. Ada sesuatu yang dapat dirasakan olehnya, bahkan sebelum pikiran sempat memberi nama. Dari sini hidung dapat menjadi sasmita tentang kepekaan—kemampuan untuk mengenali sesuatu yang kadang belum mampu dijelaskan oleh kata. Manusia dapat “melihat” seseorang tersenyum, tetapi belum tentu menyadari bahwa di balik senyum itu tersimpan kesedihan. Manusia dapat “mendengar” seseorang berkata “aku baik-baik saja”, tetapi belum tentu mampu merasakan bahwa ada sesuatu kegelisahan yang sedang disembunyikannya. Maka mengenali tidak selalu berarti mengetahui dengan pikiran. Ada kalanya manusia harus bisa rumangsa terlebih dahulu, baru kemudian mengerti. Bisa rumangsa mengajarkan manusia untuk mampu merasakan keadaan sebelum tergesa menyimpulkan dan tidak merasa paling tahu hanya karena telah melihat atau mendengar. Hidung menjadi pengingat bahwa hidup tidak seluruhnya dapat dijelaskan dengan nalar. Ada hal-hal yang hanya dapat dikenali oleh kepekaan rasa.

Lidah — Menjaga Ucapan

      Lidah memiliki dua jalan. Ia mengenali rasa, sekaligus melahirkan kata. Manis dan pahit dapat dikenali oleh lidah. Namun manis dan pahit juga dapat lahir dari ucapan. Kata-kata dapat menjadi obat hati yang susah, namun kata-kata juga dapat menjadi luka bagi orang lain. Karena itu, lidah menjadi salah satu pintu yang paling perlu dijaga. Sebab lidah seringkali tidak bertulang, meninggalkan jejak yang tidak dapat ditarik kembali setelah meninggalkan mulut. Orang Jawa mengenal ajining diri saka lathi—harga diri seseorang tercermin dari tutur katanya. Maka jika lidah hendak menjadi jalan kebaikan, ucapkan hal-hal baik; jika tidak mampu menambah kebaikan, diam pun dapat menjadi pilihan yang lebih luhur.

Kulit — Merasakan Sesama

    Kulit adalah indera yang bersentuhan langsung dengan dunia. Panas dan dingin, kasar dan lembut dan lain sebagainya. Namun dalam makna yang lebih dalam, sentuhan menjadi perlambang kepekaan terhadap kehidupan. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk melihat penderitaan orang lain, tetapi juga kemampuan untuk merasakannya. Kesulitan sesama bukan hanya pemandangan yang singgah di mata. Penderitaan orang lain bukan sekadar berita yang lewat di telinga. Ia semestinya dapat menyentuh batin, menggugah kepedulian, lalu menggerakkan manusia untuk tidak tinggal sebagai penonton. Maka kulit menjadi perlambang bagaimana manusia belajar tepa slira—menempatkan rasa dirinya di dalam keadaan orang lain. Bukan berarti harus mengalami penderitaan yang sama untuk dapat memahami, melainkan belajar bertanya dalam keheningan: Bagaimana jika hal itu terjadi kepadaku?” Dari pertanyaan sederhana itulah welas asih dapat tumbuh. Dan ketika welas asih terhadap sesama mulai hidup, manusia tidak lagi sekedar melihat kehidupan dari tempatnya sendiri, tetapi mulai belajar memandang dari tempat orang lain.


Dari Pancaindra Menuju Roso 

     Pancaindra menerima. Namun perjalanan manusia tidak berhenti di sana.  Sebab apa yang masuk melalui lima pintu akan meninggalkan jejak di dalam diri. Apa yang terus dilihat dapat membentuk cara memandang. Apa yang terus didengar dapat memengaruhi cara berpikir. Apa yang terus dirasakan dapat membentuk kepekaan. Apa yang terus diucapkan dapat menunjukkan watak. Manusia mungkin tidak selalu dapat “memilih” apa yang datang dari Buwono, tetapi manusia masih memiliki kesempatan untuk “memilah” apa yang hendak ia tumbuhkan di dalam dirinya. Dan apa yang terus dibiarkan tumbuh di dalam batin pada akhirnya akan menemukan jalannya melalui roso.

Pancaindra adalah pintu.
Roso adalah ruang di balik pintu.
Laku adalah apa yang akhirnya keluar dari ruang itu.


Buwono — Dunia Tempat Manusia Menjalankan Laku

     Buwono, dalam pengertian yang paling sederhana, adalah dunia, atau bumi tempat manusia berpijak. Di sanalah manusia lahir. Di sanalah manusia tumbuh, bekerja, mencari rezeki. Di sanalah manusia bertemu dengan orang lain, membangun rumah tangga, serta mengalami berbagai warna kehidupan: cinta dan kehilangan, keberhasilan dan kegagalan, kesenangan dan kesedihan. Buwono adalah dunia yang kita hadapi setiap hari, tempat manusia menjalani hidup sebagaimana adanya.

     Namun dunia yang sama tidak pernah benar-benar menjadi tempat yang sama bagi setiap orang. Sebab setiap orang memandangnya dari tempat dan pengalaman yang berbeda. Seseorang melihat dunia melalui matanya sendiri. Mendengar melalui telinganya sendiri. Merasakan melalui kulit dan batinnya sendiri. Maka Buwono yang berada di luar diri akan selalu berjumpa dengan jagad alit yang berada dalam batin manusia. Dari irisan itulah manusia bukan hanya mengenali dunia, tetapi juga perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.

     Karena itu Buwono bukan hanya dunia yang harus dipahami, melainkan dunia yang kodratnya harus dijalani. Manusia tidak mungkin hidup tanpa hal duniawi. Ia membutuhkan kebutuhan dasar, seperti sandang pangan papan, sebagai makhluk sosial manusia juga membutuhkan sesama. Maka laku spiritual tidak harus berarti menjauh dari Buwono. Justru di tengah Buwono itulah laku seseorang diuji.

     Ketika memiliki harta, apakah manusia masih mampu berbagi? Ketika memiliki kuasa, apakah ia masih sanggup berlaku adil? Ketika memperoleh kepercayaan, apakah sanggup memikul amanah? Ketika berhadapan dengan kekurangan dan cobaan, apakah hatinya masih mampu ikhlas dan berserah? Sebab mudah berbicara tentang kebaikan ketika keadaan sedang lapang; tetapi watak dan laku seseorang lebih nyata ketika kehidupan sedang mengujinya.

     Maka Buwono bukan sekadar tempat manusia mencari kesenangan, mengejar kepemilikan, atau mengumpulkan pencapaian. Dunia adalah tempat manusia menanam apa yang kelak akan dipetiknya—bukan semata dalam bentuk harta, tetapi juga dalam bentuk watak, hubungan dengan sesama, dan jejak kebaikan yang ditinggalkannya. Dan setiap laku adalah benih yang akan dituainya.


Mawahyu — Ketika Roso Membutuhkan Pepadhang

     Tetapi roso pun tidak seharusnya berjalan sendirian. Sebab roso manusia dapat berubah. Terlebih manusia tempatnya khilaf. Hari ini yakin, esok ragu. Saat ini merasa cukup, esok kembali digoda oleh berbagai keinginan lebih.  Apa yang dirasakan manusia belum tentu selalu menunjukkan jalan yang benar.

     Belum lagi ketika roso telah bercampur dengan kepentingan dan keinginan. Manusia kadang menjadi subyektif; hanya ingin melihat apa yang mendukung keyakinannya, hanya ingin mendengar apa yang menguatkan keinginannya. Yang sesuai dengan kehendak dianggap benar, sementara yang bertentangan mudah disingkirkan. Pada saat seperti itu, roso tidak lagi menjadi jalan untuk memahami, melainkan dapat berubah menjadi pembenaran bagi diri sendiri.

     Karena itu, manusia membutuhkan pepadhang—cahaya yang menerangi ketika jalan mulai samar. Roso perlu dijernihkan, agar tidak sekadar mengikuti hawa nafsu dan keinginan daging. Di sinilah Mawahyu menemukan tempatnya. Mawahyu dapat direnungkan sebagai wahyu, petunjuk, ilham, atau cahaya yang mengarahkan manusia kepada jalan yang semestinya. Bukan sekadar cahaya yang membuat manusia mampu melihat dalam gelap, tetapi pepadhang yang membantu manusia membedakan jalan yang bener lan pener dengan jalan yang sekadar sesuai dengan keinginannya sendiri. Sebab kadang-kadang yang paling menyesatkan manusia bukanlah karena ia tidak memiliki roso, melainkan karena ia terlalu sombong percaya kepada rosonya sendiri.

     Maka wahyu bukan untuk menggantikan akal. Bukan pula untuk meniadakan roso. Ia menjadi cahaya agar akal dan rasa tidak berjalan tanpa arah. Sebab manusia dapat mengetahui banyak hal tetapi tetap salah memilih. Manusia dapat memiliki segudang pengalaman tetapi bisa kehilangan kebijaksanaan. Manusia dapat mempunyai keinginan yang kuat tetapi tidak mengetahui apakah yang diinginkan itu benar-benar baik. Maka Mawahyu memberikan kejernihan: Ia mengajak manusia tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang aku inginkan?” Tetapi juga bertanya: “apakah yang aku inginkan ini membawa kebaikan?” Dan lebih jauh lagi: “apakah jalan yang kutempuh ini bener lan pener?”


MAKSUD PAMOR

Mbanyu Mili — Rejeki Yang mengalir

     Pamor Mbanyu Mili menggambarkan air yang terus mengalir. Air tidak pernah serakah mempertahankan tempat yang telah dilaluinya. Ia bergerak, mengikuti alur, dan menemukan jalannya sendiri. Dan di sepanjang perjalanan, ia memberi kehidupan. Namun sebagaimana air, rezeki pun sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dimiliki. Air yang hanya ditampung akan menjadi genangan. Tetapi air yang mengalir dapat menghidupi semua makhluk. Maka rezeki yang baik adalah rezeki yang ketika datang kepada seseorang, juga menemukan jalan untuk menjadi manfaat bagi orang lain. Demikianlah filosofi Mbanyu Mili. Rezeki yang baik bukan hanya rezeki yang datang, tetapi rezeki yang mengalir. Datang membawa kecukupan, mengalir membawa manfaat.

Intri lan intir rejeki

     Sebab ukuran rezeki tidak selalu berada pada seberapa banyak yang terkumpul. Ada rezeki berupa kesehatan. Ada rezeki berupa keselamatan. Ada rezeki berupa keluarga yang harmonis. Ada rezeki berupa sahabat yang tulus. Dan barangkali, rezeki yang paling tinggi adalah ketika seseorang masih diberi kesempatan oleh Gusti Moho Kuoso untuk menjadi manfaat bagi sesamanya.


MAKSUD NAMA

      Ponco Buwono bukan sekadar nama bagi sebilah keris. Ia adalah doa yang ditempa menjadi pusaka. Ponco/Lima menjadi perlambang langkah manusia di bumi. Wahyu menjadi petunjuk agar langkah manusia tidak kehilangan arah. Mbanyu Mili menjadi perlambang rezeki yang tak berkesudahan, seperti air yang mengalir. Dan Buwono menjadi tempat manusia menanam laku, menebar welas asih, serta menuai buah atas apa yang telah ditanamnya. Maka pusaka ini kiranya menjadi pengingat:

urip iku kudu duwe arah,
rejeki uga kudu dadi berkah,

Rahayu,

Sumber:

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


🌍 Jelajahi Dunia Tosan Aji
🔍 Temukan kawruh yang tersembunyi
📚 Jurnal, majalah, buku, hingga serat-serat kuno kini tersedia di SINENGKER.COM
📖 Ayo sinau bareng!

👉 TEKAN UNTUK MASUK 🗝️


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *