Dwi Warno : Junjung Derajat dan Untu Walang Nginden

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950,000,- (TERMAHAR) Tn. A, Karanganyar – Jawa Tengah


1. Kode : GKO-283
2. Dhapur : Kala Dete
3. Pamor : Dwi Warno (Junjung Derajat & Untu Walang)
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 713/MP.TMII/VI/2018
6. Asal-usul Pusaka : Cilacap, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah  37  cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 44  cm
8. Keterangan Lain : sudah diwarang ulang, dhapur langka


ULASAN :

KALA DETE (pada buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar karangan Alm Haryono Haryoguritno ditulis Kala Data), merupakan salah satu bentuk dapur keris lurus, bilahnya nglimpa dengan ukuran panjang sedang. Keris Kala Dete memakai ricikan : kembang kacang, lambe gajah-nya hanya satu dan greneng bersusun. Keris ini oleh beberapa orang perkerisan kadang disebut dengan nama Kala Deteng atau Kala Dite. Tergolong dhapur keris langka.

SEBUAH KISAH, dhapur yang dalam cerita dunia pewayangan berasal dari taring kiri Bathara Kala ini pertama kali dimiliki oleh Prabu Kala Karna, selanjutnya diwariskan kepada Adipati Karna. Sosok adipati Karna suka tidak suka, diakui maupun tidak diakui memiliki tempat tersendiri sebagai Ksatriya Agung di hati masyarakat Jawa. Sosok Adipati Karna pun memancing beragam anggapan dan penilaian.  Dapat dikatakan bahwa sepanjang hidupnya ia selalu melakukan hal-hal yang paradoksal — bertentangan. Adipati Karna dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merefleksikan manusia pada umumnya. Ada nilai-nilai dualisme yang terkandung dalam kompleksitasnya itu. Nilai-nilai itulah yang selalu hadir dalam sosok manusia pada umumnya. Adipati Karna menunjukkan kepada kita bahwa dalam kehidupan orang baik tidak selalu melakukan kebaikan, ada kalanya orang itu pun melakukan kejahatan. Sebaliknya, manusia yang dinilai jahat ada kalanya pernah berbuat kebaikan. Adipati Karna pun merefleksian sifat-sifat ambisius manusia. Untuk memuaskan hasratnya, terkadang ia dapat melakukan segala cara, termasuk manuver-manuvernya. Dan di akhir cerita dengan menolak berpihak kepada Pandawa, ia secara tidak langsung telah berkorban dengan caranya sendiri. Pengorbanan Karna sebenarnya merupakan pengabdian pada kebenaran atau ”karmapala” tentang kejahatan yang selalu dihancurkan oleh kebenaran. Karna sudah mengetahui peranannya dalam dunia dan roda dharma. Ia sadar bahwa ia dilahirkan untuk membantu keseimbangan dalam dunia.

TANGGUH MADYA KUNA, yang digolongkan keris Madya Kuna adalah pusaka-pusaka yang dibabar mulai zama Pajajaran Makukuhan sampai dengan kerajaan Cirebon. Jika keris-keris kuna kebanyakan masih bercorak sederhana, sebaliknya keris zaman madya kuna sudah mengalami perkembangan lebih lanjut, dimana masing-masing Empu sudah mulai membuat ciri khas sendiri-sendiri. Yang dimaksud dengan ciri-khas tersebut ialah apa yang di dalam istilah krisologi dinamakan ‘ricikan’.

Menelusuri jejak Mpu dari Cirebon bisa dikatakan tidak sebanyak daerah lain, dimana tercatat Mpu Bayuaji yang bertempat tinggal di tepi hutan, yang saban harinya hanya bergaul dengan binatang buas yang hidup di hutan tersebut. Malahan dalam balutan dongeng sang Empu tersebut dikenal sebagai gurunya para lelembut di hutan. Keris yang dibabar adalah Kyai Setan Kober, yang berarti atas bantuan mahkluk-makhluk halus yang sempat meluangkan diri (kober, bahasa jawa). Konon dilanjutkan ceritera Babad Jawa, yang terakhir menguasai keris ini adalah putra Pangeran Surayata yang bernama Arya Penangsang. Sedangkan Mpu yang lain adalah Mpu Damarjati, meskipun sama-sama hidup di tepi hutan, tetapi keduanya saling berseberangan. Mpu Damarjati sangat menentang dan tidak mau didekati jin-jin atau lelembut seperti halnya Mpu Bayuaji. Tanpa bantuan para lelembut Mpu Damarjati berhasil  membabar dua pusaka, yang diberi nama Kyai Sabuklonthang dan Kyai LamakGodong.

PAMOR DWI WARNO: JUNJUNG DERAJAD & UNTU WALANG, dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa merupakan istilah untuk menunjuk keris yang satu sisi bilahnya memiliki dua macam motif pamor dominan yang berlainan. Misalnya pada bilah ini terdapat motif junjung derajat pada bagian sor-soran dan pamor untu walang di sepanjang sisi bilah.

PAMOR JUNJUNG DERAJAT, secara harafiah berarti mengangkat derajat kemuliaan. Adalah salah satu motif pamor yang bentuknya menyerupai corak berupa garis dengan bentuk susunan anak panah/segitiga/gunung. Banyak pecinta keris menganggap keris berpamor junjung derajat paling tepat dimiliki oleh para pegawai negeri. Konon dengan sugesti energi positif pamor ini dan tentu saja atas izin Tuhan YME, pemilik keris junjung derajat akan mudah mendapat promosi atau kenaikan pangkat. Di Semenanjung Melayu pamor seperti ini dinamakan gambaran gunungan, suatu simbol peningkatan derajat dalam kehidupan seseorang.

PAMOR UNTU WALANG, secara harafiah adalah gigi (untu) belalang (walang). Adalah salah satu motif pamor yang bentuknya menyerupai pamor Tepen atau Wengkon. Bedanya adalah : kalau pamor wengkon garis yang menjadi bingkai dari tepi bilah merupakan garis lurus atau garis itu sedikit bergelombang di sana-sini. Sedangkan dalam pamor untu walang, garis tepinya konsisten bergelombang yang membentuk gambaran serupa mata gergaji. Pamor ini tergolong pemilih, tidak setiap orang akan cocok untuk memilikinya. Oleh sebagian pecinta keris, pamor ini dianggap bertuah untuk membuat pemiliknya menjadi tokoh yang dipercaya, dituakan dan dianggap pemimpin oleh orang sekelilingnya. Kata-katanya akan didengar dan ditaati. Karena itu, banyak pecinta keris beranggapan bahwa pemilik keris ini paling sesuai adalah guru, pengajar atau pendidik. Baik juga dimiliki oleh pemimpin masyarakat. Pamor untu walang tergolong pamor rekan, yakni pamor yang bentuknya dirancang oleh sang Empu. Di Semenanjung Melayu pamor seperti ini disebut pamor gigi yu, dimana menurut kepercayaan keris-keris seperti ini dimiliki oleh pembesar-pembesar negeri. Dihormati dan disegani oleh rakyat atau masyarakat.

pamor tampak seolah bergaris-garis nginden

Sangat jarang kita bisa menikmati suguhan pamor junjung derajad yang berpasangan dengan pamor miring lainnya dalam hal ini pamor untu walang, karena sebagian besar pamor junjung derajad lazimnya berkombinasi denan pamor mlumah lainnya seperti wos wutah atau pulo tirto. Pamor untu walang pada bilah ini juga tergolong spesial karena menampilkan guratan-guratan lurus pada sisi antar gelombang/mata gergaji yang tampak seperti nginden 3 dimensi tetapi ternyata besinya sangat halus jika diraba. Panjang bilahnya yang 37 cm tampak gagah dan memiliki perbawanya sendiri.  Ujung sekar kacang-nya menempel manis pada gandik dengan jalen yang besar dan lebar seolah merepresentasikan belalai sang ganesha atau muka phaksi. Bagian wadidang-nya kental dengan pengaruh keris kulonan. Sentilan-nya jangan ditanya, sangat nyaring pertanda ditempa dengan matang. Dari segi sandangan, warangka ladrang gandar iras yang ada tidak tampil berlebihan mengimbangi aura kebersahajaannya. Selanjutnya biarlah pusaka ini yang akan mencari tuannya sendiri.

 Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *