Surakarta Tunggak Semi Imaginer

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Harga : 350,000,- (TERJUAL) Tn. AH Semarang


 
 hulu-model-semar hulu-solo-semar hulu-semar
  1. Perabot : Hulu
  2. Model : Surakarta Bentuk Semar? atau Kodok Ngorek?
  3. Bahan : Kayu
  4. Dimensi : Panjang 8,5 cm, lebar tengah 4 cm
  5. Keterangan Lain :ada sedikit baretan, kolektor item

 Ulasan :

HULU TUNGGAK SEMI, Hulu keris Surakarta dan Yogyakarta, ada yang menyebut Kratonan, dahulunya diperkirakan berkembang pada jaman kerajaan Mataram Amangkurat, tetapi kemudian menjadi berbeda sejak Palihan Nagari (Perjanjian Giyanti 1755). Bentuk hulu keris yang paling umum kita kenal adalah bentuk Tunggak Semi yang selalu ditandai dengan ukiran kecil yang disebut Cecekan atau Patra. Ada pendapat bahwa ukiran Tunggak Semi adalah ciptaan Sunan Kalijaga yang menggantikan hulu keris Majapahit yang bernuansa Hindu-Budha. Pada jaman itu pengaruh ke-Islaman pada wilayah kesenian sangatlah dominan. Pola ukir dalam bentuk binatang serta arca manusia pada bangunan-bangunan dan rumah sangat dihindari karena dipahami sebagai salah satu larangan bagi Islam pada waktu itu dan diganti bentuk sulur-sulur dedaunan. Menggambarkan ragam dedaunan, sederhana tetapi padat makna. Dimana merupakan filosofi adanya kelahiran baru sebagai manifestasi adanya kehidupan yang tumbuh dan berkembang, maka disebut nunggak semi yang artinya pohon yang tumbuh daun muda. Walaupun bentuknya dalam silhuet sederhana merupakan sebuah abstraksi dari bentuk janin manusia, berupa pengakuan bahwa adanya kelahiran manusia adalah sebuah takdir dari Yang Maha Kuasa, dengan perantara bapa dan ibu.

Hulu model Surakarta dapat ditandai  dengan bentuk dimensi yang lebih besar, tinggi, melengkung ke depan dan mempunyai kuncung pada bathuk-nya. Sedangkan hulu model Yogyakarta lebih kecil, pendek tanpa lengkungan dan tidak mengunakan kuncung. Perbedaan antara hulu dan sarung keris Yogyakarta dengan Surakarta ini kira-kira sama dengan perbedaan blangkon Yogyakarta dan Surakarta.

Khusus pada Hulu ini seolah merupakan improvisasi Tunggak Semi menjadi bentuk imajiner tokoh Semar. Bentuk sirah wingking dan bathuk yang melengkung menghadap ke atas seolah menyamarkan kuncung yang dimiliki Semar Badranaya, tokoh panutan para ksatria pandhawa. Rambut semar identik dengan dengan “kuncung” yang dalam arti jarwadasa atau dalam pribahasa jawa kuno bermakna “akuning sang kuncung” atau sebagai pribadi yang berjiwa melayani. Semar sebagai Dewa me-ngejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Sang Ilahi. Semar berjalan menghadap keatas, maknanya adalah agar kita selalu mengingat ke Atas ( kepada Sang Khaliq ), Yang Maha Pengasih serta Penyayang Umat”.

Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *