Parungsari Pajang Corog Kiai Jayeng Sekar

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

 Mahar : ?- (TERMAHAR) Tn. D Jakarta Timur


 keris parungsari pajang mataram tangguh pajang mataram
  1. Kode : GKO-124
  2. Dhapur : Parung Sari Kiai Jayeng Sekar (Bunga Kejayaan)
  3. Pamor : Mayang mekar
  4. Tangguh : (Pajang?) Mataram Abad XVI
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 191/MP.TMII/III/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  7. Keterangan Lain : Keris Corog, Pendok dan mendak lapis emas, Warangka Cendana, Tangguh Pajang Sangat Langka Kolektor Item

 sertifikasi parung sari

Ulasan :

Pamor boleh jadi memudar, besi bisa saja terkikis dan warangka mungkin akan hancur digerogoti sang waktu, tetapi pemahaman atas filosofi dan nilai-nilai luhur sebilah keris akan selalu hidup dalam pikiran dan hati kita untuk  diturunkan pada generasi selanjutnya.

PARUNGSARI, adalah salah satu bentuk dhapur keris berluk tiga belas. Ukuran Panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot ada yang tidak, lambe gajahnya dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan dan greneng. Sementara orang masih sering kurang detil memperhatikan bentuk keris dhapur Parungsari dengan dhapur Sengkelat, karena memang amat mirip. Perbedaan diantara keduanya hanyalah; Keris dhapur Parungsari mempunyai dua (2) lambe gajah, sedangkan dhapur Sengkelat hanya satu (1). Bahkan ada kepercayaan yang berkembang di masyarakat jika Sengkelat identik dengan kawula alit, “saudara dekatnya” Parungsari identik dengan kaum aristokrat (bangsawan). Salah satu keris pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta yang berdhapur Parungsari adalah Kanjeng Kyai Tumenggung.

MAKNA DAN FILOSOFI, Parung diartikan sebagai lembah dan sari oleh banyak kalangan dikenal sebagai bunga. Suatu lembah yang dipenuhi dengan bunga-bunga, mungkin itulah pemaknaan paling sederhana dari dapur keris yang satu ini. Dalam kehidupan ini, manusia selalu dituntut untuk berproses, berjuang untuk mencapai harapan dan cita-citanya. Bagi kebanyakan orang, kadangkala pintu terakhir fase perjalanan hidupnya yang diharapkan adalah kesuksesan, kemuliaan, kekayaan, keluarga, harta yang melimpah, jabatan dan lebih banyak segala hal yang bersifat material. Memang tidak bisa di gebyah uyah (disama-ratakan) seperti itu, keberhasilan dalam hidup tidak hanya diukur dengan hal-hal materiil. Ada beberapa insan yang kemudian mampu melepaskan diri dari jebakan material demi mengharapkan kedamaian semata (adem ayem), kesatuan atma-nya dengan Sang Pencipta.
 –
Tidak dapat dipungkiri memang, itulah kehidupan dengan segala bunga-bunga didalamnya. Hidup ini pilihan bagi kita semua, semua berhak memilih keyakinan dan kebenaran yang diyakininya. Semuanya berhak untuk memilih jalannya sendiri menuju lembah kehidupan yang akan dia pijaki. Namun yang terpenting dari itu semua, dimanapun lembah yang kita pilih untuk didiami, kita tidak melupakan darma yang harus selalu kita berikan untuk kehidupan ini, dengan selalu berharap agar darma kita kan memunculkan bunga-bunga yang mampu mengharumkan diri hingga saat kembali kepadaNya untuk pertanggungan jawab.
Sehingga dengan perbuatan yang baik, kita akan mampu menuliskan nama atau sejarah kita dengan tinta yang akan melekat di sanubari setiap insan. Keberadaan kita menjadi penting di tengah-tengah masyarakat, selalu diharapkan menjadi “cahaya dan garam” bagi siapa saja yang mengenal kita. Disitulah kita kan dapati arti keseimbangan kehidupan, bahwa kita bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Bukankah “sebaikbaik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain?” Seperti peribahasa “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama” Itulah makna kehidupan sesungguhnya yang ingin diwujudkan dalam dhapur Parung Sari ini.
filosofi mayang mekar pamor mayang mekar

PAMOR MAYANG MEKAR, bentuk gambaran pamornya sangat indah, seperti daun seledri, banyak peminatnya namun tergolong langka karena proses penempaannya tidaklah gampang. Pamor Mayang Mekar tergolong pamor miring, juga tergolong pamor rekan (rekaan), yakni pamor yang dibuat sesuai dengan rancangan sang Empu. Ditinjau dari segi tuah atau angsarnya pamor Mayang Mekar juga menarik. Menurut sebagian pecinta keris, keris dengan pamor mayang mekar mempunyai tuah yang bisa membuat pemiliknya dikasihi oleh orang sekelilingnya, luwes dalam pergaulan, mudah mendapatkan pengikut, dan bahkan ada yang sangat mempercayai dapat digunakan untuk memikat lawan jenis (dalam bahasa Jawa disebut pengasihan). Walaupun penampilannya indah dan menyenangkan serta banyak diburu, pamor ini tergolong pamor pemilih, tidak semua orang dapat cocok untuk memilikinya. Mereka yang duduk di dalam pemerintahan, seperti pejabat, wakil rakyat, top level manajemen hingga entrepreneur dianggap cocok memilikinya.

parungsari pajang mataram parung sari pajang

TANGGUH PAJANG MATARAM, Kerajaan Pajang yang relatif singkat (1551-1582) sehingga sangat sedikit pula data yang menerangkan keberadaan keris pada masa itu, bahkan kerisnya pun dibilang langka dan jarang dijumpai. Berdasarkan Catatan Mantri Pande Mas Ngabehi Wirasoekadga, tangguh Pajang hanya disebutkan seorang Empu yaitu Empu Umyang dan sahabat-sahabatnya, namun pada masa peralihan “Pajang ke Mataram” terdapat seorang Empu bernama Arya Japan. Dalam catatan-catatan lain disebutkan juga Empu Cublak.

Meski Pajang tidak mengalami masa kejayaan, berbeda halnya dengan jaman Mataram di bawah Sultan Agung namun teknik material dan pemilihan material besi baja masih terpengaruh empu-empu Majapahit. Nama negeri Pajang telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Menurut Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365, bahwasanya pada zaman tersebut adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) bernama asli Dyah Nertaja menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang. Dyah Nertaja merupakan ibu dari Wikramawardhana (raja Majapahit selanjutnya).

Salah satu penanda untuk mengetahui sebuah keris tangguh Pajang adalah penampang gonjo-nya yang kelihatan kekar dan lebar, yang ciri atau langgam ini kemudian diikuti oleh empu-empu jaman PB V, tangguh Mangkubumen. Selain itu biasanya kembang kacang-nya lebar, besar dan kokoh menyerupai gelung wayang demikian juga jalen-nya panjang lurus berurat. Gandhik-nya agak mirik tegaklurus dan dekat. Pada bagian sogokan tampak mengembang dengan janur runcing. Dalam rasa pandangannya keras, besinya kencang, luknya liat, jika memakai ri pandan ‘dha’ nya jelas.

gandik parungsari gandik luk 13

Keris Pusaka ini semakin tampak “berkelas” karena agak berbeda diantara keris Mataram lainnya, ada karakter Pajang yang dibawa diantaranya; bilahnya lebih lebar, panjang atau ukurannya yang lebih besar (diatas 40 cm biasa disebut keris Corog, dikenal mempunyai kekuatan spiritual atau isoteri yang lebih hebat dan lebih kuat dari keris ukuran biasa, banyak yang memburu keris corog untuk dijadikan pusaka andalan), atau mungkin, jika kita tarik pada kondisi geo-estetik maupun kultural masyarakat Pajang yang dalam era konflik, orangnya diasumsikan berperawakan gagah dan tinggi besar serta digdaya, mungkin menjadikan karakter keris Pajang ini menjadi lebih bhirawa dan kesannya lebih besar daripada keris2 tangguh Majapahit dan Demak. Dalam rasa pandang luknya kemba, kembang kacang-nya besar dan kokoh menyerupai gelung wayang (bentuknya menyerupai ikatan rambut tokoh Bima dalam wayang kulit Jawa), sogokan mengembang atau lebar, janur tipis, jalen dan lambe gajah lurus. Benar-benar sebuah pusaka yang mencerminkan perwatakan seorang ksatriya pilih tanding jagoning Dewa yang hanya cocok dimiliki oleh mereka yang ‘bernyali”.

Dialih-rawatkan (dimaharkan)  sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *