Parungsari Kanjeng Kiyahi Merak Ati

termahar logo griyokulo

MAHAR : Rp. 7.812.260,-(TERMAHAR) Mr. J Bandung


keris parungsari tangguh mataram keris parungsari mataram

parungsari keris parungsari

  1. Kode : GKO-87
  2. Dhapur : Parungsari
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram Abad XV
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 318/MP.TMII/XII/2015
  6. Asal-usul Pusaka : Ciamis, Jawa Barat

sertifikasi parungsari mataram

Ulasan :

Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris berluk tiga belas. Ukuran Panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot ada yang tidak, lambe gajahnya dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan dan greneng. Sementara orang masih sering kurang detil memperhatikan bentuk keris dhapur Parungsari dengan dhapur Sengkelat, karena memang amat mirip. Perbedaan diantara keduanya hanyalah; Keris dhapur Parungsari mempunyai dua (2) lambe gajah, sedangkan dhapur Sengkelat hanya satu (1). Salah satu keris pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta yang berdhapur Parungsari adalah Kanjeng Kyai Tumenggung.

Parung diartikan sebagai lembah dan sari oleh banyak kalangan dikenal sebagai bunga. Suatu lembah yang dipenuhi dengan bunga-bunga, mungkin itulah pemaknaan paling sederhana dari dapur keris yang satu ini. Dalam kehidupan ini, manusia selalu dituntut untuk berproses, berjuang untuk mencapai harapan dan cita-citanya. Bagi kebanyakan orang, kadangkala pintu terakhir fase perjalanan hidupnya yang diharapkan adalah kesuksesan, kemuliaan, kekayaan, keluarga, harta yang melimpah, jabatan dan lebih banyak segala hal yang bersifat material. Memang tidak bisa di gebyah uyah (disama-ratakan) seperti itu, keberhasilan dalam hidup tidak hanya diukur dengan hal-hal materiil. Ada beberapa insan yang kemudian mampu melepaskan diri dari jebakan material demi mengharapkan kedamaian semata (adem ayem), kesatuan atma-nya dengan Sang Pencipta.
 –
Tidak dapat dipungkiri memang, itulah kehidupan dengan segala bunga-bunga didalamnya. Hidup ini pilihan bagi kita semua, semua berhak memilih keyakinan dan kebenaran yang diyakininya. Semuanya berhak untuk memilih sendiri lembah kehidupan yang akan dia pijaki. Namun yang terpenting dari itu semua, dimanapun lembah yang kita pilih untuk didiami, kita tidak melupakan darma yang harus selalu kita berikan untuk kehidupan ini, dengan selalu berharap agar darma kita kan memunculkan bunga-bunga yang mampu mengharumkan diri hingga saat kembali kepadaNya untuk pertanggungan jawab.
Sehingga dengan perbuatan yang baik, kita akan mampu menuliskan sejarah kita dengan tinta yang akan melekat di sanubari setiap insan. Keberadaan kita menjadi penting, selalu diharapkan menjadi sisihan oleh siapa saja yang mengenal kita. Disitulah kita kan dapati keseimbangan kehidupan, bahwa kita bermakna dan berguna bagi orang lain, ngiyasi tiyasing sesami. Orang yang hanya berfikir untuk kepentingannya sendiri, seakan ingin memiliki segalanya sendiri, justru telah melupakan hakikat dari kebersamaan di dunia yaitu berbagi. Itulah makna kehidupan sesungguhnya yang terangkum dalam dhapur Parung Sari ini.
Menatap blegger keris Parungsari ini, semua mata akan dibuat terkesima dengan kecantikan keris ini. Diibaratkan wanita, keris ini memiliki kecantikan yang lengkap, baik kecantikan yang terpancar dari luar maupun inner beauty-nya (diibaratkan ayune pindha Bathari Kamaratih). Pandangan pertama langsung dibuat jatuh hati pada bagian wajah (gandik) Parungsari ini. Gandik merupakan tambatan hati yang mampu menimbulkan lahirnya nafsu birahi manusia. Bentuk kembang kacangnya sebagai daya pikat utama dalam panyandra (gambaran bagian tubuh manusia, yang pada umumnya memang panyandra ini adalah alunan lamunan laki-laki untuk membayangkan kecantikan wanita) begitu unik melengkung lentik sempurna hingga ujung menempel ke jalen yang mucuk eri,  bagaikan bulu mata tumenga ing tawang (bulu mata yang melengkung ke atas). Bentuk dua lambe gajah yang tegas serupa bibir yang nyigar jambe (ukuran bibir sedang, bibir atas dan bawah sama tebal-tipisnya) seolah-olah siap memberikan kecupan manisnya. Bentuk sirah cecak pada bagian ganja dari samping tampak nyangkal putung (dagu yang membentuk sudut bagus) menampilkan dan menegaskan darah keningratannya. Tak ketinggalan tarikan luknya bagaikan rambut ngandhan-andhan (bergelombang seperti daun pandan/bunga bakung), karakter luk yang ramping dengan panjang wilah 34 cm, serta tantingan yang ringan tidak bisa tidak masih terbawa style tangguh Majapahit.
gandik keris parungsari  kembang kacang unik
Karena saking kesengsem-nya dengan keris Parungsari ini selain memiliki greget yang spesifik (keterpukauan visual estetik) juga karena keindahan secara holistik (bleger). Sebagai tanda kebanggaan,  kehormatan sekaligus kesayangan kami memberikan gelar merdeka non institusional (bukan gelar keraton) pada keris dhapur Parungsari ini, yakni “Kanjeng Kiyahi Merak Ati”.  Menelusuri asal kata “Kanjeng Kiyahi” sendiri dalam pengertian umum. Jika diterjemahkan sebagai berikut; Kanjeng = tuan, yang mulia atau panggilan orang penting kepada bangsawan; dan Kiyahi = panggilan untuk orang terhormat. Sedangkan Merak Ati merupakan ungkapan Jawa yang digunakan untuk menggambarkan kecantikan lahir batin terwujud dalam pribadi yang ngadi warna, yakni pintar bersolek atau berdandan hingga terkesan ia pintar merawat dan menjaga kecantikannya; tidak hanya kecantikan lahir tetapi juga kecantikan batinnya. Wajahnya senantiasa terlihat cerah ceria dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Ia juga pintar berdandan dengan mengenakan pakaian yang pantas dan serasi dengannya (ngadi busana), luwes gerak-geriknya (lumampah anut wirama), manis dan sopan tutur katanya. Wanita seperti itu adalah wanita idaman yang jika ‘bertahta’ dalam rumah tangganya selaku ‘ratu’, semua warga keluargannya akan merasa senang, mantap, dan dekat dengannya. Tidak hanya terbatas di lingkungan keluargannya, masyarakat di sekitarnya pun akan merasa senang menatap pesona keindahan yang dipancarkannya. Keris ini sangat cocok untuk dianugerahkan kepada orang terkasih di samping anda.
Ir. Haryono Haryoguritno kemudian merangkum beberapa pengetahuan kuno tentang kriteria nilai keris ini secara sistematis dalam bukunya “Keris Jawa antara Mistik dan Nalar” dengan istilah:
1. Panca Waton.
yaitu penilaian berdasarkan pengamatan terhadap guwaya (nuansa ekspresi), pamor, waja, wesi dan garap yang disingkat menjadi ya-mor-ja-si-rap, yang kemudian diubah menjadi ya-mor-ja-si-ngun, singkatan dari guwaya, pamor, waja (baja) wesi (besi), wangun (bentuk). Kriteria ini diciptakan olah kalangan bangsawan Surakarta.
 .
2. Panca Suba
yaitu penilaian berdasarkan tangguh,  wutuh (keutuhan) sepuh (umur), mungguh (pantas, serasi) dan ampuh (handal sebagai senjata/pusaka).
 .
3. Sar-Rah-Yuh
yaitu singkatan dari angsar, sejarah dan tayuh. Untuk kriteria ketiga ini agak susah diukur dan rawan dengan ketidak-jujuran. Sebagian besar penggemar keris, memiliki kriteria dalam memilih koleksinya masing-masing. Perjalanan pengalaman mencari keris dengan tujuan yang “bertuah ampuh” hampir pernah dialami oleh semua penggemar keris. Karena peng-agung-an ini sudah terkondisi dari sejak jaman kerajaan dengan mitos-mitosnya yang hingga kini masih terdengar. Kita tidak mengingkari akan adanya suatu kejadian atau misteri pada sebilah keris, karena memang banyak kenyataan yang dialami oleh seseorang termasuk diri Penulis sendiri, walau mungkin juga bisa dianggap pengalaman pribadi yang subyektif sifatnya (menghubung-hubungkan peristiwa dengan kerisnya). Kemudian dari segi sejarah, pada akhir-akhir ini disudut-sudut bursa tosan aji sering terdengar kisah-kisah fantastis tentang keris bergelar Kanjeng Kiyahi. Bahkan mungkin karena dongeng tersebut, sebilah keris dari dusun yang tidak berkaitan sama sekali dengan “kriteria” Kanjeng Kiyahi setelah berada di tangan pedagang yang tidak jujur menjadi naik kelas. Batasnya menjadi sangat tipis antara menjual “dongeng”  sebagai pemanis unsur penipuan dengan catatan-catatan kekayaan intelektual demi mengangkat nilai sebuah tosan aji. Sementara itu harus disimak bagi pelestarian keris di Nusantara ini, kemerdekaan memberi nama Kanjeng Kiyahi adalah hak asasi pribadi, sedang di lain pihak catatan-catatan itu adalah kekayaan intelektual.
 –
Banyak dijumpai keris bagus yang memenuhi kriteria itu di dalam perdagangan tosan aji  tanpa disertai gelar “Kanjeng Kiyahi”, karena tidak diketahu lagi riwayatnya atau memang bekas bergelar Kanjeng Kiyahi?
Cerita kelabu di Nusantara ini juga mencatat di kasunanan Surakarta misalnya, oleh karena sejarah kerajaan berubah menjadi Republik. Aset pendulang uang milik keraton berupa pabrik, sawah, perkebunan (gula,serat nanas, kertas dll), bahkan pasar tradisional, hingga prajurit berikut kudanya diambil oleh negara. Biaya untuk pemeliharaan keraton beserta para abdi dalemnya cukup besar. Raja Sinuhun Hamardika (PB XII), tidak dapat mencukupi atau membiayai kebutuhan itu. Pemeliharaan bangunan fisik dan pelanggengan upacara dalam konteks tradisi keraton sangat penting, karena keraton bukan hanya monumen melainkan berkaitan dengan rakyatnya. Apa yang terjadi di keraton Surakarta yang semula dijanjikan oleh pemerintah Republik menjadi Daerah Istimewa (seperti keraton Yogyakarta). Oleh sebab itu, kemungkinan benda-benda berharga keluar dari keraton sangat dapat dimaklumi. Begitu pula dialami oleh kerabat maupun handai tolan keraton yang kehilangan kedudukan dan mata pencahariannya sehingga pusaka-pusaka warisannya jatuh ke pihak luar (1945-…). Pada masa lalu keris dapat digadaikan untuk memperoleh uang, baik di pegadaian negara maupun di pegadain swasta. Kerabat keraton waktu itu merasa tabu sebuah pusaka dimaskawinkan  keluar kalangan istana. Biasanya bila keris keluar dari kalangan istana adalah setelah dipreteli perabotannya, pendok emas, selut berlian dijual hingga akhirnya kerisnya juga lepas. Selain itu juga sering terjadi justru ndoro mas si penjualnya tidak memberi tahu bahwa keris itu bergelar dalam rangka kehormatan atau martabatnya pula, sehingga keris bagus tidak diketahui gelarnya sering ditemui di luar istana.
grafir aksara jawa di pendok warangka kayu jati gandar iras
Sandangan atau perabot pada bilah ini sengaja kami biarkan apa adanya untuk dapat menunjukkan kecantikan di masa lalu yang tidak pudar oleh jaman. Warangka yang ada terbuat dari kayu jati gandar iras. Tampak selut perak menghiasi keris Parungsari ini, untuk mendak yang ada bukan pasangan asli, kemungkinan sudah hilang atau diganti seadanya oleh pemilik sebelumnya. Pada pendok model cukitan terdapat grafir aksara Jawa agak tidak jelas terbaca, menurut hemat kami aksara yang ditorehkan adalah angka tahun. Dua huruf terakhir kemungkinan adalah 39. Pamor yang menghias bilah ini adalah hasil dari warangan lama, hanya kami bersihkan dari karat dan kotoran tampak sudah muncul aura kecantikannya. Tentu saja tampilan pamor akan lebih indah, kontras dan byor apabila diwarang ulang. Sedangkan wilah yang ada bisa kami katakan masih sempurna, jika anda mengidam-idamkan sebuah pusaka yang mempunyai kriteria keris yang TUS, Parungsari ini salah satunya. Sedikit korosi pada bagian sekar kacangnya (bagian terlemah) masih bisa dikatakan wajar untuk keris yang diperkirakan dibuat pada jaman Mataram Awal tahun 1400-an. Tingkat keawetan bilah ini hanya bisa didapatkan dari bahan material pilihan, seni garap yang mumpuni dan perawatan dengan hati dari pemilik-pemilik yang ada.
Gambaran kecantikan yang ada pada bilah keris dhapur Parungsari ini tentu saja semakin menegaskan, jika keris ini dulunya tentulah bukan garapan Empu-Empu Desa biasa dengan kemampuan dan alat-alat penunjang yang terbatas. Penampilan fisik keris juga sanggup menunjukkan derajad sosial sang pemesan/pemilik dalam lingkungannya. Selebihnya perlu daya imajinasi yang kuat untuk membayangkan dan meresapi keindahan salah satu maha karya nenek moyang kita.
 –

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *