Tindih Kudi Kabudhan

Mahar : 2.950.000,-


1. Kode : GKO-521
2. Dhapur : Kudi
3. Pamor : Nyanak
4. Tangguh : Kabudhan (Abad X)
5. Asal-usul Pusaka :  temuan
6. Dimensi : panjang bilah 18,5  cm
7. Keterangan Lain : Eks Kolektor


ULASAN :

KUDI, Jauh sebelum hadirnya perkakas pertanian modern, masyarakat Nusantara telah mengenal sebuah alat sederhana yang bentuknya begitu khas: kudi. Pada awal abad ke-20, peneliti Belanda, Dr G.A.J. Hazeu (1904), dalam Jurnal Hindia-Bahasa, Geografi dan Etnologi yang diterbitkan oleh Perhimpunan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia mencatat kudi secara cukup rinci. Dalam penelitiannya, ia menggambarkan kudi sebagai semacam pisau pencacah kuno yang pada masanya pernah digunakan di berbagai wilayah Jawa. Namun, perubahan zaman perlahan menggeser kedudukannya. Hubungan desa dengan kota dan pusat-pusat perdagangan semakin erat; masyarakat yang sebelumnya hidup dalam lingkungan yang relatif terpisah dari dunia luar mulai mengenal berbagai perkakas baru yang dianggap lebih praktis. Kudi pun perlahan mulai ditinggalkan.

Meski bentuknya tidak sepenuhnya sama antara satu daerah dengan daerah lainnya, Hazeu melihat ada dua ciri yang paling mudah dikenali dari sebuah kudi: Pertama, bilahnya memiliki lengkungan yang khas dan semakin meruncing ke arah ujung. Bentuk ujungnya bahkan mengingatkan pada kepala, paruh burung atau sebagian orang kepala Naga. Kedua, pada bagian sisi tajam—umumnya di bagian bawah, dekat dengan gagang—terdapat bagian yang menebal dan menyerupai perut.

Pada kudi yang masih digunakan pada masa Hazeu, bagian yang menebal ini kadang tampil sebagai tonjolan yang mengingatkan pada bentuk beliung (adze). Sementara itu, bilahnya sendiri pada beberapa jenis memiliki lengkungan yang cukup tajam sehingga tampak menyerupai arit, alat pemotong rumput yang sudah sangat akrab dengan kehidupan petani Jawa. Dari bentuk inilah muncul gambaran yang menarik. Sebagian masyarakat Jawa, sebagaimana dicatat Hazeu, mengenali kudi sebagai semacam perpaduan antara arit dan petel—dua perkakas dengan karakter yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu bentuk kudi.

Hazeu mencatat bahwa terdapat kesepakatan bahwa benda-benda tersebut tidak mungkin digunakan sebagai alat pertanian. Bentuknya terlalu tidak lazim untuk menjalankan pekerjaan yang biasa dilakukan kudi pertanian. Tetapi persoalannya tidak berhenti di sana. Bentuk sebagian besar kudi tersebut juga tampak terlalu tidak praktis jika harus digunakan sebagai senjata dalam pengertian biasa. Bilahnya tidak selalu menunjukkan bentuk yang ideal untuk pertarungan. Meski demikian, tradisi yang berkembang di masyarakat justru menyebut bahwa benda-benda tersebut pernah digunakan sebagai senjata.

Namun, bukan semata-mata karena fungsinya sebagai perkakas pertanian kudi menjadi menarik untuk diperhatikan. Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan kisah lain yang jauh lebih dalam: kepercayaan bahwa kudi memiliki daya gaib dan mampu menangkal bahaya. Bagi sebagian masyarakat desa, bahkan kudi biasa—yang sehari-hari digunakan untuk bekerja—tidak sepenuhnya dipandang sebagai benda biasa. Ada keyakinan bahwa benda tua ini memiliki kekuatan tertentu yang dapat melindungi pemiliknya dari gangguan atau marabahaya.

Kepercayaan itu terutama terasa ketika seseorang harus memasuki hutan. Saat pergi menebang kayu atau sekadar melintasi hutan, kudi dibawa serta. Bukan hanya karena ia merupakan perkakas yang berguna, tetapi karena kehadirannya dipercaya mampu membuat binatang-binatang buas menjauh. Ada keyakinan bahwa hewan-hewan tersebut tidak menyukai “bau” kudi dan akan menghindari orang yang membawanya dari serangan binatang buas. Di sinilah kudi mulai menempati kedudukan yang berbeda. Kudi-kudi semacam ini lebih banyak dipandang sebagai senjata djimat—senjata yang dipercaya memiliki kekuatan misterius—atau sebagai panolak, yaitu benda yang digunakan untuk menangkal pengaruh jahat maupun roh-roh jahat.

Oleh karenanya, nilai sebuah kudi tidak lagi ditentukan oleh seberapa tajam bilahnya atau seberapa efektif ia digunakan untuk memotong. Yang dianggap penting justru adalah sesuatu yang tidak dapat diukur dengan ukuran sebuah perkakas: daya yang dipercaya melekat pada benda tersebut. Kepercayaan semacam itu pula yang membuat kudi diperlakukan dengan khusus. Banyak orang tetap menyimpan dan merawat kudinya dengan baik, nilainya seolah tidak berhenti pada kegunaannya.

Dengan demikian, kudi memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia adalah perkakas sederhana yang lahir dari kebutuhan hidup agraris. Di sisi lain, ia dapat menjadi benda yang dipercaya menyimpan kekuatan tertentu—sebuah benda yang tidak hanya digunakan, tetapi juga dihormati dan dirawat. Mungkin justru di antara kedua sisi inilah kita dapat memahami mengapa kudi memiliki tempat yang khas dalam kebudayaan Jawa: bentuknya lahir dari kebutuhan tangan manusia, tetapi maknanya kemudian tumbuh jauh melampaui fungsi awalnya. Dari benda yang dahulu membantu manusia bekerja, ia berkembang menjadi benda yang dipercaya membantu manusia menghadapi sesuatu yang tidak kasatmata.

CATATAN GRIYOKULO, Kudi yang dihadirkan dalam katalog GKO-521 sebenernya berbeda bentuk dengan Kudi Bares yang ditulis oleh Dr G.A.J. Hazeu (1904) yang memiliki kemiripan dengan relief kudi yang ada di Candi Sukuh. Jika melihat bentuk koleksi yang ada justru lebih mendekati kemiripannya dengan Kudi masyarakat Buni yang ditemukan dalam makam purba hasil penggalian situs penggalian Batu Jaya, Karawang Jawa Barat (lihat gambar di bawah).

Menariknya jejak Kudi tidak hanya berhenti pada peninggalan arkeologis. Kepercayaan mengenai kekuatan magi atau tuah pada sebuah kudi hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat pecinta tosan aji. Mereka percaya bahwa kudi dapat digunakan sebagai pusaka penindih, yaitu pusaka yang dapat menyelaraskan tuah berbagai pusaka yang dikoleksinya sehingga selaras dengan pemilik dan keluarganya.

Dari sebuah perkakas pertanian, menjadi bekal kubur, lalu dipercaya sebagai pusaka—barangkali ada sesuatu yang menghubungkan jejak-jejak tersebut, meskipun kita belum memastikannya. Ataukah kudi memang menyimpan sebuah ingatan yang jauh lebih tua—tentang manusia, tanah, dan kepercayaan yang pernah hidup di Nusantara?

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


🌍 Jelajahi Dunia Tosan Aji
🔍 Temukan kawruh yang tersembunyi
📚 Jurnal, majalah, buku, hingga serat-serat kuno kini tersedia di SINENGKER.COM
📖 Ayo sinau bareng!

👉 TEKAN UNTUK MASUK 🗝️


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *