Mahar : 8.888.888,-
1. Kode : GKO-520
2. Dhapur : Kujang Naga
3. Pamor : Nyanak
4. Tangguh : Pajajaran (Abad XIV)
5. Asal-usul Pusaka : Cirebon, Jawa Barat
6. Dimensi : panjang bilah 23,3 cm, panjang pesi 7,5 cm, panjang total 30,8 cm
7. Keterangan Lain : Kujang Buta varian Naga Langka, kowak kayu gaharu
ULASAN :
KUJANG NAGA, adalah salah satu bentuk kujang yang memiliki bentuk yang mengacu pada bentuk binatang mitologi naga. Bentuk Kujang Naga sangat berbeda dengan bentuk kujang yang lainnya. Perbedaan yang mencolok adalah Kujang Naga memiliki ukuran waruga (bilah) dan tadah (mirip perut) yang lebih besar dari kujang lain. Struktur dasar Kujang Naga adalah bentuk segitiga yang berseberangan (dapat dilihat melalui gambar di bawah). Segitiga bagian atas membentuk kepala dan segitiga di sebelah bawah membentuk beuteung dalam bentuk tadah yang lebar. Antara kepala dan perut merupakan penyeimbang antagonistik dimana kepala dan perut relatif sama besar dengan posisi berseberangan. Sebagai acuan keseimbangan adalah garis lurus pada paksi yang membelah bagian waruga Kujang Naga menjadi dua bagian yang relatif sama besar. Bentuk ini bersifat imajinasi esensial dan melampaui wujud binatang ular naga itu sendiri. Di zaman dahulu Kujang Naga dipakai oleh para Kanduru, para Jaro, Jaro Awara, Tangtu, Jaro Gambangan.
SALOKA, Dalam kosmologi Sunda, naga bukan sekadar gambaran makhluk besar atau lambang kekuatan. Naga menempati bagian tertentu dalam susunan alam yang bersifat sakral. Dalam naskah Sunda Kuno Sanghyang Raga Dewata disebut, “ka handap ka jro sapatala, batara basuki sang naga raja, ka laut batara baruna…”. Batara Basuki Sang Naga Raja ditempatkan di dalam Saptapatala, sementara Batara Baruna ditempatkan di laut.
Dalam Carita Pantun Sanghyang Jagatrasa, Batara Nagaraja ditempatkan di Buana Larang atau Patala, sedangkan Naga Rahyang Niskala disebut berada di Bumi Paniisan. Dalam jagad yang sama disebut pula Nini Bagawat Sangsri yang mengurusi kesuburan tanah dan Ki Bagawat Sangsri yang mengurusi segala tanaman.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan kosmologis Sunda Kuno, naga bukan sekadar gambaran seekor ular atau makhluk mitologis, tetapi merupakan bagian dari tatanan kosmis dan memiliki kedudukan tertentu dalam susunan alam.
Dengan demikian, sosok naga dalam tradisi Sunda dapat dipahami sebagai bagian dari tatanan kosmos yang berkaitan dengan bumi, kehidupan, dan kesuburan. Ketika bentuk naga kemudian hadir pada Kujang Naga, ia dapat dibaca sebagai bahasa simbol yang membawa hubungan dengan alam dan tatanan kehidupan tersebut.
KUJANG BUTA, dapat dipahami sebagai masa peralihan setelah mencapai puncak. Ia berada di antara tujuh dan sembilan, sebuah keadaan ketika seseorang tidak lagi mengejar kedudukan atau menunjukkan kekuasaan. Ketika sampai pada sembilan, simbolnya berubah lagi. Ia tidak lagi menggambarkan seorang pemimpin yang masih berapi-api dan berada di puncak kekuasaan. Ia justru sudah sampai pada keadaan yang lebih tenang: diam, tidak mengejar apa-apa, dan tidak lagi terikat pada kedudukan.
CACING MEULIT merupakan salah satu bentuk atau gaya garap pada warangka, dimana bentuk warangka atau ragam hiasnya mengikuti dan seolah-olah melilit kontur bilah kujang. Bentuknya mengingatkan pada cacing atau ular yang sedang melingkar. Kesan yang muncul adalah sesuatu yang lentur, menyatu, dan melindungi. Dalam pemaknaannya, Cacing Meulit dapat dikaitkan dengan ketahanan dan kemampuan beradaptasi.
CATATAN GRIYOKULO, Keindahan tidak selalu harus ditampilkan secara jelas. Justru sering kali makna yang dalam disampaikan dengan cara yang sederhana, tersirat, dan penuh simbol. Yang tampak hanya sebagian, sementara makna yang sebenarnya harus dirasakan dan direnungkan. Itulah sebabnya karya budaya Nusantara sering terlihat sederhana. Kesederhanaan bukan berarti tidak memiliki kerumitan, tetapi justru merupakan hasil dari kemampuan untuk merangkum sesuatu yang luas dan dalam ke dalam bentuk yang mudah dipahami. Semakin matang sebuah karya, semakin sedikit hal yang perlu ditampilkan untuk menyampaikan maknanya.
Konsep yang sama terasa pada kujang Buta. Kujang Buta memiliki bentuk yang relatif sederhana (primitif), tidak terlalu mengejar detail yang halus. Tidak banyak ricikan atau hiasan yang berlebihan, tetapi di balik bentuk tersebut tersimpan banyak simbol dan makna. Warangkanya pun sering kali tidak dibuat berlebihan. Jika menggunakan kowak, umumnya dibuat dari kayu dan tampil sederhana. Penggunaan hiasan logam atau bahan mewah juga tidak menjadi keharusan.
Namun justru di situlah menariknya. Kesederhanaan kujang Buta tidak mengurangi rasa hormat masyarakat Sunda terhadapnya. Sebaliknya, Ia bukan sekadar kujang tanpa lubang, tetapi bagian dari perjalanan makna: dari mengejar kedudukan, mencapai puncak, kemudian melepaskan semua keterikatan.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
🌍 Jelajahi Dunia Tosan Aji
🔍 Temukan kawruh yang tersembunyi
📚 Jurnal, majalah, buku, hingga serat-serat kuno kini tersedia di SINENGKER.COM
📖 Ayo sinau bareng!
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com







