Mahar : 4.950.000,-
1. Kode : GKO-519
2. Dhapur : Kujang Ciung
3. Pamor : Sulangkar
4. Tangguh : Cirebon (Abad XV)
5. Asal-usul Pusaka : Bogor, Jawa Barat
6. Dimensi : panjang bilah 19 cm
7. Keterangan Lain : putihan
ULASAN :
KUJANG CIUNG, adalah salah satu bentuk kujang yang memiliki waruga (bilah) seperti paruh burung Ciung (sejenis burung Bincarung, melambangkan makhluk dunia atas), burung dengan rupa yang elok, warna bulu yang merah, memiliki paruh panjang dan lancip, lincah dalam gerak, nyaring ketika berkicau, serta tampak rupawan apabila sedang bertengger di dahan pohon.
SILOKA, Burung Ciung bagi masyarakat Sunda dianggap sebagai simbol pencitraan yang positif, sehingga dalam Pantun Bogor kujang ini dituturkan sebagai senjata para Bangsawan yang berkedudukan paling tinggi, yaitu sebagai Raja, Prabu Anom, Mantri Dangka, Girang Seurat dan para Bupati. Nama raja besar Sunda yang sangat termashur adalah Prabu Ciung Wanara. Penamaan Ciung bertalian dengan keberadaan burung Ciung ketika itu, dimana sifat-sifat nature burung Ciung tersebut merupakan cerminan kecerdasan, pandai berdiplomasi, dan rupawan. Personifikasi karakter kujang ciung memiliki kesamaan dengan Prabu Ciung Wanara.
Oleh karena itu, Kujang Ciung dimaknai sebagai simbol kecerdasan, kecakapan, keterampilan, serta kemampuan menyerap dan menerapkan pengetahuan. Dalam konteks masa kini, nilai-nilai tersebut dapat dikaitkan dengan para pekerja atau profesional yang dituntut untuk cerdas, terampil, adaptif, dan mampu memperoleh serta mengembangkan pengetahuan.
Dalam penafsiran haksara Sunda, kata Ciung tersusun dari aksara: Ca-Ya-Wa-Nga.
Ca memaknai Cahaya
Ya memaknai Hurip atau kahirupan
Wa memaknai Salaput Tunggal atau Hawa atau Udara
Nga memaknai Nu Kawasa
Ringkasnya Ciung (Chi-Hung) artinya Ca’ang (tercerahkan), dalam konotasi ajaran udagan kasampurnaan melepaskan segala nafsu duniawi.
PAMOR SULANGKAR, mengacu pada sejenis pamor yang bentuknya seperti alur sejajar dari bagian bawah sampai ke bagian atas. Bentuk pamor seperti ini banyak sekali ditemukan, bentuknya seperti pamor nyerat atau ngarambut.
CATATAN GRIYOKULO, Jika dicermati, bentuk Kujang Ciung mata 4 ini tampak agak tegak, dengan cengkok yang mengarah pada karakter Cengkok Mangkubumi. Bentuk kujag Ciung semacam ini cukup banyak dijumpai pada kujang dari wilayah Bandung, Garut, dan daerah sekitarnya. Bilahnya masih dalam kondisi putihan, yakni tidak diwarangi. Kondisi tersebut kemungkinan merupakan preferensi pemilik sebelumnya dalam memperlakukan dan merawat pusaka, meskipun tidak menutup kemungkinan turut dipengaruhi oleh tradisi dan kebiasaan perawatan pusaka budaya setempat. Menarik pula diperhatikan kelengkapan sandangannya. kujang Ciung ini menggunakan sarangka kowak, dengan gagang yang dibuat dari tanduk memperkuat kesan tradisionalnya.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
🌍 Jelajahi Dunia Tosan Aji
🔍 Temukan kawruh yang tersembunyi
📚 Jurnal, majalah, buku, hingga serat-serat kuno kini tersedia di SINENGKER.COM
📖 Ayo sinau bareng!
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com







