Tombak Nogo Penganten Luk 9

Mahar : 7.000.000,-


1. Kode : GKO-517
2. Dhapur : Nogo Penganten
3. Pamor : Ngulit Semangka Nggajih
4. Tangguh : Madiun (Abad XVIII)
5. Asal-usul Pusaka : Nganjuk, Jawa Timur 
6. Dimensi : panjang bilah 26 cm, panjang pesi 15  cm, panjang total 41 cm
7. Keterangan Lain : warangka seken


ULASAN :

NOGO PENGANTEN, adalah salah satu bentuk dhapur keris dan tombak yang cukup populer serta mudah dikenali, dengan ciri khas bagian sor-soran terdapat bentuk naga saling membelakangi. Pada keris, posisi naga terletak pada bagian gandhik depan dan wadhidang belakang. Seringkali badan kedua naga tersebut saling berlilitan menjadi satu seperti tali tampar (tambang) mengikuti lekuk bilah hingga ujung panitis. Sedangkan untuk tombak, kedua naga tersebut terdapat pada sisi kanan dan kiri bilah.

FILOSOFI, Dalam pandangan Jawa, pernikahan tidak pernah dipahami sekadar sebagai perayaan cinta atau pengesahan sosial. Ia adalah peristiwa kosmis kecil, bukan sekadar pertemuan dua tubuh atau dua nama dalam satu ikatan, Karena itulah pernikahan selalu diletakkan dalam bingkai simbol, salah satunya melalui citra naga.

Naga adalah daya purba. Ia menyimpan kekuatan, tetapi juga kesabaran. Tubuhnya panjang, berliku, tak pernah bergerak tergesa. Dalam relief dan ornamen lama, naga jarang ditampilkan menyerang; ia justru melilit, membingkai, menjaga. Ketika dua naga digambarkan saling melilit, seperti yang tersirat dalam relief candi dan simbol-simbol taman air, yang sedang dibicarakan sesungguhnya adalah penyatuan dua kekuatan, bukan penaklukan satu oleh yang lain.

Lilitan itu bukan simpul mati. Ia memberi ruang bagi napas, memberi jarak bagi kesadaran. Dua naga tidak menelan satu sama lain; mereka saling mengimbangi. Dari situlah orang Jawa belajar: pernikahan bukan tentang meleburkan dua pribadi hingga hilang bentuknya, melainkan menjaga agar dua kehendak besar dapat hidup berdampingan tanpa saling melukai. Terlalu erat, cinta berubah menjadi cekikan. Terlalu longgar, kebersamaan kehilangan hangatnya. Jika keduanya mampu membaca irama, lilitan justru menjadi penyangga.

Rumah tangga bukan sekadar atap genting dan dinding bata, atau tempat berteduh dari hujan dan panas. Ia adalah tempat dua manusia perlahan menanggalkan ego, dua kepala yang belajar menunduk, dua hati yang berlatih sabar, saat cinta tak selalu hadir dalam rupa tawa dan bahagia. Di dalamnya kadang ada lelah yang disimpan sendiri, ada doa yang diselipkan di sela pertengkaran, ada kata maaf yang lebih berat diucapkan daripada seribu janji, dan kadang ia hadir sebagai diam yang dipilih agar luka tak bertambah dan hati punya waktu untuk sembuh.

Sebab rumah tangga tumbuh dari hal-hal kecil; mendengar tanpa menyela, bertahan tanpa mengungkit, menasihati tanpa menghakimi, dan mencintai tanpa ingin menang. Di titik-titik itulah kesetiaan diuji bukan oleh godaan, melainkan oleh keinginan untuk menyerah. Dan bila suatu hari ia goyah, ingatlah: “Rumah bukan tentang siapa yang paling berjasa atau paling benar, melainkan siapa yang memilih untuk tetap pulang.”

Pada akhirnya, pernikahan dalam budaya Jawa diarahkan pada slamet—keselamatan lahir batin. Bukan hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang mampu mengolah masalah dengan bijak.

TANGGUH MADIUN, Sebagaimana lazimnya sejarah persenjataan, keris dan tombak tak pernah lahir di ruang kosong. Ia tumbuh dari watak masyarakatnya, dari tekanan politik yang mengimpit, dan dari peta kekuasaan yang terus bergeser. Setelah Pajang—sebagai kelanjutan Demak—runtuh, Mataram yang masih belia tumbuh menjadi ancaman bagi kadipaten-kadipaten di Jawa Timur yang memilih berdiri sendiri. Madiun, berada dalam pusaran itu, enggan tunduk diperintah. Maka keris dan tombak ditempa bukan sekadar sebagai senjata perang, melainkan sebagai penyangga martabat.

Dari zaman yang gaduh dan penuh pergolakan itulah keris Madiun dilahirkan. Keindahan garap bukan perkara utama. Yang dikejar adalah daya. Maka kesan yang muncul kerap wagu, angker, kadang nggegirisi. Bentuknya sederhana, tetapi sekali lirikan saja sudah terasa tekanan dan kewibawaannya. Banyak yang meyakini, di situlah kekuatan keris-keris Madiun: bukan pada kemilau rupa, melainkan pada sisi esoteri yang pekat.

PAMOR NGGAJIH, Nggajih artinya serupa dengan lemak. Pamor yang tampak di permukaan bilah kesannya seperti berlemak, atau bagai lapisan lemak beku menempel. Jadi, apapun jenis dan nama pola gambaran pamor itu, kalau penampakannya seperti lemak kering, disebut nggajih. Sebagian ahli perkerisan menduga, keris berpamor nggajih lebih banyak dikarenakan berasal bahan material yang mudah ditemukan (pasir besi dari pantai) dan diolah (smelting) dengan cara lebih sederhana atau tradisional.

CATATAN GRIYOKULO, Keris dan tombak tangguh Madiun barangkali tidak hadir dengan keelokan sebagaimana pusaka pada masa Mataram Sultan Agung. Bentuknya kerap dianggap nyeleneh. Namun justru di sanalah wataknya mengendap: tak kehilangan greget, tetap enak dipandang dalam rasa, meski tak selalu ramah bagi mata lahir. Pamor yang menyertai pun bukan pamor-pamor yang gemerlap, kebanyakan wos wutah, dan ngulit semangka. Warna pamornya cenderung abu-abu, kadang tampak nggajih, seakan menyimpan usia dan lelah zaman.

Coba tengok pusaka ini, stilasi ganan naganya walau terkesan primitif, namun ada semacam jiwa yang tetap mengalir di balik kesederhanaan itu. tanpa upaya memikat berlebihan. Mulai dari bentuk mahkotanya serta sumping telinga yang sederhana, hingga liukan badan naga yang terasa kaku, dan sisik-sisiknya ditampilkan apa adanya, tanpa tatahan emas atau kemewahan yang dipaksakan, semuanya dikerjakan sang Empu tanpa upaya memikat berlebihan. Sang Empu tidak sedang menggoda mata, melainkan menanamkan watak. Bukan keindahan yang dipamerkan, melainkan kekuatan yang dipendam.

Dengan panjang bilah sekitar sejengkal lebih dhapur Nogo Penganten ini bersemayam dalam warangka seken—ringkas dibawa, teduh disimpan. Ia tidak gaduh mengabarkan tuahnya, namun setia menemani laku, menghadirkan rasa aman. Sebagaimana sepasang naga yang bersanding: bukan untuk menakut-nakuti dunia, melainkan menjaga poros keseimbangan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


🌍 Jelajahi Dunia Tosan Aji
🔍 Temukan kawruh yang tersembunyi
📚 Jurnal, majalah, buku, hingga serat-serat kuno kini tersedia di SINENGKER.COM
📖 Ayo sinau bareng!

👉 TEKAN UNTUK MASUK 🗝️


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *