Mahar : 7.000.000,-
-
- Kode : GKO-516
- Dhapur : Tilam Upih
- Pamor : Udan Mas + Ratu Pinayungan tiban
- Tangguh : Tuban Mataram (Abad XVI)
- Asal-usul Pusaka : Lampung
- Dimensi : panjang bilah 28 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 35 cm
- Keterangan Lain : warangka gambilan kayu timoho pelet mbelang sapi lamen/lawasan.
ULASAN :
Seperti upih yang menjadi alas tidur: tak tampak penting, namun tanpanya, raga tak pernah benar-benar beristirahat
TILAM UPIH, merupakan salah satu dhapur yang populer di seluruh Nusantara. Ia hadir lintas zaman dan tangguh, dari sepuh sanget hingga kamardikan, seakan menjadi saksi perjalanan panjang laku orang Jawa. Bentuknya sekilas menyerupai dhapur Brojol, namun Tilam Upih memiliki pembeda yang tegas: tambahan ricikan berupa tikel alis yang tidak dijumpai pada Brojol. Dalam kitab Narendra Ing Tanah Jawi (1928) disebutkan bahwa dhapur Tilam Upih—yang kala itu dinamai Jaka Piturun—dibuat bersamaan dengan dhapur Balebang bernama Pamunah, pada tahun 261 Saka, di masa pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka.
FILOSOFI, Banyak orang Jawa meyakini bahwa pusaka tidak harus tampil garang dengan dhapur ganan, atau berkilau oleh balutan emas dan kemewahan. Justru sering kali pusaka sejati hadir dalam rupa yang lurus, tenang, dan bersahaja. Dari sanalah lahir begitu banyak kisah tentang keris keluarga berdhapur Tilam Upih. Dalam tutur turun-temurun disebutkan bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga pernah berpesan kepada para pengikutnya: pusaka pertama yang baik dimiliki adalah Tilam Upih. Bukan karena keperkasaan wujudnya, sebab ia tidak dipilih untuk pamer, melainkan untuk “menemani”, disaat suka maupun duka, disaat prihatin maupun disaat sudah jaya.
Kesederhanaan ricikan Tilam Upih tidak mengurangi wibawanya. Gandhik polos, cukup dengan dua kelengkapan—pejetan dan tikel alis—serta buntut polos tanpa tingil, ri pandan, maupun greneng, justru menegaskan watak Tilam Upih yang bersahaja namun matang. Pejetan adalah tempat niat ditancapkan—kedalaman sunyi saat tekad berdiam sebelum menjelma laku. Tikel alis menjadi penanda halus—bukan sekedar hiasan, melainkan pengingat agar hidup dijalani dengan awas, dengan rasa. Karena itulah, dhapur Tilam Upih adalah bagian dari empat keris utama orang Jawa. Selain Tilam Upih, biasanya keluarga Jawa masa lampau memiliki keris dengan dhapur Tilam Sari, kemudian Brojol, dan Jalak Sangu Tumpeng—empat penjuru laku yang saling menguatkan.
Etimologi Tilam Upih sendiri adalah sebuah alas (tilam) yang terbuat dari pelepah daun pinang (upih). Sebuah alas yang sederhana, namun memberi rasa nyaman: dingin tak menggigit, panas tak membakar. Dalam kearifan Jawa, tidur di lantai adalah bentuk tirakat—bukan untuk menyiksa raga, melainkan sebagai ikhtiar menghadang bala dan menata rezeki. Maka Tilam Upih sejak awal bukan sekadar nama dhapur, melainkan simbol laku prihatin. Laku adalah usaha atau upaya sungguh-sungguh, sedangkan prihatin adalah sikap menahan diri, menjauh dari kesenangan yang berlebihan.
Hakekat dari laku prihatin dan tirakat adalah usaha manusia untuk menjaga jalan kehidupannya supaya selalu selaras dengan ajaran budi pekerti dan kesusilaan. Ia menjadi semacam cara bagi manusia agar tidak larut dalam kenikmatan duniawi, supaya hidup tetap dalam keberkahan dan selamat dalam lindungan Tuhan YME, agar dihindarkan dari kesulitan-kesulitan dan terkabul keinginan-keinginannya. Proses laku itu sendiri mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku orang agar selalu positif, menjauhi hal-hal yang bersifat merusak (fokus pada tujuan).
TANGGUH TUBAN MATARAM, kendati Tuban silih berganti menjadi vasal (daerah taklukan) kerajaan-kerajaan besar di Tanah Jawa, namun ternyata keris ciptaan para Empu daerah tersebut menyisakan ciri yang selalu berkesinambungan sepanjang zaman. Tak heran julukan kota Empu sangat tepat diberikan untuk Tuban. Tersebutlah keris tangguh Tuban Jenggala, Tuban Pajajaran, Tuban Pajang, hingga Tuban Mataram. Penyebutan nama kerajaan dibelakang-nya oleh masyarakat perkerisan sebenarnya untuk lebih memudahkan penggolongan, bahwa keris Tuban yang dimaksud diperkirakan dibuat pada era kerajaan-kerajaan itu.
Memasuki era Mataram, keris-keris Tuban menunjukkan sedikit pergeseran bentuk. Bila pada masa-masa sebelumnya bilahnya cenderung tipis, maka pada masa ini, agak lebih tebal dengan bentuk nglimpo mengikuti model keris Mataram. Bagian pejetan juga lebih sempit dari era sebelumnya, dengan kesan lebih kotak/persegi dan gandik-nya agak tegak. Besinya tampak hitam, tempaannya nyaris sempurna sehingga mewujudkan bilah keris yang nyaris tanpa pori. Pada bagian sirah cecak umumnya masih ada pengaruh atau warisan dari Pajajaran yakni berbentuk buweng (bulat), dengan bentuk seperti mbatok mengkurep
PAMOR UDAN MAS, Dalam khazanah dunia perkerisan Jawa, Pamor Udan Mas menempati kedudukan yang istimewa. Keistimewaan ini tercermin dari nilai penghargaan dan apresiasi mahar pamor udan mas yang kerap berada di atas rata-rata pamor lainnya. Namun, sebagaimana pusaka dipahami oleh orang Jawa, tingginya nilai tersebut bukan semata ditentukan oleh kelangkaan rupa atau kerumitan garap, melainkan oleh makna yang dilekatkan padanya sejak lama. Udan Mas tidak diperlakukan hanya sebagai hiasan bilah, tetapi sebagai simbol turunnya berkah dalam kehidupan manusia.
Udan Mas, yang berarti hujan emas, diwujudkan melalui bulatan-bulatan pamor yang tersebar di seluruh bilah keris, menyerupai butir hujan yang jatuh dari langit ke bumi. Pola yang tidak mengalir dalam satu jalur dan tidak pula menumpuk pada satu titik ini mengandung pesan halus: bahwa rezeki sejati bukanlah limpahan sesaat yang mendorong keserakahan, melainkan kecukupan yang menyebar, menenteramkan, dan berkesinambungan.
Pemaknaan ini terasa semakin relevan di zaman kini, ketika keberhasilan kerap diukur dari akumulasi dan pertumbuhan tanpa henti. Dalam dunia yang bergerak cepat dan kompetitif, Udan Mas justru mengajarkan arah sebaliknya: keseimbangan. Hujan tidak memilih ladang yang paling luas, tidak pula jatuh hanya pada tanah yang subur. Ia turun apa adanya, menyentuh bumi dengan cara yang sama. Dari sini lahir pengertian bahwa berkah tidak selalu hadir sebagai kelebihan, melainkan sebagai kecukupan yang tepat. Udan Mas mengingatkan bahwa rezeki yang menenangkan adalah rezeki yang datang selaras dengan kemampuan menjaga dan mengelolanya, bukan yang memaksa manusia terus mengejar tanpa pernah merasa cukup.
Pamor Udan Mas juga dipahami sebagai pamor yang bersifat mlumah, tidak memilih siapa yang layak memilikinya. Namun sifat mlumah ini tidak dapat dimaknai secara dangkal sebagai kemudahan tanpa syarat. Justru di sanalah letak ajarannya: berkah hanya akan berbuah pada pribadi yang siap menerimanya. Hujan tidak akan menyuburkan tanah yang tertutup dan mengeras; demikian pula rezeki tidak akan menetap pada batin yang enggan berusaha, enggan bersabar, dan enggan bersyukur.
Pada akhirnya, Pamor Udan Mas tidak mengajarkan cara memperbanyak kepemilikan, melainkan cara menata penerimaan. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak selalu membutuhkan hujan yang deras, cukup hujan yang datang pada waktunya. Di tengah zaman yang gemar menumpuk, Udan Mas mengajarkan kelapangan rasa: tahu kapan bekerja keras, kapan menunggu, dan kapan merasa cukup. Seperti hujan yang jatuh tanpa suara dan pergi tanpa pamrih, berkah sejati sering kali hadir diam-diam—dirasakan, bukan dipamerkan; dijaga, bukan dikejar. Dari sanalah manusia belajar bahwa kemakmuran bukan soal seberapa banyak yang digenggam, melainkan seberapa lapang hati saat menerima dan membagikannya.
PAMOR RATU PINAYUNGAN, sebagian orang menyebutnya pamor Ratu Kinayungan. Pamor ini termasuk pamor yang dicari oleh mereka yang menempati posisi sebagai pimpinan, dengan banyak anak buah, tergolong pamor tiban. Letak pamor Ratu Pinayungan tepat di tengah sor-soran, dengan jarak sekitar 0,5 cm dari garis batas ganja. Bentuk gambaran motif pamor inisekilas mirip dengan pamor Putri Kinurung, adapun yang membedakannya adalah pola bulatan yang mengisi pamor Ratu Pinayungan berderet sejajar ke atas mirip pamor Satriyo Pinayungan versi Yogyakarta dan daerah di pantai selatan Jawa Tengah (lebih baik Panjenengan mengamati gambarnya).
Tuah pamor ini, selain dipercaya menambah kebijaksanaan dan kepemimpinan pemiliknya, juga memberi pengaruh kepada kekuasaan. Tetapi pamor ini tergolong pemilih, tidak semua orang akan cocok bila memilikinya. Mereka yang terkadang masih suka menyeleweng berbuat maksiat, sebaiknya jangan memiliki keris dengan pamor ini.
CATATAN GRIYOKULO, Tilam Upih bukan sekadar dhapur tua dan tersebar luas; ia seperti alas hidup yang dipilih orang Jawa untuk menata diri. Ia hadir dari masa ke masa, dari zaman yang belum bernama hingga hari yang telah mencatat dirinya sendiri. Bentuknya sederhana, nyaris tanpa kehendak menonjolkan diri. Gandhik dibiarkan polos, ricikan secukupnya, seolah mengajarkan bahwa yang berlebih justru kerap menjauhkan dari keseimbangan.
Demikian pula pamor Udan Mas tidak pernah dimaknai sebagai janji kekayaan instan, melainkan sebagai simbol pertemuan antara ikhtiar manusia dan kehendak Tuhan. Dalam pertemuan itulah lahir rezeki yang utuh—bukan semata materi, tetapi juga selamat, kelancaran hidup, ketenteraman rasa, dan kecukupan batin yang menjaga manusia dari kegelisahan dan ketamakan di tengah dunia yang serba menuntut lebih. Sebab pada akhirnya, berkah bukan perkara seberapa deras ia turun, melainkan seberapa lapang hati kita saat menerimanya. Dengan panjang bilah sejengkal tiga jari berbalut warangka gambilan timoho, pusaka ini ringkas dibawa, hadir tenang menemani laku, tanpa perlu gemuruh “kakean gludug kurang udan“.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
🌍 Jelajahi Dunia Tosan Aji
🔍 Temukan kawruh yang tersembunyi
📚 Jurnal, majalah, buku, hingga serat-serat kuno kini tersedia di SINENGKER.COM
📖 Ayo sinau bareng!
Contact Person :
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com












