Sepang Khadga

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.500.000,- (TERMAHAR) Tn. A, Kemayoran, Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-466
2. Dhapur : Sepang
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 683/MP.TMII/IV/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Cirebon, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah  23,8 cm, panjang pesi 6,6 cm, panjang total 30,4 cm
8. Keterangan Lain : bentuk unik & langka


ULASAN :

SEPANG, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Ukuran panjang bilahnya sedang, tetapi bilah keris ini relatif tipis karena tanpa ada-ada. Keris itu tanpa gandik; bentuk sor-sorannya hampir simetris, tanpa pejetan, penampang ganja depan belakang sama (tanpa sirah cecak) juga tidak memakai ricikan lainnya, meski kadangkala ada yang memakai ganja wilut dan tambahan kanyut kembar (letaknya di ujung belakang ganja keris, menyerupai duri yang melengkung ke atas) di kanan-kirinya.

Menurut mitos/dongeng yang terdapat dalam Kitab Sajarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Sepang pertama kali dibabar pada masa pemerintahan Sri Maharaja Budha Kresna tahun Jawa 265 (gatining rasa kapêksa) yang membuat 4 (empat) macam dhapur keris yakni: buntala, urap-urap, sepang, dan sumpana leres.

ARTEFAK, peninggalan arkeologi budaya Nusantara dapat digunakan untuk menelusuri bentuk awal mula keris. Salah satunya dengan melihat kisah kepahlawanan yang terpahat pada dinding-dinding candi. Di kompleks Candi Prambanan setidaknya terdapat 2 (dua) relief yang menyerupai keris :

Dalam relief pertama, tampak seekor prajurit kera menenteng sejenis belati (kadga). Bentuk bilahnya lebar, simetris, tegak dan sederhana tanpa ada ricikan yang rumit. Senjata ini juga sudah dilengkapi dengan ganja, seperti halnya keris. Pada bagian hulu belati ini tampak adanya semacam penahan melintang, yang sangat menunjang fungsinya sebagai senjata penusuk.

Relief kedua menggambarkan tokoh Laksmana menghunus senjata pendek membunuh para raksasa. Senjata yang digunakan memiliki kemiripan dengan keris budha yang kita kenal sekarang. Bilahnya mulai tampak asimetris, gemuk, tebal, mempunyai sedikit condong leleh, terlihat pula ricikan lain seperti gusen dan odo-odo. Selain itu senjata ini memiliki ganja dan bagian hulunya masih dilengkapi semacam penahan seperti kadga.

Relief selanjutnya terdapat di Candi Penataran. Candi Penataran adalah salah satu candi bercorak Hindu yang terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, di kabupaten Blitar, Jawa Timur. Meski bernama Candi Penataran, sebenarnya nama asli candi ini adalah Candi Palah. Namun candi ini lebih dikenal orang dengan nama Candi Penataran.

Pada salah satu panil-panil relief Hanoman Duto tampak sang raja kera Sugriwa yang mengeksekusi Kumbokarno. Belati yang digunakan Sugriwa mempunyai bentuk kemiripan dengan yang terdapat pada relief di prambanan. Perbedaannya mungkin proporsi bilah tampak lebih panjang, lebih langsing dan lebih tipis. Selain itu digambarkan perbedaan bentuk hulu.

Yang menjadi catatan dari kedua relief di atas adalah cara memegang senjata tersebut yang berbeda dengan cara memegang keris saat ini, justru mirip senjata tikam. Sekalipun pada kedua candi itu ditemukan relief yang diduga merupakan senjata keris di zaman itu, secara umum bentuk desainnya boleh dikata berbeda dari desain keris saat ini. Pada relief kedua candi itu desain bentuk keris masih tampak berbentuk tegak belum memiliki condong leleh tertentu dan tidak asimetris.

Relief terakhir terdapat di Candi Sukuh. Candi Sukuh terletak di lereng barat Gunung Lawu, di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Menurut dugaan para ahli, Candi Sukuh dibangun untuk tujuan pengruwatan, yaitu menangkal atau melepaskan kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang akibat ciri-ciri tertentu yang dimilikinya. Dugaan tersebut didasarkan pada relief-relief yang memuat cerita-cerita pengruwatan, seperti Sudamala dan Garudheya, dan pada arca kura-kura dan garuda yang terdapat di Candi Sukuh.

Relief pande besi di Candi Sukuh menarik untuk dipelajari karena mempunyai kemiripan dengan miniatur besalen seperti yang kita kenal saat ini. Adegan dalam panel relief tersebut menggambarkan sebuah bangunan beratap limasan dari genting sirap yang di dalamnya terdapat Bima sedang duduk jongkok menempa sebuah keris lurus dengan tangan kosong, memanfaatkan kepalan tangannya sebagai palu dan disampingnya ada beberapa senjata tajam hasil tempaannya. Sedangkan pada bagian kanan terdapat Arjuna berdiri dengan masing-masing tangan memegang tangkai ububan. Ritual pembabaran keris ini dihadiri secara langsung oleh Dewa Ganesha yang memberkati prosesi keramat itu. Yang menarik dicermati adalah jika kita melihat hasil tempaan dari Bima terdapat banyak sekali wesi aji, mulai dari kudi hingga bentuk keris (dhapur sepang) yang lebih modern dari sebelumnya.

CATATAN GRIYOKULO, keris Sepang ini memakai bentuk ricikan yang berbeda dengan dhapur Sepang umumnya, sebab bentuknya pendek mirip belati pendek (khadga), memakai sogokan rangkap, ada-ada, greneng, dan kanyut kembar. Jika kita membuka buku dhapur keris Kawruh Empu (1914), bentuk keris ini dinamakan Srepang (ada 5 variasi bentuk) dengan ricikan: Bênêr, sogokan kiwa têngên, sraweyan, tanpa gandhik, gănja wungkul.

Bentuk Sepang seperti ini juga mengingatkan dengan Kiai Kala Gumarang milik Raden Ayu Retno Dumilah yang mengukuhkan kehormatan Madiun sejajar dengan Mataram. Bahkan sekaliber Mataramnya Panembahan Senopati pernah dipermalukan dengan mengalami dua kali kegagalan menundukkan Purubaya (Madiun), yakni pada tahun 1587 dan 1589, diyakini hal ini berkat keampuhan sebilah keris pusaka, yakni Kanjeng Kiai Kala Gumarang. Konon keris Kiai Kala Gumarang merupakan keris lurus berdhapur sepang yang memakai sogokan dan grenengan pada kedua kepet ganja.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *