Kala Misani

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.000,000,- (TERMAHAR) Tn. DSH, Matraman, Jakarta Timur


1. Kode : GKO-413
2. Dhapur : Kala Misani
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Cirebon Era Mataram Sultan Agung (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 118/MP.TMII/II/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Cimerak, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 35,5 cm, panjang pesi  5,5 cm, panjang total 41 cm
8. Keterangan Lain : warangka baru, pamor telaga membleng tiban


ULASAN :

KALA MISANI, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Keris ini memakai ricikan: sekar kacang jalen, lambe gajah dua, sogokan, tikel alis, sraweyan greneng, gusen. Menurut mitos atau dongeng, dhapur Kala Misani pertama kali dibabar oleh Mpu Suqsengkadi atas pemrakarsa Nata Raja Berawa dari kerajaan Mêdhangkamulan pada tahun Jawa 230.

FILOSOFI, Dalam lakon carangan Jumenengan Parikesit diceritakan alkisah setelah Bharatayudha usai, kerabat Pandhawa mengadakan persidangan besar. Dalam pertemuan tersebut dibahas dua hal mendasar, yaitu niat para Pandhawa meninggalkan semua kehidupan duniawi dan berniat untuk mengembara mendaki puncak Mahameru, serta pemilihan Raja baru untuk menggantikan Puntadhewa, yang sekarang madheg pandhito bergelar Wasi Curiganata. Akhirnya dalam sidang tersebut diputuskanlah Parikesit menjadi calon tunggal raja Hastinapura dengan beberapa pertimbangan antara lain, Parikesit adalah keturunan Pandhawa, ayahnya adalah Abimanyu pada masa mudanya yang berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat (wahyu “wijining ratu”, wahyu pewaris raja).

Dalam persidangan tersebut Krisna juga menyampaikan berbagai petuah, bahwa untuk menjadi Raja di Hastinapura memerlukan beberapa syarat. Yang pertama adalah restu dari rakyat kecil, yang dalam hal ini diwakili oleh Semar dan Punakawan. Yang kedua adalah restu para Pinisepuh, yang diwakili oleh Wasi Curiganata, Para Pandhawa, Krisna dan pinisepuh yang lain. Yang ketiga adalah dukungan para saudara, yang dalam hal ini diwakili oleh Sasi Kirana bersaudara, Arya Sanga-sanga dan Arya Danurwenda. Hanya syarat keempat lah yang belum jangkep, yaitu sebuah pusaka atau sipat kandel. Pusaka yang dimaksud adalah Kyai Kalamisani.

Keris Kyai Kalamisani berasal dari wisa (bisa/racun) Batara Kala. Wisa Bathara Kala sangat ampuh dan dapat menjadi senjata pembunuh yang luar biasa, namun dapat pula merupakan obat bagi penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan. Maka Kala Misani merupakan lambang ambisi, yang dapat mematikan akan tetapi juga merupakan daya pendorong luar biasa apabila diterapkan dan digunakan dalam jalan kebenaran.

Keris Kalamisani semula dimiliki oleh Raden Sadewa, namun saat Gatotkaca menjadi Senapati pada perang Bharatayudha pada hari ke lima belas keris tersebut dipinjamkan kepada Gatotkaca. Celakanya ketika Gatorkaca gugur, keris tersebut terlempar ke Gisiksamodra dan ditangkap oleh Resi Badawanganala. Keris Kalamisani kemudian diserahkan kepada Dewi Srengginiwati, dan Resi Badawanganala meminta Dewi Srengginiwati untuk mengutus puteranya, Bambang Sidapaksa membawa keris Kyai Kalamisani untuk diserahkan kepada Sadewa. Dan seperti sudah menjadi suratan takdir keris Kyai Kalamisani kemudian dapat dimiliki oleh Parikesit, dimana secara tidak sengaja Parikesit membantu Bambang Sidapaksa yang dikeroyok oleh para Raksasa, anak buah Prabu Kiswaka yang bermaksud merebut paksa keris Kalamisani yang dibawanya.

TANGGUH CIREBON ERA MATARAM SULTAN AGUNG, Selain dipengaruhi oleh gaya pembuatan tosan aji “kulonan”, terutama Sunda Pajajaran, keris dan tombak Cirebon banyak juga dipengaruhi gaya Mataram. Pasikutan keris tangguh Cirebon era Mataram Sultan Agung yaitu serasi dan harmonis sehingga enak dipandang. Pamor yang digunakan biasanya beras wutah mubyar (menyala terang).  Gonjo-nya biasanya wulung, hitam tak berpamor. 

PAMOR BERAS WUTAH, Dalam setiap cerita yang bergulir di masa lalu selalu dikatakan Nusantara dulunya adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi kerta raharja. Seperti dalam ungkapan berikut: “negara sing gemah, ripah, kerta, raharja, gemah kang samya dagang rinten dalu ora ana pedote, ripah janma manca kang samya bebara jejel riyel sanajan tebih katon cerak, loh jinawe tegese kang samya tinandur dadi, kerta ingon-ingon kebo sapi raja kaya tan cinancangan yen rina aglar ing pangonan dene suruping surya mulih menyang kandange dewe-dewe tan ana kandang pinalangan lawang kinancingan amarga tebih saking dursila juti, raharja tebih ing parang muka Negara kang panjang pocapane luhur kawibawane gede obore duwur pupuse tur kasusra ing manca praja”.

jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:

Gemah” maksudnya yang berdagang siang malam tidak ada henti-hentinya karena sangat ramai lalu lalang orang yang mencari rezeki. “Ripah” maksudnya orang asing yang merantau mencari rezeki penuh sesak memadati perkotaan sehingga tempat yang dahulu jauh sekarang tampak dekat. “Loh Jinawi” maksudnya Nusantara adalah Negara yang tanahnya subur yang ditanam pasti tumbuh dan berbuah. Kerta maksudnya peliharaan sapi, kerbau, kambing, dan lain-lain tidak pernah diikat jika siang hari mencari rumput/makan di tanah lapang dan jikalau malam menjelang pulang ke kandangnya sendiri-sendiri, tidak ada kandang yang diberi pintu penghalang pintupun tidak dikunci karena tidak ada orang yang berbuat jahat. Raharja maksudnya tidak mempunyai musuh, negara yang disegani, menjadi mercu suar dunia.

Yang akhirnya menjadi doa dan harapan  bahwasanya pemilik pamor beras wutah akan dapat hidup layak, adil makmur sejahtera lahir, batin, dunia, dan akherat baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

PAMOR TELAGA MEMBLENG, artinya danau/telaga yang banyak airnya atau airnya tertahan/tidak mengalir. Bentuk gambaran motif pamor Telaga Membleng menyerupai gelang-gelang lingkaran, paling sedikit tiga lapisan gelang-gelang. Letaknya pada bagian pejetan.

Tuah atau angsar pamor ini, bagi mereka yang percaya adalah untuk penumpukan harta, dan juga dipercaya dapat membantu mengatasi sifat boros. Harta dan rejeki yang telah kita terima, akan sulit keluar lagi, kecuali untuk hal-hal yang bermanfaat. Pamor ini tergolong pamor yang tidak pemilih, setiap orang akan merasa cocok bila memilikinya.

CATATAN GRIYOKULO, Meskipun warangan lama, Kalamisani ini masih sanggup menampilan kontras besi dan warna pamor yang royal berwarna putih terang. Sangat mendasar pula apabila ada yang menangguhnya sebagai keris era Mataram Sultan Agung, dan memang entah kenapa tidak banyak keris era Mataram Sultan Agung hadir dalam bentuk lurus karena kebanyakan justru ditemukan dalan bentuk keris ber-luk. Adanya pamor telaga membleng tiban pada area pejetan tentulah memiliki berkah dan menambah bobot esoteri tersendiri.

Korosi alami yang nampak pada sisi tajam bilah terkadang memang menjadi suatu keniscayaan yang harus diterima, tanpa perlu membesud atas nama keindahan. Bentuk sekar kacang yang unik menyerupai telale gajah dan greneng yang ada menandai akulturasi Cirebon dan Mataram. Keris Kalamisani ini sudah memakai sandangan baru, tidak ada pekerjaan rumah selanjutnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *