Jalak Budha

Mahar : 10.000.000,-


1. Kode : GKO-501
2. Dhapur : Jalak Budha
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Kabudhan (Abad X)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : –
6. Asal-usul Pusaka :  Temuan sungai Brantas
7. Dimensi : panjang bilah 21,1 cm, panjang pesi 5,2  cm, panjang total 26,3  cm
8. Keterangan Lain : pesi kotak


ULASAN :

JALAK BUDHA, Secara umum, keris jalak budha merupakan salah satu keris lurus yang ukuran bilahnya lebar, panjangnya sekitar satu jengkal, bagian sor-soran keris jalak biasanya agak tebal, condong leleh agak tegak atau tidak terlalu miring, gandik-nya polos dengan pejetan dan biasanya memiliki sogokan rangkap, depan-belakang.

TANGGUH KABUDHAN, Walaupun keris budha dan tangguh kabudhan dikenal masyarakat secara luas, namun jarang sekali dimasukkan dalam buku-buku yang memuat soal tangguh (perkiraan jaman pembuatan). Bahkan buku-buku soal tangguh yang ditulis sebelum era kemerdekaan seperti ‘Serat Panangguhing Duwung‘ karya Mas Ngabehi Wirasoekadga, hanya mencatumkan permulaannya mulai dari Pajajaran hingga akhir Surakarta.

Mengenai tangguh kabudhan itu sendiri setidaknya terdapat dua pandangan atau pengertian yang dipahami, yaitu pertama diartikan sebagai zaman budo yang menandakan zaman baulah atau zaman yang tidak bisa diperkirakan dengan tepat rentang waktunya. Sedangkan pandangan yang kedua, justru sebaliknya meyakini isitilah kabudhan berkaitan dengan prototype awal keris dan tentu saja berkaitan dengan agama Hindhu-Budha itu sendiri serta sejarahnya yang kala itu menjadi agama mayoritas di Nusantara. Terlebih kemudian misalnya, dengan mengkaitkan secara kasat mata dimana keris budha memiliki kemiripan bentuk dengan berbagai gambaran belati atau kadga yang terlihat pada relief  candi-candi di Jawa, diantaranya candi panataran dan candi borobudur. Belati atau kadga pada candi-candi ini masih memperlihatkan ciri-ciri senjata India, belum mengalami “pemribumian” (indigenisasi). Meskipun demikian, tidak ada bukti autentik mengenai evolusi perubahan dari belati gaya India menuju keris budha ini.

Juga bila dikaitkan misalnya dengan literatur atau manuskrip lawas, semisal Pustaka Raja Purwa yang ditulis sekitar Abad XII, dan Pratelan Dhuwung Saha Waos yang ditulis Singawijaya pada akhir abad XIX menyebutkan bahwa keris di Jawa pertama kali dibuat pada tahun anembah-warastraning-rat, yakni 230 M, di kerajaan Medang Kamulan oleh Mpu Ramadi pada masa pemerintahan raja Mahadewa Budha berupa dhapur lar ngatap, pasopati dan cundrik.

relief senjata mirip prototype awal keris di berbagai candi di Indonesia

PAMOR KELENG, Pada keris keleng ini tidak nampak pamor putih seperti halnya keris-keris lain. Keris ini jika diwarangi hanya terlihat hitam kehijauan, kebiruan atau keabu-abuan. Kadang dalam masih terlihat sedikit warna pamor sanak, akan tetapi banyak yang mengatakan warna tersebut muncul akibat dari lipatan besi. terlepas dari hal-hal tersebut, justru keris keleng ini banyak memiliki keistimewaan. Penempaan keris ini biasanya sangat matang, sehingga memiliki pesona tersendiri bagi penikmat tosan aji.

Keris keleng lebih mengutamakan kematangan tempa juga kesempurnaan garap. Garap di sini yang dimaksud adalah meliputi keindahan bentuk bilah, termasuk di dalamnya ricikan. Keris Keleng juga bisa menjadi bahasa untuk memahami tingkat kematangan Si Empu, secara lahir maupun batin. Secara lahir bisa dilihat kesanggupan Si empu dalam mengolah besi untuk menjadi matang dan presisi. Dalam penggarapan keris tersebut juga dibutuhkan kecermatan dan kedalaman batin. Kedalaman batin Empu diterjemahkan dalam pamor yang hitam polos tidak bergambar. Empu sudah menep (mengendap) dari keinginan nafsu duniawi. makna yang disampaikan harus diterjemahkan dengan kedalaman rasa yang bersahaja. Efek yang ditimbulkan dari sugesti terhadap keris keleng tersebut adalah, bahwa keris tersebut mampu menjadi tolak bala. Ada juga yang beranggapan bahwa keris keleng tersebut memiliki kekuatan secara isoteri lebih multifungsi, dibanding dengan keris yang berpamor.

CATATAN GRIYOKULO, Dapat dipahami, meski kerapkali hadir dalam wujud yang tidak lagi utuh, keris-keris kabudhan dari masa ke masa selalu memiliki niche market penggemar fanatiknya tersendiri. Selain karena faktor usia dan kelangkaan, di lain sisi adanya unsur kepercayaan yang tertanam dalam benak masyarakat perkerisan jikalau keris-keris kabudhan sebagai pusaka tindhih yang “top” bisa jadi ikut mempengaruhi image yang ada.

Seperti keris jalak budha ini, jika ada sutresna tosan aji yang menganut “mazhab TUS”, tentu saja keris yang sudah tidak utuh ini tidak akan masuk dalam salah satu kriteria pemilihan, yakni menyangkut “keutuhan” bilah. Meski pada sebagian pertengahan bilah sudah tidak lagi berada dalam kondisi sempurna, namun pada bagian bawah, untuk kategori keris temuan masih bisa dikatakan cukup utuh, sehingga ricikan seperti sogokan yang panjang, lebar dan dangkal, tonjolan odo-odo pada bagian tengah bilah, condong leleh yang sedikit tegak, bagian gandhik tipis yang tinggi, hingga kekhasan pesi budha yang berbentuk persegi masih bisa dinikmati keberadaan dan keindahannya. Juga untuk bagian gonjo yang menempel pada bilah memiliki tingkat kerapatan yang presisi, yang bisa digunakan sebagai salah satu penanda keaslian keris temuan dengan keris baru yang sengaja ditanam.

Keris ini telah disandangi warangka model sandang walikat dengan aksen/hiasan ornamen logam motif sulur-suluran, serta gagang ber-selut. Gagang kayu pada keris ini menggunakan gagang keris temuan, bentuknya termasuk sederhana dan primitif. Tampaknya saat ini sudah tidak mudah lagi menemukan keris Jalak Budha di bursa pemaharan, maka sayang jika harus dilewatkan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *