Singabarong Luk 7

Mahar : 9.777.777,-


1. Kode : GKO-499
2. Dhapur : Singabarong
4. Tangguh : Mataram
5. Sertifikasi Museum Pusaka No :  Ya
6. Asal-usul Pusaka :  eks kolektor
7. Dimensi : panjang bilah 36,3  cm, panjang pesi 3,7 cm, panjang total  40 cm
8. Keterangan Lain : eks temuan


ULASAN :

SINGA BARONG, adalah dhapur keris yang bagian gandik-nya berbentuk binatang mirip singa, dengan kedua kaki depan tegak di tanah. Kaki belakang ditekuk, dengan tubuh belakang dalam posisi duduk. Sorot matanya tajam, dengan mulut menganga seolah sedang mengaum. Pada sebagian moncong sang singa yang menganga sering “disumpal” dengan butiran emas atau batu mulia, meskipun ada pula yang tidak.

FILOSOFI, Kekuatan dan keberanian singa, menjadikan singa dijuluki si raja rimba. Predikat yang sudah disandang selama ribuan tahun. Kekuatannya tampak dari kemampuannya mengalahkan binatang-binatang lain. Keberaniannya ditunjukkan dari hampir tidak ada satu binatangpun yang ditakutinya, meskipun binatang itu lebih besar postur badannya. Karenanya, singa sering dijadikan simbol kekuatan, keberanian, kemenangan serta kemampuan untuk melindungi sebuah kota atau kerajaan dari segala mara bahaya. Salah satu hal menarik yang dapat kita pelajari dari seekor singa adalah mentalnya. Singa tidak pernah takut menyerang atau diserang, meski harus menghadapi sekelompok hewan buas lainnya. Tidaklah mengherankan jika dhapur Singa Barong dulunya banyak dimiliki oleh para Senapati Perang.

Bahkan konon menurut cerita, dalam perang Bubat Patih Gajah Mada yang terkenal sakti mandraguna pernah bertarung dengan sang Putri Dyah Phytaloka, meskipun akhirnya gugur, Sang Putri berhasil melukai Tubuh Gajah Mada dengan Keris Singa barong berlekuk 13, Keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri kerajaan Tarumanegara, yang bernama Prabu Jayasinga Warman. Akibat luka itu, Gajah Mada memilih menarik diri dari hiruk pikuk istana dan menepi hingga moksha di Madakaripura.

Singa” adalah binatang yang habitatnya di sabana, padang rumput yang ada pepohonannya. Secara habitat, Singa bukan fauna asli Nusantara (khususnya Jawa). Secara bahasa pun, tidak ditemukan entri perbendaharaan kata singa dalam kamus jawa kuno maupun bahasa Kawi. Yang ada adalah kata “simha atau singha“, yang artinya adalah singa.

Namun ada yang menarik jika kita membuka Serat Centhini. Ada sebuah kisah saat Jayengresmi selesai menerima ajaran tentang penanggalan dan wataknya, serta pranata mangsa dari Ki Ajar Suganda kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah barat laut untuk menemui Ki Wargapati, seorang lurah di dusun Bogor, sekaligus hendak napak tilas melihat peninggalan keraton Pajajaran lama, yang disebut Bogor, di kaki gunung Salak.

34. Sêngsêming tyas umiyat ing | tatanêman tumaruna | kathah kang nêdhêng uwohe | wênês ijo amardapa | tangèh ingkang mangarang | sadhengah tinanêm subur | wowohan myang sêsêkaran ||

35. Hawanya srêp sawatawis | karya têntrêming sarira | tamtu jawah sabên sore | wit Luhur tumêkèng Ngasar | têrang sadalu pisan | kathah sumbêr umbul mancur | mimbuhi sêngsêming driya ||

36. Wanci Luhur radyan prapti | satêngahing kang pagagan | tumalêthok garimise | radyan ngandika mring Gathak | sarèhning ayun jawah | prayogane padha ngaub | mring gubug amrih sarkara ||(Serat Centhini Jilid 01: pupuh 56 bait 34-36)

4. Manthuk-manthuk sang minta pawarti | Jayèngrêsmi aris atatanya | kang pinanggyan lagi nêmbe | sintên kêkasihipun | amangsuli sabdanya aris | Ki Wargapati kula | kapalaning wuwus| inggih ing Bogor punika | langkung têbih Giri praptanipun ngriki | amangka lampah dharat ||

5. Pan ing pundi ingkang dènmargani | kongsi sagêt prapta dhepok kula | langkung gawat saturute | lwir ing pakèwêtipun | rêdirêdi kang kathah singit | jro jurang-jurang guwa | kèh rêncananipun | sarpa gung banaspati ka | kayu-kayu arungkut kèh ori rumpil | singa warak andaka ||

6. Ingkang sami angadhangi margi | mongira samya krura mamangsa | sêsêngkan jurang pèrènge | watu-watu alunyu | tur tumawing miring anggawing | tan kêna ingancikan | watune gumlundhung | têla-têla isi ula | kidêggana pinggire anyêmbur sami | ulanya galak-galak ||

7. Saking pundi gènnira lumaris | wontên kêdhik kang ragi warata | tan kobêr anggung godhane | ingkang murungkên laku | tanpa wilis mawarni-warni | siluk-siluk pinggirnya | jurang lunyu-lunyu | yèn gocèkana witwitan | wit-witane anggawing tur mawa êri | êrine mawi upas ||

8. Witing kayu pinggir parang curi | yèn cinandhak witte pol kewala | padhas landhêp ngatut bae | tumibèng jurang iku | sarpa singa lajêng nampèni | liyanipun anak mas | ing têngah tan tutug | tangèh ing ngriki praptaa | ulun sampun anjajah ing ardi-ardi | wêgah nora kêconggah || (Serat Centhini Jilid 01: pupuh 56 bait 4-8)

Digambarkan pada zaman Mataram Sultan Agung dari Mandalawangi (secara lokasi dewasa ini berada di perbatasan Kab. Garut dan Kab. bandung) hingga Bogor banyak melalui lereng terjal, batu-batu yang mudah longsor, serta semak berduri yang sulit ditembus. Dan sepanjang perjalanan  tentu saja banyak binatang buas yang berkeliaran, dan bahkan memangsa manusia. Binatang buas yang direkam dalam serat Centhini adalah singa (panthera leo), serta binatang-binatang yang masih liar seperti badak (rhinoceros sondaicus), harimau (panthera tigris) dan banteng (bos javanicus) masih banyak keberadaannya pada abad ke-17.

Bogor pada waktu itu masih lebat, tanahnya subur dengan aneka macam tumbuhan dan buah-buahan. Ciri khas kota Bogor ini adalah udaranya dingin dan selalu hujan di sore hari, tak salah kiranya hingga sekarang disebut kota hujan. Vegetasi yang demikian membuat daerah Bogor sebagai lautan pepohonan yang menghijau dan asri. Sepanjang perjalanan mereka riang gembira karena keadaan alamnya yang memanjakan mata. Menawan hati orang yang menyaksikan keindahannya. Tanahnya subur, pohon banyak yang sedang berbuah demikian pula bunga-bunga sedang bermekaran.

Namun ada catatan yang sangat menarik, dimana daerah yang dilewati ini ternyata terkenal dengan banyak jurig atau setannya, dan yang dianggap berbahaya adalah Banaspati. Sosoknya berupa bola api. Memang bagi kalangan scientist, lelembut tidaklah eksis alias tidak bisa dibuktikan  secara ilmiah kebenarannya. Namun, cerita atau bahkan berita tentang hal yang gaib seperti ini masih terus terdengar hingga saat ini, dan berdasarkan Serat Centhini, hantu yang disebut Banaspati adalah salah satu yang berbahaya.

Dari Giri (Surabaya) hingga Bogor digambarkan jalan-jalan dipenuhi dengan semak berduri (ini menunjukkan keadaan jalan di abad ke-17 era Sultan Agung). Sebagai perbandingan jalan raya di pantura, yakni Anyer-Panarukan baru dibangun di awal abad ke-19. Jalan perintisnya tentunya sudah ada, sebagai jalur penyerangan Sultan Agung terhadap VOC di Batavia. Dalam pelariannya Jayengresmi sudah pasti tidak melalui jalan utama/umum.

Jalan yang dilewatinya curam dan terjal, lereng yang miring, batu-batunya sangat licin, sangat sulit untuk diinjak, bahkan terbayang susahnya sekedar mencari sesuatu yang kuat sebagai pegangan. Batu-batu rapuh jatuh menggelinding ke bawah, di sela-selanya menjadi sarang ular, yang jika terinjak, sang ular akan menyemburkan bisanya. Jika apes sampai terjatuh ke jurang ular besar dan singa siap menyantapnya.

Serat Centhini menjelaskan bahwa ada singa yang berkeliaran di jalur perjalanan dari Surabaya hingga Bogor. Namun, habitat singa di daerah padang rumput, dengan demikian, kita tidak tahu singa seperti apa yang pernah hidup di pulau Jawa sebab singa yang digambarkan di Serat Centhini salah satunya berada di dasar jurang. Bisa jadi, yang dinamakan singa itu adalah sebangsa macan, tetapi bukan macan yang sudah dikenal oleh masyarakat Jawa seperti macan loreng (panthera tigris sondaica), macan tutul (panthera pardua), dan macan kumbang atau macan hitam (panthera pardus melas).

Sedangkan kata “Barong” sendiri berarti sesuatu yang besar. Dan hal ini tercermin pada besarnya singa yang terdapat pada gandhik, karena umumnya bentuk yang kurus-kurus akan disebut kikik (ajag).

TANGGUH MATARAM, harus diakui banyak hambatan dalam menangguh keris-keris temuan, sebab akan banyak pula parameter-parameter yang dijadikan acuan dalam menangguh tidak dalam kondisi prima. Seperti pada keris Singo Barong ini, salah satu hal yang mungkin masih bisa dilihat adalah pada bagian  bebel (1-2 mm di atas sogokan) apabila diintip dari samping terlihat sedikit lebih cembung dari bagian lain, salah satu penanda keris-keris yang berasal dari dinasti Mataraman. Demikian pula ganan Singo pada keris ini, yang meskipun bisa dibilang tidaklah utuh masih tampak “sterek” (tinggi, besar, gagah dan kekar), lazim halnya dengan karakter ganan singo yang berasal dari era Mataram Sultan Agung. Sedangkan pada bagian pamor sudah tidak utuh lagi, dan besi bajanya tampak keras sekali antara mulai membatu karena faktor temuan atau bisa juga sepuhannya yang sangat tua.

Yang menarik lainnya  adalah pada bagian gonjo-nya, dimana jika kita buka Serat Panangguhing Duwung tentang Bab Duwung Tangguh Mataram, selain ditulis Empu Ki Umaji, Empu Ki Legi, Empu Ki Guling dan Empu Ki Nom, ada pula Empu Ki Pangeran Sendhang. Berikut sedikit cupilkan dari teks yang berisi keris-keris buatan Empu Ki Pangeran Sendhang di zaman Mataram: “Dhuwung ganja mulu, ingkang kathah dungkul, wilut utawi kelap lintah, gulu meled kokoh, sirah cecak menter lancip bangkekan santosa awak-awakipun ganja kandel….. “. Empu Ki Pangeran Sendhang ternyata paling banyak membuat keris dengan bentuk ganja dhungkul, wilut dan kelap lintah dengan bentuk sirah cecak runcing, gulu meled yang kokoh, serta bentuk ganja yang tebal.

 

PAMOR BERAS WUTAH, adalah motif yang cukup familiar di dunia perkerisan, bentuknya didominasi oleh butiran-butiran putih menyerupai beras yang berserakan, tumpah tersebar. Bermakna kiranya sebagai mantra nonverbal, supaya mereka yang memilikinya tidak kurang sandang pangan.

CATATAN GRIYOKULO, Jika saat ini kita masih sering  melihat dhapur Naga “bersliweran”, tidak demikian dengan dhapur Singo. Selain karena varian dhapur singo tidak sebanyak dhapur nogo (seperti nogo sosro, nogo rojo, nogo siluman, nogo topo, nogo salira, nogo primitif dll), adalah sudah menjadi rahasia umum jika dhapur Singo ini sudah lama menjadi incaran para kolektor, para pejabat, para bakulers untuk kemudian masuk lemari penyimpanan sehingga dari ke hari semakin jarang kita bisa menemukannya.

Jika panjenengan mencari keris Singo Barong yang ori sepuh, Penulis berani menjamin ini adalah salah satunya. Satu hal yang mungkin menjadi kekurangannya adalah ketidakutuhannya. Harus diakui memang banyak sisi sisi pada pusaka berkelas ini yang sudah digerogoti Kala Buntala (waktu dan tanah), seperti yang tampak pada foto-foto di atas. Sanggupkah kita berdamai dengan segala ketidak-sempurnaannya? Lalu menerima apa adanya bukan ada apanya, tanpa melihat wujud lahiriah.

Namun singa tetaplah singa yang akan terus bertahan walaupun tubuhnya mulai rapuh, yang akan terus berjalan walau kakinya penuh luka, yang akan selalu saja kuat dimanapun ia berada. Dan singa tetaplah Singa, yang tak akan pernah mengeong menjadi kucing di hadapan siapapun. Sebab aku tetaplah “sang Singo Barong”!!

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *