Kujang Ciung Cirebon

Mahar : 2.750,000,-


1. Kode : GKO-428
2. Dhapur : Kujang Ciung
3. Pamor : Sulangkar
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 543/MP.TMII/VII/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Cirebon
7. Dimensi : panjang bilah 17,5 cm, panjang pesi 6,2 cm, panjang total 23,7 cm
8. Keterangan Lain : mata empat


ULASAN :

KUJANG CIUNG, Kujang sangat sering diberi nama yang disesuaikan dari jenis, bentuk maupun fungsi dari kujang itu sendiri, diantaranya pengambilan bentuk dasar dari hewan yang ada di alam sekitar sebagai salah satu cara dan kebiasaan masyarakat Nusantara dalam membuat suatu benda. Nama kujang yang dipakai juga sangat berkaitan dengan pencitraan maupun penggambaran sesuatu yang sakral. Kujang Ciung misalnya, melandaskan bentuknya berdasarkan bentuk hewan burung Ciung (sejenis burung bincarung). Dalam mitologi, burung ciung dianggap sebagai hewan dunia atas dengan rupa yang elok dan gagah ketika bertengger diatas ranting pohon, lincah, dan memiliki kicauan yang nyaring. Ciung merupakan cerminan kecerdasan, pandai berdiplomasi dan rupawan.

Adapun kepercayaan lainnya datang dari masyarakat Sunda (Jawa Barat). Burung Ciung dipercaya sebagai burung “Tolak Bala”. Mitos yang berkembang menyebutkan apabila dalam suatu rumah memelihara burung ciung, konon pemiliknya akan dijauhkan dari segala kesialan atau malapetaka.

FILOSOFI, Penyesuaian karakter dari burung ciung sendiri yang memiliki penampilan rupawan, pandai bernyanyi, berkicau nyaring, gagah dan merupakan cerminan dari kecerdasan, sekaligus kepandaian berdiplomasi. Papatuk kujang yang runcing di ujung serta bentuk sabit yang saling membelakangi namun ternyata menampilkan keseimbangan bentuk, mencirikan personifikasi karakter yang memiliki penampilan yang tajam namun adil dan berwibawa.

MATA/LUBANG KUJANG, adalah lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang pada awalnya lubang/liang itu tertutupi logam (biasanya emas atau perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan saat ini hanya sisanya berupa lubang lubang kecil saja. Mata pada kujang ini menunjukkan lambang kedudukan atau status si pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata, malah ada pula kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.

Kujang Ciung ini memiliki rericikan mata sebanyak empat buah, tiga buah pada bagian tonggong (bagian punggung, bagian ini biasanya tidak tajam) dan satu buah lainnya pada bagian beuteung (bagian perut, seperti mata pisau yang tajam). Lubang-lubang yang ada apabila kita perhatikan dengan seksama tidak tampak sama besarnya, begitu pula tidak berbentuk bulat sempurna, namun hal ini justru menandakan keotentikannya di zamannya, bukan hasil rekayasa owahan dari alat bor modern.

TANGGUH CIREBON Ciri khas dari Kujang Ciung Cirebon adalah bentuk bilahnya yang cenderung terlihat  lebih lurus, tegak dan ramping, berbeda dengan cengkok Kujang Pakuan atau kujang Bogoran yang bentuk bilahnya melengkung. Kujang ciung sendiri biasanya dibedakan dalam tiga gaya atau cengkok, yakni cengkok Pakuan/Pajajaran (Bogor) yang bentuknya lebih melengkung, Cengkok Mangkubumi (Bandung, Garut) yang bentuknya agak tegak, dan Cengkok Mangkualam (Cirebon) yang bentuknya lebih lurus dan ramping.

PAMOR SULANGKAR, kujang-kujang sepuh buatan jaman kerajaan dahulu tidak memiliki pamor khusus, kecuali garis-garis (sulangkar) dan bintik-bintik (tutul) yang tidak beraturan. Pamor sulangkar mengacu pada sejenis pamor yang bentuknya seperti alur sejajar dari bagian bawah sampai ke bagian atas. Bentuk pamor seperti ini banyak sekali ditemukan, bentuknya seperti pamor nyerat atau ngarambut.

CATATAN GRIYOKULO, kebanyakan kujang Ciung yang ditemukan di daerah kulonan rata-rata mempunyai liang/lubang berjumlah empat. Bentuknya yang agak tegak sangat kental dengan style kujang-kujang yang biasanya ditemukan di daerah Bandung, Garut hingga Cirebon. Secara umum bilah masih bisa digolongkan dalam kondisi terawat. Sudah dibuatkan pula kowak (warangka) yang serasi, sehingga tidak ada pekerjaan rumah yang menunggu selanjutnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *