Kujang Wayang Curis Dalem TUS Kolektor Item

Mahar : 15.000,000,-


1. Kode : GKO-420
2. Dhapur : Kujang Wayang Curis/Sekar Pandan
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Cirebon Dalem/Kacirebonan? (Abad XVIII-XIX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 122/MP.TMII/I/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Sinengker
7. Dimensi : panjang bilah 27,5 cm, panjang pesi 8 cm, panjang total 35,5 cm
8. Keterangan Lain : TUS, kolektor item


ULASAN :

KUJANG WAYANG, memiliki karakteristik yang berbeda dengan kujang-kujang lainnya, dimana penamaan dan bentuknya tidak menyerupai hewan/binatang yang ada di alam sekitar. Bila diperhatikan nama dan wujudnya justru mengadopsi bentuk dari wayang purwa. Jenis kujang wayang ini memang tidak terdapat di berita Pantun Bogor, yang menceritakan berbagai bentuk dan jenis kujang  pada zaman Sunda Pajajaran di masa silam karena ditengarai berkembang setelah masa Mataram Islam. Kujang wayang sangat populer di daerah Cirebon dan sekitarnya, biasanya disimpan sebagai pusaka.

Dalam kebudayaan lokal Cirebon, wayang dijadikan sebagai simbolisasi syari’at dan pengaruhnya melekat cukup mendalam di kehidupan masyarakat. Wayang menyampaikan nilai-nilai kebijaksanaan dengan bentuk karakter dan lakon yang beraneka ragam itu dijadikan sebagai ensiklopedia orang Jawa. Wayang merupakan media penerangan, dakwah, kefilsafatan serta hiburan bagi masyarakat dengan isi cerita yang dipenuhi nilai-nilai kebijaksanaan serta keluhuran demi mengambil pelajaran untuk perjalanan hidup di masa selanjutnya.

WAYANG GAGRAG CIREBONAN, Cirebonan” sendiri digunakan untuk mendefinisikan sebagai wilayah budaya yang mencakup daerah Pantai Utara Jawa dari Cilamaya di barat hingga ke Brebes di timur. Hampir semua bentuk kesenian yang ada di daerah ini merupakan hasil serapan dari daerah lain. Namun, dalam beberapa hal juga menunjukkan lokus kemandiriannya dari Jawa. Misalnya, jika punakawan wayang Jawa hanya memiliki empat tokoh, seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng, wayang gagrag Cirebon memiliki sembilan (9) tokoh. Nama para punakawan itu adalah Semar, Sekarpandan/Curis, Astrajingga, Ceblok, Bitarota, Dewala, Cungkring, Bagalbuntung, dan Gareng.

Konon mitos punakawan gagrag Cirebonan yang berjumlah sembilan (9) ini berkaitan dengan 9 wali yang pernah ada di Jawa (Wali Songo). Namun ada pula yang menyatakan bila angka 9 merujuk pada 9 lubang yang ada dalam tubuh manusia (babahan howo songo), berkaitan dengan ilmu Tasawuf Islam.

Jika tokoh punakawan Semar lebih banyak dikagumi di daerah Jawa bagian Tengah dan Timur, di daerah Banyumasan orang-orang akan serempak menyebut nama Bawor sebagai identitas kebanggaan mereka. Dan apabila Cepot lebih tenar di tatar Sunda, maka Curis ternyata menjadi punakawan favorit di daerah Cirebonan.

CURIS, Nama lainnya adalah Sekarpandan, merupakan salah seorang di antara sembilan panakawan pada Wayang Kulit Purwa gagrag Cirebon. Sama seperti Semar, Curis juga merupakan jelmaan dari Dewa, karenanya ia memanggil Semar dengan sebutan Peang kependekan dari “ipe reh ing hyang“. Penampilan roman muka Curis bertubuh gempal, leher panjang, mempunyai kepala yang kecil dibanding tokoh punakawan yang lain, betis kaki besar, mata bulat, hidung kecil seperti bayi, dan mulut kempot seperti orang tua. Selain busana yang dikenakan sangat sederhana hanya berupa kain dodot atau dililitkan saja. Curis juga membawa sebuah senjata berupa sebilah sabit yang disisipkan di pinggangnya.

CERITA, Dalam lakon “Munged Turun Ampah” wayang kulit gagrag Indramayuan atau Cirebonan. Curis dahulunya berwajah tampan layaknya kesatria lainnya. Awalnya ia bernama Sang Hyang Bergola putra Sang Hyang Gentiri, tidak lain bapak mertua dari Semar (Hyang Ismaya). Sang Hyang Bergola dikutuk oleh Ayahnya sendiri saat membahas rencana masa depan dirinya (pernikahan). Kala itu Ayahnya bertanya kepada putranya Hyang Bergola :”ngger putraku, saat ini usiamu sudah waktunya untuk mempunyai pendamping hidup”. “Kanjeng Rama, akupun sudah memikirkan tentang hal itu akan tetapi aku ingin calon istriku kelak bagus budi pekertinya sama seperti kanjeng Ibu”, jawab Sang Hyang Bergola. Namun karena salah dengar maka panaslah hati Sang Hyang Gentiri mendengar ucapan putranya, maklum Sang Hyang Gentiri dalam usia senjanya pendengarannya sudah jauh berkurang. Menurut pendengarannya putranya itu ingin menikah dengan Ibunya sendiri. Maka dengan penuh amarah Sang Hyang Gentiri mengutuk anaknya itu, karena tidaklah pantas seorang anak menikahi Ibunya sendiri.

Tersentaklah Hyang Bergola ketika mendapati dirinya dikutuk oleh Ayahnya sendiri, dengan ratapan sedih ia menanyakan dosa apa yang telah ia perbuat kepada Ayahnya. Masih dipenuhi amarah Ayahnya menerangkan sebab mengapa ia mengutuk putranya itu. Dengan jujur pula Hyang Bergola menjelaskan bahwa Ayahnya telah salah mendengar karna ia hanya ingin menikah dengan wanita yangg memiliki budi pekerti sama seperti Ibunya, bukan menikah dengan Ibunya sendiri.

Menyesallah Hyang Gentiri atas kesalahpahamannya itu, akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa mengembalikan wajah tampan putranya. Akhirnya dengan rasa sedih Hyang Bergola menerima kutukan Ayahnya. Tetapi ia tidak ingin menetap di situ karena merasa malu dengan wajahnya yang tidaklah setampan dulu. Ia pun diperintah oleh Ayahnya untuk menetap di Hutan Pandan. Maka ia di beri nama Sekar Pandan. Pesan sang Ayah pula nanti jika bertemu dengan seseorang berkuncung putih dan berbadan gemuk ikutlah dengannya. Karena tidak lain ia kakak iparnya sendiri yg berganti nama Semar dulunya Sang Hyang Munged (Ismaya). Sejak bertemu dengan Semar nama Sekar Pandan berganti menjadi Curis.

FILOSOFI, Istilah punakawan sendiri berasal dari kata pana yang bermakna ”paham”, dan kawan yang bermakna “teman”. Maksudnya ialah, para punakawan tidak hanya sekedar abdi, batur atau pengikut biasa, namun mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka. Bahkan seringkali mereka bertindak sebagai penasehat majikan mereka. Jadi makna punakawan mengandung makna kawan yang sangat cerdik, dapat dipercaya, mempunyai pandangan yang luas serta pengamatan yang tajam dan cermat. Dalam istilah sastra Jawa dikatakan “tanggap ing sasmita, limpad pasang ing grahita”. Bagi para Kesatria, punakawan adalah pengarah, pengasuh sekaligus mentor bagi mereka. Punakawan juga menjadi penyeimbang antara idealisme mereka yang tanpa batas dengan dunia nyata yang terbatas. Memberi kompas kepada seseorang yang berdiri di persimpangan jalan. Jalan mana yang akan ditempuh amatlah penting dan sangat menentukan menjadi apa/siapa nantinya.

Karakter Curis dalam pewayangan sangat berbeda dengan delapan tokoh punakawan yang lainnya. Bentuk kepala Curis yang kecil memakai peci haji berwarna putih seolah hendak mengingatkan jika akal dan pikiran manusia memiliki keterbatasan. Tidak akan cukup mengenal Tuhan sebagai sesuatu Dzat yang tak terbatas, tak terkira, yang terlampau jauh untuk bisa diakalkan manusia. Akal tidak mampu mengetahui secara pasti akan hal-hal gaib, seperti adanya kebangkitan setelah kematian, adanya hari kiamat dan adanya surga neraka. Ini artinya akal tidak mampu memahami konsep Berketuhanan secara utuh. Untuk itu manusia dianugerahi pula sesuatu yang lebih besar, yakni hati (nurani). Tatkala seseorang sedang mencari suatu kebenaran, maka diingatkan oleh sebuah kalimat bijak, yaitu bertanyalah kepada suara hati nuranimu, dan sebaliknya bukan kepada akalmu.

Kemudian bentuk leher Curis yang panjang mengibaratkan panjang juga dalam segala hal. Maksud dari panjang itu sendiri adalah panjang pemikirannya, dalam pengetahuannya, luas wawasan serta mempunyai cita-cita yang tinggi untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. Panjangnya leher Curis juga akan selalu mengingatkan bahwa segala tindakan haruslah dipikirkan terlebih dahulu, karna sesal kemudian tiada berguna. Konon, terdapat dua tipe manusia dalam menghadapi masalah, tipe jerapah dan tipe badak. Tipe jerapah menganut filosofi memanfaatkan leher panjangnya. Sedangkan tipe badak menganut filosofi mengandalkan culanya. Orang bertipe jerapah tidak akan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Jika terjadi sesuatu, jerapah akan berusaha untuk mendengar dan melihat apa yang terjadi. Leher panjang jerapah digunakan untuk mengidentifikasi masalah, selanjutnya diputuskan akan lari kemana. Atau dengan kata lain ia akan memutuskan bagaimana cara pemecahan masalah itu. Sedangkan orang bertipe badak tidak akan melihat situasi dalam mengambil keputusan, yang ada dalam kacamatanya hanya maju ke depan, berani dan berani…. Segala sesuatu yang menghalangi akan diterjang. Cula digunakan untuk menghadapi segala sesuatu yang menghalangi jalan.

Tata busana pada tokoh punakawan Curis yang  hanya memakai dodot atau kain yang dililitkan untuk menutupi badannya sebenarnya hanya sebuah kiasan saja. Karena busana  asli Curis terletak pada dirinya sendiri yaitu tingkah laku atau perbuatannya. Sebagai manusia Curis sudah termasuk ke dalam golongan Zuhud, dimana seseorang lebih mengutamakan cinta akhirat dan tidak terlalu mementingkan urusan duniawi. Materi dan dunia ini hanya bersifat sementara, hanya sarana untuk mencapai tujuan hakiki, yaitu sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.

Selain busana yang dikenakan sangat sederhana, tokoh punakawan Curis juga membawa sebuah senjata berupa sabit (arit, Jw) yang disisipkan di bagian pinggangnya. Di balik itu semua, sabit juga memiliki makna tersendiri. Sabit biasanya digunakan masyarakat pedesaan untuk kegiatan ngarit (mencari rumput untuk memberi makan ternak). Ngarit juga bisa dikaitkan dengan ngaridho, mencari ridho dari Sang Pencipta. Sehingga dia akan meninggalkan apa yang Allah benci dan menjalankan semua yang Allah perintahkan tanpa terkecuali. Dia akan sangat takut jika Allah menjadi murka karena cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada dunia dan seisinya.

Penempatan senjata sabit berada di belakang selain menjadi simbol kepatuhan terhadap ndoro-nya, juga mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang kita miliki, baik harta benda, pengetahuan, kemampuan dan lain-lain bukan menjadi suatu hal yang patut untuk dipamer-pamerkan. Sifat pamer adalah menunjukkan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan untuk menyombongkan diri (riya). Meski sifat pamer dengan segala bentuknya adalah perilaku yang manusiawi, apalagi manusia sejak anak-anak sepertinya memang sudah digariskan untuk menampilkan apa yang menjadi kebanggaannya. Terlebih dalam era digital seperti sekarang ini sosial media seakan memberi wadah untuk menghalalkannya, maka sejak itu pamer justru menjadi kebutuhan. Namun bagi mereka yang masih “seneng dikeploki (diberikan tepuk tangan/sanjungan) adalah orang-orang yang rata-rata belum cukup menep (dewasa) untuk mampu mengenali arti hakikat kehidupan. Mereka belum khatam mengenali diri sendiri. Mereka belum cukup memiliki karakter diri kuat yang pantas untuk disimpulkan sebagai sebagai manusia matang. Mereka belum sampai tingkat menjadi pribadi yang mengenali potensi dan kemampuan diri yang sebenarnya, untuk kemudian diaktualisasikan dan diniatkan untuk kemaslahatan pribadinya dan orang lain.

Itulah sedikit keistimewaan tokoh punakawan Curis yang merupakan gubahan para Wali Songo dan para pujangga dalam syiar agama Islam di tanah Jawa, khususnya daerah Cirebon dan sekitarnya dengan perantara wayang kulit purwa. Kepribadian Wali Songo yang sederhana baik dalam berbusana, berbicara, dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari mereka tuangkan, salah satunya kepada tokoh punakawan Curis. Disinilah Islam yang dikenalkan oleh para Wali Songo dengan sederhana dan penuh dengan kedamaian.

KASULTANAN DI CIREBON DAN PUSAKA-PUSAKANYA, seperti yang tampak pada peninggalan-peninggalan budayanya, pusaka-pusaka Keraton Cirebon juga menyimpan jejak-jejak leluhur negeri asalnya, Kerajaan Pajajaran. Kebanyakan pusaka utama keraton-keraton Cirebon berupa kujang. Terlebih suksesi kekuasaan keraton di Cirebon memang tak menggunakan pusaka berupa keris maupun tombak sebagai simbol legitimasi kekuasaan. Tak ada misal keris Kangjeng Kiai Joko Piturun seperti di Yogyakarta. Suksesi hanya berdasarkan kelaziman, bahwa pengganti seorang raja adalah anak laki-laki tertua dari permaisuri. Banyak pusaka kujang, yang masih tersimpan sebagai pusaka inti di almari-almari pusaka Keraton Kasepuhan, Kanoman, maupun Kacirebonan.

Memudarnya ketiga keraton di Cirebon sebenarnya sudah terjadi sejak jaman kolonial pada tahun 1906 dan mencapai puncaknya pada tahun 1926, ketika kekuasaan para Sultan dihapus dengan disahkannya Gementee Cheirebon. Derita itu semakin lengkap ketika pada tahun 1960 keluar Undang-Undang Landreform yang memasukkan tanah-tanah milik ketiga keraton Cirebon sebagai milik pemerintah. Akibat pemberlakukan UU tersebut, keraton Kasepuhan kehilangan tanah seluas 1224 hektar, keraton Kanoman kehilangan 1171 hektar dan Kacirebonan barangkali menjadi salah satu keraton terkecil di Indonesia, yang luasnya hanya 3 hektar. Bisa dibayangkan akibatnya bagi keraton-keraton tersebut, tida ada pemasukan dari hasil bumi, yang selama ini menopang kelangsungan hidup keraton

Saat ini Kacirebonan memang sudah tak banyak pusaka. Pusaka Kacirebonan banyak bertebaran di masyarakat. Pada saat tahun 1960 diberlakukan UU Swapraja, Keraton Kacirebonan merasa bahwa keraton mungkin akan dibubarkan. Sehingga, keraton mengantisipasi dengan bagi waris. Aset-aset tanah keraton pun dibagi, termasuk pusaka-pusakanya.

PAMOR KELENG, kêlêng dalam bahasa Jawa berarti hitam (cenderung glossy). Istilah pamor Keleng biasanya digunakan untuk menyebut suatu bilah keris, tombak, pedang, kujang atau tosan aji lain yang pamornya tak nampak sama sekali. Tosan aji yang berpamor keleng selain mengutamakan kematangan tempa biasanya juga menitik-beratkan pada kesempurnaan garap.

Garap yang dimaksud disini meliputi keindahan bilah, termasuk detail ricikan-nya. Sehingga banyak digemari oleh para penikmat garap. Pamor keleng juga bisa menjadi bahasa tingkat kematangan lahir dan batin sang Empu. Kedalaman batin diterjemahkan dalam bilahnya yang berwarna hitam polos tanpa putihnya “bedak” pamor, mengisyaratkan jika sang Empu sudah menep (mengendap) hatinya dari pencemaran duniawi. Pamor keleng mampu menjadi inspirasi tentang sebuah ketulusan atau keikhlasan. Tuahnya susah dibaca, hanya mereka yang mengetahui ilmu esoteri saja yang bisa membaca. Namun ada juga yang beranggapan keris keleng mempunyai kekuatan esoteri yang lebih multifungsi.

CATATAN GRIYOKULO, Karakter dasar seorang tokoh Curis dengan ciri khas kepala kecil, mempunyai leher panjang, berbadan gemuk dengan sabit di pinggangnya serta proporsi perbandingan tubuh dengan bagian-bagian lain digarap secara detail. Kesemuanya masih terlihat sangat utuh ditambah tempa-lipat yang prima menjadikannya “hidup”. Haruslah diakui sang Guru Teupa (Empu, Jw) sukses memberikan “jiwa” pada kujang ini. Indah sekaligus wingit, perpaduan yang biasanya sukar untuk menyatu.

Jika dalam dunia perkerisan mengenal istilah keris nom-noman PB dan HB dengan kualitas garap empu ndalem dengan mas kawin berlipat di atas rata-rata keris pada umumnya, bisa puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Maka kujang wayang seperti inilah yang tergolong kujang nom-noman garap dalem (Cirebon).

Namun sedikit berbeda nasib dengan saudaranya, Kujang nom-noman agaknya masih belum mendapatkan antusiasme dan penghargaan dalam bentuk mas kawin sebesar keris. Pasarnya terbilang sangat ekslusif (terbatas), dalam pengamatan Penulis lebih banyak dicari/disimpan oleh kolektor yang mempunyai darah Siliwangi (berasal dari Jawa Barat).

Salah satu sebabnya adalah kujang tampilannya tidaklah “segemebyar” keris, yang ada kalanya memakai kinatah emas full (kamarogan). Misalpun ada, itupun serasah di bagian-bagian tertentu semisal lubang/mata dan mahkota yang hanya terdapat pada kujang jenis “langitan”, seperti cangak/wayang. Pola kinatah pada kujang biasanya lebih berupa cukitan-cukitan yang memberi aksen untuk menegaskan bentuk tertentu seperti pada kujang Curis ini. Setali tiga uang dengan pamornya, variasinya tidaklah sebanyak keris. Kebanyakan hanya dalam bentuk garis-garis, itupun lebih banyak yang putihan/tidak diwarangi. Demikian pula sandangan yang dipakai kujang lebih banyak tampil dalam bentuk yang kelewat sederhana. Berbeda dengan keris, semisal selut dan pendhok saja sudah sangat mendukung untuk bisa merias diri tampil dengan berbagai atribut kemewahan, mulai dari taburan berlian, berbagai macam batu mulia hingga bahan-bahan material yang premium dan langka seperti emas, suasa dan gading, tentulah sangat menggoda keimanan siapapun yang melihatnya.

Namun Penulis yakin pada saatnya nanti kujang akan bangkit dan mendapat tempat yang tidak kalah terhormat dari keris atau tombak. Kapan lagi Panjenengan berkesempatan untuk mengkoleksi pusaka top dari Kacirebonan jika tidak sekarang?

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *