Kebo Dhendheng

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6.060,606,-(TERMAHAR) Tn. BR Cilegon, Banten


1. Kode : GKO-423
2. Dhapur : Kebo Dhendheng
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Cirebon Sepuh (Abad XV)/ Jenggolo?
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 391/MP.TMII/III/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Cilacap, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 32,4 cm, panjang pesi 6,4 cm, panjang total 38,8 cm
8. Keterangan Lain : dhapur langka


ULASAN :

KEBO DHENDHENG, menurut Tabel Ciri Dhapur yang terdapat dalam Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar karangan alm Haryono Haryoguritno, dhapur Kebo Dhendheng mempunyai ciri-ciri : keris lurus  atau luk lima dengan gandhik lugas sangat condong. Selain itu dhapur Kebo Dhendheng memiliki kekhasan pada bentuk tikel alis dan sraweyan masing-masing rangkap dua panjang yang menjadi kruwingan hingga  ujung bilah. Di zaman dahulu dhapur keris ini khusus dikenakan bagi penguasa daerah, atau abdi dalem (bumijo) yang menjalankan atau mewakili titah Raja yang berkaitan dengan tanah dan tanaman agar rejo (makmur). Tidak seperti Kebo Lajer atau Kebo Teki yang sering ditemui hingga ke pelosok-pelosok dusun, dhapur Kebo Dhengdheng termasuk varian dhapur keluarga Kebo/Mahesa yang jarang dijumpai. Pada zaman dulu keris-keris ini dipercaya mempunyai tuah untuk mengusir hama dan penyakit.

FILOSOFI, Kebo tidak lain adalah Kerbau, Dhengdheng atau Dhandheng berarti suka berpergian (kemana-mana). Sebagai penduduk negara agraris siapa yang tak mengenal kerbau? Masyarakat Nusantara sudah mengenal kerbau sejak zaman neolitikum. Setelah kebudayaan Hindu dan Buddha mulai masuk dan diterima di Indonesia, hewan ini kerap tertera dalam prasasti, kitab kesusastraan, relief-relief candi, juga arca-arca kuno. Namun, kini keberadaan kerbau sebagai penarik bajak tergeser oleh kemudahan mesin traktor berbahan bakar minyak. 

Relief kerbau diantaranya terdapat di Candi Borobudur dan Candi Sojiwan. Kerbau pada masa lalu adalah tokoh dalam pengajaran moral dan budi pekerti di masyarakat Jawa. Banyak cerita rakyat menggunakan tokoh kerbau. Relief bercerita di dua candi itu membuktikan metode pembelajaran masyarakat tradisional dekat dengan dunia imajinasi-ekologis: mengambil tokoh-tokoh hewan dan simbol-simbol alam. Pada era kerajaan Jawa masa lampau, seperti semasa kerajaan Majapahit, kerbau dianggap sebagai lambang kekuatan masyarakat kecil yang luar biasa. Sejarah membuktikan, jika sampai rakyat marah maka tidak ada kekuatan apapun yang bisa membendungnya. Itulah salah satu sebabnya, jalma pinilih pada masa kerajaan dahulu menyandang nama kerbau, seperti Kebo Kenongo, Kebo Kanigoro, Kebo Marcuet, dan lain sebagainya.

Makna politis kerbau dalam kekuasaan bisa kita tilik melalui uraian Raffles dalam The History of Java. Orang Sunda menyebut kerbau dengan nama munding, orang Jawa menyebut dengan nama maesa atau kebo. Sebutan munding itu dijadikan penghormatan untuk jasa seorang pangeran, sosok pemula dalam memperkenalkan cara bertani. Konon, para pangeran dan bangsawan di Sunda mendapati gelar mengacu pada sebutan maesa lalean dan mundingsari. Peran kerbau dalam geliat peradaban Jawa turut menentukan eksistensi para penguasa Jawa. Kultur sawah dan peran kerbau menjadi ukuran kemakmuran desa, pengejawantahan praktik kekuasaana elite. Sejarah kerajaan-kerajaan di masa lampau dalam politik pangan ditopang peran dan pengaruh kerbau.

Bagi masyarakat Jawa, kerbau dianggap sebagai raja kaya yang mendatangkan banyak manfaat karena bisa memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia. Selain itu kerbau juga kerap dihubungkan dengan kesuburan tanah karena merupakan hewan yang paling cocok untuk membajak sawah. Di pulau Jawa juga terdapat upacara adat yang menggunakan kepala kerbau untuk dikorbankan bersama beberapa sesaji lainnya. Setelah upacara selesai, sesajian dan kepala kerbau tersebut dihanyutkan ke laut dengan maksud sebagai penolak bala dan media permohonan doa kepada penguasa laut. 

Kerbau dalam kepercayaan masyarakat Jawa merupakan patron bagi pertanian. Kerbau mencerminkan kekuasaan dan kebudayaan agraris. Kerbau juga menjadi simbol dari mentalitas rakyat di hadapan penguasa dan alam. Kebermaknaan kerbau tampil sebagai representasi dunia nilai dan pandangan hidup kaum petani di Jawa. Kerja di sawah, merawat kerbau, merayakan hidup dalam kemakmuran adalah idealitas peradaban agraris. Kerbau jadi simbol etos kerja, tanda gerak pertanian dan nasib petani.

EMPU CIREBON, Menyebut Cirebon, orang kini seolah sudah lupa membayangkan jejak kebesarannya di masa lalu sebagai kota pelabuhan dan kerajaan pesisir yang termasyur, tetapi saat ini justru lebih kerap menggunjingkan hal-hal yang berbau mistis, sesuatu yang lazim melekat di daerah yang pernah punya pengaruh dan kharisma besar pada masanya.

Empu-empu yang berkarya di daerah Cirebon awal (sepuh) diperkirakan mempunyai hubungan dengan cerita berpindahnya para Empu Pajajaran. Dalam sejarahnya para Empu di Cirebon kebanyakan berasal dari Pajajaran yang bermigrasi/mengasingkan diri. Konon mereka ini kebanyakan difitnah oleh para petinggi kerajaan karena kedekatan hubungan para Empu kepada Raja sehingga menjadikan para petinggi kerajaan takut kehilangan kedudukan/perannya. Oleh karena itu apa yang dibabar oleh para Empu Cirebon adalah pusaka yang sebenarnya diorientasikan untuk membalikkan fitnahan dari para petinggi Pajajaran, seperti Bango Tulak, Setan Kober dan Tundung Mungsuh.

Secara singkat juga dijelaskan pada tahun 1150 hingga 1180 Masehi, para Empu di Cirebon belum/tidak mengabdi kepada seorang Raja. Sebab dalam catatan kuno saat itu tidak diterangkan apakah Cirebon sudah menjadi suatu kerajaan yang berdikari atau belum. Hanya tercatat jika kemudian beberapa Empu yang berkarya di daerah tersebut melanjutkan migrasinya ke pulau seberang. Dan dalam perkembangan berikutnya, budaya tosan aji yang berkembang di Cirebon mempunyai kekhasan yang unik, banyak terpengaruh akulturasi tiga budaya, yakni Islam, Hindu-Budha dan Tiongkok.

Para empu yang melegenda kala itu salah satunya ialah Empu Bayuaji. Konon dalam kisahnya Empu Bayuaji bertempat-tinggal di pinggir hutan, yang setiap harinya bergaul dengan hewan-hewan atau binatang buas yang hidup di hutan tersebut. Malahan dalam cerita, Empu Bayuaji menjadi guru dari jin-jin prewangan yang ada di hutan tersebut. Konon dengan bantuan jin-jin tersebut lahirlah keris Kiai Setan Kober milik Arya Panangsang yang terkenal panas itu. Namun ada versi lain yang mengatakan bahwa Kiai Setan Kober hanya anekdot dari gambaran betapa ampuhnya keris Kiai Setan Kober itu. “Tan kober sambat“, artinya orang yang meskipun hanya tergores sedikit saja akan langsung dijemput ajalnya, tanpa sempat mengaduh.

Empu yang lain adalah Empu Damarjati. Berseberangan dengan Empu Bayuaji, Empu Damartaji tidak mau bahkan menentang jin-jin mendekat. Tanpa bantuan jin-jin pun Empu Damarjati mampu membuat  keris-keris hebat yang bernama Kiai Sabuk Lonthang dan Kiai Lamak Godong. Tetapi lantaran selalu diganggu jin-jin, Empu Damarjati ini akhirnya berpindah ke Timur. Maksud dari ke Timur bisa saja ke Majapahit atau bandar laut terbesar waktu itu, yakni Tuban.

Selain itu pada zaman Majapahit terdapat seorang Empu bernama Wanawasa, putra dari Empu Dana, yang pindah dari Karang ke Cirebon. Namun kala itu Empu Wanawasa hanya membuat pedang saja, tidak membuat tombak maupun keris. Terdapat pula cerita pada zaman Mataram Sultan Agung, 800 empu dikumpulkan (Pakelun). Ada seorang Empu bernama Empu Mayi putra dari Empu Pengasih di Karang. Setelah tugasnya selesai ia tidak kembali ke Karang, melainkan menetap di Cirebon.

GONJO MAS KUMAMBANG, adalah pamor yang terletak di bagian gonjo. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis mirip dengan kue lapis. Jumlah lapisannya pun beragam, ada yang hanya dua atau tiga lapis saja, namun ada pula yang sampai enam bahkan tujuh lapis. Namun jumlah lapisan tersebut tidak berpengaruh pada tuahnya hanya menunjukkan jumlah lipatan pamornya. Pamor Mas Kumambang ini menurut sebagian pecinta keris termasuk baik tuahnya. Pemilik keris dengan ganja semacam ini bisa bergaul baik dengan kalangan atas maupun bawah. Mereka yang dalam pekerjaannya banyak berhubungan dengan orang lain atau pihak ketiga, dianjurkan memiliki keris yang gonjo-nya berpamor mas kumambang ini.

PAMOR NGULIT SEMANGKA, disebut demikian karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka, yakni berupa beberapa garis lengkung dari bentuk garis lengkung terkecil kemudian melebar dengan lengkungan yang membesar, menunjukkan gerak yang teratur harmonis.

Dapat dikatakan bahwa lukisan garis-garis lengkung pada pamor ngulit semangka ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun). Menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible). Fase kehidupan yang kemudian berkembang untuk mencari jati diri, mau belajar dan menjalin kehidupan sosial agama. Yang nantinya akan membawa dirinya menuju ke dalam penyatuan diri melalui pasang surut  keadaan, dan pada akhirnya harus kembali ke asalnya.

CATATAN GRIYOKULO, tidak setiap waktu kita bisa menemukan salah satu dhapur keluarga kebo/mahesa yang sudah mulai langka, yakni kebo dhendheng. Ke-khas-an bentuk ricikan kebo dhendheng terdapat pada bentuk tikel alis dan sraweyan yang panjang menjadi kruwingan. Bentuknya memang terlihat wagu, dengan gandhik tinggi khas dhapur kebo-keboan yang miring serta lenggah atau condong leleh yang miring/menunduk dan bilah tidak terlalu panjang. Pamornya juga cenderung memenuhi bilah, warnanya putih kristal tidak terlalu terang. Besinya juga halus, sangat ringan tantingan-nya dan apabila disentil akan terdengar suara nyaring menunjukkan jika pusaka ditempa secara baik, demikian juga pilihan material yang ada bukan sembarangan.

Dengan bentuk gonjo yang tebal dan tinggi, tidak salah jika “lekuk tubuh” ini yang akan pertama dilirik oleh mata para pemerhati tosan aji. Di pasar tosan aji biasanya gonjo model “high heels” akan dilabeli dengan tangguh Jenggolo. Walau jika dirunut lebih kompleks tidak semua gonjo tebal dan tinggi harus bertangguh Jenggolo. Era Pajajaran dan Cirebon awal pun acapkali ditemukan. Terlepas dari perdebatan mengenai tangguh-nya ada yang mengatakan Jenggolo atau Tuban Jenggolo, era Pajajaran ataupun Cirebon Sepuh pusaka ini tetap menarik untuk dikoleksi.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *