Kujang Lanang

Mahar : 3.450,000,-


1. Kode : GKO-415
2. Dhapur : Kujang Lanang
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Pajajaran (Abad XIV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 261/MP.TMII/I/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Cirebon
7. Dimensi : panjang bilah 21,8 cm, panjang pesi  10,8 cm, panjang total 32,6 cm
8. Keterangan Lain : sudah dijamas, warangka baru


ULASAN :

KUJANG LANANG, bentuknya seperti tunas pohon. Sepintas pula, bentuknya mirip dengan kujang geni, namun apabila dicermati pada bagian bawah tadah lebih pendek dibandingkan kujang geni dan ujungnya tampak mengarah ke atas, selain itu kujang lanang tidak memiliki lubang/mata dan terkesan lebih ramping. Dilihat dari fungsinya Kujang lanang termasuk jenis kujang pusaka, digunakan sebagai simbol pelindung, keselamatan diri, keluarga bahkan masyarakat sekitarnya demi terhindar dari marabahaya yang mengancam.

FILOSOFI, secara tipologi bentuk kujang lanang menyerupai tunas pohon kalapa. Mendengar kata Kalapa/kelapa ingatan kita akan langsung dibawa pada memori kejayaan Sunda Kalapa (Capala), yang sejak abad ke-12 menjadi pelabuhan terpenting selain Bamtam (Banten), Pomdam (Pontang), Chegujde (Cigede), Tamgaram (Tanggerang), dan Chemano (Cimanuk) yang juga dimiliki kerajaan Pajajaran. Lebih jauh, Tome Pires yang pertama kali menginjakkan kakinya pada 1513 melukiskan kota pelabuhan Sunda Kalapa ini sebagai pelabuhan utama, sangat megah dan paling baik di antara pelabuhan-pelabuhan lain milik kerajaan Hindu-Pajajaran.

Kelapa merupakan tumbuhan palem yang berbatang tinggi, buahnya tertutup sabut dan tempurung yang keras, di dalamnya terdapat daging yang mengandung santan. Dan dari segala jenis buah, buah kelapa merupakan buah yang paling banyak menyimpan air. Bentuknya yang bulat dengan air di dalamnya, menjadi gambaran fisik kehidupan manusia ketika berada dalam rahim ibunya.

Masyarakat Sunda juga dikenal sebagai masyarakat penjaga sumber kehidupan (air). Sudah menjadi ciri khas masyarakat sunda jika nama sungai dan wilayahnya banyak diberi nama “Ci”, yang berarti air. Air menjadi ciri nama kepemilikan leluhurnya yang arif dan bijaksana yang harus dijaga oleh keturunannya. Ciliwung, Citarum, Cibeureum, Cisadane, Cianjur, Cirebon, Ciamis dan hampir semua tempat di negeri para Hyiang (dewa) ini bernama air. Air merupakan simbol kerendahan hati, mengalir membasahi keleluasaan dan kesempitan yang menyejukan bagi kaum atas sampai kaum yang paling bawah dan berahir pada kebersamaan dalam lautan kematian menuju sang Maha Kuasa Alam.

Kembali lagi kepada tipologi kujang lanang, bentuk tunas pohon kelapa melambangkan harapan akan generasi baru yang menjadi inti bagi kelangsungan hidup keluarga, masyarakat maupun bangsa. Mereka inilah nantinya yang akan mengambil peran utama, berada di barisan terdepan untuk meneruskan tugas orang tua/pendahulunya memberi manfaat kebaikan bagi siapapun.

Tunas yang tumbuh ke atas juga memiliki artian yang luas. Bukan persoalan fisik yang harus tinggi, namun hidup harus tumbuh mengambil segala tantangan yang menanti, karna di setiap ujian kita akan naik tingkatan. Tumbuh ke atas berarti pula kita harus terus berusaha untuk meraih mimpi, impian dan cita-cita setinggi mungkin. Setiap hari bertumbuh dan terus berkembang untuk menjalani hidup dan meraih tujuan. Tidak tumbuh ke samping, yang berarti kita jangan mau dibelokkan dari tujuan awal, yang akhirnya dapat menghadirkan ketidakseimbangan antara tujuan hidup dan godaan hidup.

Itulah kenapa jika kujang lanang dulunya banyak diberikan sebagai tanda cinta kasih seorang suami kepada istri, sebagai lambang perlindungan serta penjaga kehormatan juga sebagai wadah untuk mewujudkan segala keberkahan. Terutama keberkahan dalam jiwa, harta, dan anak-anak.

CATATAN GRIYOKULO, Secara kesuluruhan bentuk kujang ini masih cukup apik. Topologi dari sebuah tunas masih sangat terjaga dalam tiap-tiap lengkungnya. Demikian pula bagian tadah (lengkung pada bagian perut kujang) masih lancip ke atas mengimbangi pola lekuk bilahnya. Juga gerigi-gerigi yang ada di bawah tadah, yang mirip greneng pada keris juga masih tegas terbaca. Kujang memang artistik. Besinya yang hitam dihiasi pamor yang beras wutah yang kelem, cenderung nyanak. Tantingan-nya juga terasa sangat ringan. Sudah dijamas dan dibuatkan warangka baru. Panjenengan tinggal menyimpan dan meneruskan untuk merawatnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *