Tombak Dwisula

Mahar : 8.888,888,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen, Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-409
2. Dhapur : Dwisula
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII) / Singosari-Majapahit?
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 33/MP.TMII/I/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Temuan Sungai Bengawan Solo
7. Dimensi : panjang bilah 25,3 cm, panjang pesi 14 cm, panjang total 39,3 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

DWISULA, adalah  nama dhapur tombak yang bentuknya bercabang dua (biasanya panjang antara bilah yang satu dengan bilah yang lainnya sama panjang). Bentuk ragam dwisula ada banyak ragamnya, namun biasanya hanya terdiri dari satu jenis bentuk, misalnya bentuk bilahnya hanya lurus saja pada setiap bilah atau lekuk saja pada setiap bilah dengan jumlah lekuk yang sama antara bilah satu dengan bilah lainnya. Seperti halnya dengan trisula, dwisula tergolong populer dan menjadi salah satu jenus tombak yang banyak dicari orang, tetapi yang buatan lama (sepuh) sangat langka dijumpai.

FILOSOFI, tombak Dwisula memperhatikan bentuk keseimbangan sisi kanan maupun kiri, yang sejak zaman kuno menjadi sifat alami manusia dalam menempatkan dirinya terhadap alam sekitarnya yang menghendaki keseimbangan. Manusia lahir, belajar berdiri hinga berjalan membutuhkan keseimbangan. Rasa seimbang dirinya sendiri maupun seimbang dengan lingkungannya sudah menjadi naluriah yang kekal dalam jiwa manusia.

Rasa keseimbangan yang paling mudah dapat dicapai adalah bentuk yang simetri, seperti yang ada pada daun-daun, bunga-bunga, kupu-kupu dan lain-lain, semua ada disekitar kita. Kehadiran rasa keseimbangan diperlukan karena akan memberikan rasa ketenangan. Naluriah keseimbangan itu juga berpengaruh pada proses penciptaan karyaseni. Begitu pula dalam tosan aji, salah contoh konsep keseimbangan dalam tombak ada pada dwisula.

Bentuk dwisula ibarat akan selalu mengingatkan pemiliknya untuk selalu menjalani laku hidup yang seimbang. Lalu apa yang dimaksud dengan hidup seimbang? Hidup seimbang berarti hidup dengan menjaga dua bentuk keseimbangan, yaitu “dunia dan akhirat”. Dunia memang sangat berarti bagi manusia, karena merupakan ladang menuju Akhirat, yaitu tempat menanam. Banyak orang yang tergoda, bahkan terbuai mabuk dengannya, sampai meninggalkan kewajiban-kewajiban  yang harus ia kerjakan. Seperti seorang suami yang lupa akan kewajibannya untuk menafkahi istri dan anaknya atau sebaliknya seorang anak terlena sampai lupa kewajibannya untuk menghormati dan mendoakan orang tuannya. Begitu juga Pejabat/Pemimpin yang  tersihir oleh gemerlapan dunia sampai ia lupa tanggung jawabnya terhadap rakyatnya. Ulama pun kadang ada yang terlena akan kemegahan dunia sampai berani menjual ayat-ayat. Itulah dunia selalu memanggil-manggil dan mencoba merayu siapapun agar terjerat di dalamnya.

Maka beruntunglah orang yang selalu ingat tujuan hidupnya, ia selalu waspada dan mengarahkan dirinya agar tak terkena racun dunia, sehingga kesempatan hidup di dunia ini dipergunakan sebaik mungkin. Karna baginya dunia adalah ladang bagi akhirat.

Apakah suatu kebetulan jika salah satu pusaka yang dimiliki Kanjeng Sunan Kalijaga dulunya juga merupakan sebuah tombak dwisula? dimana saat ini peninggalan tersebut masih bisa kita saksikan di Museum Pusaka TMII.

TENTANG TANGGUH, Cirebon bisa dikatakan memang gudangnya tombak yang unik-unik. Sejarah juga pernah mencatat pada rentang waktu 1700-1880 terjadi perlawanan massal (Perang Kedongdong) terhadap kolonial Belanda di Jawa Barat, sekitar Cirebon hingga Majalengka. Pada masa Sultan Matangaji atau Sultan Sepuh V di abad ke-18 inilah beraneka macam tombak diproduksi secara massal. Hingga saat ini tombak Dwisula pun masih dapat kita temui di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Pada saat upacara kebesaran maupun upacara keagamaan Keraton tombak dwisula juga masih disertakan dalam pasukan pengawalan.

tombak dwisula koleksi museum pusaka keraton kasepuhan cirebon

Namun apabila kita mau sedikit “mengulik” dengan memperbandingkan bentuk lengkung kurva dwisula yang ada di Cirebon dengan dwisula ini, terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Pada tombak-tombak dwisula cirebon bentuk lengkung kurva seperti huruf U dan cenderung persegi, sedangkan pada dwisula ini huruf U nya lebih menutup seperti tanduk rusa. Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah bentuk penampang bilah; pada tombak dwisula cirebon tampak kecil di lengkungan bawah dan melebar kemudian seperti ron pring (daun bambu) dengan permukaan nggigir sapi, sedangkan pada tombak dwisula ini cenderung rata semuanya khas tangguh sepuh. Sangat berbeda pula dengan dwisula-dwisula primitif temuan umumnya (tewek punukan), yang dimensinya lebih kecil dimana bentuknya menyerupai huruf Y atau gagang blandring (ketapel).

Demikian pula bentuk pesi tombak dwisula ini yang cenderung kotak, mirip keris-keris era singosari/kabudhan. Bentuk pesi kotak memang disinyalir akan lebih mempunyai keunggulan teknis jika dipergunakan untuk menusuk/menghantam, karena tidak mudah membuat bilah “melintir” dari landeyannya, bila dibandingkan bentuk pesi bulat. Selain itu tombak dwisula ini masih menampilkan sisa-sisa pamor yang “pandes“. menandakan benar-benar ditempa-lipat ratusan bahkan ribuan kali.

Sebagai informasi pelengkap, jika dengan menilik pada tangguh geografis berdasarkan tombak ini terakhir ditemukan oleh penambang pasir tradisional berada di jalur sungai Bengawan Solo, yakni di daerah Bojonegoro akan sangat dimungkinkan jika tombak dwisula ini berasal dari era/tangguh yang lebih sepuh dari yang tertulis pada surat keterangan. Mungkinkah berasal dari era Singosari hingga Majapahit?

PAMOR BERAS WUTAH, Pamor merupakan penampakan dekoratif pada permukaan bilah yang dihasilkan dari proses penempaan dan pelipatan besi, baja dan bahan pamor. Keaneka-ragaman corak dekoratif itu selain memiliki fungsi estetika (keindahan) juga sering diangap sebagai simbol. Suatu penggambaran akan doa, pengharapan dan cita-cita tertentu.

Pada masa lampau keberhasilan sektor pertanian selalu menjadi simbol kemakmuran dan indikator ketahanan suatu negeri. Bahkan kredo ‘gemah ripah loh jinawi‘ menggambarkan betapa makmur dan sejahteranya masyarakat jaman itu. Hidup dalam nafas kemanusiaan yang harmoni, damai, toleran dan selalu berbuat kebajikan. Beberapa pemimpin besar masa silam khususnya Raja, bahkan lahir dari kalangan petani. Sebagai masyarakat agraris ikatan emosial dengan kehidupan pertanian menjadi demikian kental. Chemistry (ikatan emosional) itu memunculkan inspirasi untuk menciptakan beberapa dhapur dan pamor yang berkaitan dengan kondisi alam dengan bentuk-bentuk yang diilhami oleh flora dan fauna yang akrab dengan kehidupan masyarakat agraris. Maka dari itu banyak tosan aji yang dibuat dengan maksud khusus dan diyakini memiliki tuah yang berkaitan dengan kemakmuran, semisal pamor wos wutah.

Secara denotasi wos wutah adalah beras yang tumpah dari tempat penyimpanannya (karena terlampau penuh isinya). Sedangkan secara konotasi dalam pamor wos wutah terkandung rasa ucapan syukur atas berkat rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan Semesta Alam. Rasa syukur atas hasil yang diperoleh dari perjuangan panjang memeras keringat, rajin dan tidak pernah menyerah dalam merawat tanaman padi agar menghasilkan produksi panen yang berlimpah. Bukti dari sebuah totalitas nyata seseorang dalam perjuangannya memberikan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat dan negerinya.

CATATAN GRIYOKULO, Sebagai tombak temuan, dwisula ini terbilang masih super utuh, satu lagi sebuah artefak terangkat dari bumi pertiwi yang pernah pula mengiringi perjalanan bangsa ini dapat terselamatkan. Bagian methuk adalah bagian paling unik, setidaknya penulis belum pernah melihat bentuk yang sama di internet, koleksi museum, foto-foto pameran maupun buku/katalog, karena dibungkus dengan suatu logam (perunggu?) menjadikannya layak menyandang gelar kolektor item. Di keraton Cirebon sendiri ukiran di pangkal Dwisula (atas methuk) merupakan penanda perbedaan untuk ciri khas pasukan tertentu.

Siapapun yang berhadapan dengan tombak dwisula ini akan selalu dibuat penasaran untuk mengetahui isi di dalam tutupnya. Dan mereka yang telah berkesempatan melihat langsung telah memberikan berbagai respon positif  sebagai tanggapan atas kekagumannya secara eksoteri maupun esoteri. Bagaimana dengan anda?

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *