Sodo Sa’ler

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950,000,- (TERMAHAR) Tn. AHP, Gatsu – Jakarta


1. Kode : GKO-408
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Sodo Sa’ler
4. Tangguh : Tuban Majapahit (Abad XIV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 32/MP.TMII/I/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Pekalongan, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 38,5 cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 44,5 cm
8. Keterangan Lain : mendhak perak


ULASAN :

TILAM UPIH, adalah nama dhapur keris lurus yang sederhana. Gandik-nya polos, hanya mempunyai dua ricikan saja, yakni tikel alis dan pejetan. Karena model ricikan-nya relatif sederhana alias tidak neko-neko, menjadikannya lebih banyak orang yang bersedia memakainya hingga sekarang relatif lebih mudah diketemukan dan banyak tersebar di dalam masyarakat. Dengan kata lain dhapur keris yang cukup populer dan relatif bisa dijumpai pada setiap tangguh/era, mulai dari tangguh sepuh sanget hingga era kamardikan sekarang ini.

Keris dhapur Tilam Upih tergolong jenis keris yang bukan pemilih, sehingga dapat dikenakan oleh semua masyarakat umum hingga para bangsawan. Pada umumnya keris ini dikenakan oleh mereka yang sudah berkeluarga, atau mereka yang telah lanjut usia, namun juga tidak menutup kemungkinan dikenakan oleh mereka yang masih muda. Di dalam gedong pusaka keraton Yogyakarta sedikitnya ada tiga keris pusaka yang ber-dhapur Tilam Upih, yaitu Kanjeng Kiyahi Pulanggeni, Kanjeng Kiyahi Sirap, dan Kanjeng Kiyahi Sri Sadono.

Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) bersama dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) dibabar pertama kali oleh Empu Brama Kadhali pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka.

FILOSOFI, Menurut ilmu simbol perkerisan dari Sunan Kalijaga yang ditulis di dalam Serat Centhini, Tilam Upih adalah lambang dari cinta dan kelembutan wanita. Mengandung makna pasemon jika seseorang telah mencintai keris sikapnya bagaikan orang yang mencintai  seorang perempuan yang menjadi garwa (istrinya), dimana ingatan pikirnya selalu tertuju kepadanya. Pada sisi lain, ada sebuah komitmen atau pengorbanan (waktu, tenaga, biaya) untuk merawatnya dengan baik.

Dhapur Tilam Upih juga dianggap baik dimiliki bagi mereka yang sudah berumah tangga, akan cocok bagi siapapun, setia mendampingi berjuang dari awal, dalam suka maupun duka. Yang diumpamakan mempunyai karakter sebagai estri, yang penuh cinta dan kasih sayang (ngademke). Seperti layaknya seorang wanita, cantik, anggun, luwes, penuh kasih sayang mampu meredam keangkeran, ego, emosi /kekerasan namun tetap kuat dan landhep

Karena kesederhanaan bentuk dan filosofi yang mendalam, dalam peristiwa penting seperti perkawinan, keris dhapur Tilam Upih diberikan sebagai kancing gelung/cunduk ukel, dimana pada jaman dahulu orang tua pihak mempelai perempuan mempunyai kewajiban yang paling utama untuk memberikan keris pusaka kepada mempelai pria sebagai Kancing Gelung. Seandainya pihak mempelai wanita tidak mempunyai, maka keluarga dari mempelai pria yang dianggap punya kewajiban untuk memberikan pusaka sebagai Cundhuk Ukel. Saat perang, keris pemberian mertua ini umumnya dibawa ke medan laga dan diletakkan di pinggang bagian kiri.

prajurit jawa, sumber : The History of Java, Raffles 1817

TANGGUH TUBAN MAJAPAHIT, Yang menarik dari Tuban, setiap pergantian kekuasaan di tanah Jawa, Tuban selalu terlibat, atau setidaknya dilibatkan. Hal ini barangkali tidak lepas dari letak posisinya yang strategis sebagai bandar pelabuhan terpenting di pantai Utara Jawa. Menilik riwayat masa lampaunya Tuban memang sebuah kota tua yang sempat mengalami fase timbul tenggelam dalam perjalanan sejarahnya. Letak geografisnya yang sangat menguntungkan, merupakan modal utama untuk berkembang sebagai kota pelabuhan. Jalan yang memotong dan mudah ditempuh dengan melalui darat menuju ke selatan, zaman dahulu telah menjadikan Tuban sebagain pintu gerbang bagi daerah hulu sungai-sungai besar di Jawa Timur, seperti Bengawan Solo dan Brantas. Yang pasti ialah bahwa kedua sungai besar ini, yang menghubungkan timur, barat, dan selatan, benar-benar merupakan faktor yang sangat penting baik secara politik, ekonomi, dan sosial di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Pada masa Majapahit inilah Tuban mencapai masa keemasannya sebagai kota pelabuhan utama bagi imperium Majapahit. Laporan Ma Huan yang mengiringi Cheng Ho dalam pelayaran ke-3 (1413-1415), mencatat bahwa jika orang Cina pergi ke Jawa, kapal-kapal lebih dulu sampai ke Tuban, baru kemudian meneruskan perjalanannya ke Gresik, kemudian dilanjutkan ke Surabaya, kemudian dari sana baru menuju ke pusat kerajaan Majapahit (sekarang di daerah sekitar Mojokerto) dengan memakai perahu kecil lewat sungai Brantas. Dari sumber Cina yang lain, dikatakan bahwa dua orang komandan tentara Mongol (dinasti Yuan 1279 – 1368) yang bernama Shi Phi dan Kau Shing (1292) mendarat di Tuban dalam ekspedisinya ke Jawa.

Maka pada dasarnya, keris tangguh Tuban melingkupi era kerajaan-kerajaan yang membawahinya. Ketika masih zaman Kediri sebelum Singosari disebut tangguh Tuban Jenggala. Yang dibuat pada masa Majapahit atau Pajajaran disebut tangguh Tuban Majapahit atau Tuban Pajajaran, hingga adapula keris tangguh Tuban Mataram, yaitu keris Tuban yang dibuat pada masa Kerajaan Mataram. Suksesi dari Medang-Kahuripan, Jenggala, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram yang merentang ratusan tahun lamanya, langsung maupun tidak langsung juga mempengaruhi wujud dan mutu keris-keris Tangguh Tuban.

Mas Ngabehi Wirasoekadga dalam bukunya ‘Serat Panangguhing Duwung‘, salah seorang abdi dalem mantri pande di Surakarta Hadiningrat, mencatat beberapa empu tangguh Tuban dimana diantaranya; Empu Ki Panekti, Empu Ki Soeratman, Empu Ki Modin, Empu Ki Galatia, Empu Ki Bekel Jati, Empu Ki Supadriya, dan Empu Ni Mbok Sombro.

PAMOR SODO SA’LER, adapula yang menyebutnya dengan “sodo lanang”. Sodo adalah lidi, Sa’ler adalah satu batang, arti harfiahnya adalah Lidi Sebatang. Sesuai dengan namanya gambaran motif pamornya berupa garis lurus membujur sepanjang tengah bilah.

Menurut Serat kuno berjudul Pakem Pusaka (Duwung, Sabet, Tombak) yang ditulis oleh oleh R.Ng Hartokretarto (1964) berdasarkan babon asli peninggalan R, Ng Ronggowarsito dituliskan ternyata pamor sodo sa’ler merupakan ageman priyayi bukan untuk orang sembarangan agar supaya selalu beruntung dan lebih baik. Bahkan jika ditorehkan di pedang yang memakainya sepatutnya seorang Senapati.

Oleh masyarakat perkerisan tuah pamor sodo sa’ler juga dipercaya untuk menambah kewibawaan, menaikkan tingkat kepercayan diri, untuk ketenaran (popularitas), menambah keteguhan hati, dan kuat iman, serta sebagai pagar pertahanan diri dan untuk mengusir kekuatan jahat. Bahkan di kalangan pemburu esoteri, untuk urusan asmara sangatlah kondang “Jaran Guyang” untuk dhapur-nya atau “Sodo Lanang” untuk pilihan pamor-nya.

GONJO KENDIT MIMANG atau KENDIT SERET, sebutan bagi gonjo keris yang memakai pamor berbentuk sebuah garis membujur pada badan gonjo, bisa lurus bisa agak miring, bisa tipis maupun tebal. Oleh sebagian orang, keris dengan gonjo kendit dipercaya memiliki tuah atau angsar yang dapat membuat pemiliknya aman dari gangguan pencuri, sehingga bisa dipakai untuk menjaga harta benda atau tempat usaha. Namun adapula yang meyakini gonjo kendit berkhasiat membuat pemilik keris ini mudah “mengikat” pengikut dan orang di bawah pengaruhnya dan besar keberuntungannya.

CATATAN GRIYOKULO, Keris-keris Tuban memang banyak identik dengan bentuk keris lurus. Kesederhanaan bentuk ini diyakini berkaitan dengan karakter masyarakat Tuban yang lugas dan blak-blakan. Dengan panjang bilah 38,5 cm dan dalam bentuk lurus menjadikan keris ini terasa birawa atau lebih besar dari keris jawa umumnya. Secara umum masih bisa dikatakan utuh dan gagah perawakannya. Pamor sada sa’ler-nya masih tampak tegas membujur dari sisi bawah sor-soran hingga ujung panitis berpadu manis dengan gonjo kendit mimang/kendit seret. Sedangkan pada wuwungan gonjo-nya (bagian gonjo yang terlihat ketika bilah dimasukkan dalam warangka) tampil tanpa pamor, seolah hendak menyembunyikan sang pusaka dari terawangan musuh/orang lain akan daya magis/tuahnya.

Bilah pada pusaka ini juga dilakukan perawatan dengan cara “di-sangling“, sebuah tradisi merawat pusaka yang umum di masyarakat Bali dan Lombok. Mereka mempercayai untuk “memelihara” keris secara fisik dan non fisik (agar tetap memancarkan getaran kekuatan daya magis), sebuah keris pusaka haruslah bersih dari karat, pamor tampak cemerlang, dan besinya mencapai tingkat warna yang pas (tidak gosong atau masak muda). Untuk itu dilakukan berbagai tindakan untuk “membersihkan” keris, termasuk pula menggosok dan mengasah, bahkan bila perlu mengamplas, sebuah proses yang tidak dilakukan dalam tradisi “mencuci” keris di Jawa (Surakarta dan Yogyakarta). Namun begitu proses “sangling” pada keris sepuh juga banyak ditemukan di daerah Jawa Barat (Sumedang). Umumnya keris hingga golok Sumedang Larang di-sangling juga.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *