Mundharang

Mahar : 3.333,333,-


1. Kode : GKO-410
2. Dhapur : Mundarang
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 87/MP.TMII/I/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Banjarnegara
7. Dimensi : panjang bilah 27,7 cm, panjang pesi  6,6 cm, panjang total 34,3 cm
8. Keterangan Lain : dhapur lumayan langka


ULASAN :

MUNDHARANG, atau adapula yang menyebutnya dengan Mendarang (Dalam Serat Centhini justru ditulis Mênjarang). Adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Sekilas mirip dengan dhapur keris Pasopati karena sama-sama memiliki bentuk kembang kacang yang pogog. Namun perbedaannya, dhapur Mundharang tidak memakai sogokan. Selain itu dhapur Mundharang memiliki kelengkapan ricikan lainnya, yakni : lambe gajah, jalen, tikel alis, sraweyan dan greneng.

Konon menurut mitos atau dongeng dhapur Mundharang bersama dengan dhapur keris lain seperti Panimbal, Jaruman, Sepokal, Naga Sasra, Sabuk Inten, Buto Ijo, dan Anoman pertama kali dibabar oleh 800 Empu yang dikenal dengan sebutan Empu Dhomas atas pemrakarsa Parabu Brawijaya Wekasan, pada tahun Jawa 1381. Keris Mundarang tergolong pula dhapur keris yang agak langka.

FILOSOFI, Mundharang secara harfiah merupakan sejenis gada pemukul yang besar di bagian ujungnya, seperti gada rujakpolo senjata yang digunakan oleh Bima ataupun yang terlihat dalam arca-arca dwarapala/gupala/reco penthung.

Berbeda dengan senjata perang di era modern saat ini yang didesain membunuh se”manusiawi” mungkin dan memastikan kematian datang dengan cepat tanpa rasa sakit. Maka berbeda 180 derajad para Ksatriya-ksatriya zaman dahulu justru malah sebaliknya, memilih senjata yang menimbulkan rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa bagi korbannya. Bahkan popularitas sebuah senjata justru diukur dari tingkat kebrutalannya.

Salah satu yang menakutkan adalah gada. Bentuknya yang terkesan sederhana saja seperti tongkat pemukul. Begitu simple namun seolah hanya diperuntukkan oleh mereka yang bernyali besar. Belum lagi bobotnya yang berat jika dipegang satu tangan, mengharuskan pemiliknya memiliki tenaga yang besar dan kuat pula. Tidak ada metode khusus untuk memegang senjata ini, selain menghajar bagian tubuh mana saja. Biasanya target yang menjadi sasarannya adalah kepala, lengan ataupun kaki. Sebuah pukulan tunggal dari gada sudah cukup meremukkan tengkorak atau mematahkan tangan dan kaki.

Dalam perang Bharata yudha dikisahkan gada Rujakpolo milik Bima merupakan senjata yang paling ditakuti tentara musuh, dan banyak membunuh para senopati-senopati pilih tanding pihak Kurawa diantaranya, prabu Nila, Duryodana, Dursasana dan ratusan Kurawa mati oleh gada ini.

Gada yang besar melambangkan keperkasaan dan ketangguhan serta kebijakan, yang dimaknai bahwa yang memegangnya adalah orang-orang yang tangguh serta bijak dalam menghadapi kehidupan. Tak gentar dan kuat dalam menghadapi segala rintangan yang ada. Bagi pemiliknya mundharang adalah simbol penegak tertib hukum.

Dalam Babad Pajajaran Dumugi Demak (Anonim, 1865) kisah mengenai keris Mundharang sedikit dituliskan bersamaan dengan keris Kalamunyeng, seperti pada penggalan Pangkur bagian 2 pupuh 1-7 berikut :

36. Kyai Kalamunyêng mêdal sangking wadhah | mubêng jabaning kori | mangkana wong Islam | sarêng mungsuhe dhadhal | kadhaton kinêpung kikis | prasamya mêrpak | lawang sami kinunci ||

37. kang prajurit prasamya ngrangsang bata | Ki Kalamunyêng aglis | nrajang mungsuh sura | kang samya ngrangsang bata | ting gadêbug dèn sundêpi | ewon kang pêjah | tan wruh sangkaning pati ||

38. sampun katur marang senapatinira | Sunan Kudus prihatin | angaturi nulya | Sunan Giri gya prapta | lan sakèhe para wali | sumăngga karsa | kawula tan kadugi ||

39. kang prajurit Islam samya kathah pêjah | tatune sami kêris | tanpa pinarjaya | samya tatu sadaya | ngandika Susunan Giri | jêbèng manira | iku kang duwe kardi ||

40. sakathahe pra wali lan pra ngulama | padha milua mami | marang pinggir bata | sapurining[18] kadhatyan | wus dhèrèk kang para wali | prapta susunan | angadêg adan sami ||

41. ing nalika adan Kalamunyêng nrajang | maju-maju kabalik | nglèprèh ibêrira | satêngahe ing adan | kang pra wali aningali | kêris kang prapta | cumlorot kadya thathit ||

42. pan lêligan kang dhuwung kêbat acukat | mêndarang dhapurnèki | wruh yèn kamanungsan | kang dhuwung nulya kesah | wangsul mring gènira lami | Sang Brawijaya | dènnya muja sêmadi ||datan kêna jinaluk mustikanira | Islam ingkang gumanti | alam tang linakyan | putra wus gama Islam | anulya mekrat sang aji |

Konon Sunan Giri berhasil mengusir pasukan Majapahit hanya dengan melemparkan sebuah kalam atau penanya. Kalam miliknya ini katanya berubah menjadi lebah-lebah yang menyengat. Sehingga membuat puyeng atau munyeng para prajurit Majapahit. Maka dikatakan, `kalam’ yang bisa membuat `munyeng’ inilah senjata andalan Sunan Giri. Maka dikenal dengan nama `Kalamunyeng’ . Sesungguhnya, ini hanya kiasan belaka. Sunan Giri, melalui tulisan-tulisannya yang mengobarkan semangat ke-Islam-an, mampu mengadakan pemberontakan yang sempat ‘memusingkan’ Majapahit.

Namun, karena Sunan Ampel meminta pengampunan kepada Prabhu Brawijaya, Sunan Giri tidak mendapat hukuman. Tapi gerak-geriknya, selalu diawasi oleh Pasukan Telik Sandhibaya (Intelijen) Majapahit. Inilah kelemahan Prabhu Brawijaya. Terlalu meremehkan bara api kecil yang sebenarnya bisa membahayakan.

Sabda Palon dan Naya Genggong sudah mengingatkan agar seorang yang bersalah harus mendapatkan sangsi hukuman. Karena itulah kewajiban yang merupakan sebuah janji seorang Raja. Salah satu kewajiban menjalankan janji suci sebagai AGNI atau API, yang harus mengadili siapa saja yang bersalah. Janji ini adalah satu bagian integral dari tujuh janji yang lain, yaitu :

  1. ANGKASHA (Ruang), Raja harus memberikan ruang untuk mendengarkan suara rakyatnya
  2. VAYU (Angin), Raja harus mampu mewujudkan pemerataan kesejahteraan kepada rakyatnya bagai angin
  3. AGNI (Api), Raja harus memberikan hukuman yang seadil-adilnya kepada yang bersalah tanpa pandang bulu bagai api yang membakar
  4. TIRTA (Air), Raja harus mampu menumbuhkan kesejahteraan perekonomian bagi rakyatnya bagaikan air yang mampu menumbuhkan biji-bijian
  5. PRTIVI (Tanah), Raja harus mampu memberikan tempat yang aman bagi rakyatnya, menampung semuanya, tanpa ada diskriminasi, bagaikan tanah yang mau menampung semua manusia
  6. SURYA (Matahari), Raja harus mampu memberikan jaminan keamanan kepada seluruh rakyat tanpa pandang bulu seperti Matahari yang memberikan kehidupan kepada mayapada
  7. CHANDRA (Bulan), Raja harus mampu mengangkat rakyatnya dari keterbelakangan, dari kebodohan, dari kegelapan, bagaikan sang rembulan yang menyinari kegelapan di malam hari
  8. KARTIKA (Bintang), Raja harus mampu memberikan aturan-aturan hukum yang jelas, kepastian hukum bagi rakyat demi kesejahteraan, kemanusiaan, keadilan, bagaikan bintang gemintang yang mampu menunjukkan arah mata angin dengan pasti dikala malam. Inilah DELAPAN JANJI RAJA yang disebut ASTHAVRATA (Jawa: Astabrata).

Dan menurut Sabda Palon dan Naya Genggong, Prabhu Brawijaya telah lalai menjalankan janji sucinya sebagai GENI/AGNI. Di sisi lain, mendapati kondisi memanas seperti itu, Sunan Ampel mengeluarkan sebuah fatwa, Haram hukumnya menyerang Majapahit, karena bagaimanapun juga Prabhu Brawijaya adalah Imam yang wajib dipatuhi. Setelah keluar fatwa dari pemimpin Islam se-Jawa, konflik mulai mereda.

TANGGUH CIREBON, Mas Ngabehi Wirasoekadga, Abdi Dalem Mantri Pande di Surakarta dalam Serat Panangguhing Duwung menjelaskan tangguh Cirebon : “Dhuwung ganja waradin iras, gulu meled cekak, sirah cecak buweng, buntut urang methit, seblakipun keras ampang, wasuhanipun madya, pamoripun kirang lulut, sekar kacang ngecambah dhuwung ingkang kathah alit-alit serta celak, punapa dene wesi jejeranipun iras kaliyan dhuwungipun, medala leres utawi luk srapatipun sami, sogokan gatra kados kasebut nginggil, dene dhapuripun kirang manggen, sajak dhapur seking”.

Secara eksplisit Wirasukadga menjelaskan jika kebanyakan keris-keris Cirebon baik dhapur luk maupun leres rata-rata berukuran kecil-kecil dan pendek, malah beberapa ada juga yang hulunya menyatu dengan bilah (seperti keris sajen). Secara kualitas garap, mulai dari cara wasuhan, besi hingga pamor semuanya biasa saja seperti halnya keris-keris tayuhan yang tidak mementingkan garap luar atau kedetailan ricikan melainkan ‘isi’ yang utama.  Wirasukadgo juga menduga seperti halnya ‘seking’ (tosan aji bentuknya seperti pisau pendek), keris cirebonan memang difungsikan untuk memudahkan pemiliknya jika harus ‘disengkelit dan diajak’ berpergian. Sejak dahulu Cirebon selalu menjadi pusat tasawuf dengan sinkretik yang kuat.

PAMOR BERAS WUTAH TIBAN, atau pamor Jwalana. Adalah pamor yang gambaran motifnya tidak direncanakan oleh sang Empu. Ia hanya menempa dan menempa sambil berdoa. Adapun hasil atau bentuk pamor yang akan muncul nantinya sebagai hasil tempa lipat ia serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Baginya pamor adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa.

CATATAN GRIYOKULO, di kalangan masyarakat perkerisan Jawa bagian barat, keris Mundharang sering dianggap sebagai Pasopati-nya urang Sunda. Terlebih memang keris-keris yang diperkirakan berasal dari tangguh-tangguh Pajajaran maupun Segaluh jarang yang memakai ricikan sogokan.

Meski bertampang sederhana, namun jika diperhatikan lebih detail pada bagian gandhik sangat terasa uniknya. Kembang kacang pogog original bukan patah maupun hasil keprasan. Di bawahnya terdapat jalen dan jalu memet. Terdapat pula lambe gajah yang seolah dua terpisah posisi di antara pangkal bilah dan ujung sirah cecak.

Keunikan lainnya ialah garis gandhik yang tidak tegak maupun amboto rubuh (miring), melainkan cembung seperti perut buncit. Keris dengan model gandhik seperti ini biasanya rawan untuk diowah-owahi menjadi dhapur puthut. Saat kondisi putihan dan hendak dijamas pun sempat menipu mata. Tebakan penulis maupun tukang jamas sama, yakni pamor mrambut, namun dalam prosesnya ternyata muncul banyak pamor tiban, khas keris-keris tayuhan.

Semakin tampak berbeda dengan keris-keris umumnya jika kita perhatikan lebih pada tarikan condong leleh dari ujung panitis hingga pesi – sehingga bila pesi disejajarkan akan nampak jika keris mendongak. Jika Penulis tidak salah ingat, ada satu lagi keris yang serupa (mendongak) ber-tangguh Segaluh (bisa dibaca: disini). Di antara pemburu esoteri, keris-keris seperti ini sangat dipercaya cocok bagi mereka yang berprofesi sebagai anggota polri/militer, karena tuahnya dianggap menambah kepercayaan diri, mendongkrak kewibawaan dan disegani oleh banyak orang.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *