Keris Luk 3 Mataram Sultan Agung

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950,000,- (TERMAHAR) Tn D, Ciputat, Tangerang Selatan


1. Kode : GKO-364
2. Dhapur : Jangkung Kalanadah?
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram Sultan Agung (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 669/MP.TMII/V/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 33 cm, panjang pesi 7,5  cm, panjang total 40,5 cm
8. Keterangan Lain : warangka dusun


ULASAN :

TENTANG DHAPUR, jika kita membuka buku dhapur damartaji, ensiklopedi keris, tabel ricikan yang ada di Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar, hingga Kawruh Empu (Wirapustaka, 1914) sekalipun, memang tidak ditemukan nama dhapur pasti dari keris luk tiga ber-gandik lugas dengan memakai sogokan di depan. Salah satu referensi penunjuk yang mungkin mendekati didapatkan di Buku Primbon Pusoko Jawi yang ditulis tangan oleh Madi Ronggo Widjojo Moeljo (1985). Digambarkan jika keris ini mendekati bentuk dhapur Jangkung Kalanadah.

FILOSOFI, Keris berlekuk tiga oleh masyarakat perkerisan dinamakan keris ‘jangkung’. Menurut kepercayaan, keris jangkung baik untuk mereka yang sedang berusaha menggapai tujuan atau cita-cita dalam hidupnya. Dalam tradisi Jawa dipahami bahwa di satu sisi orang tua dapat njangkung dan njampangi (membimbing dan mengarahkan) anak turunnya agar memperoleh kemuliaan hidup. Di sisi lain, anak-turunnya melakukan berbagai cara untuk mewujudkan rasa berbakti sebagai wujud balas budinya kepada orang-orang yang telah menyebabkan kelahirannya di muka bumi. 

Angka 3 juga merupakan angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan. Angka 3 adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara hidup. Misalnya; Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali, yakni waktu, ucapan dan kesempatan, maka hendaknya dijaga supaya tidak ada sesal kemudian. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu, yakni rejeki, umur dan jodoh, mintalah pada Tuhan, dan terakhir ada 3 hal dalam hidup yang pasti, adalah tua, sakit dan mati, maka persiapkanlah dengan sebaik-baiknya.

TANGGUH MATARAM SULTAN AGUNG, Siapa yang menyangka jika keris yang awalnya kotor dalam balutan warangka dusun bahkan ukirannya sudah retak ini setelah dijamas dan diwarangi ternyata adalah sebuah keris ‘njeder‘ mataram sultan agung. Begitulah salah satu lika-liku dunia perkerisan. Terkadang jika kita menggunakan patokan/ukuran sandangan untuk menilai isinya, bisa saja mata kita tertipu tampilan luar, alih-alih mendapatkan keris sepuh justru mungkin saja mendapatkan keris baru.

Dalam buku Ensiklopedi Keris karangan Bambang Harsrinuksmo (2004) dijelaskan jika tangguh Mataram Sultan Agung: pasikutan-nya demes (serasi, menyenangkan, tampan, enak dilihat); besinya mentah, pamornya mubyar.

Beberapa orang yang pernah menanting jangkung kalanadah ini mengatakan berbagai kesan, diantaranya ada yang mengatakan bagus, demes hingga ‘serem’ (dalam konteks kontrasnya besi dan pamor, bukan dalam arti menakutkan). Pamornya sangat mubyar (menyala terang di bagian sor-soran), dapat dibayangkan keagungannya jika seandainya seluruh bilah masih dihiasi pamor yang menyala terang, Namun adakalanya kita dihadapkan pada situasi yang tidak bisa memilih, sehingga hanya bisa menerima sesuai kondisi yang ada.

Untuk pekerjaan rumah selanjutnya adalah mengganti warangka dusun bawaannya, dimana pada bagian warangka pewarnaan dengan pewarna alami pada kayunya (seperti sarangka cirebon dan sekitarnya yang cenderung diwarnai dengan warna gelap) mulai mengelupas. Demikian juga pada bagian hulu terdapat pola retakan membujur dan sudah termakan usia. Juga pendok lung budho plisiran primitif bisa pula diganti. Untuk mendak-nya disarankan untuk dipertahankan saja karena masih bagus.

PAMOR BERAS WUTAH, Secara denotasi wos wutah adalah beras yang tumpah dari tempat penyimpanannya (karena terlampau penuh isinya). Sedangkan secara konotasi dalam pamor wos wutah terkandung rasa ucapan syukur atas berkat rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan Semesta Alam. Rasa syukur atas hasil yang diperoleh dari perjuangan panjang memeras keringat, rajin dan tidak pernah menyerah dalam usahanya memberikan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat dan negerinya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *