Tombak Nenggala Original

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.500,000,- (TERMAHAR) Tn. J, Bandung


1. Kode : GKO-348
2. Dhapur : Nenggala
3. Pamor : Nyanak
4. Tangguh : Tuban Majapahit (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 137/MP.TMII/II/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Tegal Pesisir, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 22 cm, panjang landeyan 126 cm
8. Keterangan Lain : sarung kulit ular, kolektor item


ULASAN :

NENGGOLO, atau nenggala atau saeng atau sambing atau ganthol adalah nama untuk menyebut senjata sejenis tombak dengan bentuk mirip mata kail (pancing) dengan mata tajam umumnya berjumlah satu hingga tiga. Bentuk dasar nenggolo sejatinya sangat sederhana, namun sangat variatif. Hal ini memang sepertinya jika kita melihat buku-buku dhapur keris dan tombak lama tidak ada rujukan pasti (setidaknya Penulis belum menemukan) mengenai pakem dhapur nenggolo seperti apa. Namun menurut hasil “kulak dengar” beredar di masyarakat perkerisan, terdapat dua jenis atau bentuk dari Nenggala. Yang pertama, disebut Nenggala Jaler ; terlihat lebih kaku, dimana bentuk bagian menuju mata tombaknya lurus tanpa daunan. Sedangkan yang kedua, disebut Nenggala Estri ; lebih ramping/luwes, bentuk bagian menuju mata tombaknya berlekuk (tidak lurus) dengan daunan, mirip “angkusa” senjata dari India.  Konon pula, jika Tombak Nenggala Estri selalu tersimpan (penjaga) di rumah, maka tombak Nenggala Jaler akan menenami sang Tuan jika harus bepergian, berburu hingga berperang.

MITOS, Menurut Serat Sejarah Mpu dalam bentuk dhandhanggula bait 6-8 gubahan Kg Pangeran Widjil, Nenggala bersama dengan pusaka-pusaka lainnya yang terkenal di dunia pakeliran seperti senjata Konta, Pasopati, Sarotama, Cakra, Trisula dan lain-lain pertama kali diciptakan oleh Empu Ramayadi, pada jaman Sang Prabu Sri Maha Dewa Budha.

Dalam dunia pewayangan, Nenggala Kunta yang berpasangan dengan Gada Alugara merupakan senjata asuhan Baladewa, ksatria tangguh yang mewarisi kekuatan dewa-dewa seluruh angkasa. Walau Baladewa mempunyai ikatan erat dengan Pandawa terutama karena adiknya, Dewi Subadra, menjadi salah satu istri Arjuna dan Raja Mandura ini terbilang sakti mandraguna, sangat ahli menggunakan senjata gada, sehingga terpilih menjadi guru latih Bima dan Duyurdana – tetapi semua keahlian itu tak digunakannya untuk memihak pada sebuah perang saudara maha dahsyat, Bharata Yudha.

Dikisahkan pula pada suatu senja, Baladewa keluar ‘menenteng’ Nenggala dan memperlihatkannya kepada dunia. Maka sontak ribuan dewa berkuda awan turun dan menghadang langkah Baladewa, lantas berseru: “Hai Baladewa, jangan kau bawa bawa pusaka itu keluar padepokanmu sembarangan. Simpan sampai nanti Perang Bratayudha pecah”. Hal ini menjadi pameling untuk tidak menjadi pribadi yang gemar memamerkan kemampuan yang dimiliki, tetapi seyogyanya digunakan di saat yang tepat, dan bukan untuk diumbar sembarang waktu. Nenggala konon mampu meluluh-lantakkan gunung, membelah lautan, dan mengakhiri nasib matahari hanya dalam sekali tebas. Harapan yang terkandung adalah menjadi pribadi yang disegani kawan maupun lawan serta mampu nenggalangi (menahan, mencegah atau jika perlu menghancurkan) segala bentuk hambatan dan rintangan.

TANGGUH MAJAPAHIT PESISIRAN, Salah satu daerah pesisir pantai utara Jawa yang tersohor di Era Majapahit tentu saja Tuban. Seperti yang dicatat dalam Babad Tuban, bahwa armada laut Tuban di masa kejayaan Majapahit sangatlah kuat dengan persenjataan bermutu. Pelabuhan Tuban sejak masa kerajaan Singasari merupakan pintu gerbang masuknya pelayaran kapal-kapal dari wilayah hulu sungai besar, yakni sungai Bengawan Solo di Jawa Tengah dan sungai Brantas di Jawa Timur.

Secara anatomi sebagai sebuah tombak, Nenggolo sepertinya lebih cocok masuk dalam produk budaya pesisiran. Karena bentuk landeyan-nya yang tidak terlalu panjang (tanggung) memungkinkan tombak ini untuk dilontarkan, juga dapat digunakan untuk mengait seperti ganthol, grethel, cempuling (harpoon). Jika umumnya Nenggolo banyak dijumpai dalam “label artefak” tombak temuan (kebanyakan temuan sungai) sehingga relatif tidak utuh variasi-variasi pendukungnya, menjadi sebuah keberuntungan tersendiri kita masih bisa melihat sebuah tombak Nenggolo rawatan yang masih original lengkap dengan variasi rantai besinya.

Disebut original karena semua bagian masih betul-betul ditempa lipat, serta lengkap variasinya dan utuh. Jika kita melihat pada sisi bilah yang menghadap ke arah kanan, akan didapatkan sebuah alur lipatan, Demikian juga pada bagian karah, yakni penguat yang melingkari ujung landeyan dan terbuat dari logam terdapat pula alur lipatan yang “disindik” seperti halnya pesi-pesi keris tangguh kuno menggunakan logam lain (perunggu?). Bagian rantai pengait juga menggunakan bahan besi malela yang ditempa lipat serta dipuntir sehingga terlihat alur-alurnya, dan pada bagian pangkalnya terpantek masuk ke dalam kayu landeyan. Dan sepertinya Penulis belum pernah menjumpai tombak Nenggolo dengan wujud selengkap ini variasinya termasuk juga landeyannya.

Kayu pada landeyan ini terbuat dari kayu ulin. Meski agak berat (sekitar 1,5 kg) namun karakter kayu ulin dirasa sangat pas karena ketahanannya terhadap terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut, sehingga sering disebut juga dengan nama kayu besi. Banyak yang menganggap semakin sering terkena air, kayu ini justru akan semakin terlihat bagus. Untuk sarung penutupnya menggunakan kulit ular sanca asli menambah kewingitannya.

Pada saat melakukan penjamasan memang terdapat adanya kendala dikarenakan pesi menempel dengan erat dengan cara dijabung. Sehingga apabila dilakukan pemaksaan untuk dilepas akan mengakibatkan pecahnya landeyan. Oleh karena itu sengaja dibiarkan saja apa adanya. Karena adanya wilah yang masih menempel pada landeyan otomatis memerlukan dimensi wadah yang tinggi untuk bisa merontokkan karat serta memerlukan cairan warangan yang banyak sekali (bisa sampai 3 liter)  dalam proses mewaranginya. Mungkin jika prosesnya diulang sekali lagi akan dapat menampilan detil serat besi, pamor yang lebih kontras.

PAMOR NYANAK, adalah penamaan terhadap sejenis pamor yang tidak jelas kesan pembacaannya (samar), baik melalui penglihatan maupun perabaannya. Sebilah keris atau tombak yang diperkirakan mempunyai pamor sebelumnya, tetapi pamornya kemudian tidak terlihat jelas dan apabila dirabapun tidak jelas konturnya, dapat disebut pamor sanak. Pemahaman lainnya pamor sanak berasal bahan pamor yang tertua dimana terdiri dari dua atau beberapa senyawa besi yang berbeda. Senyawa besi yang tidak murni dan  berbeda komposisi unsur-unsurnya itu yang biasanya didapatkan dari daerah yang berbeda pula. Karena proses ‘reaktif’ dari tempa dan pemanasan menghasilkan alur-alur samar.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *