Sempana Luk 9 Majapahit + Rajah

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950.000,-(TERMAHAR) Mr. X, Bekasi


  1. Kode : GKO-296
  2. Dhapur : Sempana
  3. Pamor :  Beras Wutah Winengku + Rajah
  4. Tangguh : Majapahit  (Abad XIII)
  5. Sertifikasi No : 769/MP.TMII/VII/2018
  6. Dimensi : panjang bilah  35 cm panjang pesi 7 cm , panjang total 42 cm
  7. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  8. Keterangan Lain : warangka jurigan Madura lawasan tanpa pendok, rajah

Ulasan :

SEMPANA, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai pejetan, kembang kacang, jalen, dan lambe gajah-nya satu. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun penampilannya sederhana, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai, karena pada jaman dahulu sering dimiliki oleh abdi dalem keraton dan para priyayi yang mendapat kedudukan atau jabatan khusus pemerintahan. Oleh sebagian pecinta keris ini dianggap cocok bagi mereka yang bekerja di pemerintahan (PNS). Sebilah Pusaka milik Kasultanan Yogyakarta juga berdhapur Sempana. Pusaka ini adalah Kanjeng Kyai Panukup.

FILOSOFI, Sempana berasal dari kata “Supeno“, berarti impian, atau cita-cita, atau visi, yang arti keseluruhannya adalah orang yang memiliki visi atau cara pandang yang baik, atau orang yang memperoleh petunjuk pada jalan kebaikan. Bahwa dalam kehidupannya tentu manusia memiliki banyak kelemahan. Setiap waktu kita selalu melakukan kesalahan dan masih harus banyak belajar. Karena itu, sangat wajar jika kita dituntut untuk terus berupaya berbuat lebih baik, instropeksi diri dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan berusaha mencapai kesempurnaan hidup melalui perbaikan kualitas diri.  Keris Sempana Luk 9 merupakan simbol yang mencerminkan perjuangan hidup untuk mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan hidup dapat diperoleh melalui jalan ilmu pengetahuan dan ilmu agama sebagai pedoman perilaku.

Luk 9, Angka sembilan (9) dalam pandangan masyarakat Nusantara dianggap sebagai angka magis. Angka sembilan merupakan angka tertinggi dalam deretan angka. Angka sembilan dapat dihubungkan dengan 9 lubang kehidupan (howo songo) dalam tubuh manusia yang harus dijaga supaya “selamat di dunia dan akhirat”, yang terdiri dari : 2 lubang hidung, 2 lubang telinga, 2 lubang mata, 1 lubang mulut, 1 lubang dubur dan 1 lubang kemaluan.

Pada jaman Islam, berkembang konsep sufistik “wali songo” (sembilan wali) yang merupakan pengambilalihan dari konsep kosmologi Nawa Dewata atau sembilan dewa yang bersifat hinduistik, yakni dewa-dewa penjaga delapan mata angin ditambah satu dewa di titik pusatnya. Kedudukan dewa-dewa itu kemudian digantikan oleh manusia-manusia yang dicintai Tuhan, atau para wali yang berjumlah sembilan.

Jika menilik pada jumlah angka dasar yang ada 0-9, maka angka 9 (sembilan) memiliki nilai yang paling tinggi. Tak heran bila angka tersebut sering disebut sebagai simbol kesempurnaan sekaligus dimaknai dengan kerahasiaan. 9 (sembilan) adalah batas kemampuan dan penalaran pikiran manusia, sebab setelah sembilan akan kembali 0 (kosong), lalu mulai lagi dengan hitungan awal pertama atau satu (1).

TENTANG TANGGUH, Dalam pendapat pribadi penulis ada rasa pasundan dalam keris Sempana ini. Bisa saja, sebuah keris disimpulkan bertangguh Pajajaran Majapahit karena melihat ciri bahannya berasal dari Pajajaran, sedangkan menurut gaya pembuatannya berasal dari Majapahit. Hal itu sangat mungkin terjadi, dengan perkiraan yang kompromistis bahwa keris itu kemungkinan dibuat oleh Empu Pajajaran yang diboyong dan diberi tugas oleh dinasti Brawijaya untuk melayani pembuatan keris di keraton Majapahit.

Material besi keris, tombak dan pedang yang berasal dari Pajajaraan atau yang dibuat oleh Empu yang masih keturunan Pajajaran seringkali tampak berbeda dengan tangguh-tangguh lainnya. Pasir besi dalam bahasa jawa disebut wedhi malela atau wesi malela, di pulau Jawa banyak terdapat di pesisir selatan Pulau Jawa dari Barat Yogyakarta sampai ke Pelabuhan Ratu di Jawa Barat. Hasil penelitian di tahun 1976 menunjukkan pasir besi yang ada disepanjang pesisir selatan Kulonprogo ternyata bukan hanya pasir besi biasa saja (salah satu yang terbaik di dunia, selain Meksiko), tidak hanya mengandung titanium (Ti) namun juga mengandung vanadium (V). Diduga jaman dahulu empu-empu yang berasal dari Pajajaran memproses pasir besi ini sebagai bahan pembuat keris, tombak dan pedang. Pamor dari besi-besi ini biasanya muncul secara kebetulan (tiban) dalam proses tempa. Ciri-ciri ini biasanya muncul pada keris era Pajajaran awal (tua). Sedangkan pada era Pajajaran setelahnya (muda), pamornya sudah ada yang direkayasa dan besinya lebih matang. Karakter menonjol lainnya adalah sepuhan bajanya yang mendekati sempurna, hingga keras sekali. Sangat kentara sekali pada saat bilah diputihkan maupun setelah dilakukan pewarangan.

Oleh sebagian besar pecinta Tosan Aji, tangguh Majapahit dianggap memiliki isoteri (kekuatan magis) lebih kuat dibandingkan keris tangguh-tangguh lain. Siapa yang tidak kenal kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan besar yang pernah sukses mempersatukan Nusantara ini dengan kemegahan dan kebesarannya? Masyarakat Majapahit umumnya memiliki jiwa pejuang dan penakluk. Tak cukup hanya bermodal berani atau nekat saja (jawa = kosongan) untuk bisa menaklukan dan menjadikan daerah lain sebagai negara vasal, ada faktor X lain yang lebih diyakini.  Oleh karenanya pusaka-pusaka yang ndayani serta nggegirisi-lah yang akan cocok dipegang sang kesatria-kesatria penakluk di jamannya.

JURIGAN, adalah istilah yang digunakan oleh orang Madura untuk menyebut warangka sandang walikat. Berbeda halnya dengan warangka sandang walikat versi Surakarta dan Yogyakarta yang dibuat secara sederhana, warangka jurigan madura justru seringkali diukir dengan indah. Ragam motif hias yang digunakan juga terinspirasi keadaan alam dan sejarah Madura, seperti motif tumbuhan, hewan berupa kerang, kuda bersayap hingga kaligrafi. Lagipula berbeda dengan di Jawa Tengah, warangka jurigan bukan dianggap sebagai warangka wayuhan (cadangan). Itulah sebabnya warangka jurigan dibuat tidak sepolos warangka sandang walikat.

PAMOR BERAS WUTAH WINENGKU, adalah motif pamor beras wutah yang dibungkus dengan garis wengkon (garis di sepanjang sisi pinggir bilah). Dari sisi garap tentu saja lebih sulit diwujudkan dan sudah tentu ada maksud lebih kenapa dibuat pamor yang berbeda dengan beras wutah biasa. Menurut kepercayaan tuahnya untuk melancarkan rejeki untuk keluarga, memperbesar rasa hemat dan menjauhkan godaan-godaan dalam  ber-rumah tangga.

PAMOR PUTERI KINURUNG, bentuknya menyerupai gambaran danau, dengan beberapa pulau kecil di tengahnya. Letak pamor ini di tengah sor-soran dan biasanya terselip diantara pamor wos wutah atau pulo tirto. Pamor puteri kinurung tergolong pamor tiban. Pamor ini banyak disukai karena dianggap memiliki tuah yang bermanfaat untuk mencegah dan mengurangi sifat boros pemiliknya.

pamor puteri kinurung terselip diantara pamor dominan wos wutah

GANJA PAMOR WINIH, kata winih berasal dari bahasa Jawa, yang berarti bibit atau benih. Adalah pamor yang terletak di kedua bagian sisi samping ganja. Bentuknya berupa bulatan berlapis-lapis (semacam mata kayu paling sedikit tiga lapisan gelang) diantara garis-garis pamor lain. Pamor winih tergolong baik dan banyak dicari orang, karena konon menurut kepercayaan yang ada di masyarakat,  jika pemilik keris memulai suatu usaha/pekerjaan akan tumbuh/berkembang. Seperti benih yang ditanam di dekat aliran-aliran air, yang dedaunannya tidak menjadi layu, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Dan segala sesuatu yang ia lakukan akan berhasil.

ganja winih banyak disukai

RAJAH, adalah sebuah kejutan, ketika seperti biasanya sebelum ‘melepas’ koleksi tosan aji di griyokulo, Penulis melakukan ‘ritual’ penjamasan dengan memutihkan sendiri bilah. Kali ini secara tidak dinyana-nyana menemukan goresan-goresan aksara pada bagian sor-soran yang seolah muncul tiba-tiba, karena dalam perasaan selama beberapa hari merendam serta menyikat bilah, tanda (rajah) tersebut seakan tidak terlihat dan baru muncul ketika akan diwarangi. Harus secara jujur pula diakui, jangankan untuk mengetahui artinya untuk tahu bagaimana pembacaan juga gelap‘. Biarlah menjadi misteri tersendiri.

rajah keris menjadi sebuah misteri tersendiri

Tulisan Rajah memang tidak seperti tulisan pada umumnya. Sebagian besar suatu Rajah hanya terdiri dari huruf-huruf dan angka-angka yang berdiri sendiri-sendiri, tidak menyusun suatu kata. Sehingga bisa dikatakan tulisan rajah tersebut tidak bisa diartikan dalam bahasa. Meski seringkali  tidak dapat dimengerti artinya namun tulisan tersebut mempunyai makna. Dan makna yang dikandungnya merupakan tujuan/hajat yang hendak dicapai oleh pembuatnya. Diyakini pula bahwa susunan huruf dan angka tersebut memiliki kekuatan suprnatural yang dapat mempengaruhi keadaan lingkungan sekitarnya (manusia, binatang dan bahkan makhluk halus).

Setelah selesai diminyaki, yang paling membuat kesengsem dari pusaka ini adalah bentuk pamor wos wutah-nya yang masih terlihat ayu. Karakter bulatan wos wutah-nya tampak berbeda dengan keris-keris tangguh madya umumnya. Memang terlihat di bagian pucuk bilah karena korosi alami sudah memulai memudar kontras pamornya dimakan sang waktu (kala). Pamor puteri kinurung yang terselip di sor-soran, gonjo winih hingga rajah yang digoreskan menjadi pulung tersendiri. Dari sisi tantingan (rasa berat-ringan) sudah tentu enteng, yang menjadi salah satu ciri khas Majapahit. Warangka jurigan tampak ramping mengimbangi bilah. Jika bagian hulu model surakarta diganti dengan model madura tentu akan lebih serasi.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.