Tombak Nenggolo (Jaler)

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2.500.000,- (TERMAHAR) Tn. YGN Tambun, Bekasi


 
  1. Kode : GKO-
  2. Dhapur : Ganthol Nenggolo (Jaler)
  3. Pamor : Ngulit Semangka
  4. Tangguh : Cirebon Akhir (Abad XVII-XVIII)
  5. Sertifikasi No : proses
  6. Dimensi : panjang bilah  26,5 cm panjang pesi 8,5 cm , panjang total 35 cm
  7. Asal-usul Pusaka : Tasikmalaya, Jawa Barat
  8. Keterangan Lain : sarung kulit ular, methuk seperti dua, langka

 

Ulasan :

NENGGOLO, atau nenggala atau saeng atau sambing atau ganthol adalah nama untuk menyebut senjata sejenis tombak dengan bentuk mirip mata kail (pancing) dengan mata tajam umumnya berjumlah satu hingga tiga. Bentuk dasar nenggolo sejatinya sangat sederhana, namun sangat variatif. Hal ini memang sepertinya jika kita melihat buku-buku dhapur keris dan tombak lama tidak ada rujukan pasti (setidaknya Penulis belum menemukan) mengenai pakem dhapur nenggolo seperti apa. Namun menurut hasil “kulak dengar” beredar di masyarakat perkerisan, terdapat dua jenis atau bentuk dari Nenggala. Yang pertama, disebut Nenggala Jaler ; terlihat lebih kaku, dimana bentuk bagian menuju mata tombaknya lurus tanpa daunan, sedangkan yang kedua, disebut Nenggala Estri ; lebih ramping/luwes, bentuk bagian menuju mata tombaknya berlekuk (tidak lurus) dengan daunan, mirip “angkusa” senjata dari India.

Sedangkan dari sisi fungsinya setidaknya ada dua pendapat mengenai tombak yang satu ini dan masing-masing memiliki pandangan, alasan serta keyakinannya sendiri. Pendapat pertama mengatakan bahwa nenggolo pada dasarnya adalah sebagai tombak berburu yang biasanya digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan atau mamalia laut yang besar (paus) dimana penggunannya adalah dengan cara dilemparkan (seperti melempar lembing). Hal ini memang didukung data dan fakta bahwa jenis tombak berburu seperti ini memang banyak dipakai oleh manusia di seluruh dunia. Di manca negara bentuk tombak nenggolo mirip dengan Harpun. Biasanya harpun memiliki tiga bagian, yakni mata tombak, kayu atau landeyan dan tali atau rantai.

Sedangkan pendapat kedua yang berseberangan mempertanyakan jika tombak tersebut hanya digunakan untuk berburu, mengapa secara bentuk justru tidak terlihat sebagai sebuah senjata yang efektif dan efisien? Dari sisi bentuk tombak nenggolo terlihat melengkung, luwes, cantik. Jika secara fungsi digunakan untuk ‘menombak’, bentuk tombak nenggolo yang ada di Nusantara justru mempunyai estetikanya sendiri, mirip ‘daunan’ cenderung oval, ujungnya yang seperti kail sejatinya tidak benar-benar runcing atau tidak dibuat tajam, dianggap kurang cocok untuk menombak. Belum lagi kadang dijumpai berpamor pada bilahnya serta terdapat bagian methuk (cincin) dan pesi (tangkai) seperti halnya ciri sebuah pusaka. Mereka juga mempertanyakan jika bentuk nenggolo digunakan untuk berburu ikan mengapa tidak ditemukan lagi dalam budaya Nusantara yang para nelayannya masih menggunakan alat tradisional atau konvensional?

Terlepas dari fungsinya apakah sebagai senjata berburu atau lebih kepada senjata spiritual, Penulis menemukan bentuk Nenggolo Jaler seperti satu sisi anak panah ini, ternyata menjadi senjata perang yang umum dipergunakan pada masa lalu oleh para prajurit jawa. Raffles dalam bukunya The History of Java (1817) sempat mencatat dan menggambar bentuk tombak ini ke dalam sebuah ilustrasi “Senjata dan Panji-Panji Perang Masyarakat Jawa. Yang menjadi pertanyaan justru mengapa tombak yang dulunya umum dipergunakan sekarang susah sekali untuk ditemukan?

MITOS, Menurut Serat Sejarah Mpu dalam bentuk dhandhanggula bait 6-8 gubahan Kg Pangeran Widjil, Nenggala bersama dengan pusaka-pusaka lainnya yang terkenal di dunia pakeliran seperti senjata Konta, Pasopati, Sarotama, Cakra, Trisula dan lain-lain pertama kali diciptakan oleh Empu Ramayadi, pada jaman Sang Prabu Sri Maha Dewa Budha.

Dalam dunia pewayangan, Nenggala Kunta yang berpasangan dengan Gada Alugara merupakan senjata asuhan Baladewa, ksatria tangguh yang mewarisi kekuatan dewa-dewa seluruh angkasa. Walau Baladewa mempunyai ikatan erat dengan Pandawa terutama karena adiknya, Dewi Subadra, menjadi salah satu istri Arjuna dan Raja Mandura ini terbilang sakti mandraguna, sangat ahli menggunakan senjata gada, sehingga terpilih menjadi guru latih Bima dan Duyurdana – tetapi semua keahlian itu tak digunakannya untuk memihak pada sebuah perang saudara mahadasyat, Bharata Yudha.

Pesona Baladewa cukup populer di daerah Jawa Timur, khususnya di wilayah Pendalungan alias daerah di Jawa Timur yang dipengaruhi oleh budaya Madura, seperti Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan daerah lain. Bahkan sebuah pulau di ujung timur Jawa Timur, yakni Madura secara khusus juga mempunyai kisahnya sendiri mengenai pasangan tombak se nenggolo dan se aluqoro. Apakah ada kaitannya antara Prabu Baladewa dengan Madura? Prabu Baladewa adalah Raja kerajaan Mandura, atau dalam kisah Mahabarata kuno acapkali disebut Mathura, yang bila dilafalkan terdengar seperti Madura.

Dikisahkan pula pada suatu senja, Baladewa keluar ‘menenteng’ Nenggala dan memperlihatkannya kepada dunia. Maka sontak ribuan dewa berkuda awan turun dan menghadang langkah Baladewa, lantas berseru: “Hai Baladewa, jangan kau bawa bawa pusaka itu keluar padepokanmu sembarangan. Simpan sampai nanti Perang Bratayudha pecah”. Hal ini menjadi pameling untuk tidak menjadi pribadi yang gemar memamerkan kemampuan yang dimiliki, tetapi seyogyanya digunakan di saat yang tepat, dan bukan untuk diumbar sembarang waktu. Nenggala konon mampu meluluh-lantakkan gunung, membelah lautan, dan mengakhiri nasib matahari hanya dalam sekali tebas. Harapan yang terkandung adalah menjadi pribadi yang disegani kawan maupun lawan serta mampu nenggalangi (menahan, mencegah atau jika perlu menghancurkan) segala bentuk hambatan dan rintangan.

TANGGUH CIREBON AKHIR, era ini dimulai sejak Kraton Kasepuhan dipimpin oleh Pangeran Jaeniddin Amir Sena Sultan Sepuh ke IV, sampai dengan era Sultan Sepuh VIII, Sultan Raja Udaka (1750-1845). Pada era Cirebon Pungkasan banyak diwarnai perjuangan dari para pangeran dan rakyat cirebon dalam melawan dominasi kolonial yang mulai mencengkram dan mempengaruhi kebijakan politik keraton-keraton di Cirebon. Perjuangan pertama dipimpin oleh putra dari Sultan Sepuh IV, pangeran Suryanegara (1753-1773). Perjuangan kedua dipimpin oleh Ki Bagus Rangin dan Ki Bagus Serit pada masa Sultan Sepuh VIII memerintah, atau yang lebih dikenal dengan Perang Kedongdong. Perlawanan-perlawanan terhadap pemerintah kolonial yang di-pandegani oleh kalangan pangeran Cirebon dibantu rakyat Cirebon menjadikan babak baru dalam melahirkan persenjataan atau tosan aji di Cirebon. Produksi massal senjata dan pusaka sangat banyak untuk mendukung peperangan melawan kolonial.

Tombak Nenggala ini memiliki perbawa sebagai piyandel sekaligus material mumpuni sebagai senjata fisik untuk berlaga di medan perang. Bentuknya nglanangi, tak mengherankan disebut Nenggala Jaler (Jaler = lanang = laki-laki), antep, keras seperti banyak bajanya seolah mampu nenggalangi atau mengatasi segala aral rintangan  di depan. Mata tombaknya tampak menampilkan estetika yang luwes, bukan sekedar bentuk “pembunuh” segitiga yang lancip. Methuk-nya juga terkesan unik seolah ada dua, dimana bentuk methuk bagian atas seperti cincin oval dan tepat 7,5 cm dibawahnya terdapat methuk sederhana kedua yang tampak cocok berfungsi dalam menahan hentakan/kejut pada landeyannya. Pekerjaan Rumah selanjutnya adalah menemukan landeyan yang pas untuk tombak ini, karena bentuk pesi yang besar tentu saja menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam menemukan diameter landeyan yang cocok.

Melalui cerita mitos, perdebatan fungsional dan catatan-catatan masa lampu tombak Nenggala ternyata mampu menghadirkan eksotisme dan misteri tersendiri. Jika tombak ini sudah terpasang pada landeyannya, percayalah “bintangnya” akan bersinar terang.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.