Tombak Puthut Kembar (Temuan)

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2.500.000,- (TERMAHAR) Tn. YG, Tambun Bekasi


 
  1. Kode : GKO-
  2. Dhapur : Tombak Puthut Kembar
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 343/MP.TMII/IV/2018
  6. Dimensi : panjang bilah 23 cm panjang pesi 12,5 cm , lebar bilah, panjang total 35,5 cm
  7. Asal-usul Pusaka : temuan Sungai Musi
  8. Keterangan Lain : puthut primitif langka, hanya dilengkapi tutup saja tanpa landeyan

 

Ulasan :

TOMBAK PUTHUT KEMBAR, Bentuknya boleh dibilang sama dengan keris dhapur puthut kembar, dimana bentuk stilasi puthut jika pada keris diukirkan pada gandik (sisi depan) dan juga bagian wadidang (sisi belakang), sedangkan bentuk puthut kembar pada tombak diukir pada sisi kanan dan kiri bilah. Selebihnya bentuknya ada yang lurus ada pula yang berlekuk.

Di beberapa daerah di Jawa Timur dhapur Puthut seringkali disebut Umyang. Sebutan ini kurang tepat, karena Umyang sebenarnya bukan nama Dhapur, melainkan nama seorang Empu yang hidup pada zaman kerajaan Pajang. Tetapi bagi orang Sumatera (Minangkabau) jenis dhapur ini selalu dianggap sebagai keris atau tombak era Hindu-Budha. Mitos tentang keampuhannya (mendatangkan rejeki, kekayaan, kemakmuran) juga tidak kalah heboh dengan keunikan wujud bilahnya. Maka tidaklah mengherankan bila keris atau tombak jenis ini sangat sering ‘diowahi’, demi menimba keuntungan.

FILOSOFI, istilah Puthut sebenarnya mengacu pada dunia ‘sanggar‘ yang digunakan Empu Prapanca dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama. Sanggar disini bukan berarti sanggar/kursus yang lazim kita kenal sekarang, semisal sanggar tari, sanggar senam atau sanggar-sanggar yang lain, tetapi ‘sanggar‘ dimaksud adalah tempat atau wadah pendidikan (panggonan ngangsu kawruh/nyantrik, Jw) keagamaan (Budha atau Hindu), atau yang dalam Islam dikenal pondok pesantren.

Puthut atau Putut = abdi (laki-laki) kepercayaan sang pendeta, selaku cantrik kepala yang dipercaya mengatur tugas-tugas para cantrik; bertugas merawat sanggar palanggatan, bertanggung-jawab mengatur, menata, merawat perlengkapan persembahyangan;

Beberapa penjelasan mengenai istilah yang lazim dikenal dalam ‘sanggar’ dapat diketemukan juga di naskah Sanghyang Siksa Kanda(ng) Karesyan. Bila diterjemahkan, berarti “buku peraturan untuk menjadi resi”. Sanghyang Siksakanda ng Karesiyan merupakan “Buku berisi aturan, tuntunan serta ajaran agama dan moralitas, untuk menjadi orang bijaksana atau suci”. Naskah didaktik ini berasal dari Galuh (Ibu kota Kerajaan Sunda, pada titimangsa “nora catur sagara wulan: 1440 Saka atau 1518 M), yang ditulis di atas 30 lembar daun gêbang (nipah) menggunakan mangsi hidêung dan pisau pangot, dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno. Sayang tak ada keterangan siapa penulis naskah ini.

Menurut Sanghyang Siksakanda ng Karesian, untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia (yang digambarkan: bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang,bersih halaman belakang, ber­sih halaman rumah. Bila berhasil rumah terisi, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, lama hidup, se­lalu sehat, sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan; rumput, pohon-pohonan, rambat, semak, hijau su­bur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak) ada Dasa (sepuluh) Kreta  (jalan/pintu) yang harus dipelihara. Kreta tersebut adalah (nafsu) indra-indra yang ada pada diri manusia yang harus dijaga dalam menggunakan fungsinya agar terhindar dari celaka, yaitu ceuli (telinga), mata, kulit, letah (lidah), irung (hidung), sungut (mulut), suku (kaki dan tangan), payu (dubur), dan baga purusa (kelamin wanita dan kelamin pria).

Makna dhapur puthut dalam sosok manusia yang sedang duduk dengan posisi tangan menengadah ke atas (walau kadang-kadang lebih menyerupai monyet sedang duduk) adalah suatu bentuk permohonan kepada yang Maha Kuasa (tirakat, Jw). Dalam ensensinya, tirakat berarti diri kita akan lebih bisa memfokuskan posisi pada tujuan yang hendak dicapai, karna seringkali godaan panca indera membuat kita jatuh dan menyimpang jalur, menjauhkan dari rencana-rencana.

Perlu imajinasi tersendiri memang untuk mendapatkan gambaran sebuah bentuk ‘ganan‘ putut, terlebih bentuknya distilirkan secara sederhana/primitif dengan salah satu sisi bentuk pututnya yang sudah tidak sempurna lagi saat dlakukan pembersihan. Besinya berwarna keabu-abuan (seperti lebih banyak bajanya), tebal nggigir pada bagian sor-soran, dengan pamor keputihan yang terkesan mengambang. Bagian methuk yang ada pada tombak ini bukanlah iras (menyatu), tetapi terkesan iras karena endapan patina dari proses lamanya terendam di sungai. Bentuk ujung pesi juga terbilang cukup unik dengan bentuk ujung pesi untiran. Tombak dhapur puthut bisa dikatakan lebih jarang diketemukan daripada dhapur kerisnya.

tombak kondisi kotor (temuan)

pesi model puntiran

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *