Jaran Guyang

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 3.500.000,- (TERMAHAR) Tn T, Jember


 
  1. Kode : GKO-270
  2. Dhapur : Jaran Guyang
  3. Pamor : Ngulit Semangka
  4. Tangguh : Mataram (Abad XV)
  5. Sertifikasi No : 340/MP.TMII/IV/2018
  6. Asal-usul Pusaka : Trenggalek, Jawa Timur
  7. Keterangan Lain : sudah diwarangi, sandangan mriyayeni, pendok perak

 

Ulasan :

JARAN GUYANG, merupakan salah satu bentuk dhapur keris luk tujuh. Ukuran panjang dan lebar keris normal. Bilahnya nglimpa. Gandik-nya lugas tanpa sekar kacang dan cenderung tipis, menggunakan ricikan lainnya berupa blumbangan dan tingil, atau terkadang tidak memakai tingil, melainkan ri pandan atau greneng wurung. Ciri khas lainnya adalah bentuk blumbangan yang samar memanjang ke atas.

Sebagian masyarakat perkerisan mempercayai bahwa keris dhapur Jaran Guyang cocok untuk mereka yang gemar berpetualang untuk menaklukkan hati para wanita. Konon sejak ratusan tahun yang lalu sudah lekat dengan kultur masyarakat, terutama pedesaan, dari ujung barat hingga ujung timur pulau Jawa mantra ajian pengikat kuno, Jaran Goyang sebagai ilmu pengasihan tingkat tinggi, karena tidak hanya sanggup menundukkan sukma orang yang dituju tapi juga sanggup mempengaruhi nafsu birahi orang yang dituju.  Oleh sebab amat dahsyatnya dampak dari Ilmu pelet ini banyak yang melarang dalam penggunaannya terkecuali ditekadkan sebagai pasangan sehidup semati serta bukan main-main. Anda boleh percaya boleh tidak, namun faktanya hal ini memang menjadi salah satu kekayaan khasanah budaya tanah air. Saat ini mereka yang menjalani Jaran Goyang sudah semakin berkurang karena kecenderungan manusia modern saat ini yang pragmatik dan materialistis. Memiliki kemapanan, banyak kekayaan, akan terlihat lebih nalar untuk memikat lawan jenis ketimbang bersusah payah menjalani laku mistik Jaran Goyang. Namun demam lagu Jaran Goyang yang dibawakan oleh pedangdut Nella Kharisma seolah mengajak ‘mengingat’ dan mengangkat pamor Jaran Guyang kembali. Benarkah demikian? mari kita tilik filosofi sebenarnya.

FILOSOFI, Jaran (kuda) Guyang (dimandikan) atau kurang lebih artinya kuda yang (sedang) dimandikan. Dahulu kuda-kuda lebih banyak dimandikan dan diberikan minum di sungai-sungai atau sumber-sumber air yang airnya relatif masih jernih bebas polutan. Untuk dapat memandikan mamalia tersebut, pemiliknya harus turun lebih dahulu ke tepian tempat dimana kuda akan dimandikan sehingga pemilik dan kudanya ‘sama-sama basah’. Dengan cara tersebut hewan mamalia ini akan ‘menurut’ saja ketika tali kekangnya ditarik ke dalam sungai oleh pemiliknya. Kuda peliharaan tidak akan mau mencebur begitu saja dengan cara menghalaunya ke dalam air. Pada saat dimandikan kuda seringkali bergoyang dengan gerakan seperti mundur yang melintang. Mungkin karena hal itulah terjadi deviasi nama dari ‘guyang‘ menjadi ‘goyang‘.

Kuda mempunyai kualitas yang berbeda dari hewan peliharaan lain dan berperan dalam semua kebudayaan di dunia. Kuda berhubungan dengan bangsawan dan para dewa. Kuda merupakan hewan yang kuat dan cerdas, mempunyai semangat tinggi dimana cenderung mewakili spirit dan passion terkait motivasi dalam hidup. Kuda menjadi simbol khas yang mewakili kekuatan fisik, psikologis, vitalitas dan emosional. Kuda di dalam ta’birnya adalah martabat dan kehormatan seorang laki-laki, kejayaannya, kekuasaannya dan kemuliaannya.

Memandikan (mengguyang) kuda bukan sekadar untuk mempercantik dan mengharumkan kuda. Memandikan kuda berarti melakukan ritual mensucikan diri. Mensucikan diri berarti membersihkan diri jiwa dan raga. Harapannya ketika kuda selesai diguyang, maka si pemilik bisa mendapatkan spirit baru dalam kehidupannya. Orang yang memandikan akan merefleksikan bahwa dalam hal apapun itu perlu totalitas dengan diikuti oleh contoh dan keteladaanan sebelum melakukan anjuran atau perintah kepada orang lain.

PAMOR NGULIT SEMANGKA, dalam filosofi budaya Jawa, Keris dengan Pamor Ngulit Semangka ini dipercaya mempunyai tuah yakni mendatangkan rejeki yang berlimpah, membuat pemilik Keris dengan Pamor Ngulit Semangka ini menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible).

Luk 7 dengan panjang bilah 35,5 cm ini memiliki karakter bilah ramping dan luk dari bawah hingga atas yang simetris panjangnya, membuat pusaka ini terkesan panjang lencir. Dan rasanya memang sudah jarang untuk bisa menjumpai keris luk 7 dengan panjang lebih dari 35 cm. Besinya halus, bergradasi abu-abu dan kehitaman dengan pamor yang tidak terlalu kontras (kelem). Tantingan bilahnya pun terasa ringan, dan apabila disentil nyaring bunyinya. Karakter keris tayuhan begitu terasa. Pusaka ini  tampak dimulyakan dengan baik oleh pemilik sebelumnya terlihat dari pilihan sandangan lawasan yang mriyayeni, Panjenengan tinggal menyimpan dan merawatnya saja.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *