Sengkelat Mataram Sultan Agung

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 8.500.00,- (TERMAHAR) Tn. NH, Menganti Gresik


  1. Kode : GKO-265
  2. Dhapur : Sengkelat
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram Sultan Agung (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 182/MP.TMII/III/2018
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : pamor akhodiyat, pendok kemalo merah, gonjo wulung, pesi srumbungan lawasan

 

Ulasan :

SENGKELAT – ada yang menyebutnya Sangkelat, adalah salah satu bentuk dhapur luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Dhapur Sangkelat mirip dengan keris dhapur Parungsari. Bedanya, pada Sangkelat lambe gajah-nya hanya satu, sedangkan pada Parungsari dua buah. Keris dhapur Sangkelat mudah dijumpai karena banyak jumlahnya dan salah satu dhapur klangenan yang dianggap wajib dimiliki oleh Pecinta Tosan Aji. Selain keris pusaka Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat milik Keraton Kasunanan Surakarta, ada beberapa pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta yang juga berdhapur Sangkelat. Keris-keris itu adalah KK Laken Manik, KK Naga Puspita, KK Tejokusumo.

FILOSOFI, keris sengkelat berluk tiga belas. Angka tiga belas dalam khasanah jawa sebagai las-lasaning urip, akhir kehidupan. Kemana manusia setelah mati? kemana kalau tidak bersatu dengan Allah kembali. Itulah pakem dhapur keris luk yang disebut sebagai “Mustikaning manembah – intisari bersujud”. Ada pemahaman lain bahwa lekuk tiga belas juga mempunyai arti tri welas; welas ing sesami, welas ing sato iwen, lan welas ing tetuwuhan. Semua ini diarahkan kepada keselarasan antara Aku manusia – alam dan lingkungannya serta Allah.

Adapun angka 13 dalam tradisi jawa juga dianggap sebagai angka keramat. Angka 13 kadang oleh sebagian orang adalah angka pembawa sial, namun demikian angka ini juga dipercaya sebagai penolak bala, angka tiga belas merupakan angka 1 dan angka 3, keduanya merupakan angka ganjil yang penuh makna. Angka 1 merupakan angka pertama, memiliki makna permulaan, tunggal dan ke-Esa-an yang mencerimkan Ketuhanan. Sedangkan angka 3 merupakan angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan. Angka 3 adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara hidup. Misalnya; Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali, yakni waktu, ucapan dan kesempatan. Maka hendaknya dijaga supaya tidak ada sesal kemudian. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu, yakni rejeki, umur dan jodoh, mintalah pada Tuhan dan terakhir ada 3 hal dalam hidup yang pasti, adalah tua, sakit dan mati, persiapkanlah dengan sebaik-baiknya karena jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.

TANGGUH MATARAM SULTAN AGUNG, pada era ini beragam reformasi di bidang seni, budaya dan penanggalan terjadi. Masyarakat umum diberi kebebasan untuk memiliki keris dan para empu diberi kebebasan untuk membuat kreasi karya terbaik, sehingga pasikutan sangat beragam sejak awal pemerintahannya. Para empu juga melestarikan dengan membuat pula model keris tangguh sebelumnya dengan memadukan ciri khas era mataram Sultan Agung. Maka bisa dikatakan Jaman Mataram Sultan Agung memang menjadi surga para Empu.Bahkan ketika  merencanakan mengempur VOC di Batavia,  Sultan Agung mempersiapkan diri melengkapi peralatan perang [bagi pasukannya. Sultan Agung mengumpulkan empu – empu dan pande besi yang ada di daerah kekuasaan Mataram. Para Empu tersebut berasal dari seluruh penjuru tanah jawa berjumlah 800 dikumpulkan di Mataram untuk melaksanakan perintah membuat keris, tombak, meriam dan senjata perang lainnya, peristiwa inilah yang disebut “Pakelun“. Kata kelun artinya penguasaan menyeluruh atau mutlak. 800 orang empu ini kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok dipimpin oleh empu senior (empu tindih) dan kepadanya diberikan pangkat lurah mantri, berjumlah 8 orang yakni:

  1. Ki Tepas, Empu berasal dari Semarang
  2. Ki Salatea, Empu berasal dari Tuban
  3. Ki Mayi, Empu berasal dari Jawa Barat
  4. Ki Legi, Empu keturunan Ki Supogati dari Majapahit
  5. Empu Gedhe, Anak Empu Cublak dari Pajang
  6. Empu Luwing, Empu berasal dari Semarang, dimana eyang buyutnya adalah Mpu Ki Koso Madura.
  7. Ki Guling, Empu berasal dari Mataram
  8. Ki Ancer, Empu berasal dari Kalianjir.
  9. Ki Tundhung, Empu berasal dari Kudus, yaitu Ki Supo Enom (Jokosupo II), yang diangkat membawahi semua empu (Empu Jejeneng), dan diberi gelar oleh Sultan Agung: Pangeran Sendhang.

Berbeda dengan keris buatan Empu pakelun Majapahit yang keris-kerisnya mempunyai satu gaya, satu pasikutan, keris-keris karya Empu Pakelun Mataram lahir dengan membawa gaya masing-masing Empu. Seperti keris Sengkelat ini, lipatan besinya tampak berlapis-lapis seperti helai-helai rambut warnanya hitam tampak beradu kontras dengan putihnya pamor yang diselingi titik-titik keperakan dari pamor akhodiyat. Keris ini juga tampil dengan percaya diri dalam bentuk blumbangan dan sogokan depan belakang yang dibuat panjang, dalam serta lebar. Gonjo-nya yang berwarna hitam keabuan selaras dengan slorok ati bajanya dibuat melambai ke bawah pada buntut cecak-nya yang papak, seakan meneguhkan trah dan darah Mataram-nya. Berkesan  anggun dan cantik menarik hati siapapun yang menatap.

GONJO WULUNG, adalah sebutan bagi gonjo yang sama sekali tidak berpamor, sehingga keadaannya polos dengan warna hitam legam. Banyak pendapat yang mencoba memberi penjelasan mengapa sebuah keris yang bilahya berpamor bagus, tetapi bagian ganjanya dibuat bercorak wulung.

  1. Pertama, ada yang berpendapat bahwa keris itu adalah “keris bagus luar dan dalam” yang kemudian dibuatkan putran. Seringkali keris-keris pusaka yang dibutuhkan sebagai simbol dan kekuatan dari lembaga tradisional seperti keraton, dibuatkan duplikatnya (keris putran). Hal itu terjadi jika keris aslinya akan disimpan di gedhong pusaka, atau berlangsung pembagian kerajaan (sigar nagari) dan keraton yang baru membutuhkan duplikasi pusaka tersebut. Agar kesinambungan kedua keris terus terjadi, maka ganja dari keris yang asli diambil untuk ikut dilebur bersama bahan material logam lainnya yang telah disiapkan untuk membuat bilah keris baru. Sedangkan keris asli yang dibuatkan putran-nya tadi, dibuatkan ganja baru, yakni ganja wulung untuk meningkatkan kembali isoteri. Beberapa keris putran yang menjadi keris pusaka di Kasultanan Yogyakarta, diantaranya: KK Danuwara (dhapur Jalak Sangu Tumpeng) sebagai putran KKA Kopek, KK Panji Harjamanik (dhapur Pandhawa Paniwen) sebagai putran dari KK Jakatuwa, KK Jakapratama, KK Wisa Mandra Aji dan KK Tejakusuma (dhapur Sengkelat) sebagai  putran dari KK Sengkelat. Tidak hanya kebiasan mutrani di lingkungan keraton, untuk lembaga kecil yang paling nyata yakni keluarga juga berlaku hal yang sama, seperti kisah seorang anak yang menginginkan pusaka seperti milik ayahandanya atau ceita seorang ayah yang ingin memberikan pusaka kepada anandanya.
  2. Kedua, gonjo polos juga sering digunakan untuk menutupi keris yang bermutu baik dan ampuh, yang antara lain cirinya diketahui dari motif gambar pamor, agar tidak terlihat dari luar (pada saat disarungkan ke dalam warangka). Perlindungan demikian dimaksudkan agar keris yang bermutu dan dipercayai memiliki angsar yang baik, tidak mudah dideteksi lawan, atau diincar oleh mereka yang memiliki niatan jahat untuk mencuri, juga untuk menghindar dari incaran raja dan keluarganya (yang pada jaman dahulu tidak segan-segan untuk mengambil keris yang baik milik kawulanya jika memang menginginkannya).
  3. Ketiga, gonjo susulan juga banyak digunakan untuk kepentingan penggantian terhadap ganja yang sudah ada, baik karena ganja yang lama sudah rusak atau cacat, hilang, atau memang pemilik keris berkeinginan untuk mengganti dengan yang baru. Meski dapat saja pemilik keris menggantikannya dengan gonjo yang lebih bagus, seperti dengan hiasan kinatah emas, namun untuk kasus penggantian gonjo yang rusak atau cacat, menurut kebiasan yang berlaku dulu, pemilik keris akan membuat gonjo baru yang bercorak wulung. Dengan gonjo polos semacam itu orang akan mengetahui bahwa keris telah kehilangan gonjo asli dan kemudian oleh pemiliknya dibuatkan sebuah gonjo yang baru.
  4. Keempat, sengaja dibuat karena pertimbangan estetika. Bilah yang berpamor ramai atau kontras, memang akan berpenampilan lebih indah disandingkan dengan gonjo wulung agar keindahan pamor berfokus pada wilah.

PAMOR AKHODIYAT, Bila pada permukaan bilah keris ada bagian yang kecemerlangan pamornya menonjol dibandingkan dengan kecemerlangan pamor di sekitarnya, bagian yang lebih cemerlang itulah yang disebut pamor akhodiyat. Sepintas lalu pemor akhodiyat tampak seperti lelehan logam-keperak-perakan yang putih mengkilat.Menurut keterangan beberapa ahli, pamor akhodiyat dapat terjadi karena suhu yang tepat pada saat penempaan, sedangkan menurut pengamat seni keris lainnya, pamor akhodiyat dapat terjadi jika suhu pengikiran pada tahap akhir pembuatan keris itu tepat. Karena pamor akhodiyat tidak dapat dirancang sebelumnya, pamor ini tergolong tiban, terjadi karena kehendak Tuhan YME, bukan rekayasa sang Empu. Pamor akhodiyat kadang-kadang disebut pamor akordiat atau angkawiyat atau pamor kodiat, tergolong pamor yang disukai orang dan dianggap mempunyai tuah yang baik.

PAMOR BERAS WUTAH, Filosofi Rezeki iku ora isu ditiru, senajan podo lakumu, iso bedo ning akehe bondho, iso ugo bedo ono ning roso lan ayeme ati, yo iku sing jenenge bahagia. Rezeki itu tidak bisa ditiru, walaupun sama kerjamu, hasil diterima pastilah berbeda, bisa beda dalam banyaknya benda, bisa juga beda di rasa berupa ketenangan hati, ya itu namanya bahagia. Karenanya percayalah bahwa rezeki itu sudah dicukupkan oleh Sang Pencipta tidak bakal tertukar maupun tidak bakal kurang adanya untuk mencukupi kebutuhan manusia dari lahir hingga datangnya mati.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

One thought on “Sengkelat Mataram Sultan Agung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.