Sabuk Inten Mataram Sultan Agung

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : 7.500.00,- (TERMAHAR) Tn. HP, Jakarta


  1. Kode : GKO-266
  2. Dhapur : Sabuk Inten
  3. Pamor : Tetesing Warih
  4. Tangguh : Mataram Sultan Agung (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 201/MP.TMII/III/2018
  6. Asal-usul Pusaka : kolektor
  7. Keterangan Lain : pamor nyeprit

 

Ulasan :

SABUK INTEN, adalah satu bentuk dhapur keris luk sebelas. Ukuran panjang billahnya sedang, permukaan bilahnya nglimpa. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajahnya ada dua. Ricikan lain yang terdapat pada keris Sabuk Inten adalah sogokan rangkap, sraweyan, dan ri pandan atau greneng.

FILOSOFI, Nama Dhapur Sabuk Inten menjadi terkenal sejak tahun 1970-an, karena disebut-sebut dalam buku cerita silat Jawa berjudul ‘Nagasasra Sabuk Inten‘, karya S.H Mintardja. Dua keris ini disebut-sebut sebagai warisan zaman Majapahit. Keduanya bahkan sering disebut dalam satu rangkaian Nogososro-Sabuk Inten. Tak lain karena kedua keris ini diyakini sebagai sepasang lambang karahayon atau kemakmuran sebuah kerajaan. Nogososro mewakili wahyu keprabon yang hilang dari tahta Demak dan Sabuk Inten mewakili kemuliaan dan kejayaannya. Naga Sasra Sabuk Inten bukan sekedar pusaka berwujud keris, tetapi sebuah lambang kehidupan pengembaraan manusia yang memburu kesempurnaan sejati dalam kehidupan di dunia.

Menurut Serat Centhini bentuk Sabuk Inten artinya adalah permata yang sangat indah, maksudnya adalah hati manusia sendiri. Adapun rahasia maknanya adalah bahwa kemuliaan manusia itu sudah ditentukan, tinggal meraihnya saja dengan cara memperhatikan tata krama (norma dan moral) yang berlaku. Sabuk Inten mengingatkan pemiliknya untuk senantiasa hidup dalam kesadaran, bahwa hidup adalah (se) welas/belas kasih Allah, lingkungan dan orang tua (luk 11). Oleh karena itu manusia perlu juga memancarkan belas kasih Allah kepada sesamanya. Berdasar pemahaman ilmu tanda (semiotik) manusia yang mampu menjadikan belas kasih sebagai sabuk kehidupan, maka ia akan berhasil menempuh kehidupan. Luk 11 pada intinya merupakan lambang kedinamisan dan semangat pantang menyerah untuk menggapai tujuan. Namun di zaman modern seperti sekarang, keris berdapur Sabuk Inten lebih menarik minat seseorang untuk memilikinya. Tak lain karena keris tersebut diyakini bisa melancarkan rejeki dan mendatangkan kemuliaan. Hampir semua kolektor memiliknya, termasuk Penulis sendiri.

TANGGUH MATARAM SULTAN AGUNG, kemajuan sangat besar dalam bidang perkerisan terjadi pada masa Mataram terutama pada masa Raja Mataram Sultan Agung Anyokrokusuma. Sultan Agung merupakan Raja Mataram yang paling terkenal dan dalam kekuasannya pembangunan di segala bidang mengalami kemajuan yang pesat. Bahkan Thomas Stamford Raflles mencatat, bahwa Sultan Agung digambarkan oleh orang Belanda sebagai raja yang sangat pandai dan memiliki pemikiran yang cerah. Meskipun naik tahta dalam usia yang relatif muda, yakni 22 tahun Sultan Agung ternyata bukan hanya berkemampuan memimpin pemerintahan dan kemiliteran, melainkan juga mahir dalam menangani masalah kebudayaan. Pada masa pemerintahannya budaya keris mencapai puncak kejayaan. Pada zaman itu tercatat banyak nama empu terkenal. Para empu senior ini masing-masing diperintahkan membimbing puluhan empu lain sehinga jumlah empu yang menjadi anak buah mereka berjumlah 800 orang, yang kemudian dikenal dengan ‘empu pakelun‘, ini terjadi menjelang penyerangan ke Batavia. 800 orang empu yang tergabung dalam kelmpok ‘empu pakelun‘ ini dipimpin oleh 9 empu jejeneng, yaitu empu Ki Nom, empu legi, empu Tepas,empu Luwing, empu Guling, empu Tundung, empu Anjir, empu Gede, dan empu Mayi.

Tidaklah mengherankan tangguh Mataram Sultan Agung merupakan tangguh keris yang bisa dikatakan paling produktif dan mencapai puncaknya dalam dunia tosan aji khususnya keris dan tombak, baik dari segi teknologi, bentuk garap maupun kualitas tinatahnya, hingga  para kolektor berlomba-lomba untuk menyimpannya. Pada masa ini banyak dibuat keris-keris ageman berkinatah dalam berbagai motif yang berkualitas bagus, baik motif tumbuhan, binatang, rajah, tulisan Arab dan Jawa, dan sebagainya.

Rata-rata keris Mataram Sultan Agung memiliki pasikutan yang demes (serasi, menyenangkan, tampan, enak dilihat) seperti sabuk inten ini. Pamornya yang hanya sedikit menghiasi bilah (nyeprit), seolah ingin menonjolkan dan mempertontonkan sisi besinya yang tampak hitam wingit. Ricikan-ricikan juga digarap dengan sungguh oleh sang empu, seperti pada bagian sogokan yang lebar dan dalam dengan janur tipis membelahnya, bentuk odo-odo juga masih bisa terdefinisi dengan jelas, karakter luk yang sedeng tidak rengkol maupun kemba dengan condong leleh agak sedikit tegak. Tidak ketinggalan untuk ‘sandangan’ (warangka) sudah penulis rasa sudah cukup untuk mengimbangi, panjenengan tinggal menyimpan dan merawatnya.

PAMOR TETESING WARIH, salah satu bentuk gambaran pamor yang menyerupai tetesan-tetesan air yang tidak teratur. Secara umum ada dua bentuk pamor tetesing warih, yang pertama yang bulatan tidak teraturnya banyak di antara pamor wos wutah, dimana sampai kira-kira tahun 1920-an, yang disebut pamor udan mas adalah pamor tetesing warih bentuk pertama ini. Sebab pada zaman dahulu, yang disebut pamor udan mas haruslah pamor tiban. Yang kedua adalah pamor yang bulatan-bulatan kecilnya sangat sedikit sekali atau terkesan irit, beberapa orang perkerisan lebih familiar menyebutnya dengan pamor nyeprit. Pamor Tetesing Warih dipercaya mempunyai tuah yang baik untuk membantu pemiliknya mencari rejeki. Pamor Tetesing Warih tergolong pamor mlumah yang tidak pemilih, siapa saja dapat memilikinya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *