Tombak Kuntul Nglangak

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5,000,000,-(TERMAHAR) Tn. S, Cikampek


 
  1. Kode : GKO-249
  2. Dhapur : Tombak Kuntul Nglangak
  3. Pamor : Wengkon Isen
  4. Tangguh :  Tuban Pajajaran (Abad XIV)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 805/MP.TMII/XII/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : dhapur tombak langka, warangan lama, landeyan panjang 2 m (2 stage)

Ulasan :

Siro winengku, nir ing sambekolo…..

KUNTUL NGLANGAK, adalah salah satu tombak yang tergolong artistik. Gambaran kontur tombak ini menyerupai burung kuntul yang sedang terbang dimana lehernya seperti membentuk huruf “S” dan tidak diluruskan. Sedikit berbeda dengan bentuk tombak pada lazimnya yang biasanya berbilah simetris kanan dan kirinya, bentuk tombak kuntul nglangak tidak simetris. Bilah tombak ini agak melebar di bagian bawah, permukaan bilahnya datar, hanya ada-ada tipis di bagian tengah, melenggok mengikuti bentuk konturnya.

Tombak kuntul nglangak banyak dijumpai pada tombak-tombak buatan lama, yang paling banyak ditemukan antara lain dari tangguh Pajajaran. Tombak kuntul nglangak bukan ditempa sebagai senjata secara fisik (berperang), tetapi lebih ditujukan sebagai tombak pusaka dengan mementingkan tuahnya. Karena yang ‘original sepuh‘ semakin lama semakin jarang ditemukan (kelangkaan pasar), menjadikan nilai maharnya lebih tinggi dibandingkan tombak sejenis. Tingginya minat dari para pemburu isoteri juga disinyalir menghadirkan peluang-peluang “kreatif” yang kurang positif, dimana banyak tombak-tombak lama ‘disulap” (tempa ulang) untuk dijadikan tombak banyak angrem atau kuntul nglangak.

FILOSOFI, kedekatan dan ikatan emosional penduduk Nusantara dengan sektor pertanian menginspirasi lahirnya berbagai pusaka yang terilham dari budaya agraris. Nama flora dan fauna seolah-olah menjadi sumber penamaan dhapur dan pamor yang tidak akan habis. Misal nama dhapur yang mengambil nama tumbuhan, antara lain : ron teki, bakung, pudhak sategal, tebu sauyun dan lain-lain. Sementara nama dhapur dari unsur nama hewan, antara lain : kebo lajer, jalak sangu tumpeng, tombak cacing kanil, banyak angrem, kuntul nglangak dan lain sebagainya. Untuk ricikan-ricikan serta penamaannya pada keris bisa jadi terinspirasi dari keanekaragaman hayati, seperti bentuk sogokan rangkap yang memang menyerupai paruh burung, hingga penamaan jenisnya seperti sogokan sineba yang menggambarkan ‘kuntul neba‘, sekelompok burung kuntul yang serentak “neba” (bersama-sama turun dari udara ke sawah).

Kuntul adalah burung berkaki, berleher dan berparuh panjang yang (dulu) banyak ditemui di area persawahan. Burung Kuntul sejak lama dikenal sebagai sahabat para petani, karena serangga-serangga hingga tikus yang menjadi ancaman tanaman padi menjadi makanannya. Hijrahnya kawanan burung ini juga sering menjadi pertanda awal perubahan musim kemarau. Sedangkan nglangak (Jw) artinya adalah (sedikit) mendongakkan kepala ke atas.

Dalam khasanah Jawa, terminologi ajaran tentang hidup begitu banyak disampaikan oleh orang-orang bijak dalam bentuk tembang, serat-serat hingga dhapur maupun pamor yang rata-rata membutuhkan penafsiran yang bukan bersandar pada akal dan pikiran, melainkan dituntut adanya peran batin untuk mengupas dan memaknainya. Bagi masyarakat Jawa burung Kuntul melambangkan jiwa gotong royong, kekompakan, keselarasan, kesetiaan dan keindahan budi pekerti. Nglangak, sedikit mendongakkan kepala ke atas adalah berarti upaya menggali kesadaran kembali, untuk melihat apa yang ada dalam diri, substansi kita, hingga kontribusi kita. Proses belajar seharusnya dimulai dari dalam, bermula karena ada kekuatan untuk berubah. Mampu melihat keberadaan dirinya pada sisi dimana dia berdiri. Dia melangkah melakukan perubahan dan menggandeng setiap kesempatan yang ada. Namun demikian, sekali waktu kita perlu mencoba sedikit mendongak (nglangak) untuk bisa mencoba melihat keluar, bahwa dunia yang kita pikirkan tidak selalu sama dengan kenyataan kita, atau akan seperti ada dalam bayang-bayang kita. Namun begitu, hidup ini indah dan nikmat untuk dijalani ketika mampu melihat pemahaman yang utuh mengenai eksistensi diri dengan menyadari ada campur tangan Yang Maha Kuasa atas segalanya.

TANGGUH TUBAN PAJAJARAN, Julukan kota empu agaknya layak disematkan untuk Tuban. Hampir sepanjang sejarah mulai zaman Kediri hingga zaman Mataram terlahir empu-empu mumpuni yang pilih tanding. Terlebih pada zaman Tuban awal, dikenal Empu Kuwung, Empu Sombro dan Empu Anjani – yang ketiganya adalah hijrah dari Pajajaran.

Sebutan tangguh Tuban Pajajaran tidak bisa dikatakan mutlak keris atau tombak itu berciri Tuban atau mutlak berciri Pajajaran. Karena kemungkinannya, bahan-bahan besi dan pamor turut dibawa dalam hijrahnya oleh sang Empu dan keturunannya yang kemudian berkarya di Tuban. Karenanya masih mengandung unsur kekhasan sifat besi-besi Pajajaran, namun sudah sedikit banyak dibentuk dalam balutan style Tuban. Jadi besinya Pajajaran namun bentuknya Tuban, oleh karenanya sering disebut Tuban Pajajaran.

Kesan Tombak Tayuhan yang menonjolkan “power” sebagai pusaka sangat terasa pada tombak ini. Keris dan tombak oleh sebagian pecinta isoteri dipercaya memiliki genre-nya tersendiri, dimana keris lebih digunakan sebagai sipat kandel pribadi, sedangkan tombak bisa dikatakan sebagai piyandel kelembagaan. Tombak ini tampaklah sederhana dan bersahaja namun penuh greget, lekukan bilah sebagai perwujudan leher burung kuntul yang melongok ke atas distilasikan oleh sang Empu dengan cantik dan luwes menambah inner beauty-nya. Terlebih adanya unsur “percaya dan tidak percaya” menambah bumbu tersendiri dalam dunia tosan aji. Tombak ini ditemukan berdiri dengan tegak di kebon pisang di daerah kalibata lengkap dengan landeyan pegon sepanjang dedeg pangawe (berdiri dengan merentangkan salah satu tangan ke atas)  oleh teman yang tidak paham sama sekali dengan dunia tosan aji, setelah malam sebelumnya penulis bermimpi ditunggu oleh seorang nenek Tua. Entah bagaimana tombak dan landeyan sepanjang 2 m ini bisa berdiri di pohon pisang, apakah ada yang menaruhnya atau jika dihubungkan dengan mimpi penulis sebelumnya merupakan bumbu tersendiri yang sering menyertai historikal sebuah pusaka.

PAMOR WENGKON ISEN,  agak susah memang membaca pamor yang terdapat pada bilah ini, karena memang belum dilakukan pewarangan ulang, sehingga kekontrasan antara motif pamor dan besi kurang begitu jelas. Terlebih pada bagian bilah menancap erat pada landeyannya susah untuk dibuka. Seperti diketahui pada zaman dahulu proses perekatan pesi dengan gagangnya menggunakan cara jabung (sejenis lak merah dari getah damar), adapula yang menggunakan sarang semut hitam, hingga paling wingit menggunakan lilitan rambut sang pemilik. Walau sebenarnya ada berbagai cara lazim yang bisa digunakan untuk membuka pesi, diantaranya dengan cara memanaskan bilah dengan lampu minyak tanah hingga panasnya mengalir sampai pesi, atau melepas dengan mengkukus atau menanaknya dalam nasi hingga cara modern yakni ditempel dengan seterika listrik. Namun begitu sengaja penulis biarkan apa adanya, hanya dibersihkan dari karat untuk menjaga orisinalitas dan kesakralannya.

Saat pembersihan dengan proses perendaman tradisonal dengan air kelapa + jeruk terbaca lebih jelas, terdapat garis seperti bingkai, dimana orang menyebutnya dengan wengkon. Dipercaya pamor wengkon merupakan wujud doa dan harapan akan tidak ada bahaya, tidak ada masalah dan tidak ada halangan (siro winengku, lir ing sambekolo). Sedangkan bagian sor-soran terdapat pamor tunggak semi, seperti tonggak pohon yang telah ditebang (mati) namun mulai tumbuh rimbun kembali yang merupakan wujud doa dan harapan akan pertumbuhan baru atau masa depan yang lebih baik.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *